Oleh: piwulang | 4 Desember 2009

JAMUS KALIMOSODO

Papat kalima pancer merupakan sebuah wacana yang perlu terus kita gali dan kita renungkan plus bertukar fikiran dengan orang-orang tua kita yang sudah mumpuni baik dari ilmu tahid dan ilmu rasanya. Menurut petunjuknya papat kalima pancer itu pusatnya ada di PANCER (yaitu lubuk hati yang paling dalam) dan PAPAT-nya adalah unsur-unsur ilahi yang kita sendiri hak untuk mendapatkannya. Karena dengan menggunakan PAPAT itu kita bisa selalu ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai penguasa alam semesta ini.


Papat yang pertama adalah nur-nya Allah (Nurullah=Cahaya dari Allah) bias dari asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah, tanda dari PANCER-nya yaitu dalam segala sesuatu/ gerak gerik selalu BERSERAH DIRI kepada Allah dan pengakuan kita sebagai mahluknya merasa tiada daya secara ruhani dan tiada kekuatan secara jasmani kecuali hanya Allah yang memberikan gerah hidup dan kehidupan, dan berupaya untuk selalu meng-ibadahkan segala sesuatu untuk BERIBADAH kepada Allah memohon Ridho Allah, Rahmat Allah.


Papat yang kedua adalah NUR MUHAMMAD (cahaya syafa’at yang Allah cipta untuk Hambanya (Rasulullah) yang Allah mulyakan. setelah kita berserah diri kepada Allah lewat PANCER (lubuk hati yang paling dalam) ada sebuah kelembutan sebagai sebuah rahmat yang Allah berikan kepada mahluknya agar kita tunduk dan lemah lembut kepada Allah, selalu merasa sayang kepada apapun dan siapapun sebagaimana Rasulullah mempunyai perangai yang lembut dan berahlak mulia bagi semua mahluk.


PAPAT yang ketiga yaitu MALAIKAT sebagai kendaraan untuk membawa NURULLAH dan NUR MUHAMMAD tadi kedalam diri kita pada waktu kita berserah diri kepada Allah dan mengibadahkan segala sesuatu hanya untuk Allah dan fungsi malaikat ini untuk membantu memintakan permohonan ampun mendoakan kepada kita sebagai mahluk yang lemah, banyak berbuat dosa (karena manusia tempat salah dan lupa) dan nominal mereka tidak sedikit mendukung kita dalam beribadah kepada Allah.


PAPAT yang ke empat adalah KAROMAH yaitu berisi doa-doa dari para orang sholeh terdahulu (doa dari para Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan para Auliya serta Sholihin yang telah mendahului kita) yang oleh allah diberikan kesempatan untuk membantu mendoakan segala hajat hidup kita dalam mengarungi kehidupan didunia sebagai bekal ibadah nanti kita setelah meninggal (akhirat).


Semoga Allah mengampuni kedua orang tua kita, keluarga kita, mengampuni kita, dan orang-orang yang mempunyai hak dan kewajiban atas kita yang seiman serta mengampuni sesepuh-sesepuh kita. Semoga Allah memberikan Taufiq dan hidayah kepada kita dan mereka dan semoga kita dan mereka semua dijadikan golongan dari hamba-hamba Allah yang sholeh.

ADABEBERAPA VERSI yang menginterpretasikan JAMUS KALIMOSODO.

1. ada yang menginterpretasikan 2 kalimah syahada

2. ada yang menginterpretasikan lahirnya pancasil

3. ada yang menginterpretasikan tokoh pewayangan pandawa lima, apakah semua nya salah? tentu tidak…karena  cara pandang setiap orang tidaklah sama.

Hal yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan ISI/makna dari Jamus Kalimosodo sebagai orang yang berpengertian jawa yang mendapatkan warisan dari leluhur Jawa, pengertian jamus kalimusodo secara singkat adalah:


Istilah jamus kalimosodo terdapat dalam kisah pewayangan baratayudha, suatu jamus/surat yang ada tulisannnya tentang pengertian/kawruh. “barang siapa mendapat kawruh ini ia akan menjadi raja/mempunyai kekuasaan yang besa. kitab ini dimiliki oleh prabu yudistira(samiaji) yang selalu menang dalam peperangan dan akhirnya masuk surga tanpa kematian…memiliki dalam hal ini adalah bukan saling berebut tetapi saling berebut memiliki makna.


Arti Kalimasada terdiri dari beberapa bagian:

Ka= huruf/pengejaan Ka, Lima=angka 5, Sada= lidi/tulang rusuk daun kelapa yang diartikan Selalu, Jadi kelima ini haruslah utuh(selalu 5), Kelima unsur kalimasada teridiri dari:

1. KaDonyan(Keduniawian).

ojo ngoyo dateng dunyo yang arti singkatnya adalah jangan mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi, kebutuhan duniawi kita kejar tapi jangan diutamakan.

2.   Ka Hewanan ( sifat binatang).

ojo tumindak kaya dene hewan, cotoh:asusila. amoral, tidak beretika dll.

3.   KaRobanan.

Ojo ngumbar hawa nafsu yang arti singkatnya jangan memelihra hawa nafsu…nafsu itu harus dikendalikan.

4.   Kasetanan.

Ojo tumindak sing duduk samestine yang arti singkatnya jangan bertindak yang tidak semestinya alias gengsi, sombong( ingin seperti Gusti), menyesatkan, berbuat licik dll.

5.   KaTuhanan.

artinya kosong

Gusti Allah iku tan keno kinoyo ngopo nanging ono yang artinya Gusti Allah tidak dapat diceritakan secara apapun tapi toh ada. Gantharwa adalah salah satunya yang diberikan “pusaka” mewarisi warisan dari leluhur Jawa. Pengertian Asli dari jamus kalimosodo diatas adalah isi murni dari pengertian sebenarnya..setiap orang boleh membungkusnya dengan bungkus apapun tetapi jangan sampai kehilangan makna aslinya, karena pengertian diatas adalah pengertian sebenarnya dari jamus kalimusodo.

Oleh: piwulang | 4 Desember 2009

HAKEKAT TITIK

Apabila,
Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah,
Hakekat adalah ikhlas,
syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah,
Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat,
Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain.
Maka,
Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah,
Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingatnya,
Hakekat adalah bagaimana ikhlas,
syukur dan sabar dalam kehidupan,
Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.
Apabila,
Syari’at adalah bagaimana mewujudkan penyaksian akan Allah,
Tarekat adalah bagaimana dalam kehidupan senantiasa mengingat-Nya,
Hakekat adalah bagaimana ikhlas,
syukur dan sabar dalam kehidupan,
Ma’rifat adalah implementasi kehidupan dalam penyaksian dan menyaksikan-Nya.

Maka,
Ma’rifat adalah penyaksian akan Allah,
Hakekat adalah ikhlas,
syukur dan sabar sebelum penyaksian Allah,
Tarekat adalah jalan pengosongan sebelum hakekat,
Syari’at adalah dalil kehidupan dalam menghormati eksistensi-eksistensi lain.

Apabila dan Maka,
Bersatu dalam Titik,
Titik itu adalah Allah,
Syari’at-Tarekat berawal dari Titik,
Hakekat-Ma’rifat berakhir di Titik.

Billahu,
Fillahu,
Bi Idznillahu,
Minallahu,
Allahu,
Titik.

Oleh: piwulang | 4 Desember 2009

PHILOSOFI SEMAR

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

Bebadra = Membangun sarana dari dasar

Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.

Ciri sosok semar adalah :

Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua

Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan

Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa

Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok

Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :

Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.

Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri

Dalam Etika Jawa ( Sesuno, 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.

Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno, 1988 : 188 ). Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.

Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno, 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 )

Dari segi etimologi, joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ). Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.

Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer, tt : 13 ). Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 )

Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 ). Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka.

Oleh: piwulang | 4 Desember 2009

10 SHILA SUTASOMA

Karya Mpu Tantulan.

1. Aja Sira Anlarani Hati Nin Non
Jangan Menyakiti Perasaan Orang Lain (dan jangan mengacaukan pikiran orang lain)

2. Ajaamidanda Tan Sabenere
janganlah menjatuhkan hukuman yang tidak adil

3. Ajaamalat Duwe Nin Wadwa Nira
Janganlah menjarah harta rakyatmu

4. Aja Tan Asih In daridra
Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung

5. Luluta Rin Pandita
Mengabdilah pada mereka yang sadar

6. Aja Sira Katungkul Ing Kagunan, Amujya Nabhaktya
Janganlah menjadi sombong, walau banyak orang menghormatimu

7. Aja Memateni Yen Tan Sabenere
Janganlah menjatuhkan hukuman mati, kecuali menjadi tuntutan keadilan

8. Uttama Si Yen Sira Akalisa Rin Pati,
Adalah yang terbaik, jika kau tidak takut mati,

9. Sampuraha Rin Tiwas
dan bersabar dalam keadaan susah

10. Anulaha Saama Daana Ajaapilih Jana
(adalah yang terbaik) Jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih.

Oleh: piwulang | 4 Desember 2009

SERAT DARMOGANDHUL

Darmagandhul
Carita adege nagara Islam ing Demak bedhahe nagara Majapahit kang salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buddha banjur salin agama Islam.
* * *

Gancaran basa Jawa ngoko;
Babon asli tinggalane KRT Tandhanagara, Surakarta;
Cap-capan ingkang kaping sekawan, 1959;
Toko Buku “Sadu-Budi” Sala.
* * *

BEBUKA

Sinarkara sarjunireng galih, myat carita dipangiketira, kiyai Kalamwadine, ing nguni anggeguru, puruhita mring Raden Budi, mangesthi amiluta, duta rehing guru, sru sêtya nglampahi dhawah, panggusthine tan mamang ing lair batin, pinindha lir Jawata.

Satuduhe Raden Budi ening, pan ingembun pinusthi ing cipta, sumungkem lair batine, tan etung lebur luluh, pangesthine ing awal akhir, tinarimeng Bathara, sasedyanya kabul, agung nugraheng Hyang Suksma, sinung ilham ing alam sahir myang kabir, dumadya auliya.

Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi, pan biyasa mituhu susetya, mring dhawuh weling gurune, kedah medharken kawruh, karya suka pireneng jalmi, mring sagung ahli sastra, tuladhaning kawruh, kyai Kalamwadi ngarang, sinung aran srat Darmagandhul jinilid, sinung tembang macapat.

Pan katemben amaos kinteki, tembang raras rum seya prasaja, trewaca wijang raose, mring tyas gung kumacelu, yun darbeya miwah nimpeni, pinirit tinuladha, lelepiyanipun, sawusnya winaos tamat, linaksanan tinedhak tinurun sungging, kinarya nglipur manah.

Pan sinambi-sambi jagi panti, saselanira ngupaya tedha, kinarya cagak lenggahe, nggennya dama cinubluk, mung kinarya ngarem-aremi, tarimanireng badan, anganggur ngethekur, ngebun-bun pasihaning Hyang, suprandene tan kaliren wayah siwi, sagotra minulyarja.

Wus pinupus sumendhe ing takdir, pan sumarah kumambang karseng Hyang, ing lokhilmakful tulise, panitranira nuju, ping trilikur ri Tumpak manis, Ruwah Je warsanira, Sancaya kang windu, masa Nem ringkêlnya Aryang, wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata [taun Jawa 1830].

DARMAGANDHUL

Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene “Mau-maune kêpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha salin agama Islam?”
Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe iya ora pati ngrêti, nanging aku tau dikandhani guruku, ing mangka guruku kuwi iya kêna dipracaya, nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin agama Rasul”.

Ature Darmagandhul: “Banjur kapriye dongengane?”

Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: “Bab iki satêmêne iya prêlu dikandhakake, supaya wong kang ora ngrêti mula-bukane karêben ngrêti”.

Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka, dene ênggone jênêng Majapahit iku, mung kanggo pasêmon, nanging kang durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku jênêng sakawit. (1)
Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu Brawijaya.
Ing wêktu iku, Sang Prabu lagi kalimput panggalihe, Sang Prabu krama oleh Putri Cêmpa, (2) ing mangka Putri Cêmpa mau agamane Islam, sajrone lagi sih-sinihan, Sang Rêtna tansah matur marang Sang Nata, bab luruhe agama Islam, sabên marak, ora ana maneh kang diaturake, kajaba mung mulyakake agama Islam, nganti njalari katariking panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau.

Ora antara suwe kaprênah pulunane Putri Cêmpa kang aran Sayid Rakhmat tinjo mênyang Majalêngka, sarta nyuwun idi marang Sang Nata, kaparênga anggêlarake sarengate agama Rasul. Sang Prabu iya marêngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau. Sayid Rakhmat banjur kalakon dhêdhukuh ana Ngampeldênta ing (3) anggêlarake agama Rasul. Ing kono banjur akeh para ngulama saka sabrang kang padha têka, para ngulama lan para maulana iku padhamarêk sang Prabu ing Majalêngka, sarta padha nyuwun dhêdhukuh ing pasisir. Panyuwunan mangkono mau uga diparêngake dening Sang Nata. Suwe-suwe pangidhêp mangkono mau saya ngrêbda, wong Jawa banjur akeh bangêt kang padha agama Islam.
Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam kabeh, dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban. Sayid Kramat iku maulana saka ing ‘Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu’llah, mula bisa dadi gurune wong Islam. Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan padha ninggal agamane Buddha, banjur ngrasuk agama Rasul. Ing Balambangan sapangulon nganti tumêka ing Bantên, wonge uga padha kelu rêmbuge Sayid Kramat.
Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kêlakon urip nganti sewu taun, dene wong-wonge padha manêmbah marang Budi Hawa. Budi iku Dzate Hyang Widdhi, Hawa iku karêping hati, manusa ora bisa apa-apa, bisane mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake.
Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri Bangsa Cina, miyose putra mau ana ing Palembang, diparingi têtêngêr Raden Patah.
Barêng Raden Patah wis diwasa, sowan ingkang rama, nganti sadhereke seje rama tunggal ibu, arane Raden Kusen. Satêkane Majalêngka Sang Prabu kewran panggalihe ênggone arêp maringi sêsêbutan marang putrane, awit yen miturut lêluri saka ingkang rama, Jawa Buddha agamane, yen nglêluri lêluhur kuna, putraning Nata kang pambabare ana ing gunung, sêsêbutane Bambang. Yen miturut ibu, sêsêbutane: Kaotiang, dene yen wong ‘Arab sêsêbutane Sayid utawa Sarib. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka, padha dipundhuti têtimbangan ênggone arêp maringi sêsêbutan ingkang putra mau. Saka ature Patih, yen miturut lêluhur kuna putrane Sang Prabu mau disêbut Bambang, nanging sarehne ibune bangsa Cina, prayoga disêbut Babah, têgêse pambabare ana nagara liya. Ature Patih kang mangkono mau, para nayaka uga padha mupakat, mula Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya, yen putra Nata kang miyos ana ing Palembang iku diparingi sêsêbutan lan asma Babah Patah. Katêlah nganti tumêka saprene, yen blastêran Cina lan Jawa sêsêbutane Babah. Ing nalika samana, Babah Patah wêdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang rama, mulane katone iya sênêng, sênênge mau amung kanggo samudana bae, mungguh satêmêne ora sênêng bangêt ênggone diparingi sêsêbutan Babah iku.
Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Dêmak, madanani para bupati urut pasisir Dêmak sapangulon, sarta Babah Patah dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing, kabênêr wayahe kiyai Agêng Ngampel. Barêng wis sawatara masa, banjur boyong marang Dêmak, ana ing desa Bintara, sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane wis Islam, anane ing Dêmak didhawuhi nglêstarekake agamane, dene Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing Têrung (5), pinaringan nama sarta sêsêbutan Raden Arya Pêcattandha.
Suwening suwe sarak Rasul saya ngrêbda, para ngulama padha nyuwun pangkat sarta padha duwe sêsêbutan Sunan, Sunan iku têgêse budi, uwite kawruh kaelingan kang bêcik lan kang ala, yen wohe budi ngrêti marang kaelingan bêcik, iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair batin.
Ing wêktu iku para ngulama budine bêcik-bêcik, durung padha duwe karêp kang cidra, isih padha cêgah dhahar sarta cêgah sare. sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih, para ngulama sarake Buddha, kok nganggo sêsêbutan Sunan, lakune isih padha cêgah mangan, cêgah turu. Yen sarak rasul, sirik cêgah mangan turu, mung nuruti rasaning lesan lan awak. Yen cêgah mangan rusak, Prabu Brawijaya uga banjur paring idi. Suwe-suwe agama Rasul saya sumêbar. Ing wêktu iku ana nalar kang aneh, ora kêna dikawruhi sarana netra karna sarta lesan, wêtune saka engêtan, jroning utêk iku yen diwarahi budi nyambut gawe, kang maca lan kang krungu nganggêp têmên lan ora, iya kudu ditimbang ing sabênêre, saiki isih ana wujuding patilasane, isih kêna dinyatakake, mula saka pangiraku iya nyata.
Dhek nalika samana Sunan Benang sumêdya tindak marang Kadhiri, kang ndherekake mung sakabat loro. Satêkane lor Kadhiri, iya iku ing tanah Kêrtasana, kêpalangan banyu, kali Brantas pinuju banjir. Sunan Benang sarta sakabate loro padha nyabrang, satêkane wetan kali banjur niti-niti agamane wong kono apa wis Islam, apa isih agama Budi. Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang, sarak Buddha mung sawatara, dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik, wong ing kono akeh padha agama Kalang, mulyakake Bandung Bandawasa. Bandung dianggêp Nabine, yen pinuji dina Riyadi, wong-wong padha bêbarêngan mangan enak, padha sênêng-sênêng ana ing omah. Sunan Benang ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gêdhah, Gêdhah iku ora irêng ora putih, tanah kene patut diarani Kutha Gêdhah”.
Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjênêngan, kula ingkang nêkseni”. Tanah saloring kutha kadhiri banjur jênêng Kutha Gêdhah, nganti têkane saiki isih karan Kutha Gêdhah, nanging kang mangkono mau arang kang padha ngrêti mula-bukane.
Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon mênyang padesan, kali iki isih banjir, banyune isih buthêk, yen diombe nglarani wêtêng, lan maneh iki wancine luhur, aku arêp wudhu, arêp salat”.
Sakabate siji banjur lunga mênyang padesan arêp golek banyu, têkan ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang, kang ana mung bocah prawan siji, wajah lagi arêp mêpêg birahi, ing wêktu iku lagi nênun. Sakabat têka sarta alon calathune: “mBok Nganten, kula nêdha toya imbon bêning rêsik”. mBok Prawan kaget krungu swarane wong lanang, barêng noleh wêruh lanang sajak kaya santri, MBok Prawan salah cipta, pangrasane wong lanang arêp njêjawat, mêjanani marang dheweke, mula ênggone mangsuli nganggo têmbung saru: “nDika mêntas liwat kali têka ngangge ngarani njaluk banyu imbon, ngriki botên entên carane wong ngimbu banyu, kajaba uyuh kula niki imbon bêning, yen sampeyan ajêng ngombe”.
Santri krungu têtêmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune dirikatake sarta garundêlan turut dalan, satêkane ngarsane Sunan Benang banjur ngaturake lêlakone nalika golek banyu. Sunan Benang mirêng ature sakabate, bangêt dukane, nganti kawêtu pangandikane nyupatani, ing panggonan kono disabdakake larang banyu, prawane aja laki yen durung tuwa, sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka tuwa, barêng kêna dayaning pangandika mau, ing sanalika kali Brantas iline dadi cilik, iline banyu kang gêdhe nyimpang nrabas desa alas sawah lan patêgalan, akeh desa kang padha rusak, awit katrajang ilining banyu kali kang ngalih iline, kali kang maune iline gêdhe sanalika dadi asat. Nganti tumêka saprene tanah Gêdhah iku larang banyu, jaka lan prawane iya nganti kasep ênggone omah-omah. Sunan Benang têrus tindak mênyang Kadhiri.
Ing wêktu iki ana dhêmit jênênge Nyai Plêncing, iya iku dhêmit ing sumur Tanjungtani, tansah digubêl anak putune, padha wadul yen ana wong arane Sunan Benang, gawene nyikara marang para lêlêmbut, ngêndêl-êndêlake kaprawirane, kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat sanalika, iline banjur salin dalan kang dudu mêsthine, mula akeh desa, alas, sawah sarta patêgalan, kang padha rusak, iya iku saka panggawene Sunan Benang, kang uga ngêsotake wong ing kono, lanang wadon ngantiya kasep ênggone omah-omah, sarta kono disotake larang banyu sarta diêlih jênênge tanah aran Kutha Gêdhah, Sunan Benang dhêmêne salah gawe. Anak putune Nyai Plêncing padha ngajak supaya Nyai Plêncing gêlêma nêluh sarta ngrêridhu Sunan Benang, bisaa tumêka ing pati, dadi ora tansah ganggu gawe. Nyai Plêncing krungu wadule anak putune mangkono mau, enggal mangkat mêthukake lakune Sunan Benang, nanging dhêmit-dhêmit mau ora bisa nyêdhaki Sunan Benang, amarga rasane awake padha panas bangêt kaya diobong. Dhêmit-dhêmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri, satêkane ing Kadhiri, matur marang ratune, ngaturake kahanane kabeh. ratune manggon ing Selabale. (6) Jênênge Buta Locaya, dene Selabale iku dununge ana sukune gunung Wilis. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya, maune jênênge kiyai Daha, duwe adhi jênênge kiyai Daka. Kiyai daha iki cikal-bakal ing Kadhiri, barêng Sri Jayabaya rawuh, jênênge kiyai Daha dipundhut kanggo jênênge nagara, dheweke diparingi Buta Locaya, sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya.
Buta iku têgêse: butêng utawa bodho, Lo têgêse kowe, caya têgêse: kêna dipracaya, kiyai Buta Locaya iku bodho, nanging têmên mantêp sêtya ing Gusti, mulane didadekake patih. Wiwite ana sêbutan kiyai, iya iku kiyai daha lan kiyai Daka, kiyai têgêse: ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kanan keringe.
Jêngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka, ana ing kono Sang Prabu sawadya-balane disugata, mula sang Prabu asih bangêt marang kiyai Daka, jênênge kiyai Daka dipundhut kanggo jênêng desa, dene kiyai Daka banjur diparingi jênêng kiyai Tunggulwulung, sarta dadi senapatining pêrang.
Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu Pagêdhongan, Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa; Ni Mas Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa, kuthane ana sagara kidul sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. Sakabehe lêlêmbut kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa, kabeh padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin.
Buta Locaya panggonane ana ing Selabale, dene kiyai Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut, rumêksa kawah sarta lahar, yen lahar mêtu supaya ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane.
Ing wêktu iku kiyai Buta Locaya lagi lênggah ana ing kursi kêncana kang dilemeki kasur babut isi sari, sarta kinêbutan êlaring mêrak, diadhêp patihe aran Megamêndhung, lan putrane kakung loro uga padha ngadhêp, kang tuwa arane Panji Sêktidiguna, kang anom aran panji Sarilaut.
Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhêp, kaget kasaru têkane Nyai Plêncing, ngrungkêbi pangkone, matur bab rusake tanah lor Kadhiri, sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku, wong saka Tuban kang sumêdya lêlana mênyang Kadhiri, arane Sunan Benang. Nyai Plêncing ngaturake susahe para lêlêmbut sarta para manusa.
Buta Locaya krungu wadule Nyai Plêncing mangkono mau bangêt dukane, sarirane nganti kaya gêni, sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta para jin pêri parajangan, didhawuhi nglawan Sunan Benang. Para lêlêmbut mau padha sikêp gêgaman pêrang, sarta lakune barêng karo angin, ora antara suwe lêlêmbut wis têkan ing saêloring desa Kukum, ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai Sumbre, dene para lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora ngaton, kiyai Sumbre banjur ngadêg ana ing têngah dalan sangisoring wit sambi, ngadhang lakune Sunan Benang kang saka êlor.
Ora antara suwe têkane Sunan Benang saka lor, Sunan Benang wis ora kasamaran yen kang ngadêg ana sangisoring wit sambi iku ratuning dhêmit, sumêdya ganggu gawe, katitik saka awake panas kaya mawa. Dene lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh, ora bêtah kêna prabawane Sunan Benang. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bêtah cêdhak karo kiyai Sumbre, amarga kaya dene cêdhak mawa, kiyai Sumbre mangkono uga.
Sakabat loro kang maune padha sumaput, banjur padha katisên, amarga kêna daya prabawane kiyai Sumbre.
Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! kowe kok mêthukake lakuku, sarta nganggo jênêng Sumbre, kowe apa padha slamêt?”.
Buta Locaya kaget bangêt dene Sunan Benang ngrêtos jênênge dheweke, dadi dheweke kawanguran karêpe, wusana banjur matur marang Sunan Benang: “Kados pundi dene paduka sagêd mangrêtos manawi kula punika Buta Locaya?”.
Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran, aku ngrêti yen kowe ratuning dhêmit Kadhiri, jênêngmu Buta Locaya.”.
Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa, dene mangangge pating gêdhabyah, dede pangagêm Jawi. Kados wangun walang kadung?”.
Sunan Benang ngandika maneh: “Aku bangsa ‘Arab, jênêngku Sayid Kramat, dene omahku ing Benang tanah Tuban, mungguh kang dadi sêdyaku arêp mênyang Kadhiri, pêrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu Jayabaya, iku prênahe ana ing ngêndi?”.
Buta Locaya banjur matur: “Wetan punika wastanipun dhusun Mênang (9), sadaya patilasan sampun sami sirna, kraton sarta pasanggrahanipun inggih sampun botên wontên, kraton utawi patamanan Bagendhawati ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagêdhongan inggih sampun sirna, pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna, namung kantun namaning dhusun, sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking rêdi Kêlut. Kula badhe pitaken, paduka gêndhak sikara dhatêng anak putu Adam, nyabdakakên ingkang botên patut, prawan tuwa jaka tuwa, sarta ngêlih nami Kutha Gêdhah, ngêlih lepen, lajêng nyabdakakên ing ngriki awis toya, punika namanipun siya-siya botên surup, sikara tanpa dosa, saiba susahipun tiyang gêsang laki rabi sampun lungse, lajêng botên gampil pêncaripun titahing Latawalhujwa, makatên wau saking sabda paduka, sêpintên susahipun tiyang ingkang sami kêbênan, lepen Kadhiri ngalih panggenan mili nrajang dhusun, wana, sabin, pintên-pintên sami risak, ngriki paduka-sotakên, sêlaminipun awis toya, lepenipun asat, paduka sikara botên surup, nyikara tanpa prakara”.
Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-êlih jênêng Kutha Gêdhah, amarga wonge kene agamane ora irêng ora putih, têtêpe agama biru, sabab agama Kalang, mula tak-sotake larang banyu, aku njaluk banyu ora oleh, mula kaline banjur tak-êlih iline, kene kabeh tak sotake larang banyu, dene ênggonku ngêsotake prawan tuwa jaka tuwa, amarga kang tak jaluki banyu ora oleh iku, prawan baleg.”.
Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun botên timbang kaliyan sot panjênêngan, botên sapintên lêpatipun, tur namung tiyang satunggal ingkang lêpat, nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangêt, botên timbang kaliyan kukumipun, paduka punika namanipun damêl mlaratipun tiyang kathah, saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari, paduka inggih dipunukum mlarat ingkang langkung awrat, amargi ngrisakakên tanah, lah sapunika mugi panjênêngan-sotakên wangsulipun malih, ing ngriki sagêda mirah toya malih, sagêd dados asil panggêsangan laki rabi taksih alit lajêng mêncarakên titahipun Hyang Manon. Panjênêngan sanes Narendra têka ngarubiru agami, punika namanipun tiyang dahwen”.
Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu Majalêngka aku ora wêdi”.
Buta Locaya barêng krungu têmbung ora wêdi marang Ratu Majalêngka banjur mêtu nêpsune, calathune sêngol: “Rêmbag paduka niki dede rêmbage wong ahli praja, patute rêmbage tiyang entên ing bambon, ngêndêlake dumeh tiyang digdaya, mbok sampun sumakehan dumeh dipunkasihi Hyang Widdhi, sugih sanak malaekat, lajêng tumindak sakarsa-karsa botên toleh kalêpatan, siya dahwen sikara botên ngangge prakara, sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontên ingkang nglangkungi kaprawiran paduka, nanging sami ahli budi sarta ajrih sêsikuning Dewa, têbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatêng sêsami nyikara tanpa prakara, punapa paduka punika tiyang tunggilipun Aji Saka, muride Ijajil. Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajêng minggat saking tanah Jawi, sumbêr toya ing Mêdhang saurutipun dipunbêkta minggat sadaya, Aji Saka tiyang saka Hindhu, paduka tiyang saking ‘Arab, mila sami siya-siya dhatêng sêsami, sami damêl awising toya, paduka ngakên Sunan rak kêdah simpên budi luhur, damêl wilujêng dhatêng tiyang kathah, nanging kok jêbul botên makatên, wujud paduka niki jajil bêlis katingal, botên tahan digodha lare, lajêng mubal nêpsune gêlis duka, niku Sunan napa? Yen pancen Sunaning jalma yêktos, mêsthi simpên budi luhur. Paduka niksa wong tanpa dosa, nggih niki margi paduka cilaka, tandhane paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam, yen sampun dados, lajêng paduka-ênggeni piyambak, siram salêbêting kawah wedang ingkang umob mumpal-mumpal. Kula niki bangsaning lêlêmbut, sanes alam kaliyan manusa, ewadene kula taksih engêt dhatêng wilujêngipun manusa. Inggih sampun ta, sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakên malih, lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya kula-aturi mangsulakên kados sawaunipun, manawi panjênêngan botên karsa mangsulakên, sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula-têluh kajêngipun pêjah sadaya, kula tamtu nyuwun bantu wadya bala dhatêng Kanjêng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontên samodra kidul”.
Sunan Benang barêng mirêng nêpsune Buta Locaya rumaos lupute, dene gawe kasusahan warna-warna, nyikara wong kang ora dosa, mula banjur ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan, ora kêna mbaleni caturku kang wus kawêtu, besuk yen wus limang atus taun, kali iki bisa bali kaya mau-maune”.
Buta Locaya barêng krungu kêsagahane Sunan Benang, banjur nêpsu maneh, nuli matur marang Sunan Benang: “Kêdah paduka- wangsulna sapunika, yen botên sagêd, paduka kula-banda”.
Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kêna mangsuli, aku pamit nyimpang mangetan, woh sambi iki tak-jênêngake cacil, dene kok kaya bocah cilik padha tukaran, dhêmit lan wong pêcicilan rêbut bênêr ngadu kawruh prakara rusaking tanah, sarta susahe jalma lan dhêmit, dak-suwun marang Rabbana, woh sambi dadi warna loro kanggone, daginge dadiya asêm, wijine mêtuwa lêngane, asêm dadi pasêmoning ulat kêcut, dene dhêmit padu lan manusa, lênga têgêse dhêmit mlêlêng jalma lunga. Ing besuk dadiya pasêksen, yen aku padu karo kowe, lan wiwit saiki panggonan têtêmon iki, kang lor jênênge desa Singkal, ing kene desa ing Sumbre, dene panggonane balamu kang ana ing kidul iku jênênge desa Kawanguran”.
Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan kali, katêlah nganti tumêka saprene ing tanah Kutha Gêdhah ana desa aran Kawanguran, Sumbre sarta Singkal, Kawanguran têgêse kawruhan, Singkal têgêse sêngkêl banjur nêmu akal.
Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. Sunan Benang tindake têkan ing desa Bogêm, ana ing kono Sunan Benang mriksani rêca jaran, rêca mau awak siji êndhase loro, dene prênahe ana sangisoring wit trênggulun, wohe trênggulun mau akeh bangêt kang padha tiba nganti amblasah, Sunan Benang ngasta kudhi, rêca jaran êndhase digêmpal.
Buta Locaya barêng wêruh patrape Sunan Benang anggêmpal êndhasing rêca jaran, saya wuwuh nêpsune sarta mangkene wuwuse: “Punika yasanipun sang Prabu Jayabaya, kangge pralambang ing tekadipun wanita Jawi, benjing jaman Nusa Srênggi, sintên ingkang sumêrêp rêca punika, lajêng sami mangrêtos tekadipun para wanita Jawi”.
Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhêmit kok wani padu karo manusa, jênênge dhêmit kêmênthus”.
Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa, ngriku Sunan, kula Ratu”.
Sunan Benang ngandika: “Woh trênggulun iki tak-jênêngake kênthos, dadiya pangeling-eling ing besuk, yen aku kêrêngan karo dhêmit kumênthus, prakara rusaking rêca”.
Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene, woh trênggulun jênênge kênthos, awit saka sabdane Sunan Benang, iku pituture Raden Budi Sukardi, guruku”.
Sunan Benang banjur tindak mangalor, barêng wis wanci asar, kêrsane arêp salat, sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane, sumure banjur digolingake, dene Sunan Benang sawise, nuli sagêd mundhut banyu kagêm wudhu banjur salat.
Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene sumur mau karane sumur Gumuling, Sunan Benang kang anggolingake, iku pituture Raden Budi guruku, êmbuh bênêr lupute”.
Sunan Benang sawise salat banjur nêrusake tindake, satêkane desa Nyahen (10) ing kona ana rêca buta wadon, prênahe ana sangisoring wit dhadhap, wêktu iku dhadhape pinuju akeh bangêt kêmbange, sarta akeh kang tiba kanan keringe rêca buta mau, nganti katon abang mbêranang, saka akehe kêmbange kang tiba, Sunan Benang priksa rêca mau gumun bangêt, dene ana madhêp mangulon, dhuwure ana 16 kaki, ubênge bangkekane 10 kaki, saupama diêlih saka panggonane, yen dijunjung wong wolung atus ora kangkat, kajaba yen nganggo piranti, baune têngên rêca mau disêmpal dening Sunan Benang, bathuke dikrowak.
Buta Locaya wêruh yen Sunan Benang ngrusak rêca, dheweke nêpsu maneh, calathune: “Panjênêngan nyata tiyang dahwen, rêca buta bêcik-bêcik dirusak tanpa prakara, saniki awon warnine, ing mangka punika yasanipun Sang Prabu Jayabaya, lah asilipun punapa panjênêngan ngrisak rêca?”
Pangandikane Sunan Benang: “Mulane rêca iki tak-rusak, supaya aja dipundhi-pundhi dening wong akeh, aja tansah disajeni dikutugi, yen wong muji brahala iku jênênge kapir kupur lair batine kêsasar.”
Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngrêtos, yen punika rêca sela, botên gadhah daya, botên kuwasa, sanes Hyang Latawalhujwa, mila sami dipunladosi, dipunkutugi, dipunsajeni, supados para lêlêmbut sampun sami manggen wontên ing siti utawi kajêng, amargi siti utawi kajêng punika wontên asilipun, dados têdhanipun manusa, mila para lêlêmbut sami dipunsukani panggenan wontên ing rêca, panjênêngan-tundhung dhatêng pundi? Sampun jamakipun brêkasakan manggen ing guwa, wontên ing rêca, sarta nêdha ganda wangi, dhêmit manawi nêdha ganda wangi badanipun kraos sumyah, langkung sênêng malih manawi manggen wontên ing rêca wêtah ing panggenan ingkang sêpi edhum utawi wontên ngandhap kajêng ingkang agêng, sampun sami ngraos yen alamipun dhêmit punika sanes kalayan alamipun manusa, manggen wontên ing rêca têka panjênêngan-sikara, dados panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya dhatêng sasamining tumitah, makluking Pangeran. Aluwung manusa Jawa ngurmati wujud rêca ingkang pantês simpên budi nyawa, wangsul tiyang bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah, wujude nggih tugu sela, punika inggih langkung sasar”.
Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa Kangjêng Nabi Ibrahim, ing kono pusêring bumi, didelehi tugu watu disujudi wong akeh, sing sapa sujud marang Ka’batu’llah, Gusti Allah paring pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”.
Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Tandhane napa yen angsal sihe Pangeran, angsal pangapuntên sadaya kalêpatanipun, punapa sampun angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit?
Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasêbut ing kitabku, besuk yen mati oleh kamulyan”.
Buta Locaya mangsuli karo mbêkos: “Pêjah malih yen sumêrêpa, kamulyan sanyata wontên ing dunya kemawon sampun korup, sasar nyêmbah tugu sela, manawi sampun nrimah nêmbah curi, prayogi dhatêng rêdi Kêlut kathah sela agêng-agêng yasanipun Pangeran, sami maujud piyambak saking sabda kun, punika wajib dipunsujudi. Saking dhawuhipun Ingkang Maha Kuwaos, manusa sadaya kêdah sumêrêp ing Batu’llahipun, badanipun manusa punika Baitu’llah ingkang sayêktos, sayêktos yen yasanipun Ingkang Maha Kuwaos, punika kêdah dipunrêksa, sintên sumêrêp asalipun badanipun, sumêrêp budi hawanipun, inggih punika ingkang kenging kangge tuladha. Sanadyan rintên dalu nglampahi salat, manawi panggenanipun raga pêtêng, kawruhipun sasar-susur, sasar nêmbah tugu sela, tugu damêlan Nabi, Nabi punika rak inggih manusa kêkasihipun Gusti Allah, ta, pinaringan wahyu nyata pintêr sugih engêtan, sidik paningalipun têrus, sumêrêp
cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. Dene ingkang yasa rêca punika Prabu Jayabaya, inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos, pinaringan wahyu mulya, inggih pintêr sugih engêtan sidik paningalipun têrus, sumêrêp saderengipun kalampahan, paduka pathokan tulis, tiyang Jawi pathokan sastra, bêtuwah saking lêluhuripun. sami-sami nyungkêmi kabar, aluwung nyungkêmi kabar sastra saking lêluhuripun piyambak, ingkang patilasanipun taksih kenging dipuntingali. Tiyang nyungkêmi kabar ‘Arab, dereng ngrêtos kawontênanipun ngrika, punapa dora punapa yêktos, anggêga ujaripun tiyang nglêmpara. Mila panjênêngan anganjawi, nyade umuk, nyade mulyaning nagari Mêkah, kula sumêrêp nagari Mêkah, sitinipun panas, awis toya, tanêm-tanêm tuwuh botên sagêd mêdal, bênteripun bantêr awis jawah, manawi tiyang ingkang ahli nalar, mastani Mêkah punika nagari cilaka, malah kathah tiyang sade tinumbas tiyang, kangge rencang tumbasan. Panjênêngan tiyang duraka, kula-aturi kesah saking ngriki, nagari Jawi ngriki nagari suci lan mulya, asrêp lan bênteripun cêkapan, tanah pasir mirah toya, punapa ingkang dipuntanêm sagêd tuwuh, tiyangipun jalêr bagus, wanitanipun ayu, madya luwês wicaranipun. Rêmbag panjênêngan badhe priksa pusêring jagad, inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi punika, sapunika panjênêngan ukur, manawi kula lêpat panjênêngan jotos. Rêmbag panjênêngan punika mblasar, tandha kirang nalar, kirang nêdha kawruh budi, rêmên niksa ing sanes. Ingkang yasa rêca punika Maha Prabu Jayabaya, digdayanipun ngungkuli panjênêngan, panjênêngan punapa sagêd ngêpal lampahing jaman? Sampun ta, kula aturi kesah kemawon saking ngriki, manawi botên purun kesah sapunika, badhe kula undhangakên adhi kula ingkang wontên ing rêdi Kêlut, panjênêngan kula-kroyok punapa sagêd mênang, lajêng kula bêkta mlêbêt dhatêng kawahipun rêdi Kêlut, panjênêngan punapa botên badhe susah, punapa panjênêngan kêpengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhatêng Selabale, dados murid kula!”.
Sunan Benang ngandika: “Ora arêp manut rêmbugmu, kowe setan brêkasakan”.
Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhêmit, nanging dhêmit raja, mulya langgêng salamine, panjênêngan dereng tampu mulya kados kula, tekad panjênêngan rusuh, rêmên nyikara niaya, mila panjênêngan dhatêng tanah Jawi, wontên ing ‘Arab nakal kalêbêt tiyang awon, yen panjênêngan mulya tamtu botên kesah saking ‘Arab, mila minggat, saking lêpat, tandhanipun wontên ing ngriki taksih krejaban, maoni adating uwong, maoni agama, damêl risak barang sae, ngarubiru agamane lêluhur kina, Ratu wajib niksa, mbucal dhatêng Mênadhu”.
Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kêmbange tak jênêngake celung, uwohe kledhung, sabab aku kêcelung nalar lan kêledhung rêmbag, dadiya pasêksen yen aku padu lan ratu dhêmit, kalah kawruh kalah nalar”.
Mula katêlah nganti tumêka saprene, woh dhadhap jênênge kledhung, kêmbange aran celung.
Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arêp mulih mênyang Benang”.
Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Inggih sampun, panjênêngan enggala kesah, wontên ing ngriki mindhak damêl sangar, manawi kadangon wontên ing ngriki mindhak damêl susah, murugakên awis wos, nambahi bênter, nyudakakên toya”.
Sunan Benang banjur tindak, dene Buta Locaya sawadya-balane uga banjur mulih. Gênti kang cinarita, nagari ing Majalêngka, anuju sawijining dina, Sang Prabu Brawijaya miyos sinewaka, diadhêp Patih sarta para wadya bala, Patih matur, yen mêntas nampani layang saka Tumênggung ing Kêrtasana, dene surasane layang ngaturi uninga yen nagara Kêrtasana kaline asat, kali kang saka Kadhiri miline nyimpang mangetan, saperanganing layang mau unine mangkene: “Wontên ler-kilen Kadhiri, pintên-pintên dhusun sami karisakan, anggenipun makatên wau, saking kenging sabdanipun ngulama saking ‘Arab, namanipun Sunan Benang.
Sang Prabu mirêng ature Patih bangêt dukane, Patih banjur diutus mênyang Kêrtasana, niti-priksa ing kono kabeh, kahanane wonge sarta asile bumi kang katrajang banyu kapriye? Sarta didhawuhi nimbali Sunan Benang.
Gêlising carita, Patih sawise niti-priksa, banjur ngaturake kahanane kabeh, dene duta kang diutus mênyang Tuban uga wis têka, matur yen ora oleh gawe, amarga Sunan Benang lunga ora karuhan parane.
Sang Prabu midhangêt ature para wadya banjur duka, paring pangandika yen ngulama saka ‘Arab pada ora lamba atine. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih, wong ‘Arab kang ana ing tanah Jawa padha didhawuhi lunga, amarga gawe ribêding nagara, mung ing Dêmak lang Ngampelgadhing kang kêparêng ana ing tanah Jawa, nglêstarekake agamane, liyane loro iku didhawuhi ngulihake mênyang asale, dene yen padha ora gêlêm lunga didhawuhi ngrampungi bae. Ature Patih: “Gusti! lêrês dhawuh paduka punika, amargi ngulama Giripura sampun tigang taun botên sowan utawi botên ngaturakên bulubêkti, mênggah sêdyanipun badhe rêraton piyambak, botên ngrumaosi nêdha ngombe wontên tanah Jawi, dene namanipun santri Giri anglangkungi asma paduka, pêparabipun Sunan ‘Aênalyakin, punika nama ing têmbung ‘Arab, mênggah têgêsipun Sunan punika budi, têgêsipun Aenal punika ma’rifat, têgêsipun Yakin punika wikan, sumêrêp piyambak, dados nama tingal ingkang têrus, suraosipun ing têmbung Jawi nama Prabu Satmata, punika asma luhur ingkang makatên punika ngirib-irib tingalipun Kang Maha Kuwasa, mariksa botên kasamaran, ing alam donya botên wontên kalih ingkang asma Sang Prabu Satmata, kajawi namung Bathara Wisnu nalika jumênêng Nata wontên ing nagari Mêdhang-Kasapta. Sang Prabu midhangêt ature Patih, banjur dhawuh nglurugi pêrang mênyang Giri, Patih budhal ngirid wadya-bala prajurit, nglurug mênyang Giri. Patih sawadya-balane satêkane ing Giri banjur campuh pêrang. Wong ing Giri geger, ora kuwat nanggulangi pangamuke wadya Majapahit. Sunan Giri mlayu mênyang Benang, golek kêkuwatan, sawise oleh bêbantu, banjur pêrang maneh mungsuh wong Majalêngka, pêrange rame bangêt, ing wêktu iku tanah jawa wis meh saparo kang padha ngrasuk agama Islam, wong-wong ing Pasisir lor wis padha agama Islam, dene kang kidul isih têtêp nganggo agama Buddha. Sunan Benang wis ngrumasani kaluputane, ênggone ora sowan mênyang Majalêngka, mula banjur lunga karo Sunan Giri mênyang Dêmak, satêkane ing Dêmak, banjur ngêbang marang Adipati Dêmak, diajak nglurug mênyang Majalêngka, pangandikane Sunan Benang marang Adipati Dêmak: “Wêruha yen saiki wis têkan masa rusake Kraton Majalêngka, umure wis satus têlu taun, saka panawangku, kang kuwat dadi Ratu tanah Jawa, sumilih Kaprabon Nata, mung kowe, rêmbugku rusakên Kraton Majalêngka, nanging kang sarana alus, aja nganti ngêtarani, sowana besuk Garêbêg Mulud, nanging rumantiya sikêping pêrang: 1. gaweya samudana, 2. dhawuhana balamu para Sunan kabeh lan para Bupati kang wis padha Islam kumpulna ana ing Dêmak, yen kumpule iku arêp gawe masjid, mêngko yen wis kumpul, para Sunan sarta Bupati sawadya-balane kang wis padha Islam, kabeh mêsthi nurut marang kowe”.
Ature Adipati Dêmak: “Kula ajrih ngrisak Nagari Majalêngka, amêngsah bapa tur raja, kaping tiganipun damêl sae paring kamukten ing dunya, lajêng punapa ingkang kula-walêsakên, kajawi namung sêtya tuhu. Dhawuhipun eyang Sunan Ngampelgadhing, botên kaparêng yen kula mêngsah bapa, sanadyan Buddha nanging margi-kula sagêd dumados gêsang wontên ing dunya. Inggih sanadyan Buddha punapa kapir, tiyang punika bapa inggih kêdah dipunhurmati, punapa malih dereng wontên lêpatipun dhatêng kula”.
Sunan Benang ngandika mêneh: “Sanadyan mungsuh bapa lan ratu, ora ana alane, amarga iku wong kapir, ngrusak kapir Buddha kawak: kang kok-têmu ganjaran swarga. Eyangmu kuwi santri mêri, gundhul bêntul butêng tanpa nalar, patute mung dadi godhogan, sapira kawruhe Ngampelgadhing, bocah kalairan Cêmpa, masa padhaa karo aku Sayid Kramat, Sunan Benang kang wis dipuji wong sabumi ‘alam, têdhak Rasul panutaning wong Islam kabeh. Kowe mungsuh bapakmu Nata, sanadyan dosa pisan, mung karo wong siji, tur ratu kapir, nanging yen bapakmu kalah, wong satanah Jawa padha Islam kabeh. Kang mangkono iku, sapira mungguh kauntunganmu nugrahaning Pangeran tikêl kaping êmbuh, sihing Hyang Kang Maha Kuwasa kang dhawuh marang kowe. Satêmêne ramanira iku siya-siya marang sira, tandhane sira diparingi jênêng Babah, iku ora prayoga, têgêse Babah iku saru bangêt, iya iku: bae mati bae urip, wiji jawa digawa Putri Cina, mula ibumu diparingake Arya Damar, Bupati ing Palembang, wong pranakan buta; iku mêgat sih arane. Ramanira panggalihe têtêp ora bêcik, mulane rêmbugku, walêsên kalawan alus, lire aja katara, ing batin sêsêpên gêtihe, mamahên balunge”.
Sunan Giri nyambungi rêmbug: Aku iki ora dosa dilurugi ramamu, didakwa rêraton, amarga aku ora seba marang Majalêngka. Sumbare Patih, yen aku kacandhak arêp dikuciri lan dikon ngêdusi asu, akeh bangsa Cina kang padha têka ana ing tanah Jawa, ana ing Giri padha tak-Islamake awit kang muni ing kitabku, yen ngislamake wong kapir, besuk ganjarane swarga, mula akeh bangsa Cina kang padha tak- Islamake, tak-anggêp kulawarga. Dene têkaku mrene ini ngungsi urip mênyang kowe, aku wêdi marang Patih Majalêngka, lan ramanira sêngit bangêt marang santri kang muji dhikir, ênggone ngarani jare lara ayan esuk lan sore, yen kowe ora ngukuhi, mêsthi rusak agama Mukhammad Nabi”.
Wangsulane Sang Adipati Dêmak: “Anggenipun nglurugi punika lêrês, tiyang rêraton, botên ngrumaosi yen kêdah manut prentahing Ratu ingkang mbawahakên, sampun wajibipun dipunlurugi, dipunukum pêjah, awit panjênêngan botên ngrumaosi dhahar ngunjuk wontên in tanah Jawi”.
Sunan Benang ngandika maneh: “Yen ora kok-rêbut dina iki, kowe ngênteni surude bapakmu, kaprabone bapakmu wis mêsthi ora bakal tiba kowe, mêsthi dipasrahake marang Adipati Pranaraga, amarga iku putrane kang tuwa, utawa dipasrahake marang putra mantu, iya iku Ki Andayaningrat ing Pêngging, kowe anak nom, ora wajib jumênêng Nata, mumpung iki ana lawang mênga, Giri kang dadi jalarane ngrusak Majalêngka, nadyan mati, mungsuh wong kapir, mati sabilu’llah, patine slamêt nampani swarga mulya, wis wajibe wong Islam mati dening wong kapir, saka ênggone nyungkêmi agamane, karo wis wajibe wong urip golek kamuktening dunya, golek darajat kang unggul dhewe, yen wong urip ora wêruh marang uripe, iku durung gênêp uripe, lamun sipat manusa mêsthi melik mêngku praja angreh wadya bala, awit Ratu iku Khalifa wakile Hyang Widdhi, apa bae kang dikarêpake bisa kêlakon, satêmêne kowe wis pinasthi bakal jumênêng Ratu ana ing tanah Jawa, sumilih kaprabone ramamu, ananging ing laire iya kudu nganggo sarat dirêbut sarana pêrang, yen kowe ora gêlêm nglakoni, mêsthine sihe Gusti Allah kang mênyang kowe bakal dipundhut bali, dadi kowe jênênge nampik sihe Allah, aku mung sadarma njurungi, amarga aku wis wêruh sadurunge winarah, wis tak-sêmprong nganggo sangkal bolong katon nêrawang ora samar sajroning gaib, kowe kang katiban wahyu sihe Pangeran, bisa dadi Ratu ana ing tanah Jawa, murwani agama suci, ambirat ênggonmu madêg Narendra, bisa ngideni adêgmu Nata mêngku tanah Jawa, bisa lêstari satêruse”. Akeh-akeh dhawuhe Sunan Benang, pambujuke marang adipati Dêmak supaya mêtu nêpsune, gêlêm ngrusak Majalêngka, malah diwenehi lêpiyan carita Nabi, kang gêlêm ngrusak bapa kapir, iku padha nêmu rahayu.
Adipati Dêmak matur: “Manawi karsa panjênêngan makatên, kula namung sadarmi nglampahi dhawuh, panjênêngan ingkang mbotohi”.
Sunan Benang ngandika maneh: “Iya mangkono iku kang tak karêpake, saiki kowe wis gêlêm tak botohi, lah saiki uga kowe kirima layang marang adhimu Adipati Têrung, ananging têmbungmu kang rêmit sarta alus, adhimu antêpên, apa abot Sang Nata, apa abot sadulur tuwa kang tunggal agama. Yen adhimu wis rujuk adêgmu Nata, gampang bangêt rusaking Majalêngka. Majapahit sapa kang diêndêlake yen Kusen mbalik, Si gugur isih cilik, masa ndadak waniya, Patihe wis tuwa, dithothok bae mati, mêsthi ora bisa nadhahi yudamu”. Adipati Dêmak banjur kirim layang marang Têrung, ora suwe utusan bali, wis tinampan wangsulane Sang Adipati Têrung, saguh ambiyantu pêrang, layang banjur katur Sunan Benang, ndadekake sukaning panggalih, Sunan Benang banjur ngandika marang Adipati Dêmak, supaya Sang Adipati ngaturi para Sunan lan para Bupati kabeh, samudana yen arêp ngêdêgake masjid, lan diwenehana sumurup yen Sunan Benang wis ana ing Dêmak. Gêlising carita, ora suwe para Sunan lan para Bupati padha têka kabeh, banjur pakumpulan ngêdêgake masjid, sawise mêsjid dadi, banjur padha salat ana ing masjid, sabakdane salat, banjur tutup lawang, wong kabeh dipangandikani dening Sunan Benang, yen Adipati Dêmak arêp dijumênêngake Nata, sarta banjur arêp ngrusak Majapahit, yen wis padha rujuk, banjur arêp kêpyakan tumuli. Para Sunan lan para Bupati wis padha rujuk kabeh, mung siji kang ora rujuk, iya iku Syekh Sitijênar. Sunan Benang duka, Syekh Sitijênar dipateni, dene kang kadhawuhan mateni iya iku Sunan Giri, Syekh Sitijênar dilawe gulune mati. Sadurunge Syekh Sitijênar tumêka ing pati, ninggal swara: “Eling-eling ngulama ing Giri, kowe ora tak-walês ing akhirat, nanging tak-walês ana ing dunya kene bae, besuk yen ana Ratu Jawa kanthi wong tuwa, ing kono gulumu bakal tak-lawe gênti”. Sunan Giri mangsuli: “Iya besuk wani, saiki wani, aku ora bakal mundur”. Sawise golong karêpe, nglêstarekake apa kang wis dirêmbug. Sang Adipati Dêmak banjur ingidenan jumênêng Nata, amêngku tanah Jawa, jêjuluk Senapati Jimbuningrat, patihe wong saka Atasaning aran Patih Mangkurat. Esuke Senapati Jimbuningrat wis miranti sapraboting pêrang, banjur budhal mênyang Majapahit, diiringake para Sunan lan para Bupati, lakune kaya dene Garêbêg Maulud, para wadya bala ora ana kang ngrêti wadining laku, kajaba mung para Tumênggung lan para Sunan apa dene para ngulama, Sunan Benang lan Sunan Giri ora melu mênyang Majapahit, pawadane sarehne wis sêpuh, mung arêp salat ana ing masjid bae, lan paring idi rahayuning laku, dadi mung para Sunan lan para Bupati bae kang ngiringake Sultan Bintara, ora kacarita lakune ana ing dalan.
Gênti kocapa nagara in Majapahit, Patih saulihe saka ing Giri banjur matur sang Praba, bab ênggone mukul pêrang ing Giri, mungguh kang dadi senapati ing Giri iya iku sawijining bangsa Cina kang wis ngrasuk agama Islam, arane Sêcasena, mangsah mêncak nganggo gêgêman abir, sawadya-balane watara wong têlung atus, padha bisa mêncak kabeh, brêngose capang sirahe gundhul, padha manganggo srêban cara kaji, mangsah pêrang paculat kaya walang kadung, wadya Majapahit ambêdhili, dene wadya-bala ing Giri pating jênkelang ora kêlar nadhahi tibaning mimis. Senapati Sêcasena wis mati, dene bala Cina liyane lang kari padha mlayu salang tunjang, bala ing Giri ngungsi mênyang alas ing gunung, sawêneh ngambang ing sagara, mlayu mênyang Benang têrus diburu dening wadya-bala Majapahit, Sunan Giri lan Sunan Benang banjur nunggal saprau-layar ngambang ing sagara, kinira banjur minggat marang Arab ora bali ngajawa. Sang Prabu banjur dhawuh marang Patih, supaya utusan mênyang Dêmak, andhawuhake yen ngulama ing Giri lan ing Benang padha têka ing Dêmak, didhawuhi nyêkêl, kaaturna bêbandan ing ngarsa Nata, awit dosane santri Benang ngrusak bumi ing Kêrtasana, dene dosane santri Giri ora gêlêm seba marang ngarsa Prabu, tekade sumêdya nglawan pêrang.
Patih samêtune ing paseban jaba, banjur nimbali duta kang arêp diutus mênyang Dêmak, sajrone ana ing paseban jaba, kêsaru têkane utusane Bupati ing Pathi, ngaturake layang marang Patih, layang banjur diwaos kiyai Patih, mungguh surasaning layang. Menak Tunjungpura ing Pathi ngaturi uninga, yen Adipati ing Dêmak, iya iku Babah Patah, wis madêg Ratu ana ing Dêmak, dene kang ngêbang- êbang adêging Nata, iya iku Sunan Benang lan Sunan Giri, para Bupati pasisir lor sawadyane kang wis padha Islam uga padha njurungi, dene jêjuluking Ratu, Senapati Jimbuningrat, utawa Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’rrasul Amiri’lmukminin Tajudi’l’Abdu’lhamid Kak, iya Sultan Adi Surya ‘Alam, ing Bintara. Ing samêngko Babah Patah sawadya-balane wis budhal nglurug marang Majapahit, sêdya mungsuh ingkang rama, Babah Patah abot mênyang gurune, ngenthengake ingkang rama, para Sunan lan para Bupati padha ambiyantu anggone arêp mbêdhah Majapahit. Babah Patah anggone nggawa bala têlung lêksa miranti sapraboting pêrang, mungguh kature Sang Prabu amborongake kiyai Patih. Layang kang saka Pathi mau katitimasan tanggal kaping 3 sasi Mulud taun Jimakir 1303, masa Kasanga Wuku Prangbakat. Kiyai Patih sawise maos layang, njêtung atine, sarta kêrot, gêrêng-gêrêng, gedheg-gedheg, bangêt pangungune, banjur tumênga ing tawang karo nyêbut marang Dewa kang Linuwih, bangêt gumune mênyang wong Islam, dene ora padha ngrêti mênyang kabêcikane Sang Prabu, malah padha gawe ala. Kyai Patih banjur matur Sang Prabu, ngaturake surasane layang mau.
Sang Prabu Brawijaya midhangêt ature Patih kaget bangêt panggalihe, njêgrêg kaya tugu, nganti suwe ora ngandika, jroning panggalih ngungun bangêt marang putrane sarta para Sunan, dene padha duwe sêdya kang mangkono, padha diparingi pangkat, wêkasane malah padha gawe buwana balik, kolu ngrusak Majapahit. Sang Prabu nganti ora bisa manggalih apa mungguh kang dadi sababe, dene putrane lan para ngulama têka arêp ngrusak karaton, digoleki nalar-nalare tansah wudhar, lair batin ora tinêmu ing nalar, dene kok padha duwe pikir ala. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt, sungkawane ratu Gêdhe kang linuwih, sinêmonan dening Dewa, kaya dene atining kêbo êntek dimangsa ing tumaning kinjir. Sang Prabu banjur andangu marang Patih, apa ta mungguh kang dadi sababe, dene putrane lan para ngulama apa dene para Bupati kolu ngrusak Majapahit, ora padha ngelingi marang kabêcikan.
Ature Patih, mratelakake yen uga ora mangêrti, amarga adoh karo nalare, wong dibêciki kok padha malês ala, lumrahe mêsthi, padha malês bêcik. Ki Patih uga mung gumun, dene wong Islam pikire kok padha ora bêcik, dibêciki walêse kok padha ala.
Sang Prabu banjur ngandika marang patih, bab anane lêlakon kaya mangkono iku amarga saka lêpate sang nata piyambak, dene nggêgampang marang agama kang wis kanggo turun-tumurun, sarta ênggone kêgiwang marang ature Putri Cêmpa, ngideni para ngulama mêncarake agama Islam. Sang Nata saka putêking panggalihe nganti kawêdhar pangandikane ngêsotake marang wong Islam: Sun-suwung marang Dewa Gung, muga winalêsna susah-ingsun, wong Islam iku besuk kuwalika agamanira, manjalma dadi wong kucir, dene tan wruh kabêcikan, sun-bêciki walêse angalani”. “Sabdaning Ratu Agung sajroning kasusahan, katarima dening Bathara, sinêksen ing jagad, katandhan ana swara jumêgur gêtêr patêr sabuwana, iya iku kawitane manuk kuntul ana kang kucir. Sunan, ngulama kabeh ngrangkêp jênêng walikan, katêlah tumêka saprene, ngulama jênênge walian, kuntul kucir githoke. Sang Prabu banjur mundhut pamrayoga marang Patih, prakara têkane mungsuh, santri kang ngrêbut nagara, iku dilawan apa ora? Sang Nata rumaos gêtun lan ngungun, dene Adipati Dêmak kapengin mêngkoni Majapahit bae kok dirêbut sarana pêrang, saupama disuwun kalayan aris bae mêsthi diparingake, amarga Sang Nata wis sêpuh. Ature Patih prayoga nglawan têkaning mungsuh. Sang Prabu ngandika, yen nganti nglawan rumaos lingsêm bangêt, dene mungsuh karo putra, mula dhawuhe Sang Prabu, yen mapag pêrang kang sawatara bae, aja nganti ngrusakake bala. Patih didhawuhi nimbali Adipati Pêngging sarta Adipati Pranaraga, amarga putra kang ana ing Majapahit durung wanci yen mapagake pêrang, sawise paring pangandika mangkono. Sang Prabu banjur lolos arsa têdhak marang Bali, kadherekake abdi kêkasih, Sabdapalon lan Nayagenggong. Sajrone Sang Prabu paring pangandika, wadya-bala Dêmak wis pacak baris ngêpung nagara, mula kasêsa tindake. Wadya Dêmak banjur campuh karo wadya Majapahit, para Sunan banjur ngawaki pêrang, Patih Majapahit ngamuk ana samadyaning papêrangan. Para Bupati Nayaka wolu uga banjur melu ngamuk. Pêrange rame bangêt, bala Dêmak têlung lêksa, balang Majapahit mung têlung ewu, sarehne Majapahit karoban mungsuh, prajurite akeh kang padha mati, mung Patih sarta Bupati Nayaka pangamuke saya nêsêg. Bala Dêmak kang katrajang mêsthi mati. Putrane Sang Prabu aran Raden Lêmbupangarsa ngamuk ana satêngahing papêrangan, tandhing karo Sunan Kudus, lagi rame-ramene têtandhingan pêrang, Patih Mangkurat ing Dêmak nglambung, Putra Nata tiwas, saya bangêt nêpsune, pangamuke kaya bantheng kataton, ora ana kang diwêdeni, Patih ora pasah sakehing gêgaman, kaya dene tugu waja, ora ana braja kang tumama marang sarirane, ing ngêndi kang katrajang bubar ngisis, kang tadhah mati nggêlasah, bangkening wong tumpang tindhih, Patih binendrongan saka kadohan, tibaning mimis kaya udan tiba ing watu. Sunan Ngudhung mapagake banjur mrajaya, nanging ora pasah, Sunan Ngudhung disuduk kêna, barêng Sunan Ngudhung tiwas, Patih dibyuki wadya ing Dêmak, dene wadya Majapahit wis êntek, sapira kuwate wong siji, wêkasan Patih ing Majapahit ngêmasi, nanging kuwandane sirna, tinggal swara: “Eling-eling wong Islam, dibêciki gustiku walêse ngalani, kolu ngrusak nagara Majapahit, ngrêbut nagara gawe pêpati, besuk tak-walês, tak-ajar wêruh nalar bênêr luput, tak-damoni sirahmu, rambutmu tak-cukur rêsik”.
Sapatine Patih, para Sunan banjur mlêbu mênyang kadhaton. nanging sang Prabu wis ora ana, kang ana mung Ratu Mas, iya iku Putri Cêmpa, sang Putri diaturi sumingkir mênyang Benang uga karsa.
Para prajurit Dêmak banjur padha mlêbu mênyang kadhaton, ana ing kono pada njarah rayah nganti rêsik, wong kampung ora ana kang wani nglawan. Raden Gugur isih timur lolos piyambak. Adipati Têrung banjur mlêbu mênyang jêro pura, ngobongi buku-buku bêtuwah Buddha padha diobongi kabeh, wadya sajroning pura padha bubar, beteng ing Bangsal wis dijaga wong Têrung. Wong Majapahit kang ora gêlêm têluk banjur ngungsi mênyang gunung lan alas-alas, dene kang padha gêlêm têluk, banjur dikumpulake karo wong Islam, padha dikon nyêbut asmaning Allah. Layone para putra santana lan nayaka padha kinumpulake, pinêtak ana sakidul-wetan pura. Kuburan mau banjur dijênêngake Bratalaya, jarene iku kubure Raden Lêmbupangarsa.
Barêng wis têlung dina, Sultan Dêmak budhal mênyang Ngampel, dene kang dipatah tunggu ana ing Majapahit, iya iku Patih Mangkurat sarta Adipati Têrung, njaga kaslamêtan mbokmanawa isih ana pakewuh ing wuri, Sunan Kudus njaga ana ing kraton dadi sulihe Sang Prabu, Têrung uga dijaga ngulama têlung atus, sabên bêngi padha salat kajat sarta andêrês Kur’an, wadya-bala kang saparo lan para Sunan padha ndherek Sang Prabu mênyang Ngampelgadhing, Sunan Ngampel wis seda, mung kari garwane kang isih ana ing Ngampel, garwane mau asli saking Tuban, putrane Arya Teja, sasedane Sunan Ngampel, Nyai Agêng kanggo têtuwa wong Ngampel. Sang Prabu Jambuningrat satêkane ing Ngampel, banjur ngabekti Nyai Agung, para Sunan sarta para Bupati gênti-gênti padha ngaturake sêmbah mênyang Nyai Agêng. Prabu Jimbuningrat matur yen mêntas mbêdhah Majapahit, ngaturake lolose ingkang rama sarta Raden Gugur, ngaturake patine Patih ing Majapahit lan matur yen panjênêngane wis madêg Nata mêngku tanah Jawa, dene jêjuluke: Senapati Jimbun, sarta Panêmbahan Palembang, ênggone sowan mênyang Ngampel iku, prêlu nyuwun idi, têtêpa jumênêng Nata nganti run-tumurun aja ana kang nyêlani.
Nyai Agêng Ngampel sawise mirêng ature Prabu Jimbun, banjur muwun sarta ngrangkul Sang Prabu, Nyai Agêng ing batos karaos-raos, mangkene pangudaraosing panggalih: “Putuku, kowe dosa têlung prakara, mungsuh Ratu tur sudarmane, sarta kang aweh kamukten ing dunya, têka dirusak kang tanpa prakara, yen ngelingi kasaeane uwa Prabu Brawijaya, para ngulama padha diparingi panggonan kang wis anggawa pamêtu minangka dadi pangane, sarta padha diuja sakarêpe, wong pancene rak sêmbah nuwun bangêt, wusana banjur diwalês ala, seda utawa sugênge ora ana kang wêruh”.
Nyai Agêng banjur ndangu Sang Prabu, pangandikane: “Êngger! aku arêp takon mênyang kowe, kandhaa satêmêne, bapakmu tênan kuwi sapa? Sapa kang ngangkat kowe dadi Ratu tanah Jawa lan sapa kang ngideni kowe? Apa sababe dene kowe syikara kang tanpa dosa?”
Sang Prabu banjur matur, yen Prabu Brawijaya iku jarene ramane têmênan. Kang ngangkat sarirane dadi Ratu mêngku tanah Jawa iku para Bupati pasisir kabeh. Kang ngideni para Sunan. Mulane nagara Majapahit dirusak, amarga Sang Prabu Brawijaya ora karsa salin agama Islam, isih ngagêm agama kapir kupur, Buddha kawak dhawuk kaya kuwuk.
Nyai Agêng barêng mirêng ature Prabu Jimbun, banjur njêrit ngrangkul Sang Prabu karo ngandika: “Êngger! kowe wêruha, kowe iku dosa têlung prakara, mêsthi kêsiku ing Gusti Allah. Kowe wani mungsuh Ratu tur wong tuwamu dhewe, sarta sing aweh nugraha marang kowe, dene kowe kok wani ngrusak kang tanpa dosa. Anane Islam lan kapir sapa kang gawe, kajaba mung siji Gusti Allah piyambak. Wong ganti agama iku ora kêna dipêksa yen durung mêtu saka karêpe dhewe. Wong kang nyungkêmi agamane nganti mati isih nggoceki tekade iku utama. Yen Gusti Allah wis marêngake, ora susah ngango dikon, wis mêsthi salin dhewe ngrasuk agama Islam. Gusti Allah kang sipat rahman, ora dhawuh lan ora malangi marang wong kang salin agama. Kabeh iki sasênênge dhewe-dhewe. Gusti Allah ora niksa wong kapir kang ora luput, sarta ora paring ganjaran marang wong Islam kang tumindak ora bênêr, mung bênêr karo lupute sing diadili nganggo têtêping adil, lalar-lulurên asalmu, ibumu Putri Cêmpa nyêmbah pikkong, wujud dluwang utawa rêja watu. Kowe ora kêna sêngit mênyang wong kang agama Buddha, tandha mripatmu iku lapisan, mula blero pandêlêngmu, ora ngrêti marang kang bênêr lan kang luput, jarene anake Sang Prabu, têka kolu marang bapa, kêduga ngrusak ora nganggo prakara, beda matane wong Jawa, Jawa Jawi ngrêti matane mung siji, dadi wêruh ing bênêr lan luput, wêruh kang bêcik lan kang ala, mêsthi wêdi mênyang bapa, kapindhone Ratu lan kang aweh nugraha, iku wajib dibêkteni. Eklasing ati bêkti bapa, ora bêkti wong kapir, amarga wis wajibe manusa bêkti marang wong tuwane. Kowe tak-dongengi, wong Agung Kuparman, iku agamane Islam, duwe maratuwa kapir, maratuwane gêthing marang wong Agung amarga seje agama, maratuwane tansah golek sraya bisane mantune mati, ewadene Wong Agung tansah wêdi- asih lang ngaji-aji, amarga iku wong tuwane, dadi ora dielingi kapire, nanging kang dielingi wong tuwane, mula Wong Agung iya ngaji-aji marang maratuwane. Iya iku êngger, kang diarani wong linuwih, ora kaya tekadmu, bapa disiya-siya, dupeh kapir Budha ora gêlêm ganti agama, iku dudu padon. Lan aku arêp takon, apa kowe wis matur marang wong tuwamu, kok-aturi salin agama? nagarane kok nganti kok-rusak iku kapriye?
Prabu Jimbun matur, yen durung ngaturi salin agama, têkane Majapahit banjur ngêpung nagara bae.
Nyai Agêng Ngampel gumujêng karo ngandika: “Tindakmu iku saya luput bangêt, sanadyan para Nadi dhek jaman kuna, ênggone padha wani mungsuh wong tuwane, iku amarga sabên dinane wis ngaturi santun agama, nanging ora karsa, mangka sabên dinane wis diaturi mujijade, kang nandhakake yen kudu wis santun agama Islam, ananging atur mau ora dipanggalih, isih nglêstarekake agamane lawas, mula iya banjur dimungsuh. Lamun mangkono tumindake, sanadyan mungsuh wong tuwa, lair batine ora luput. Barêng wong kang kaya kowe, mujijadmu apa? Yen nyata Khalifatu’llah wênang nyalini agama lah coba wêtokna mujijadmu tak-tontone”.
Prabu Jimbun matur yen ora kagungan mujijad apa-apa, mung manut unine buku, jare yen ngislamake wong kapir iku ing besuk oleh ganjaran swarga.
Nyai Agêng Ngampel gumujêng nanging wêwah dukane. Ujar-jare bae kok disungkêmi, tur dudu bukuning lêluhur, wong ngumbara kok diturut rêmbuge, sing nglakoni rusak ya kowe dhewe, iku tandha yen isih mêntah kawruhmu, durung wani marang wong tuwa, saka kêpenginmu jumênêng Nata, kasusuhane ora dipikir. Kowe kuwi dudu santri ahli budi, mung ngêndêlake ikêt putih, nanging putihe kuntul, sing putih mung ing jaba, ing jêro abang, nalika eyangmu isih sugêng, kowe tau matur yen arêp ngrusak Majapahit, eyangmu ora parêng, malah manti-manti aja nganti mungsuh wong tuwa, saiki eyangmu wis seda, wêwalêre kok-trajang, kowe ora wêdi papacuhe. Yen kowe njaluk idi marang aku, prakara têtêpmu dadi Ratu tanah Jawa, aku ora wênang ngideni, aku bangsa cilik tur wong wadon, mêngko rak buwana balik arane, awit kowe sing mêsthine paring idi marang aku, amarga kowe Khalifatu’llah sajroning tanah Jawa, mung kowe dhewe sing tuwa, saucapmu idu gêni, yen aku tuwa tiwas, yen kowe têtêp tuwa Ratu”.
Banjure pangandikane Nyai Agêng Ngampel: “Putu! kowe tak- dongengi kupiya patang prakara, ing kitab hikayat wis muni, carita tanah Mêsir, panjênêngane Kanjêng Nabi Dhawud, putrane anggege kapraboning rama, Nabi Dhawud nganti kengsêr saka nagara, putrane banjur sumilih jumênêng Nata, ora lawas Nabi Dhawud sagêd wangsul ngrêbut nagarane. Putrane nunggang jaran mlayu mênyang alas, jarane ambandhang kêcanthol-canthol kayu, nganthi pothol gumantung ana ing kayu, iya iku kang diarani kukuming Allah. Ana maneh caritane Sang Prabu Dewata-cêngkar, iku iya anggege kapraboning rama, nanging banjur disotake dening ingkang rama banjur dadi buta, sabên dina mangsa jalma, ora suwe antarane, ana Brahmana saka tanah sabrang angajawa, aran Aji Saka, anggêlarake panguwasa sulap ana ing tanah Jawa. Wong Jawa akeh kang padha asih marang Aji Saka, gêthing marang Dewatacêngkar, Ajisaka diangkat dadi Raja, Dewatacêngkar dipêrangi nganti kêplayu, ambyur ing sagara, dadi bajul, ora antara suwe banjur mati. Ana maneh caritane nagara Lokapala uga mangkono, Sang Prabu Danaraja wani karo ingkang rama, kukume iya isih tumindak kaya kang tak-caritakake mau, kabeh padha nêmu sangsara. Apa maneh kaya kowe, mungsuh bapa kang tanpa prakara, kowe mêsthi cilaka, patimu iya mlêbu mênyang yomani, kang mangkono iku kukume Allah”.
Sang Prabu Jimbun mirêng pangandikane ingkang eyang, panggalihe rumasa kêduwung bangêt, nanging wis ora kêna dibalekake.
Nyai Agêng Ngampel isih nêrusake pangandikane: “Kowe kuwi dilêbokake ing loropan dening para ngulama lan para Bupati, mung kowe kok gêlêm nglakoni, sing nglakoni cilaka rak iya mung kowe dhewe, tur kelangan bapa, salawase urip jênêngmu ala, bisa mênang pêrang nanging mungsuh bapa Aji, iku kowe mrêtobata marang Kang Maha Kuwasa, kiraku ora bakal oleh pangapura, sapisan mungsuh bapa, kapindho murtat ing Ratu, kaping têlune ngrusak kabêcikan apa dene ngrusak prajane tanpa prakara. Adipati Pranaraga lan Adipati Pêngging masa trimaa rusaking Majapahit, mêsthine labuh marang bapa, iku bae wis abot sanggane”. Nyai Agêng akeh-akeh pangandikane marang Prabu Jimbun. Sawise Sang Prabu dipangandikani, banjur didhawuhi kondur mênyang Dêmak, sarta didhawuhi nglari lolose ingkang rama, yen wis kêtêmu diaturana kondur mênyang Majapahit, lan aturana mampir ing Ngampelgadhing, nanging yen ora kêrsa, aja dipêksa, amarga yen nganti duka mangka banjur nyupatani, mêsthi mandi.
Sang Prabu Jimbun sarawuhe ing Dêmak, para wadya padha sênêng-sênêng lan suka-suka nutug, para santri padha trêbangan lan dhêdhikiran, padha angucap sukur lan bungah bangêt dene Sang Prabu wis kondur sarta bisa mênang pêrange.
Sunan Benang mêthukake kondure Sang Prabu Jimbun, Sang Nata banjur matur marang Sunan Benang yen Majapahit wis kêlakon bêdhah, layang-layang Buddha iya wis diobongi kabeh, sarta ngaturake yen ingkang rama lan Raden Gugur lolos, Patih Majapahit mati ana samadyaning papêrangan, Putri Cêmpa wis diaturi ngungsi mênyang Benang, wadya Majapahit sing wis têluk banjur padha dikon Islam.
Sunan Benang mirêngake ature Sang Prabu Jimbun, gumujêng karo manthuk-manthuk, sarta ngandika yen wis cocog karo panawange.
Sang Prabu matur, yen kondure uga mampir ing Ngampeldênta, sowan ingkang eyang Nyai Agêng Ngampel, ngaturake yen mêntas saka Majapahit, sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata, nanging ana ing Ngampel malah didukani sarta diuman-uman, ênggone ora ngrêti marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya, nanging sawise, banjur didhawuhi ngupaya ingkang rama, apa sapangandikane Nyai Agêng Ngampel diaturake kabeh marang Sunan Benang.
Sunan Benang sawise mirêngake ature Sang Nata ing batos iya kêduwung, rumaos lupute, dene ora ngelingi marang kabêcikane Sang Prabu Brawijaya. Nanging rasa kang mangkono mau banjur dislamur ing pangandika, samudanane nyalahake Sang Prabu Brawijaya lan Patih, ênggone ora karsa salin agama Islam.
Sunan Benang banjur ngandika, yen dhawuhe Nyai Agêng Ngampel ora pêrlu dipanggalih, amarga panimbange wanita iku mêsthi kurang sampurna, luwih bêcik ênggone ngrusak Majapahit dibanjurake, yen Prabu Jimbun mituhu dhawuhe Nyai Ngampeldênta, Sunan Benang arêp kondur mênyang ‘Arab, wusana Prabu Jimbun banjur matur marang Sunan Benang, yen ora nglakoni dhawuhe Nyai Ngampel, mêsthine bakal oleh sabda kang ora bêcik, mula iya wêdi.
Sunan Benang paring dhawuh marang Sang Prabu, yen ingkang rama mêksa kondur mênyang Majapahit, Sang Prabu didhawuhi sowan nyuwun pangapura kabeh kaluputane, dene yen arêp ngaturi jumênêng Nata maneh, aja ana ing tanah Jawa, amarga mêsthi bakal ngribêdi lakune wong kang padha arêp salin agama Islam, supaya dijumênêngake ana seje nagara ing sajabaning tanah Jawa.
Sunan Giri banjur nyambungi pangandika, mungguh prayoganing laku supaya ora ngrusakake bala, Sang Prabu Brawijaya sarta putrane bêcik ditênung bae, awit yen mateni wong kapir ora ana dosane.
Sunan Benang sarta Prabu Jimbun wis nayogyani panêmune Sunan Giri kang mangkono mau.
Gênti kang cinarita, tindake Sunan kalijaga ênggone ngupaya Sang Prabu Brawijaya, mung didherekake sakabat loro lakune kêlunta-lunta, sabên desa diampiri, saka ênggone ngupaya warta. Lampahe Sunan Kalijaga turut pasisir wetan, sing kalangkungan tindake Sang Prabu Brawijaya.
Lampahe Sang Prabu Brawijaya wis têkan ing Blambangan, sarehne wis kraos sayah banjur kendêl ana sapinggiring beji. Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt, dene sing marak ana ngarsane mung kêkasih loro, iya iku Nayagenggong lan Sabdapalon, abdi loro mau tansah gêguyon, lan padha mikir kahaning lêlakon kang mêntas dilakoni, ora antara suwe kêsaru sowanne Sunan Kalijaga, banjur ngabêkti sumungkêm padane Sang Prabu.
Sang Prabu banjur ndangu marang Sunan Kalijaga: “Sahid! kowe têka ana apa? Apa prêlune nututi aku?”
Sunan Kalijaga matur: “Sowan kula punika kautus putra paduka, madosi panjênêngan paduka, kapanggiha wontên ing pundi-pundi, sêmbah sungkêmipun konjuka ing pada paduka Aji, nuwun pangaksama sadaya kasisipanipun, dene ngantos kamipurun ngrêbat kaprabon paduka Nata, awit saking kalimputing manah mudha punggung, botên sumêrêp tata krami, sangêt kapenginipun mêngku praja angreh wadyabala, sineba ing para bupati. Samangke putra paduka rumaos ing kalêpatanipun, dene darbe bapa Ratu Agung ingkang anyêngkakakên saking ngandhap aparing darajat Adipati ing Dêmak, tangeh malêsa ing sih paduka Nata, ing mangke putra paduka emut, bilih panjênêngan paduka linggar saking praja botên kantênan dunungipun, punika putra paduka rumaos yen mêsthi manggih dêdukaning Pangeran. Mila kawula dinuta madosi panjênêngan paduka, kapanggiha wontên ing pundi-pundi ingaturan kondur rawuh ing Majapahit, têtêpa kados ingkang wau-wau, mêngku wadya sineba para punggawa, aweta dados jêjimat pinundhi-pundhi para putra wayah buyut miwah para santana, kinurmatan sinuwunan idi wilujêngipun wontên ing bumi. Manawi paduka kondur, putra paduka pasrah kaprabon paduka Nata, putra paduka nyaosakên pêjah gêsang, yen kaparêng saking karsa paduka, namung nyuwun pangaksama paduka, sadayaning kalêpatanipun, lan nyuwun pangkatipun lami dados Adipati ing Dêmak, têtêpa kados ingkang sampun. Dene yen panjênêngan paduka botên karsa ngasta kaprabon Nata, sinaosan kadhaton wontên ing rêdi, ing pundi sasênênging panggalih paduka, ing rêdi ingkang karsakakên badhe dipundhêpoki, putra paduka nyaosi busana lan dhahar paduka, nanging nyuwun pusaka Karaton ing tanah Jawa, dipunsuwun ingkang rila têrusing panggalih”.
Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Ingsun-rungu aturira, Sahid! nanging ora ingsun-gatekake, karana ingsun wis kapok rêmbugan karo santri padha nganggo mata pitu, padha mata lapisan kabeh, mula blero pandulune, mawas ing ngarêp nanging jêbul anjênggung ing buri, rêmbuge mung manis ana ing lambe, batine angandhut pasir kinapyukake ing mata, murih picêka mataku siji. Sakawit ingsun bêciki, walêse kaya kênyung buntut, apa ta salah-ingsun, têka rinusak tanpa prakara, tinggal tata adat caraning manusa, mukul pêrang tanpa panantang, iku apa nganggo tataning babi, dadi dudu tataning manusa kang utama”.
Sunan Kalijaga barêng ngrungu pangandikane Sang Prabu rumasa ing kaluputane ênggone melu mbêdhah karaton Majapahit, ing batin bangêt panalangsane, dene kadudon kang wis kêbanjur, mula banjur ngrêrêpa, ature: “Inggih saduka-duka paduka ingkang dhumawa dhatêng putra wayah, mugi dadosa jimat paripih, kacancang pucuking rema, kapêtêk wontên ing êmbun, mandar amêwahana cahya nurbuwat ingkang wêning, rahayunipun para putra wayah sadaya. Sarehning sampun kalêpatan, punapa malih ingkang sinuwun malih, kajawi namung pangapuntên paduka. wangsul karsa paduka karsa tindak dhatêng pundi?”
Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Saiki karsaningsun arsa tindak mênyang Bali, kêtêmu karo yayi Prabu Dewa agung ing Kêlungkung, arsa ingsun-wartani pratingkahe si Patah, sikara wong tuwa kang tanpa dosa, lan arsa ingsun-kon nimbali para Raja kanan kering tanah jawa, samêkta sakapraboning pêrang, lan Adipati Palembang sun-wehi wêruh, yen anake karo pisan satêkane tanah Jawa sun-angkat dadi Bupati, nanging ora wêruh ing dalan, banjur wani mungsuh bapa Ratu, sun-jaluk lilane anake arêp ingsun pateni, sabab murtat wani ing bapa kapindhone Ratu, lan ingsun arsa angsung wikan marang Hongte ing Cina, yen putrane wis patutan karo ingsun mêtu lanang siji, ananging ora wêruh ing dalan, wani mungsuh bapa ratu, iya ingsun-jaluk lilane, yen putune arsa ingsun-pateni, ingsun njaluk biyantu prajurit Cina, samêkta sakapraboning pêrang, njujuga nagari Bali. Yen wis samêkta sawadya prajurit, sarta padha eling marang lêlabêtan kabêcikaningsun, lan duwe wêlas marang wong wungkuk kaki-kaki, yêkti padha têka ing Bali sagêgamaning pêrang, sun-jak marang tanah Jawa angrêbut kapraboningsun, iya sanadyan pêrang gêdhe gêgêmpuran amungsuh anak, ingsun ora isin, awit ingsun ora ngawiti ala, aninggal carane wong agung.”
Sunan Kalijaga ngrungu dhawuhe Sang Prabu kang mangkono iku ing sanalika mung dhêlêg-dhêlêg, ngandika sajroning ati: “Tan cidra karo dhawuhe Nyai Agêng Ngampelgadhing, yen eyang wungkuk isih mbrêgagah nggagahi nagara, ora nyawang wujuding dhiri, kulit kisut gêgêr wungkuk. Lamun iki ngantiya nyabrang marang Bali, ora wurung bakal ana pêrang gêdhe tur wadya ing Dêmak masa mênanga, amarga katindhihan luput, mungsuh ratu pindho bapa, kaping têlune kang mbêciki, wis mêsthi bae wong Jawa kang durung Islam yêkti asih marang Ratu tuwa, angantêp tangkêping jurit, mêsthi asor wong Islam tumpês ing pêpêrangan.”
Wusana Sunan Kalijaga matur alon: “Dhuh pukulun Jêng Sang Prabu! saupami paduka lajêngna rawuh ing bali, nimbali para Raja, saestu badhe pêrang gêgêmpuran, punapa botên ngeman risakipun nagari Jawi, sampun tamtu putra paduka ingkang badhe nêmahi kasoran, panjênêngan paduka jumênêng Nata botên lami lajêng surud, kaprabon Jawi kaliya ing sanes darah paduka Nata, saupami kados dene sêgawon rêbatan bathang, ingkang kêrah tulus kêrah têtumpêsan sami pêjah sadaya daging lan manah kathêda ing sêgawon sanesipun”.
Sang prabu Brawijaya ngandika: “Mungguh kang mangkono iki luwih-luwih karsane Dewa Kang Linuwih, ingsun iki Ratu Binathara, nêtêpi mripat siji, ora nganggo mata loro, mung siji marang bênêr paningalku, kang miturut adat pranatane para lêluhur. Saupama si Patah ngrasa duwe bapa ingsun, kêpengin dadi Ratu, disuwun krananing bêcik, karaton ing tanah Jawa, iya sun-paringake krana bêcik, ingsun wis kaki-kaki, wis warêg jumênêng Ratu, nrima dadi pandhita, pitêkur ana ing gunung. Balik samêngko si Patah siya mring sun, mêsthine-ingsun iya ora lila ing tanah Jawa diratoni, luwih karsaning Jawata Gung, pamintane marang para titah ing wuri.”
Sunan Kalijaga barêng mirêng pangandikane Sang Prabu, rumasa ora kaconggah ngaturi, mula banjur nyungkêmi pada, sarta banjur nyaosake cundrike karo matur, yen Sang Prabu ora karsa nglampahi kaya ature Sunan Kalijaga, Sunan Kalijaga nyuwun supaya dipateni bae, amarga lingsêm manawa mêruhi lêlakon kang saru.
Sang Prabu nguningani patrape Sunan kalijaga kang mangkono mau, panggalihe kanggêg, mula nganti suwe ora ngandika tansah têbah jaja karo nênggak waspa, sêrêt pangandikane: “Sahid! linggiha dhisik, tak-pikire sing bêcik, tak-timbange aturmu, bênêr lan lupute, têmên lan gorohe, amarga aku kuwatir yen aturmu iku goroh kabeh. Sumurupa Sahid! saupama aku kondur marang Majapahit, si Patah seba mênyang aku, gêthinge ora bisa mari, amarga duwe bapa Buddha kawak kapir kupur, liya dina lali, aku banjur dicêkêl dibiri, dikon tunggu lawang pungkuran, esuk sore diprêdi sêmbahyang, yen ora ngrêti banjur diguyang ana ing blumbang dikosoki alang-alang garing.”
Sang Prabu mbanjurake pangandikane marang Sunan Kalijaga: “Mara pikirên, Sahid! saiba susahing atiku, wong wis tuwa, nyêkrukuk, kok dikum ing banyu”.
Sunan Kalijaga gumujêng karo matur: “Mokal manawi makatên, benjing kula ingkang tanggêl, botên-botênipun manawi putra paduka badhe siya-siya dhatêng panjênêngan paduka, dene bab agami namung kasarah sakarsa paduka, namung langkung utami manawi panjênêngan paduka karsa gantos sarak rasul, lajêng nyêbut asmaning Allah, manawi botên karsa punika botên dados punapa, tiyang namung bab agami, pikêkahipun tiyang Islam punika sahadat, sanadyan salat dhingklak-dhingkluk manawi dereng mangrêtos sahadat punika inggih têtêp nama kapir”.
Sang Prabu ngandika: “Sahadat iku kaya apa, aku kok durung ngrêti, coba ucapna tak-rungokne”.
Sunan kalijaga banjur ngucapake sahadat: ashadu ala ilaha ila’llah, wa ashadu anna Mukhammadar-Rasulu’llah, têgêsipun: Ingsung anêkseni, ora ana Pangeran kang sajati, amung Allah, lan anêkseni, Kangjêng Nabi Mukhammad iku utusane Allah”.
Ature Sunan Kalijaga marang Sang Prabu: “Tiyang nêmbah dhatêng arah kemawon, botên sumêrêp wujud têgêsipun, punika têtêp kapiripun, lan malih sintên tiyang ingkang nêmbah puji ingkang sipat wujud warni, punika nêmbah brahala namanipun, mila tiyang punika prêlu mangrêtos dhatêng lair lan batosipun. Tiyang ngucap punika kêdah sumêrêp dhatêng ingkang dipunucapakên, dene têgêsipun Nabi Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punika makam kuburan, dados badanipun tiyang punika kuburipun rasa sakalir, muji badanipun piyambak, botên muji Mukhammad ing ‘Arab, raganipun manusa punika wêwayanganing Dzating Pangeran, wujud makam kubur rasa, Rasul rasa kang nusuli, rasa pangan manjing lesan, Rasule minggah swarga, lu’llah, luluh dados êndhut, kasêbut Rasulu’llah punika rasa ala ganda salah, riningkês dados satunggal Mukhammad Rasula’llah, kang dhingin wêruh badan, kaping kalih wêruh ing têdhi, wajibipun manusa mangeran rasa, rasa lan têdhi dados nyêbut Mukhammad rasulu’llah, mila sêmbahyang mungêl “uzali” punika têgêsipun nyumêrêpi asalipun. Dene raganipun manusa punika asalipun saking roh idlafi, rohipun Mukhammad Rasul, têgêsipun Rasul rasa, wijile rasaning urip, mêdal saking badan kang mênga, lantaran ashadualla, manawi botên mêngrêtos têgêsipun sahadat, botên sumêrêp rukun Islam, botên mangrêtos purwaning dumados”.
Sunan kalijaga ature akeh-akeh, nganti Prabu Brawijaya karsa santun agama Islam, sawise banjur mundhut paras marang Sunan Kalijaga nanging remane ora têdhas digunting, mulane Sunan Kalijaga banjur matur, Sang Prabu diaturi Islam lair batos, amarga yen mung lair bae, remane ora têdhas digunting. Sang Prabu banjur ngandika yen wis lair batos, mulane kêna diparasi.
Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan Nayagenggong: “Kowe karo pisan tak-tuturi, wiwit dina iki aku ninggal agama Buddha, ngrasuk agama Islam, banjur nyêbut asmaning Allah Kang Sajati. Saka karsaku, kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul tinggal agama Buddha”.
Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi, kula manawi tilêm ngantos 200 taun, sadangunipun kula tilêm tamtu wontên pêpêrangan sadherek mêngsah sami sadherek, ingkang nakal sami nêdha jalma, sami nêdha bangsanipun piyambak, dumugi sapriki umur-kula sampun 2000 langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, nêtêpi wiwit sapisan ngestokakên agami Buddha. Sawêg paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. Jawi têgêsipun ngrêti, têka narimah nama Jawan, rêmên manut nunut-nunut, pamrihipun damêl kapiran muksa paduka mbenjing.”
Sabdane Wiku tama sinauran gêtêr-patêr.
Sang Prabu Brawijaya sinêmonan dening Jawata, ênggone karsa mlêbêt agama Rasul, iya iku rêrupan kahanan ing dunya ditambahi warna têlu: 1: aran sukêt Jawan, 2: pari Randanunut, lan 3: pari Mriyi.
Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi kêkêncênganmu, apa gêlêm apa ora ninggal agama Buddha, salin agama Rasul, nyêbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi, lan nyêbut asmaning Allah Kang Sajati?”
Sabdapalon ature sêndhu: “Paduka mlêbêt piyambak, kula botên têgêl ningali watak siya, kados tiyang ‘Arab. Siya punika têgêsipun ngukum, tur siya dhatêng raga, manawi kula santun agami, saestu damêl kapiran kamuksan-kula, ing benjing, dene ingkang mastani mulya punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya, anggenipun ngalêm badanipun piyambak. Manawi kula, mastani botên urus, ngalêm saening tangga, ngapêsakên badanipun piyambak, kula rêmên agami lami, nyêbut Dewa Ingkang Linangkung.
Jagad punika raganipun Dewa ingkang asipat budi lan hawa, sampun dados wajibipun manusa punika manut dhatêng eling budi karêpan, dados botên ngapirani, manawi nyêbut Nabi Mukhammad Rasulu’llah, têgêse Mukhammad niku makaman kubur, kubure rasa kang salah, namung mangeran rasa wadhag wadhahing êndhut, namung tansah nêdha eca, botên ngengêti bilahinipun ing wingking, mila nami Mukhammad inggih makaman kuburan sakalir, roh idlafi têgêsipun lapisan, manawi sampun risak wangsul dhatêng asalipun malih. Wangsul Prabu Brawijaya lajêng manggen wontên pundi. Adam punika muntêl kaliyan Hyang Brahim, têgêsipun kêbrahen nalika gêsangipun, botên manggih raos ingkang saestu, nanging tangining raos wujud badan, dipunwastani Mukhammadun, makaman kuburing rasa, jasanipun budi, dados sipatipun tiyang lan raos. Manawi dipunpundhut ingkang Mahakuwasa, sarira paduka sipate tiyang wujud dados, punika dadosipun piyambak, lantaranipun ngabên awon, bapa biyung botên damêl, mila dipunwastani anak, wontênipun wujud piyambak, dadosipun saking gaib samar, saking karsaning Latawalhujwa, ingkang nglimputi wujud, wujudipun piyambak, risak-risakipun piyambak, manawi dipunpundhut dening Ingkang Maha Kuwasa, namung kantun rumaos lan pangraos ingkang paduka-bêkta dhatêng pundi kemawon, manawi dados dhêmit ingkang têngga siti, makatên punika ingkang nistha, namung prêlu nênggani daging bacin ingkang sampun luluh dados siti, makatên wau têtêp botên wontên prêlunipun. Ingkang makatên punika amargi namung saking kirang budi kawruhipun, kala gêsangipun dereng nêdha woh wit kawruh lan woh wit budi, nrimah pêjah dados setan, nêdha siti ngajêng-ajêng tiyang ngirim sajen tuwin slamêtanipun, ing têmbe tilar mujijat rakhmat nyukani kiyamat dhatêng anak putunipun ingkang kantun. Tiyang pêjah botên kêbawah pranataning Ratu ing lair, sampun mêsthi sukma pisah kaliyan budi, manawi tekadipun sae inggih nampeni kamulyan, nanging manawi tekadipun awon inggih nampeni siksanipun. Cobi paduka-jawab atur-kula punika”.
Sang Prabu ngandika: “Mulih marang asale, asal Nur bali marang Nur”.
Sabdapalon matur maneh: “Inggih punika kawruhipun tiyang bingung gêsangipun rugi, botên gadhah kawruh kaengêtan, dereng nêdha woh kawruh lan budi, asal siji mantuk satunggal, punika sanes pêjah ingkang utami, dene pêjah ingkang utami punika sewu satus têlung puluh. Têgêsipun satus punika putus, têlu punika tilas, puluh punika pulih, wujud malih, wujudipun risak, nanging ingkang risak namung ingkang asal saking roh idlafi. Uripipun langgêng namung raga pisah kaliyan sukma, inggih punika sahadat ingkang botên mawi ashadu, gantos roh idlafi lapisan: sasi surup mêsthi saking pundi asalipun wiwit dados jalmi. Surup têgêsipun: sumurup purwa madya wasananipun, nêtêpana namane tiyang lumampah, sampun ebah saking prênahipun mlêbêt mbêkta sir cipta lami”.
Sang Prabu ngandika: “Ciptaku nempel wong kang luwih”. Sabdapalon matur: “Punika tiyang kêsasar, kados dene kêmladeyan tumemplek wit-witan agêng, botên bawa piyambak, kamuktenipun namung nêmpil. Punika botên pêjah utami, pêjahipun tiyang nistha, rêmênipun namung nempel, nunut-nunut, botên bawa piyambak, manawi dipuntundhung, lajêng klambrangan, dados brêkasakan, lajêng nempel dhatêng sanesipun malih”.
Sang Prabu ngandika maneh: “Asal suwung aku bali, mênyang suwung, nalika aku durung maujud iya durung ana apa-apa, dadi patiku iya mangkono”.
Sabdapalon: “Punika pêjahipun tiyang kalap nglawong, botên iman ‘ilmi, nalika gêsangipun kados kewan, namung nêdha ngombe lan tilêm, makatên punika namung sagêd lêma sugih daging, dados nama sampun narimah ngombe uyuh kemawon, ical gêsangipun salêbêtipun pêjah”.
Sang Prabu: “Aku nunggoni makaman kubur, yen wis luluh dadi lêbu”.
Sabdapalon: “Inggih punika pêjahipun tiyang cubluk, dados setan kuburan, nênggani daging wontên kuburan, daging ingkang sampun luluh dados siti, botên mangrêtos santun roh hidlafi enggal. Inggih punika tiyang bodho mangrêtosa. Nun!”
Sang Prabu ngandika: “Aku arêp muksa saragaku”.
Sabdapalon gumuyu: “Yen tiyang agami Rasul têrang botên sagêd muksa, botên kuwawi ngringkês nguntal raganipun, lêma kakathahên daging. Tiyang pêjah muksa punika cêlaka, amargi nami pêjah, nanging botên tilar jisim, namanipun botên sahadat, botên pêjah, botên gêsang, botên sagêd dados roh idlafi enggal, namung dados gunungan dhêmit”.
Pangandikane Sang Prabu: “Aku ora duwe cipta apa-apa, ora ikhtiar nampik milih, sakarsane Kang Maha Kuwasa”.
Sabdapalon: “Paduka nilar sipat, botên ngrumaosi yen tinitah linangkung, nilar wajibing manusa, manusa dipunwênangakên nampik milih, manawi sampun narimah dados sela, sampun botên prêlu pados ‘ilmi kamulyaning seda”.
Sang Prabu: “Ciptaku arêp mulih mênyang akhirat, munggah swarga seba Kang maha Kuwasa”.
Sabdapalon matur: “Akhirat, swarga, sampun paduka-bêkta ngaler ngidul, jagadipun manusa punika sampun mêngku ‘alam sahir kabir, nalika tapêl Adam, sampun pêpak: akhirat, swarga, naraka ‘arasy kursi. Paduka badhe tindak dhatêng akhirat pundi, mangke manawi kêsasar lo, mangka ênggene akhirat punika têgêse mlarat, saênggen- ênggen wontên akhirat, manawi kenging kula-singkiri, sampun ngantos kula mantuk dhatêng kamlaratan sarta minggah dhatêng akhirat adil nagari, manawi lêpat jawabipun tamtu dipunukum, dipunbanda, dipunpaksa nyambut damêl awrat tur botên tampa arta. Klêbêt akhirat nusa Srênggi, nusa têgêsipun manusa, Srêng têgêsipun padamêlan ingkang awrat sangêt. Ênggi têgêsipun gawe. Dados têgêsipun jalma pinêksa nyambut damêl dhatêng Ratu Nusa Srênggi namanipun, punapa botên cilaka, tiyang gêsang wontên ing dunya kados makatên wau, sakulawargane mung nadhah bêras sapithi, tanpa ulam, sambêl, jangan punika akhirat ingkang katingal tata lair, manawi akhiratipun tiyang pêjah malah langkung saking punika, paduka sampun ngantos kondur dhatêng akhirat, sampun ngantos minggah dhatêng swarga, mindhak kêsasar, kathah rajakaya ingkang wontên ing ngriku, sadaya sami trima tilêm kêmul siti, gêsangipun nyambut damêl kanthi paksan, botên salah dipunpragat, paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah, amargi Gusti Allah punika botên kantha botên warna, wujudipun amung asma, nglimputi wontên ing dunya tuwin ing akhirat, paduka dereng têpang, têpangipun amung têpang kados cahyanipun lintang lan rêmbulan, kapanggihe cahya murub dados satunggal, botên pisah botên kumpul, têbihipun botên mawi wangênan, cêlak botên panggihan, kula botên kuwawi cêlak, punapa malih paduka, Kangjêng Nabi Musa toh botên kuwawi mandêng dhatêng Gusti Allah, mila Allah botên katingal, namung Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud, paduka wiji rohani, sanes bangsanipun malaekat, manusa raganipun asal saking nutfah, sowan Hyang Latawalhujwa, manawi panggenanipun sampun sêpuh, nyuwun ingkang enggal, dados botên wongsal-wangsul, ingkang dipunwastani pêjah gêsang, ingkang gêsang napasipun taksih lumampah, têgêsipun urip, ingkang têtêp langgêng, botên ewah botên gingsir, ingkang pêjah namung raganipun, botên ngraosakên kanikmatan, pramila tumrap tiyang agami Buddha, manawi raganipun sampun sêpuh, suksmanipun mêdal nyuwun gantos ingkang sae, nglangkungi ingkang sampun sêpuh, nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun, jagadipun manusa punika langgêng, botên ewah gingsir, ingkang ewah punika makaming raos, raga wadhag ingkang asal roh idlafi.
Prabu Brawijaya botên anem botên sêpuh, nanging langgêng manggen wontên satêngahipun jagadipun, lumampah botên ebah saking panggenanipun, wontên salêbêting guwa sir cipta kang êning. Gawanên gêgawanmu, ngGêgawa nêdha raga. Tulis ical, etangan gunggunge: kumpul, plêsatipun wêtaha. Ningali jantung kêtêg kiwa: surut marga sire cipta, jujugipun ingkang cêtha cêthik cêthak. Punika pungkasanipun kawruh, kawruhipun tiyang Buddha. Lêbêtipun roh saking cêthak marginipun, kendêl malih wontên cêthik, mêdal wontên kalamwadi, kentir sagara rahmat lajêng lumêbêt ing guwa indra-kilaning estri, tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat, wontên ing ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya, dadosipun saking sabda kun, dados wontên têngahing jagad swarganing tiyang sêpuh estri, mila jalma keblatipun wontên têngahing jagad, jagading tiyang punika guwa sir cipta namanipun, dipunbêkta dhatêng pundi- pundi botên ewah, umuripun sampun dipunpasthekakên, botên sagêd ewah gingsir, sampun dipunsêrat wontên lokhil-makful, bêgja cilakanipun gumantung wontên ing budi nalar lan kawruhipun, ingkang ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang bêgjanipun. Wiwitanipun keblat sakawan, inggih punika wetan kilen kidul ler : têgêsipun wetan : wiwitan manusa maujud; têgêsipun kulon : bapa kêlonan; têgêsipun kidul : estri didudul wêtênge ing têngah; têgêsipun lor : laire jabang bayi, tanggal sapisan kapurnaman, sênteg sapisan tênunan sampun nigasi. Têgêsipun pur: jumbuh, na; ana wujud, ma; madhêp dhatêng wujud; jumbuh punika têgêsipun pêpak, sarwa wontên, mêngku alam sahir kabir, tanggalipun manusa, lairipun saking tiyang sêpuhipun estri, sarêng tanggalipun kaliyan sadherekipun kakang mbarêp adhi ragil, kakang mbarêp punika kawah, adhi punika ari-ari, sadherek ingkang sarêng tanggal gaibipun, rumêksa gêsangipun elingipun panjanmaning surya, lênggah rupa cahya, kontêning eling sadayanipun, siyang dalu sampun sumêlang dhatêng sadaya rêrupen, ingkang engêt sadayanipun, surup lan tanggalipun sampun samar : kala rumiyin, sapunika lan benjing, punika kawruhipun tiyang Jawi ingkang agami Buddha. Raga punika dipunibaratakên baita, dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontên ing baita wau, ingkang nêdahakên pandomipun, manawi baitanipun lumampah mangka salah pandomipun, tamtu manggih cilaka, baita pêcah, tiyangipun rêbah. Pramila kêdah ingkang mapan, mumpung baitanipun taksih lumampah, manawi botên mapan gêsangipun, pêjah malih sagêda mapan, nêtêpi kamanusanipun, manawi baitanipun bibrah, inggih pisah kaliyan tiyangipun; têgêsipun suksma ugi pisah kaliyan budi, punika namanipun sahadat, pisahipun kawula kaliyan Gusti, sah têgêsipun pisah, dat punika Dzating Gusti, manawi sampun pisah raga suksma, budinipun lajêng santun baitu’llah, napas tali, muji dhatêng Gusti, manawi pisaha raga suksma lan budi, mrêtitis ingkang botên-botên, yen tunggal, kabêsaran, tanggalipun botên surup salaminipun, punika kêdah ingkang waspada, ngengêtana dhatêng asaling kawula, kawula ugi wajib utawi wênang matur dhatêng Gusti, nyuwun baitu’llah ingkang enggal, ngungkulana ingkang lami. Raganing manusa punika namanipun baitu’llah, inggih prau gaweyaning Allah, dadosipun saking sabda kun, manawi baitanipun tiyang Jawi sagêd mapan santun baitu’llah malih ingkang sae, baitanipun tiyang Islam gêsangipun kantun pangrasa, praunipun sampun rêmuk, manawi suksma punika pêjah ing ‘alam dunya suwung, botên wontên tiyang, manawi tiyang punika têrus gêsang, ing dunya kêbak manusa, lampahipun saking ênem urut sêpuh, ngantos roh lapisan, sanadyan suksmanipun tiyang, nanging manawi tekadipun nasar, pêjahipun manjalma dados kuwuk, sanadyan suksmanipun kewan, nanging sagêd manjalma dados tiyang (kajêngipun, adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing panggawene piyambak-piyambak). Nalika panjênênganipun Bathara Wisnu jumênêng Nata wontên ing Mêndhang Kasapta, sato wana tuwin lêlêmbut dipuncipta dados manusa, dados wadya-balanipun Sang Nata. Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontên ing Gajahoya, sato wana tuwin lêlêmbut inggih dipuncipta dados tiyang, pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun beda-beda, gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan. Sêrat tapak Hyang, ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat, dados saking sabda kun, ingkang dipunwastani jithok têgêsipun namung puji thok. Dewa ingkang damêl cahya murub nyrambahi badan, têgêsipun incêngên aneng cêngêlmu. Jiling punika puji eling marang Gusti. Punuk têgêsipun panakna. Timbangan têgêsipun salang. Pundhak punika panduk, urip wontên ing ‘alam dunya pados kawruh kaliyan woh kuldi, manawi angsal woh kuldi kathah, untungipun sugih daging, yen angsal woh kawruh kathah, kenging kangge sangu gêsang, gêsang langgêng ingkang botên sagêd pêjah. Têpak têgêsipun têpa-tapanira. Walikat: walikane gêsang. Ula-ula: ulatana, lalarên gêgêrmu sing nggligir. Sungsum têgêsipun sungsungên. Lambung: waktu Dewa nyambung umur, alamipun jalma sambungan, lali eling urip mati. Lêmpeng kiwa têngên têgêsipun tekadmu sing lêmpêng lair batin, purwa bênêr lawan luput, bêcik lawan ala. Mata têgêsipun tingalana batin siji, sing bênêr keblatira, keblat lor bênêr siji. Têngên têgêsipun têngênên ingkang têrang, wontên ing dunya amung sadarmi ngangge raga, botên damêl botên tumbas. Kiwa têgêsipun: raga iki isi hawa kêkajêngan, botên wênang ngêkahi pêjah. Makatên punika ungêling sêrat. Manawi paduka maibên, sintên ingkang damêl raga? Sintên ingkang paring nama? inggih namung Latawalhujwa, manawi paduka maibên, paduka têtêp kapir, kapiran seda paduka, botên pitados dhatêng sêratipun Gusti, sarta murtat dhatêng lêluhur Jawi sadaya, nempel tosan, kajêng sela, dados dhêmit têngga siti, manawi paduka botên sagêd maos sastra ingkang wontên ing badanipun manusa, saseda paduka manjalma dhatêng kuwuk, dene manawi sagêd sagêd maos sastra ingkang wontên ing raga wau, saking tiyang inggih dados tiyang, kasêbut ing sêrat Anbiya, Kanjêng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pêjah wontên ing kubur, lajêng tangi malih, gêsangipun gantos roh lapis enggal, gantos makam enggal. Manawi paduka ngrasuk agami Islam, tiyang Jawi tamtu lajêng Islam sadaya. Manawi kula, wadhag alus-kula sampun kula-cakup lan kula-carub, sampun jumbuh dados satunggal, inggih nglêbêt inggih jawi, dados kantun sasêdya-kula kemawon, ngadam utawi wujud sagêd sami sanalika, manawi kula kêpengin badhe wujud, inggih punika wujud-kula, sêdya ngadam, inggih sagêd ical sami sanalika, yen sêdya maujud sagêd katingal sanalika. Raga-kawula punika sipating Dewa, badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-piyambak. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon, sampun kalingan pajar, saking pajaripun ngantos sampun botên katingal wujudipun Sabdapalon, kantun asma nglimputi badan, botên ênem botên sêpuh, botên pêjah botên gêsang, gêsangipun nglimputi salêbêting pêjahipun, dene pêjahipun nglimputi salêbêting gêsangipun, langgêng salaminipun”.
Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngêndi Pangeran Kang Sajati?”
Sabdapalon matur: “Botên têbih botên cêlak, paduka wayangipun wujud sipating suksma, dipunanggêp sarira tunggal, budi hawa badan, tiga-tiga punika tumindakipun; botên pisah, nanging inggih botên kumpul. Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botên badhe kêkilapan dhatêng atur-kula punika”.
Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?”
Sabdapalon ature sêndhu: “Manut agami lami, dhatêng agami enggal botên manut! Kenging punapa paduka gantos agami têka botên nantun kula, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.”
Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki, aku wis kêbacut mlêbu agama Islam, wis disêkseni Sahid, aku ora kêna bali agama Buddha maneh, aku wirang yen digêguyu bumi langit.”
Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun, lakar paduka-lampahi piyambak, kula botên tumut-tumut.” Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu, kang surasane ora prêlu manggalih kang akeh-akeh, amarga agama Islam iku mulya bangêt, sarta matur yen arêp nyipta banyu kang ana ing beji, prêlu kanggo tandha yêkti, kapriye mungguh ing gandane. Yen banyu dicipta bisa ngganda wangi, iku tandha yen Sang Prabu wis mantêp marang agama Rasul, nanging yen gandane ora wangi, iku anandhakake: yen Sang Prabu isih panggalih Buddha. Sunan Kalijaga banjur nyipta, padha sanalika banyu sêndhang banjur dadi wangi gandane, ing kono Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu, kaya kang wis kathandha, yen Sang Prabu nyata wis mantêp marang agama Rasul, amarga banyu sêndhang gandane wangi. (11)
Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasêkten punapa? kasêktening uyuh kula wingi sontên, dipunpamerakên dhatêng kula. Manawi kula timbangana nama kapilare, mêngsah uyuh-kula piyambak, ingkang kula rêbat punika? Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. Manawi kula sumêdya ngêdalakên kaprawiran, toya kula-êntut sêpisan kemawon, sampun dados wangi. Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, adi Guru namung ngideni kemawon, ing wêkdal samantên tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing, saking agênging latu ingkang wontên ing ngandhap siti, rêdi-rêdi sami kula êntuti, pucakipun lajêng anjêmblong, latunipun kathah ingkang mêdal, mila tanah Jawi lajêng botên goyang, mila rêdi-rêdi ingkang inggil pucakipun, sami mêdal latunipun sarta lajêng wontên kawahipun, isi wedang lan toya tawa, punika inggih kula ingkang damêl, sadaya wau atas karsanipun Latawalhujwa, ingkang damêl bumi lan langit. Punapa cacadipun agami Buddha, tiyang sagêd matur piyambak dhatêng Ingkang Maha Kuwasa. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.
Cobi paduka-yêktosi, benjing: sasi murub botên tanggal, wiji bungkêr botên thukul, dipuntampik dening Dewa, tinanêma thukul mriyi, namung kangge têdha pêksi, mriyi punika pantun kados kêtos, amargi paduka ingkang lêpat, rêmên nêmbah sela. Paduka-yêktosi, benjing tanah Jawa ewah hawanipun, wêwah bênter awis jawah, suda asilipun siti, kathah tiyang rêmên dora, kêndêl tindak nistha tuwin rêmên supata, jawah salah masa, damêl bingungipun kanca tani. Wiwit dintên punika jawahipun sampun suda, amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami. Benjing yen sampun mrêtobat, sami engêt dhatêng agami Buddha malih, lan sami purun nêdha woh kawruh, Dewa lajêng paring pangapura, sagêd wangsul kados jaman Buddha jawahipun”.
Sang Prabu mirêng ature Sabdapalon, ing batos rumaos kaduwung bangêt dene ngrasuk agama Islam, nilar agama Buddha. Nganti suwe ora ngandika, wasana banjur ngandika, amratelakake yen ênggone mlêbêt agama Islam iku, amarga kêpencut ature putri Cêmpa, kang ngaturake yen wong agama Islam iku, jarene besuk yen mati, antuk swarga kang ngungkuli swargane wong kapir.
Sabdapalon matur, angaturake lêpiyan, yen wiwit jaman kuna mula, yen wong lanang manut wong wadon, mêsthi nêmu sangsara, amarga wong wadon iku utamane kanggo wadhah, ora wênang miwiti karêp, Sabdapalon akeh-akeh ênggone nutuh marang Sang Prabu.
Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe, amarga barang wis kêbacut, saiki mung kowe kang tak-tari, kapriye kang dadi kêkêncênganing tekadmu? Yen aku mono ênggonku mlêbu agama Islam, wis disêkseni dening si Sahid, wis ora bisa bali mênyang Buddha mêneh”.
Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.
Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang”. Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nêngêri banyu sêndhang, yen gandane mari wangi, besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti agama Kawruh.
Sunan Kalijaga banjur jasa bumbung loro kang siji diiseni banyu tawa, sijine diiseni banyu sêndhang. Banyu sêndhang mau kanggo tandha, yen gandane mari wangi, wong tanah Jawa padha salin agama kawruh. Bumbung sawise diiseni banyu, banjur disumpêli godhong pandan-sili, sabanjure digawa sakabate loro.
Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan sakabate loro, tindake kawêngen ana ing dalan, nyare ana ing Sumbêrwaru, esuke bumbunge dibukak, banyune diambu isih wangi, nuli mbanjurake tindake, wayah surup srêngenge, wis têkan ing Panarukan. Sang Prabu nyare ana ing kono, ing wayah esuk, banyu ing bumbu diganda isih wangi, Sang Prabu mbanjurake tindake.
Barêng wis wayah surup srêngenge, têkan ing Bêsuki, Sang Prabu uga nyare ana ing kono, esuke banyu ing bumbung diganda mundhak wangine, Sang Prabu banjur nêrusake tindake nganti wayah surup srêngenge, têkan ing Prabalingga, ana ing kono uga nyare sawêngi, esuke banyune ditiliki, banyune tawa isih enak, nanging munthuk, unthuke gandane arum, nanging mung kari sathithik, amarga kêrêp diunjuk ana ing dalan, dene banyune sêndhang barêng ditiliki gandane dadi bangêr, tumuli dibuwang. Sang Prabu banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Prabalingga ing besuk jênênge loro, Prabalingga karo Bangêrwarih 12 ing kene besuk dadi panggonan kanggo pakumpulane wong-wong kang padha ngudi kawruh kapintêran lan kabatinan, Prabalingga têgêse prabawane wong Jawa kalingan prabawane tangga”. Sang Prabu mbanjurake tindake, ing pitung dinane, wis têkan ing Ampelgadhing. Nyai Agêng Ampelgadhing tumuli mêthukake banjur ngabêkti marang Sang Prabu karo muwun, sarta akeh-akeh sêsambate.
Sang Prabu banjur ngandika: “Wis aja nangis êngger, mupusa yen kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa, kudu mangkene. Aku lan kowe mung sadarma nglakoni, kabeh lêlakon wis ditulis aneng lokhilmakful. Bêgja cilaka ora kêna disinggahi, nanging wajibe wong urip kudu kêpengin mênyang ilmu”.
Nyai Agêng Ampel banjur matur marang Sang Prabu, ngaturake patrape ingkang wayah Prabu Jimbun, kaya kang wis kasêbut ing ngarêp. Sang Prabu banjur dhawuh nimbali Prabu Jimbun. Nyai Ampel nuli utusan mênyang Dêmak nggawa layang, satêkane ing Dêmak, layang wis katur marang Sang Prabu Jimbun, ora antara suwe Prabu Jimbun budhal sowan mênyang Ampel.
Kacarita putra Nata ing Majapahit, kang aran Raden Bondhankajawan ing Tarub, mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak, malah Sang Prabu lolos saka jroning pura, ora karuhan mênyang ngêndi tindake, rumasa ora kapenak panggalihe, banjur tindak marang Majapahit, tindake Raden Bondhankajawan namur kula, nungsung warta ing ngêndi dununge ingkang rama, satêkane Surabaya, mirêng warta yen ingkang rama Sang Prabu têdhak ing Ampel, nanging banjur gêrah, Raden Bondhankajawan nuli sowan ngabêkti.
Sang Prabu ndangu: “Sing ngabêkti iki sapa?”
Raden Bondhankajawan matur yen panjênêngane kang ngabêkti.
Sang Prabu banjur ngrangkul ingkang putra, gêrahe Sang Prabu sangsaya mbatêk, ngrumaosi yen wis arêp kondur marang jaman kalanggêngan, pangandikane marang Sunan Kalijaga mangkene: Sahid, nyêdhaka mrene, aku wis arêp mulih marang jaman kalanggêngan, kowe gaweya layang mênyang Pêngging lan Pranaraga, mêngko tak-wenehane tandha asta, wis padha narima rusake Majalêngka, aja padha ngrêbut kapraboningsun, kabeh mau wis karsane Kang Maha Suci, aja padha pêrang, mundhak gawe rudahing jagad, balik padha ngemana rusaking wadya-bala, sebaa marang Dêmak, sapungkurku sing padha rukun, sapa sing miwiti ala, tak-suwun marang Kang maha Kuwasa, yudane apêsa.”
Sunan Kalijaga banjur nyêrat, sawise rampung banjur ditapak-astani dening sang Prabu, sabanjure diparingake marang Pêngging lan Pranaraga.
Sang Prabu banjur ngandika: “Sahid, sapungkurku kowe sing bisa momong marang anak putuku, aku titip bocah iki, saturun-turune êmongên, manawa ana bêgjane, besuk bocah iki kang bisa nurunake lajêre tanah Jawa, lan maneh wêkasku marang kowe, yen aku wis kondur marang jaman kalanggêngan, sarekna ing Majapahit sa-lor-wetane sagaran, dene pasareyaningsun bakal sun-paringi jênêng Sastrawulan, lan suwurna kang sumare ana ing kono yayi Raja Putri Cêmpa, lan maneh wêlingku, besuk anak-putuku aja nganti entuk liya bangsa, aja gawe senapati pêrang wong kang seje bangsa.”
Sunan Kalijaga sawise dipangandikani banjur matur: “Punapa Sang Prabu botên paring idi dhatêng ingkang putra Prabu Jimbun jumênêngipun Nata wontên ing tanah Jawi?”
Sang Prabu ngandika: “Sun-paringi idi, nanging mung mandhêg têlung turunan.”
Sunan kalijaga nyuwun sumurup mungguh têgêse araning bakal pasareyane Sang Prabu.
Sang Prabu ngandika: “Sastra têgêse tulis, Wulan têgêse damaring jagad, tulise kuburku mung kaya gêbyaring wulan, yen isih ana gêbyaring wulan, ing têmbe buri, wong Jawa padha wêruh yen sedaku wis ngrasuk agama Islam, mula tak-suwurake Putri Cêmpa, amarga aku wis diwadonake si Patah, sarta wis ora dianggêp priya, nganti kaya mangkene siya-siyane marang aku, mulane ênggonku mangêni madêge Ratu mung têlung turunan, amarga si Patah iku wiji têlu, Jawa, Cina lan raksasa, mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake, mula wêkasku, anak-putuku aja entuk seje bangsa, amarga sajroning sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane, bisaa ngapêsake urip, mula aku paring piwêling aja gawe senapati pêrang wong kang seje jinis, mundhak ngenthengake Gustine, ing sajroning mangun yuda, banjur mangro tingal, wis Sahid, kabeh pitungkasku, tulisên.”
Sang Prabu sawise paring pangandika mangkono, astane banjur sidhakêp, têrus seda, layone banjur disarekake ana ing astana Sastrawulan ing Majapahit, katêlah nganti saprene kocape kang sumare ana ing kono iku Sang Putri Cêmpa, dene mungguh satêmêne Putri Cêmpa iku sedane ana ing Tuban, dununing pasareyan ana ing Karang Kumuning.
Barêng wis têlung dina saka sedane Sang Prabu Brawijaya, kacarita Sultan Bintara lagi rawuh ing Ampelgadhing sarta kapanggih Nyai Agêng.
Nyai Agêng ngandika: “Wis bêgjane Prabu Jimbun ora nungkuli sedane ingkang rama, dadi ora bisa ngabêkti sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata, sarta nyuwun pangapura kabeh kaluputane kang wis kêlakon”.
Prabu Jimbun ature marang Nyai Agêng, iya mung mupus pêpêsthen, barang wis kêbacut iya mung kudu dilakoni.
Sultan Dêmak ana ing Ampel têlung dina lagi kondur.
Kacarita Adipati Pêngging lan Pranaraga, iya iku Adipati Andayaningrat ing Pêngging lan Bathara katong ing Pranaraga, wis padha mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak, nanging ênggone mbêdhah sinamun sowan riyaya, dene ingkang rama Sang Prabu lan putra Raden Gugur lolos saka praja, ora karuhan jujuge ana ing ngêndi, Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga bangêt dukane, mula banjur dhawuh ngundhangi para wadya sumêdya nglurug pêrang marang Dêmak, labuh bapa ngrêbut praja, para wadya-bala wis rumanti gêgamaning pêrang pupuh, mung kari budhale bae, kasaru têkane utusane Sang Prabu maringake layang. Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga sawise tampa layang lan diwaos, layang banjur disungkêmi kanthi bangêt ing pamuwune lan bangêt anjêntung panggalihe, tansah gedheg-gedheg lan gêrêng-gêrêng, wajane kêrot-kêrot, surya katon abang kaya gêni, lan kawiyos pangandikane sêru, kang surasane nyupatani marang panjênêngane dhewe, muga aja awet urip, mundhak ndêdawa wirang.
Adipati sakarone padha puguh ora karsa sowan marang Dêmak, amarga saka putêking panggalihe banjur padha gêrah, ora antara lawas padha nêmahi seda, dene kaol kang gaib, sedane Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga padha ditênung dening Sunan Giri, pamrihe supaya aja ngribêdi ing têmbe buri. Mula carita bêdhahe Majapahit iku mung dicêkak, ora satimbang karo gêdhene nagara sarta ambane jajahane, amarga aran ambuka wêwadining ratu, putra mungsuh bapa, yen dirasa satêmêne saru bangêt. Mula carita bêdhahe Majapahit sinêmonan dening para pujangga wicaksana, mangkene pasêmone:
1] Amarga saka kramate para Wali, kêrise Sunan Giri ditarik mêtu tawone ngêntupi wong Majapahit.
[2] Sunan Cirêbon badhonge mêtu tikuse maewu-ewu, padha mangani sangu lan bêkakas jaran, wong Majapahit bubar, amarga wêruh akehing tikus.
[3] Pêthi saka Palembang ana satêngahing paprangan dibukak mêtu dhêmite, wong Majapahit padha kagegeran amarga ditêluh ing dhêmit.
[4] Sang Prabu Brawijaya sedane mekrad.
Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi marang muride kang aran Darmagandhul, kaya kang kapratelakake ing ngisor iki: Kabeh mau mung pasêmon, mungguh sanyatane, carita bêdhahing Majapahit iku kaya kang tak-caritakake ing ngarêp. Nagara Majapahit iku rak dudu barang kang gampang rusake, ewadene bisa rusak mung amarga dikritiki tikus. Lumrahe tawon iku bubar amarga saka dipangan ing wong. Alas angkêr akeh dhêmite, bubaring dhêmit yen alase dirusak dening wong, arêp ditanduri. Nanging yen Majapahit rusake amarga saking tikus, tawon lan dhêmit, sapa kang ngandêl yen rusake Majapahit amarga tikus, tawon lan dhêmit, iku pratandha yen wong mau ora landhêp pikire, amarga carita kang mangkono mau kalêbu aneh lan ora mulih ing nalar, ora cocog lair lan batine, mula mung kanggo pasêmon, yen dilugokake jênênge ambukak wadine Majapahit, mula mung dipralambangi pasêmon kang orang mulih karo nalare. Dene têgêse pasêmon mau mangkene:
Tikus iku watake ikras-ikris, suwe-suwe yen diumbar banjur ngrêbda, têgêse: para ‘ulama dhek samana, nalika lagi têkane nyuwun panguripan marang sang Prabu ing Majapahit, barêng wis diparingi, piwalêse ngrusak. Tawon iku nggawa madu kang rasane manis, gêgamane ana ing silit, dene panggonane ana ing gowok utawa tala, têgêse: maune têkane nganggo têmbung manis, wusana ngêntup saka ing buri, dene tala têgêse mêntala ngrusak Majapahit, sapa kang ngrungu padha gawok.
Dene dhêmit diwadhahi pêthi saka Palembang, barêng dibukak muni jumêglug, têgêse: Palembang iku mlembang, iya iku ganti agama, pêthi têgêse wadhah kang brukut kanggo madhahi barang kang samar, dhêmit têgêse samar, rêmit, rungsid, dhêmit iku uga tukang nêluh. Mungguh gênahe mangkene: bêdhahe nagara Majapahit sarana ditêluh kalayan primpên lan samar, nalika arêp pambêdhahe ora ana rêmbag apa-apa, samudanane mung sowan garêbêgan, dadi dikagetake, mula wong Majapahit ora sikêp gêgaman pêrang, wêruh-wêruh Adipati Têrung wis ambantu Adipati Dêmak.
Kuna-kunane ora ana praja gêdhe kaya Majapahit bêdhahe mung saka diêntup ing tawon sarta dikritiki ing tikus bae, apa dene bubare wong sapraja mung saka ditêluh ing dhêmit.
Bêdhahe Majapahit swarane jumêgur, kêprungu saka ing ngêndi-êndi nagara, yen bêdhahe saka binêdhah dening putra, iya iku Wali wolu utawa Sunan wolu kang padha dimêmule wong Jawa, sangane Adipati Dêmak, kabeh mau padha mbalela mbalik.
Banjure maneh pangandikane kiyai Kalamwadi: Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi, sadurunge Majapahit bêdhah, manuk kuntul iku durung ana kang nganggo kucir, barêng nagara wis ngalih marang Dêmak, kahanan ing dunya nuli malih, banjur ana manuk kuntul nganggo kucir.
Prabu Brawijaya sinêmonan ing gaib: kêbo kombang atine êntek dimangsa tuma kinjir, kêbo têgêse ratu sugih, kombang têgêse mênêng swarane kang mbrêngêngêng, iya iku Prabu Brawijaya panggalihe têlas nalika bêdhahe Majapahit, kajaba mung kendêl gêrêng-gêrêng bae, ora karsa nglawan pêrang, dene tuma kijir iku tumane celeng, tuma têgêse tuman, celeng iku iya aran andhapan, iya iku Raden Patah nalika têkane ana ing Majapahit sumungkêm marang ingkang rama Sang Prabu, ing wêktu iku banjur diparingi pangkat, têgêse oleh ati saka Sang Prabu, wusana banjur mukul pêrang ngrêbut nagara, ora ngetung bênêr utawa luput, nganti ngêntekake panggalihe Sang Prabu.
Dene kuntul nganggo kucir iku pasêmone Sultan Dêmak, ênggone nyêri-nyêri marang ingkang rama Sang Prabu, dumeh agamane Buddha kawak kapir kupur, mulane Gusti Allah paring pasêmon, githok kuntul kinuciran, têgêse: tolehên githokmu, ibumu Putri Cina, ora kêna nyêri-nyêri marang wong seje bangsa, Sang Prabu Jimbun iku wiji têlu, purwane Jawa, iya iku Sang Prabu Brawijaya, mula Sang Prabu Jimbun gêdhe panggalihe melik jumênêng Nata, mulane melik ênggal sugih, amarga katarik saka ibune, dene ênggone kêndêl nanging tanpa duga iku saka wijine Sang Arja Damar, amarga Arja Damar iku ibune putri raksasa, sênêng yen ngokop gêtih, pambêkane siya, mula ana kuntul nganggo kucir iku wis karsaning Allah, ora mung Sunan Dêmak dhewe bae kang didhawuhi ngrumasani kaluputane, nanging sanadyan para Wali liyane uga didhawuhi ngrumasani, yen ora padha gêlêm ngrumasani kaluputane, dosane lair batin, mula jênênge Wali ditêgêsi Walikan: dibêciki malês ngalani.
Dene anane bangsa Cina padha nênêka ana ing tanah Jawa iku dêdongengane mangkene: Jare, dhek jaman kuna, nalika santri Jawa durung akeh kawruhe, sawise padha mati, suksmane akeh kang katut angin banjur thukul ana ing tanah China, mula saiki banjur padha bali mulih marang tanah Jawa, dadi suksmane bangsa mau, iku mau-maune iya akeh kang suksma Jawa.
Darmagandhul matur: “kiyai! Kang diarani agama Srani iku kang kaya apa?”
Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake: “Kang diarani agama Srani iku têgêse sranane ngabêkti: têmên-têmên ngabêkti marang Pangeran, ora nganggo nêmbah brahala, mung nêmbah marang Allah, mula sêbutane Gusti Kanjêng Nabi ‘Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake, mangkono kang kasêbut ing kitab Anbiya”.
Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi.
Sultan Dêmak waskitha ing gaib, rumaos kadukan dening Kang Maha Kuwasa, mula banjur ngrumaosi kabeh kaluputane, nuli sowan andêdagan ana ing pasareyane ingkang rama, barêng wis antara têlung dina lawase, kaprênah pusêring kuburan tanpa sangkan thukul wit-witan warna papat, siji warnane irêng sêmu abang dalah godhong sarta kêmbange, loro wit sarta kêmbange putih godhonge sêdhêngan, têlu wit kang godhonge ngrêmbuyut mubêng kaya payung, papat wit kang godhonge lêmbut sarta mawa êri, lan wêktu iku sajroning pasareyane Sang Prabu kêprungu ana swara dumêling, mangkene ujaring swara: “Êntek katrêsnanku marang anak. Den enak mangan turu. Ana gajah digêtak kaya kucing, sanajan matiya ing tata-kalairane, nanging lah eling-elingên ing besuk, yen wis agama kawruh, ing têmbe bakal tak-walês, tak-ajar wêruh ing nalar bênêr lan luput, pranatane mêngku praja, mangan babi kaya dhek jaman Majapahit.”
Sultan Dêmak mirêng swara dumêling kang surasane mangkono iku, ing batos bangêt kaduwung marang apa kang wis dilampahi, mula nganti suwe njêgrêg ora bisa ngandika, ngrumaosi klirune dene nuruti rêmbuge para Sunan kabeh, nganti wani mungsuh ingkang rama sarta ngrusak Majapahit. Iya wiwit titi masa iku anane wit-witan warna papat kang padha thukul ana ing kuburan, dadi pasêmon kabeh, iya iku Tlasih, Sêmboja, Turugajah lan Gêtakkucing. Mula nganti tumêka saprene wit Sêmboja panggonane ana ing kuburan, kêmbang Tlasih kanggo ngirim para lêluhur, godonge Gêtakkucing yen kasenggol banjur obah, godhonge uga banjur mingkup kaya dene godhong Gêtakkucing.
Sawise mangkono, Sultan Dêmak banjur kondur, sakondure saka pasareyane ingkang rama, bangêt panalangsane ing dalêm batos, tansah ngrumaosi ing kalêpatane.
Sunan Kalijaga uga waskitha ing gaib yen sinêmonan dening Kang Maha Kuwasa, mula uga bangêt panalangsane sarta ngrumaosi kaluputane, mula banjur mangagêm sarwa wulung, beda karo para Wali liyane isih padha manganggo sarwa putih. Kabeh mau ora padha ngrumasani kaluputane, mung Sunan Kalijaga piyambak rumaos yen kadukan dening Kang Maha Kuwasa, mula bangêt mrêtobate, wasana banjur pinaringan pangapura dening Allah, sinêmonan wiwit anane orong-orong githoke tumêka ing punuk disêsêli tataling kayu jati, mungguh karêpe: punukmu panakna, sajatining ‘ilmu iku ora susah maguru marang wong ‘Arab, ‘ilmuning Gusti Allah wis ana ing githokmu dhewe-dhewe,wujude puji thok, nanging dudu puji jatining kawruh, kang ngawruhi sajatining urip, urip dadi wayangan Dzating Pangeran, manusa bisa apa, mobah mosik mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake, sabda iku mêtu saka ing karêp, karêp mêtu saka ing budi, budi iku Dzate Kang Maha Agung, agung iku wis samêkta, tanpa kurang tan wuwuh, tanpa luwih sarta ora arah ora ênggon.
Kiyai kalamwadi nutugake caritane: “Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi mangkene: mungguh kang katarima, muji marang Allah iku, iku sindhenan Dharudhêmble. Têmbung dhar iku têgêse wudhar, ru iku têgêse ruwêt sulit lan rungsit, dene dhêmble têgêse dhêmbel dadi siji, yen wis sumurup têpunge sarat sari’at tarekat hakekat lan ma’rifat, iku mau wis muji tanpa ngucap, sarak iku sarate ngaurip, iya iku nampik milih iktiyar lan manggaota, sari’at iku saringane kawruh agal alus, tarekat iku kang nimbang lan nandhing bênêr lan luput, hakekat iku wujud, wujud karsaning Allah, kang ngobahake sarta ngosikake rasane budi, wêruh ora kasamaran ing sawiji-wiji. Yen kowe wis ngrêti marang têgêse Dharudhêmble, mêsthi wis marêm marang kawruhmu dhewe. Mangan woh kawruh lan budi, sêmbahe kaya wêsi kang dilabuh ana ing gêni ilang abange mung rupa siji, kang muji lan kang dipuji wis nunggal dadi sawiji, dhêmble wujud siji. Yen kowe wis bisangawruhi surasane kang tak-kandhakake iki, jênênge munajad. Saupama wong nulup manuk, yen ra wêruh prênahe manuke, masa kênaa, ênggone nulup mung ngawur. Yen kawruhe wong pintêr ora angel yen disawang, mêtune saka ing utêk”.
Darmagandhul matur, nyuwun ditêrangake bab ênggone Nabi Adam lan Babu Kawa padha kêsiku dening Pangeran, sabab saka ênggone padha dhahar wohe kayu Kawruh kang ditandur ana satêngahing taman Pirdus. Ana maneh kitab kang nêrangake, kang didhahar Nabi Adam lan Babu Kawa iku woh Kuldi, kang ditandur ana ing swarga. Mula nyuwun têrange, yen ing kitab Jawa caritane kapriye, kang nyêbutake kok mung kitab ‘Arab lan kitabe wong Srani.
Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake, yen kitabe wong Jawa ora nyêbutake bab mangkono iku, dene Sajarah Jawa iya ana kang nyêbutake turun Adam, iya kitab Manik Maya.
Kiyai Kalamwadi banjur ngandhakake: “Sawise buku-buku pathokan agama Buddha diobongi, amarga mundhak ngrêribêdi agama Rasul, sanadyan buku kang padha disimpêni dening para wadya, iya dipundhut banjur diobongi, nalika sabêdhahe Majapahit, sapa kang durung gêlêm nganggo agama Islam banjur dijarah rajah, mula wong-wong ing kono padha wêdi marang wisesaning Ratu. Dene wong-wong kang wis padha gêlêm salin agama Rasul, banjur padha diganjar pangkat utawa bumi sarta ora padha nyangga pajêg, mulane wong-wong ing Majapahit banjur padha ngrasuk agama Islam, amarga padha melik ganjaran. Ing wêktu iku Sunan Kalijaga, kagungan panggalih, caritane lêluhure supaya aja nganti pêdhot, banjur iyasa wayang, kanggo gantine kitab-kitab kuna kang wis padha diobongi. Ratu Mataram uga mangun carita sajarahe para lêluhur Jawa, buku-buku sakarine, kang isih padha disimpên uga padha dipundhut kabeh, nanging wis padha amoh, Sang Nata ing Mataram andangu para wadya, nanging wis padha ora mênangi, wiwit Kraton Gilingwêsi nganti tumêka Mataram wis ora kasumurupan caritane, buku-buku asli saka ing Dêmak lan Pajang padha dipriksa, nanging tinêmu tulisan ‘Arab, kitab Pêkih lan Taju-salatina apa dene Surya-Alam kang kanggo pikukuh, mula Sang Prabu ing Mataram kewran panggalihe ênggone kagungan karsa iyasa babad carita tanah Jawa. Sang Prabu banjur dhawuh marang para pujangga, andikakake padha gawe layang Babad Tanah Jawa, ananging sarehne kang gawe Babad mau ora ngêmungake wong siji bae, mula ora bisa padha gaweyane, kang diênggo pathokan layang Lokapala, mungguh caritane kaya kang kasêbut ing ngisor iki”.
Wayahe Nabi Adam iya iku putrane Nabi Sis, arane Sayid Anwar. Sayid Anwar didukani ingkang rama lan ingkang eyang, amarga wani- wani mangan wohe wit kayu Budi sêngkêrane Pangeran kang tinandur ana ing swarga. Ciptane Sayid Anwar supaya kuwasane bisa ngiribi kaya dene kuwasane Pangeran, ora narima yen mung mangan who Kawruh lan woh Kuldi bae, nanging wohe kayu Budi kang disuwun. Sayid Anwar miwiti yasa sarengat dhewe, ora karsa ngagêm agamane ingkang rama lan ingkang eyang, dadi murtat sarta nampik agamane lêluhure, mangkono uga karsa ngakoni yen turune Adam sarta Sis, pangraose Sayid Anwar iku dadi saka dadine piyambak, mung waranane bae saka Adam lan Sis, dadine saka budi hawaning Pangeran. Ênggone Kagungan pamanggih mangkono mau diantêpi bangêt, jalaran mangkene: asal suwung mulih marang sêpi, bali marang asale maneh. Sarehne Sayid Anwar banjur lunga nuruti karêping atine, lakune mangetan nganti tumêka ing tanah Dewani, ana ing kono banjur kêtêmu karo ratuning jin arane Prabu Nuradi, Sayid Anwar ditakoni iya banjur ngandharake lêlakone kabeh, wusanane Sayid Anwar diêpek mantu sarta dipasrahi kaprabon, ngratoni para jin, jêjuluk Prabu Nurcahya, wiwit jumênênge Prabu Nurcahya, jênênge nagara banjur diêlih dadi aran nagara Jawa. Misuwure, kang jumênêng Nata, Jawa jawi ngrêti kawruh agal alus. Sawise iku Sang Prabu banjur nganggit sastra mung salikur aksara, saucaping wong Jawa bisa kaucap, dijênêngake Sastra Endra Prawata. Têmbung Jawa, ditêgêsi: nguja hawa, karsane Sang Prabu: bisaa rowa, saturun-turune bisaa jumênêng Nata mêngkoni tanah Jawa. Sang Prabu putrane siji pêparab Sang Hyang Nurrasa, uga dhaup karo putri jin putrane mung siji iya iku Sang Hyang Wênang. Sang Hyang Wênang uga dhaup karo putri jin, dene putrane uga mung siji kakung pêparab Sang Hyang Tunggal, krama oleh putri jin. Sang Hyang Tunggal pêputra Sang Hyang Guru, kabeh mau turune Sang Hyang Nurcahya, kang padha didhahar woh wit kayu Budi. Sang Hyang Guru kagungan pangraos yen kuwasane padha karo Gusti Allah, mula banjur iyasa kadhaton ana pucaking Mahameru, sarta ngakoni yen purwaning dumadi mêtune asal saka budi hawa nêpsu. Aran Dewa ngaku misesani mujudake sipat roh, agamane Buddha budi, mangeran digdayane sarta ngaku Gusti Allah. Sêdya kang mangkono mau iya diideni dening Kang Maha Kuwasa, sarta kalilan nimbangi jasane Kang Maha Kuwasa. Dewa iku wêrdine ana loro têgêse: budi hawa, sarta: wadi dawa, mulane agamane Buddha. Sêbutan Dewi: têgêse: dening wadining wadon iku bisa ngêtokake êndhas bocah.
Darmagandhul didhawuhi nimbang mungguh kang bênêr kang êndi, mangan woh wit kayu Kawruh, apa wit kayu Budi, apa woh wit Kuldi?
Saka panimbange Darmagandhul, kabeh iku iya bênêr, sênêngan salah siji êndi kang disênêngi, diantêpi salah siji aja nganti luput. Yen kang dipangan woh wit kayu Budi, agamane Buddha budi, panyêbute marang Dewa; manawa mangan woh wit kawruh, pênyêbute marang Kangjêng Nabi ‘Isa, agamane srani, yen sênêng mangan woh wit kayu Kuldi, agamane Islam, sambate marang nabi panutan; iya iku Gusti Kangjêng Nabi Rasul; dene yen dhêmên Godhong Kawruh Godhong Budi, panêmbahe marang Pikkong, sarta manut sarake Sisingbing lan Sicim; salah sijine aja nganti luput. Yen bisa woh-wohan warna têlu iku mau iya dipangan kabeh, yen wong ora mangan salah sijine woh mau, mêsthine banjur dadi wong bodho, uripe kaya watu ora duwe kêkarêpan lan ora mangrêti marang ala bêcik. Dene mungguh bêcike wong urip iku mung kudu manut marang apa alame bae, dadi ora aran siya-siya marang uripe, yen Kalifah dhahar woh Budi, iya melu mangan woh Budi, yen Kalifah dhahar woh kawruh, iya melu mangan who kawruh, yen kalifah dhahar woh Kuldi, iya melu mangan woh Kuldi. Dene prakara bênêr utawa lupute, uki Kalifah kang bakal tanggung. Sarehne diênut wong akeh, dadi Panutan kudu kang bênêr, amarga wong dadi Panutan iku saupama têtuwuhan minangka wite. Yen wong ora gêlêm manut marang kang bênêre kudu diênut, iku kaya dene iwak kang mêtu saka ing banyu. Saupama woh ora gêlêm nempel wit, mêsthi dadi glundhungan kang tanpa dunung. Awit saka iku, mulane wong iku kudu ngelingi marang agamane kang nurunake, amarga sanadyan saupama ana salahe, Gusti Allah mêsthi paring pangapura. Darmagandhul matur nyuwun têrange agama Rasul lan liya-liyane, mungguh kang dadi bedane apa?
Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake beda-bedane, yen saka dhawuhe kang Maha Kuwasa, manusa didhawuhi muja marang agamane. Nanging banjur akeh kang kliru muja marang barang kang katon, kaya ta kêris, tumbak, utawa liya-liyane barang. Kang kaya mangkono mau ngrusakake agama, amarga banjur mangeran marang wujud, satêmah lali marang Pangerane, amarga maro tingal marang barang rêrupan. Wong urip iku kudu duwe gondhelan agama, amarga yen ora duwe agama mêsthi duwe dosa, mung bae dosane mau ana kang sathithik lan ana kang akeh. Dene kang bisa nyirnakake (nyudakake) dosa iku, mung banyu suci, iya iku tekad suci lair batin. Kang diarani banyu tekad suci iku kang êning, iya iku minangka aduse manusa, bisa ngrêsiki lair batine. Yen wong luwih, ora ngarêp-arêp munggah swarga, kang digoleki bisaa nikmat mulya punjula saka sapadhane, aja nganti nêmu sangsara, bisaa duwe jênêng kang bêcik, sinêbut kang utama, bisaa nikmat badan lan atine, mulya kaya maune, kaya nalika isih ana ing alam samar, ora duwe susah lan prihatin. Lawang swarga iku prêlu dirêsiki, dirêngga ing tekad kang utama, supaya aja ngrêribêdi ana ing donyane, bisaa slamêt lair batine. Kang diarani lawang swarga lan lawang nêraka iku, pancadan kang tumuju marang kabêgjan utawa kacilakan. Yen bêcik narik raharja, yen ala ngundhuh cilaka, mula pangucap kang ala, mêsthi mlêbu yomani. Yen bêcik, bisa tampa ganjaran.
Darmagandhul matur maneh, nyuwun têrange, manusa ing dunya wujude mung lanang lan wadon, dadine kok banjur warna-warna, ana Jawa, ‘Arab, Walanda lan Cina. Dene sastrane kok uga beda-beda. Iku maune kêpriye, dalah têgêse sarta cacahing aksarane kok uga beda-beda. Geneya kok ora nganggo aksara warna siji bae?
Kyai Kalamwadi banjur nêrangake, yen kabeh-kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa. Mula aksarane digawe beda-beda, supaya para kawulane padha mangan woh wit kayu Budi lan woh wit kayu Kawruh, amarga manusa diparingi wahyu kaelingan, bisa mêthik who Kawruh lan woh Budi, pamêthike sapira sagaduke. Gusti Allah uga iyasa sastra, nanging sastrane nglimputi ing jêro, lan manut wujud, iya iku kang diarani sastra urip, manusa ora bisa anggayuh, sanadyan para Auliya sarta para Nabi ênggone nggayuh iya mung sagaduke. Woh wit Kawruh lan woh wit Budi ditandhani nganggo sipat wujud, dicorek ana ing dluwang, nganggo mangsi supaya wong bisa wêruh, mula jênênge dalwang, têgêse mêtu wangune, mangsi têgêse mangsit, dadi yen dalwang ditrapi mangsi, mêsthi banjur mêtu wangune, mangsit mangan kawruh, mula jênêng kalam, amarga kawruhe anggawa alam. Sastra warna-warna paringe kang Maha-Kuwasa, iku wajib dipangan, supaya sugih pangrêten lan kaelingan, mung wong kang ora ngrêti sastra paringe Gusti Allah, mêsthi ora mangêrti marang wangsit. Auliya Gong Cu kumênthus niru sastra tulisan paringe Gusti allah, nanging panggawene ora bisa, sastrane unine kurang, dadi pelon, para Auliya panggawene sastra dipathoki cacahe, mung aksara Cina kang akeh bangêt cacahe, nanging unine pelo, amarga Auliya kang nganggit kêsusu mangan woh Kawruh, ing mangka iya kudu mangan woh wit kayu Budi. Auliya mau lali yen tinitah dadi manusa. Ewadene mêksa nganggo kuwasane Kang Maha Kuwasa, anggayuh kang dudu wajibe, kêsusu tampa panglulu nganggit sastra kang nganti tanpa etungan cacahe, jênênge sastra godhong. Godhonge wit Budi lan wit Kawruh, dipêthik saka sathithik, ditata dikumpulake, banjur dianggit kanggo sastra, mulane aksarane nganti ewon. Auliya Cina kêsiku, amarga arêp gawe sastra urip kaya yasane Gusti Allah. Auliya Jawa ênggone mangan woh wit kayu Budi nganti warêg, mula ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Auliya Arab ênggone mangan woh wit kayu Kuldi akeh bangêt. Dene ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe. Nanging yen sastra yasane Gusti Allah, dadine saka sabda, wujude dadi dhewe, mulane unine iya cêtha, sastrane ora ana kang padha.
Darmagandhul banjur didhawuhi nimbang, mungguh anggitane para Auliya kabeh mau kang mratandhani asor luhuring budine kang êndi?
Saka panimbange Darmagandhul, kabeh mau iya bênêr, nanging anggêr mêtu saka budi. Dene kang gawe aksara mung sathithik, nanging wis bisa nyukupi, iku mratandhani yen luwih pintêr tinimbang karo liya-liyane.
Kiyai Kalamwadi ngandika: “Yen manusa arêp wêruh sastrane Gusti Allah, tulisan mau ora kêna ditonton nganggo mripat lair – kudu ditonton nganggo mripat batin. Yen mangkono iya bisa katon, Gusti Allah iku mung sawiji, nanging Dzate nyarambahi sakabehing wujud. Yen ndêlêng kudu nganggo ati kang bêning, ora kêna kacampuran pikiran kang warna-warna, sarta kudu kang mêlêng ênggone mawas, supaya ora bisa kliru karo kanyatane”.
Kiyai Kalamwadi lênggah diadhêp garwane aran Endhang Prêjiwati. Darmagandhul sarta para cantrik iya padha marak. Kiyai Kalamwadi paring piwulang marang garwane, dadi nêtêpi jênênge priya kudu mulang muruk marang rabine. Dene kang diwulangake, bab kawruh kasunyatan sarta kawruh kang kanggo yen wis tumêka ing pati, ing wong sêsomahan iku. Kang wadon diupamakake omah, sanadyan kahanane wis sarwa bêcik. Nanging sabên dinane isih kudu dipiyara lan didandani. Saka pangandikane Kiayi Kalamwadi, wong iku yen dipitakoni, satêmêne ragane wis bisa mangsuli, sabab ing kono wis ana pangandikane Gusti Allah paring piwulang, nanging ora mêtu ing lesan, mung paring sasmita kang wis ditulis ana saranduning badan sakojur.
Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Sarehne aku iku wong cubluk, dadi ora bisa aweh piwulang kang endah, aku mung arêp pitakon marang ragamu, amarga ragamu iku wis bisa sumaur dhewe”.
Banjure pangandika kiyai Kalamwadi kaya ing ngisor iki. Tanganmu kiwa iku wis anggawa têgês dhewe, lan wis dadi piwulang kang bêcik lan nyata, kang anuduhake yen ragamu iku wujude kiwa, mung hawa kang katon. Têmbung ki: iku têgêse iki, wa: têgêse wêwadhah, ragamu iku di’ibaratake prau, prau dadi ‘ibarate wong wadon, wong têgêse ngêlowong, wadon têgêse mung dadi wadhah, dene isine mung têlung prakara, iya iku: “kar-ri-cis”. Yen prau wis isi têlung prakara iku, wong wadon wis kêcukup butuhe, dadi ora goreh atine. Dene têgêse kar-ri-cis iku mangkene.
1. Kar, têgêse dakar, iya iku yen wong lanang wis bisa nêtêpi lanange, mêsthi wong wadon atine marêm, wusanane dadi nêmu slamêt ênggone jêjêdhowan.
2. Ri, têgêse pari, iya iku kang minangka pangane wong wadon, yen wong lanang wis bisa nyukupi pangane, mêsthi wong wadon bisa têntrêm ora goreh.
3. Cis, têgêse picis, utawa dhuwit, ya iku yen wong lanang wis bisa aweh dhuwit kang nyukupi, mêsthi wong wadon bisa têntrêm, tak baleni maneh, cis têgêse bisa goreh atine.
Kosok baline yen wong lanang ora bisa aweh momotan têlung prakara mau, wong wadon bisa goreh atine. Tangan têngên têgêse etungên panggawemu, sabên dina sudiya,
sanggup dadi kongkonan, wong wadon wis dadi wajibe ngrewangi kang lanang anggone golek sandhang pangan.
Bau têgêse kanthi, gênahe wong wadon iku dadi kanthine wong lanang, tumrap nindakake samubarang kang prêlu.
Sikut têgêse singkurên sakehing panggawe kang luput. Ugêl-ugêl têgêse sanadyan tukar padu, nanging yen isih padha trêsnane iya ora bisa pêdhot. Epek-epek têgêse ngêpek-ngêpek jênênge kang lanang, awit wong wadon iku yen wis laki, jênênge banjur melu jênênge kang lanang. Iya iku kang diarani warangka manjing curiga, warangkane wanita, curigane jênênge wong lanang.
Rajah (ing epek-epek) têgêse wong wadon iku panganggêpe marang guru-lakine dikaya dene panganggêpe marang raja.
Driji têgêse drêjêg utawa pagêr, iya iku idêrana jiwamu nganggo pagêr kautaman, wanita iku kudu andarbeni ambêk kang utama, dene driji kabeh mau ana têgêse dhewe-dhewe.
Jêmpol têgêse êmpol, yen wanita dikarsakake dening priyane, iku kang gampang gêtas rênyah kaya dene êmpoling klapa.
Driji panuduh têgêse wanita nglakonana apa sapituduhe kang priya.
Driji panunggul, têgêse wanita wajib ngunggulake marang priyane, supaya nyupangati bêcik.
Driji manis, têgêse wanita kudu duwe pasêmon utawa polatan kang manis, wicarane kudu kang manis lan prasaja.
Jênthik, têgêse wong wadon iku panguwasane mung sapara limane wong lanang, mula kudu sêtya tuhu marang priyane.
Kuku têgêse ênggone rumêksa marang wadi, paribasane aja nganti kêndho tapihe.
Mungguh pikikuhe wong jêjodhowan iku, wanita kudu sêtya marang lakine sarta nglakoni patang prakara, iya iku: pawon, paturon, pangrêksa, apa dene kudu nyingkiri padudon.
Wong jêjodhowan yen wis nêtêpi kaya piwulang iki, mêsthi bisa slamêt sarta akeh têntrême.
Kiyai Kalamwadi banjur paring pangandika maneh, dene kang dipangandikakake bab pikukuhe wong jêjodhowan. Saka pangandikane kiyai Kalamwadi, wong jêjodhowan iku pikukuhe kudu duwe ati eling, aja nganti tumindak kang ora bênêr. Mungguh pikukuhe wong laki-rabi iku, dudu dunya lan dudu rupa, pikukuhe mung ati eling. Wong jêjodhowan, yen gampang luwih gampang, nanging yen angel, angele ngluwihi. Wong jêjodhowan itu luput pisan kêna pisan, yen wis luput, ora kêna tinambak ing rajabrana lan rupa. Wanita kudu tansah eling yen winêngku ing priya, yen nganti ora eling, lupute banjur ngambra-ambra, amargi yen wanita nganti cidra, iku ugi ngilangake Pangerane wong jêjodhowan, dene kang diarani cidra iku ora mung jina bae, nanging samubarang kang ora prasaja iya diarani cidra, mula wanita kudu prasaja lair batine, amarga yen ora mangkono bakal nandhang dosa rong prakara, kang sapisan dosa marang kang lanang, kapindhone dosa marang Gusti Allah, kang mangkono iku mêsthi ora bisa nêmu lêlakon kang kapenak. Mula ati, kudu tansah eling, amarga tumindaking badan mung manut karêping ati, awit ati iku dadi ratuning badan. Wong jêjodhowan di’ibaratake prau kang gêdhe, lakuning prau manut satang lan kêmudhine, sanadyan satange bênêr, yen kêmudhine salah, prau ora bêcik lakune. Wong lanang iku lakuning satang, dene kang wadon ngêmudheni, sanadyan bêcik ênggone ngêmudheni, nanging yen kang nyatang ora bênêr, lakune prau iya ora bisa jêjêg, sarta bisa têkan kang disêdya, amarga kang padha nglakokake padha karêpe, dadi têgêse, wong jêjodhowan, kudu padha karêpe, mula kudu rukun, rukun iku gawe karaharjan sarta mahanani katêntrêman, ora ngêmungake wong jêjodhowan kang rukun bae, kang oleh katêntrêmaning ati, sanadyan tangga têparone iya melu têntrêm, mula wong rukun iku bêcik bangêt.
Kowe tak-pituturi, mungguh dalane kamulyan iku ana patang prakara:
(1) Mulya saka jênêng.
(2) Mulya saka bandha.
(3) Mulya saka sugih ‘ilmu.
(4) Mulya saka kawignyan.
Kang diarani mulya saka jênêng, iku wong kang utama, bisa oleh kabêgjan kang gêdhe, nanging kabêgjane mau ora mung kanggo awake dhewe, kapenake uga kanggo wong akeh liyane. Dene kang mulya saka ing bandha, lan mulya saka ênggone sugih ‘ilmu, lan mulya saka kapintêran, iku ana ngêndi bae, iya akeh rêgane.
Mungguh dalane kasangsaran uga ana patang prakara:
(1) Rusaking ati, manusa iku yen pikire rusak, ragane mêsthi iya melu rusak.
(2) Rusaking raga, iya iku wong lara.
(3) Rusaking jênêng, iya iku wong mlarat.
(4) Rusaking budi, iya iku wong bodho, cupêt budine, wong bodho lumrahe gampang nêpsune.
Kang diarani tampa kanugrahing Gusti Allah, iya iku wong kang sêgêr kawarasan sarta kacukupan, apa dene têntrêm atine.
Wong urip kang kêpengin bisaa dadi wong utama, duweya jênêng kang bêcik, kanggo têtuladhan marang wong kang padha ditinggal ing têmbene”.
Ki Darmagandhul matur lang nyuwun ditêrangake bab anane wong ing jaman kuna karo wong ing jaman saiki, iku satêmêne pintêr kang êndi, amarga wong akeh panêmune warna-warna tumrape bab iku.
Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Wong kuna lan wong saiki, iku satêmêne iya padha pintêre, mung bae tumrape wong ing jaman kuna, akeh kang durung bisa mujudake kapintêrane, mula katone banjur kaya dene ora pintêr. Ana dene wong ing jaman saiki ênggone katon luwih pintêr iku amarga bisa mujudake kapintêrane. Wong ing jaman kuna kapintêrane iya wis akeh, dene kang mujudake iya iku wong ing jaman saiki. Saupama ora ana kapintêrane wong ing jaman kuna, mêsthi bae tumrape wong ing jaman saiki ora ana kang kanggo têtuladhan, amarga kahanan saiki iya akeh kang nganggo kupiya kahanan ing jaman kuna. Wong ing jaman saiki ngowahi kahanan kang wis ana, êndi kang kurang bêcik banjur dibêcikake. Wong ing jaman saiki ora ana kang bisa nganggit sastra, yen manusa iku rumasa pintêr, iku têgêse ora rumasa yen kawula, mangka uripe manusa mung sadarma nglakoni, mung sadarma nganggo raga, dene mobah mosik, wis ana kang murba. Yen kowe arêp wêruh wong kang pintêr têmênan, dununge ana wong wadon kang nutu sabên dina, tampahe diiseni gabah banjur diubêngake sadhela, gabah kang ana kabur kabeh, sawise, banjur dadi beda-beda, awujud bêras mênir sarta gabah, nuli mung kari ngupuki bae, sabanjure dipilah-pilah. Têgêse: bêras yen arêp diolah kudu dirêsiki dhisik, miturut kaya karêpe kang arêp olah-olah. Yen kowe bisa mangreh marang manusa, kaya dene wong wadon kang nutu mau, ênggone nyilah-nyilahake bêras aneng tampah, kowe pancen wong linuwih, nanging kang mangkono mau dudu kawadjibanmu, awit iku dadi kawajibane para Raja, kang misesa marang kawulane. Dene kowe, mung wajib mangrêti tataning praja supaya uripmu aja kongsi dikul dening sapadhaning manusa, uripmu dadi bisa slamêt, kowe bakal dadi têtuwa, kêna kanggo pitakonan tumraping para mudha bab pratikêle wong ngawula ing praja. Mula wêlingku marang kowe, kowe aja pisan- pisan ngaku pintêr, amarga kang mangkono mau dudu wajibing manusa, yen ngrumasani pintêr, mundhak kêsiku marang Kang Maha Kuwasa, kaelokane Gusti Allah, ora kêna ginayuh ing manusa, ngrumasanana yen wong urip iku mung sadarma, ana wong pintêr isih kalah pintêr karo wong pintêr liyane, utawa uga ana wong pintêr bisa kasoran karo wong kompra, bodho pintêring manusa iku saka karsane Kang Maha Kuwasa, manusa anduweni apa, bisane apa, mung digadhuhi sadhela dening Kang Maha Kuwasa, yen wis dipundhut, kabeh mau bisa ilang sanalika, saka kalangkungane Gusti Allah, yen kabeh mau kapundhut banjur diparingake marang wong kompra, wong kompra banjur duwe kaluwihan kang ngungkuli kaluwihane wong pintêr. Mula wêlingku marang kowe, ngupayaa kawruh kang nyata, iya iku kawruh kang gandheng karo kamuksan”.
Ki Darmagandhul banjur matur maneh, nyuwun têrange bab tilase kraton Kêdhiri, iya iku kratone Sang Prabu Jayabaya. Kiyai Kalamwadi ngandika: “Sang Prabu Jayabaya ora jumênêng ana ing Kêdhiri, dene kratone ana ing Daha, kaprênah sawetane kali Brantas. Dene yen Kêdhiri prênahe ana sakuloning kali Brantas lan sawetaning gunung Wilis, ana ing desa Klotok, ing kono iku ana bata putih, iya iku patilasane Sri Pujaningrat. Dene yen patilasane Sri Jayabaya ika ana ing daha, saikine jênênge desa Mênang, patilasane kadhaton wis ora katon, amarga kurugan ing lêmah lahar saka gunung Kêlut, patilasan-patilasan mau wis ilang kabeh, pasanggrahan Wanacatur lan taman Bagendhawati uga wis sirna, dene pasanggrahan Sabda, kadhatone Ratu Pagêdhongan uga wis sirna. Kang isih mung rêca yasane Sri Jayabaya, iya iku candhi Prudhung, Têgalwangi, prênahe ing sa-lor-wetane desa Mênang, lan rêca buta wadon, iya iku rêca kang diputung tangane dening Sunan Benang nalika lêlana mênyang Kêdhiri, rêca mau lungguhe madhêp mangulon, ana maneh rêca jaran awak siji êndhase loro, panggonane ana ing desa Bogêm, wêwêngkon dhistrik Sukarêja, mula Sri Jayabaya yasa rêca, mangkene caritane, (kaya kang kapratelakake ing ngisor ini)”.
Ing Lodhaya ana buta wadon ngunggah-unggahi Sang Prabu Jayabaya, nanging durung nganti katur ing ngarsa Prabu, buta wadon wis dirampog dening wadya cilik-cilik, buta wadon banjur ambruk, nanging durung mati, barêng ditakoni, lagi waleh yen sumêdya ngunggah-unggahi Sang Prabu. Sang Prabu banjur mriksani putri buta mau, barêng didangu iya matur kang dadi sêdyane. Sang Prabu banjur paring pangandika mangkene: “Buta! andadekna sumurupmu, karsaning Dewa Kang Linuwih, aku iku dudu jodhomu, kowe dak-tuturi, besuk sapungkurku, kulon kene bakal ana Ratu, nagarane ing Prambanan, iku kang pinasthi dadi jodhomu, nanging kowe aja wujud mangkono, wujuda manusa, aran Rara Jonggrang”.
Sawise dipangandikani mangkono, putri buta banjur mati. Sang Prabu banjur paring pangandika marang para wadya, supaya desa ing ngêndi papan matine putri buta mau dijênêngake desa Gumuruh. (11) Ora antara suwe Sri Jayabaya banjur jasa rêca ana ing desa Bogêm. Rêca mau wujud jaran lagaran awak siji êndhase loro, kiwa têngên dilareni. Patihe Sang Prabu kang aran Buta Locaya sarta Senapatine kang aran Tunggulwulung padha matur marang sang Prabu, kang surasane nyuwun mitêrang kang dadi karsa-Nata, ênggone Sang Prabu yasa rêca mangkono mau, apa mungguh kang dadi karsane. Sang Prabu banjur paring pangandika, yen ênggone yasa rêca kang mangkono itu prêlu kanggo pasêmon ing besuk, sapa kang wêruh marang wujude rêca iku mêsthi banjur padha mangrêti kang dadi tekade wong wadon ing jaman besuk, yen wis jaman Nusa Srênggi. Bogêm têgêse wadhah bangsa rêtna-rêtna kang adi, têgêse wanita iku bangsa wadhah kang winadi. Laren (12) kang ngubêngi jaran têgêse iya sêngkêran. Dene jaran sêngkêran iya iku ngibaratake wong wadon kang disêngkêr. Sirah loro iku dadi pasêmone wong wadon ing jaman besuk, kang akeh padha mangro tingal, sanadyan ora kurang ing panjagane, iya bisa cidra, lagaran, iku têgêse tunggangan kang tanpa piranti. Ing jaman besuk, kang kêlumrah wong arêp laki-rabi, ora nganggo idine wong tuwane, margane saka lagaran dhisik, yen wis mathuk pikire, iya sida diêpek rabi, nanging yen ora cocog, iya ora sida laki-rabi.
Sang Prabu ênggone yasa candhi, prêlu kanggo nyêdhiyani yen ana wadyabala kang mati banjur diobong ana ing kono, supaya bisa sirna mulih marang alam sêpi. Yen pinuju ngobong mayit, Sang Prabu uga karsa rawuh ngurmati.
Kang mangkono iku wis dadi adate para raja ing jaman kuna. Mula kang dadi panyuwunku marang Dewa, muga Sang Prabu karsa yasa candhi kanggo pangobongan mayit, kaya adate Raja ing jaman kuna, amarga aku iki anak dhalang, aja suwe-suwe kaya mêmêdi, duwe rupa tanpa nyawa, bisaa mulih marang asale.
Samuksane Sang Prabu Jayabaya, Patih Buta Locaya sarta Senapati Tunggulwulung, apa dene putrane Sang Prabu kang kêkasih Ni Mas Ratu Pagêdhongan, kabeh banjur padha andherek muksa.
Buta Locaya banjur dadi ratuning dhêdhêmit ing Kêdhiri. Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut, dene Ni Mas Ratu Pagêdhongan banjur dadi ratuning dhêdhêmit ana ing sagara kidul, asmane ratu Anginangin.
Ana kêkasihe Sang Prabu Jayabaya, jênênge Kramatruna, nalika Sri Jayabaya durung muksa, Kramatruna didhawuhi ana ing sêndhang Kalasan. Sawise têlung atus taun, putrane Ratu ing Prambanan, kêkasih Lêmumbardadu iya Sang Pujaningrat, jumênêng Nata ana ing Kêdhiri, kadhatone ana sakuloning bangawan (3), kêdhi têgêse wong wadon kang ora anggarap sari, dene dhiri iku têgêse anggêp, kang paring jênêng iku Rêtna Dewi Kilisuci, dicocogake karo adate Sang Rêtna piyambak, amarga Sang Rêtna Dewi Kilisuci iku wadat, sarta ora anggarap sari. Dewi Kilisuci nyawabi nagarane, aja akeh gêtihe wong kang mêtu. Mula Kêdhiri iku diarani nagara wadon, yen nglurug pêrang akeh mênange, nanging yen dilurugi apês. Kang kêlumrah pambêkane wanita ing Kêdhiri iku gêdhe atine, amarga kasawaban pambêkane Sang Rêtna Dewi Kilisuci. Dene Rêtna Dewi Kilisuci iku sadhereke sêpuh Nata ing Jênggala. Sang Rêtna mau tapa ana ing guwa
Selamangleng, sukune gunung Wilis.
WUWUHAN KATÊRANGAN.
Kanjeng Susuhunan Ampeldênta pêputra ratu Fatimah, patutan saka Nyai Agêng Bela. Ratu Fatimah krama oleh pangeran Ibrahim, ing Karang Kumuning Satilare Pangeran Karang Kumuning. Ratu Fatimah banjur tapa ana ing manyura, karo Pangeran Ibrahim Ratu Fatimah pêputra putri nama Nyai Agêng Malaka, katêmokake Raden Patah.
Raden Patah (Raden Praba), putrane Prabu Brawijaya patutan saka putri Cêmpa kang katarimakake marang Arya Damar Adipati ing Palembang, barêng Raden Patah wis jumênêng Nata, jêjuluk Sultan Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’lRasul Amiri’lMu’minin Rajudi’l’Abdu’l Hamid Kak, iya Sultan Adi Surya ‘Alam ing Bintara (Dêmak).
Putri Cêmpa nama Aranawanti (Ratu Êmas) kagarwa Prabu Brawijaya, pêputra têlu:
[1] Putri nama Rêtna Pambayun, katrimakake marang Adipati Andayaningrat ing Pêngging, nalika jaman pambalelane nagara Bali marang Majapahit.
[2] Raden Arya Lêmbupêtêng Adipati ing Madura.
[3] Isih timur rêmên marang laku tapa, nama Raden Gugur, barêng muksa kasêbut nama Sunan Lawu.
Panênggak Putri Cêmpa nama Pismanhawanti kagarwa putrane Jumadi’l Kubra I, patutan saka ibu Sitti Fatimah Kamarumi, isih têdhake Kangjêng Nabi Mukammad, asma Maulana Ibrahim, dêdalêm ana ing Jeddah, banjur pindhah ing Cêmpa, dadi Imam ana ing Asmara tanah ing Cêmpa, banjur kasêbut nama Maulana Ibrahim Asmara, iku kang pêputra Susuhunan Ampeldênta Surabaya. Dene putra Cêmpa kang waruju kakung, nama Awastidab, wus manjing Islam, nyakabat marang maulana Ibrahim, jumênêng Raja Pandhita ing Cêmpa anggênteni ingkang rama, pêputra siji kakung kêkasih Raden Rachmat. Kang ibu putri Cêmpa (garwa Maulana Ibrahim), pêputra Sayid ‘Ali
Rachmat, ngêjawa nama Susuhunan Katib ing Surabaya, dêdalêm ing Ampeldênta, kasêbut Susuhunan Ampeldênta. Cêmpa iku kutha karajan ing India buri (Indo china).
Sayid Kramat kang kasêbut ing buku iki pêparabe Susuhunan ing Bonang (Sunan Benang).
TAMAT
KATRANGAN:
(1) Kulon kutha Majakêrta lêt +/- 10 km.
(2) Pêlabuhane saiki aran: “Haipong”.
(3) Lor Stasiyun: Surabayakota “Sêmut”.
(4) Benang = Bonang ing Karêsidhenan Rêmbang.
(5) Tarik.
(6) Kulon kutha Kêdhiri.
(9) Akire Mênang didêgi pabrik gula arane iya pabrik Mênang,
stasiyune ing Gurah antarane Kêdhiri – Pare +/- 7 km. saka Kêdhiri.
(10) Kidul Majaagung lêt +/- 15-16 km. Saiki dicêluk desa Ngrimbi.
(11) Ing sacêlakipun pabrik Mênang, wontên dhusun nama Guruh.
1. mbok manawi ewah-ewahan saking Gumêrah-Gumuruh.
2. Gurah = gusah.
3. ngrêsiki gorokan.
(12) Laren = kalenan.
(13) Bangawan = Brantas.

Oleh: piwulang | 4 Desember 2009

BABAD GALUH

Babad Galuh adalah koleksi naskah kuno dari Kraton Kasepuhan cirebon merupakan warisan karya budaya leluhur yang mempunyai nilai yang sangat tinggi baik dari sudut sejarah, sastra ataupun disiplin ilmu lainnya. Agar warisan ini tidak punah ditelan oleh zaman, maka purlu adanya penyelamatan isinya agar dapat diketahui dan dipelajari oleh generasi muda.
PUPUH I
DHANDHANGGULA

01

Ingkang rinipta carita puniki, sasi kalih tanggal kaping sanga, Senen Wage ing rangkepe, pengeting tahunipun, tahun Be kang hijrah Nabi, sewu rongatus ika, punjul wolung puluh, ing tahun Be Punika, among angsal wolulas dinten nenggih, wau ingkang kalampah.☻

02

Awong dening kang anyerat iki, pan jenenge Kyai Serengrana, kang alinggih Pulasaren, mantrine Sultan Sepuh, pan kalangkung bodho tur langip, pan ora nalasamwa, ing tawilunipun, waktu anyerat punika, … umur skeet tahun nem warsi, akatut kang …….☻

03

Nama samya ingkang sami kapti, amaosa carita punka, kang sastra langkung awone, akathah tanduk kang sigug, poma samya angapunteni, lan sampun caket pandam, sampun kari luwung, nyanggi talutuh ngalantang, lawan sampun nyaringin nang iku sami, ingkang sami sudi maca. ☻

04

Kang pinurwa Pajajaran Mangkin, samantuke sang Ciyungwanara, saking bumu Galuh nengge mentas praja ji wau, kali Ardhangbang awisik, si kakang kang mingetan, araga salimur, aneng alas Maostikta, pan si adhi mangulon ngadeg dewaji, ababaka nagara. ☻

05

….. Pajajaran sadakti, dawuh jengjenan kadang, Cipamali watesani, Ciyungwanara nurut, ngilen kali kang Ibu Dewi, Rara Kandhegkinarha, jimat tunggul payung, ingiringi pandhe dhomas, gumurudug ngilen wus dumugi maring, Babakan Pajajaran. ☻

06

Wus kapanggih lan Indang Sakati, kang pinangku panembahanira, kang gagandhi ing pilungguhe, sang Ciyung angadeg Ratu, iku Indang Gunung Saketi, kang dadi emban-emban, arjaning sapaku, sinawung galih liniga, kawula warga Sakati kang uri-uri, kang arjane sang nata. ☻

07

Cantrik Sakati ingkang anami, lawan wau kadangira, kang kocap ing namane, sikaki elu-elu, Ki Okesa kalawan malih, Empretmohe ya ika, kang sami amangun, angistreni lungguhira, Ciyungwanara angadedi Sribupati, ing Nagara Pakuwan. ☻

08

Wus rineka jati pangupami, umbul-umbul kulit wanara, ingkang acemeng ulese, akadi kulit lutung, kombala buntut sing asami, mangking kombala badhak, ing waos pangrenyu, godebak bungkul cabolan, kang ginawe rontek buntuk monyet dadi, sarengga-rengganing praja. ☻

09

Payung agung kulit maung kuning, marapit ing …. Sang Nata, sangkep sami kaprabone, …. Wus gemuk, kang ngaolatingkah negari, ical jenenging wana, dumadi praja gung, agenging kawula bala, pasar ageng pan samya suka ing ati, ing sadina-dina rena. ☻

10

Andrawina kang kawula alit, gemelane reyog ngimba sraya, tampingan gunung arame, dhog-dhog byos pan dharugdhug, kang tharokthok egar kapati, rame kang surak-surak, kidung sari baung, sundari alas langenan, kikitiran ing pucuking lingga sari, jemegur yen kaginan. ☻

11

Yen bondanan pandununging…., pan jumegur lir mariyem kang swara, kang winangun … unen-unen, ing siang lawan dalu, Maha Raja ing Pakuaji, Prabu Ciyungwana, riniyung ing sagung, warna rupaning sambawa, sato-sato kang bisa akata jalmi, sok lutung kidang ika. ☻

12

Kang mambangan ules gumaringsing, kebo bule bungkul kang pancal pat, padha icep bal makabe, gelap pon sami ngulun, angintali barat angabdi, iton-intin liwurkali, jurig dewa mambar, sabawaning ratu susupaning wasi, lir kang estu ajar padhang. ☻

13

Ajar Padhang ingkang dukmadhemit, ingkang murwa sagala jagat, ing Pajajaran tanggale nuli…., dhasar masih sedhepan daging, rai awujud buta, purwa sing Cialur, rarakandheg mila dadya, pangrampiging menak Cidahur nyungkemi, purwaning abal raja. ☻

14

Datan roro tetelu ing kapti, isa baisa Dipati Alurcenang, ing Pajajaran suude, santana kinabandu, ragem-ragem mariboting sih, sadasa sami prapta, akidang kandhuru, Kikandhuruwan babalban, seja tuhu genya karsa angabakti, amegeng sewakanira. ☻

15

Mangunaken sagung kapurati, lembah dhuwur lan pintu tundhaga, saha sri ing samandhepane, ngajangaken alun-alun, …. Pasowan panggenan aji, kang kepering angi … puraken gunung, limbung aning guwa santang, nengenaken sasagaran giri tasik, ngajengaken bomanta. ☻

16

Sabandare sing sabrang sumadhing, paningadhun sang Bima larang, Sri Jampang sarta jinggine, gul menak umbul adhu, rang-orange jinunjung inggil, anyakra kapatiyan, ing Sundha ginunggung, pating rangu rangu Sundha, pan sirnaning ratu sukma ing pati, amageng kawicaksanan.

17

Pan kapati kang duweni manis, cina Sundha kawilang lilima, ingkang kacepengan dene, Ki Ardha mangun gen trahe nenggih, ing Pahing dintenira, andhum wancinipun, anyepeng para gul menak, pasisihan utawi manca nagari, cekelan mangun gentra. ☻

18

Ki Tumenggung Sayoga nyepengi, ….ing sawancinira, angrekuricak cepenge, ing ayunan sang prabu, pan acaos basa ing aji, dupi ingkang kang nama, Demang Elu-elu, dine Wage jaganira, anyepengi putusan pra padungapti, ing bener lawan salah. ☻

19

Kang Ngabehi Lempretmonge kang jagi, dina Keliwon cinepengan, prajurit ing sawancine, ing ulu balang wau, sungga watang sarampang bandring, kukuh ing pat Pakuan, sinaroja umbul, dalem ingkang kuna-kuna, samya ngidhep ing Pajajaran angapti, nalika binathara. ☻

20

Ing Ciwindu anteng ….paning, dhalem Tepus nalika wong kuna ing Raja….., kidhalem kuwu agung, Sendang Cibuntu ing praja ngapti, dhalem demang kangene, sindhang kasimanut, lan ki dhalem Cintangbarang, dhalem Pakulada dhalem Pakuaji, dhalem Rangga Pakuan. ☻
PUPUH II
P A N G K U R

01

Angir-angir ing buwana, pangaline rara nama Mundhing Jamparing, lan kang namane sinebut, Kalibadhaglolopak, kang kinarsa angirupi para ratu, para idhang kang primanca, nagara urut pesisir.☺

02

Nyata sang roro ponggawa, sampun mentar kalawan idhine pati, naklukaken para umbul, para dhangan pasir panjang, sang dhang bana Ujung kulon wus anungkul, Pasir Adu Pulangdhang, sura sowan sabrang pati. ☺

03

Banten …. Ujung Maladha, Menak Lampung sadasa kang ngapti, dhumateng sang Raja Ciyungwanara Pajajaran, apa maning sang dhang Jakerta panadhun, Jograt Lantan Tawangpadhang, Karawang lan Ujungmilir. ☺

04

Losaribang kulon miwa, Palimanan Carbon Girang katiti, Jepun kulon gumulung, Indramayu lan Kondha, sang Srijunti sang Kalana Kandhanghaur, sadasa akedhep samya, ing Pakuan Pakuaji. ☺

05

Amung siji ingkang nyelap, ingkang ngambek sucira angrasawani, iya iku nama ratunipun, Raja Mongkara, aneng Ujung Batagonggang …ipun, estu tan arsa kedhepa, ing titah ….aji. ☺

06

Kocap bala Pajajaran, seja lurug dhatmakaning kulilip, pirang-pirang bala maju, daman pangunjung tanah, bala Sundha ngadhaning rangseng padha kawur, dhening prahara lautan, tanpa sangkan breking angin. ☺

07

Wong Sundha ingkang prawara, pirang-pirang ambalan tan budhihi, tan maju kadhadhak kawur, tiba ing sawah-sawah, ing tetelar aniba pating talumpuk, lir walang kawur prahara, manglkana sandhenging wani. ☺

08

Salamine ing ngayuda, datan ana wau ingkang ngucili, enggal pan sira alaju, yika Badhak lolopak, sabab bareng rereping kang lisus, den age caked….., anila bimi ning angin. ☺

09

Nadyan …. lan jajal, pan pinanggih lan Sindhang Mongkara aji, yaganal pamuwusipun, la iki kene apa, wong Kajiwa bumi re gelem nyangkul tembene ya ing amendhak, ingkang kadhang raja iki. ☺

10

Puniki bumi Pasubdhan, ingkang estu warise juragan Ahing, pusaka sang Prabu Galuh, kang wus merad susirna, mangkana Ratu Sundha kang dhadha susulur, amisesa sasigar Jawa, iki kang si rajeneki. ☺

11

Kukubaning Ratu Sundha, apa gawe si rajenak ing riki, den ora gelem anungkul, ya para age bu………, ana jenek enggon kene sira iku, ….. kang ora suka, dhen dhadhi kulilip. ☺

12

Raja Mongkara panabda, Lalangkara ewong dadi kulilip, lawan Anglangkara ratu, adhuweni buwana, pan buwana Dhangwinta ingkang ngawangun, ratu mung ngaku kewala, padha ewong ambeneki. ☺

13

Padha bae suwaningwang, apa bidhane tunggal enggoning bumi, sira ingkang selang gumun, ambeg sawenang-wenang, budhi kethek napsunira kaya asu, Badhak Lolopak jal Kidang, anubruk dhateng sang aji. ☺

14

Sigra sang Raja Mongkara, matek mantra dhal emesal menginggil, anyepak maring kang musuh. Kontal Badhak Lolopak, niba tangi anubruk mali dencawuk, den balangaken …., tiba tangi ngudhak maning. ☺

15

Dedupak malih kapental, ora meneng-meneng abalik maning, anuli sira den cawuk, binalangaken tebah, nuli prapti ika wau ingkang lisus, kawur si Badhak Lolopak, kabereg-bereg ing agin. ☺

16

Tan kena aju narajang, kasektening Mongkara wantuning, putraning Bramana Laut, mila Dhikbo samana, semunira karsa angadhoni ratu, ingkang mangkono ngadheg anyar, ana ingsun ya negari. ☺

17

Ora kaya Ciyungwanara, jar akathi Indang Gunung Sakathi, ingkang kaparing …, ing Munting Jamparing, aja sira papa … iku, balikan sulusupana, api-api saha ngabdi. ☺

18

Kawula nana ngendhatna, yen wis kanggep tungkuling wong aurip, colongen ika kang tuhu, ing Kahuripanne raja, kang dhen wadhali Beruk Kalapaciyung, den wus kaebut kang jimat, mangsa suweya sasakti. ☺

19

Yata munting Jamparing, lumaksana sawisiking Yangnini, ing Batagonggang angulun, watara satus dina, wus uninga pancing surupe Yangwiku, Beruk jimate Mongkara, pan gawa minggal tumuli. ☺

20

Katur ingarsaning Ingdhang awan, Munting Jamparing angadhepi, maring panusuling musuh, yata kang bala Mongkara, gumarudug anusul …. ipun, ….. padha soroh ambek pejah, wong … angladosi. ☺

21

Ramya ingkang pancaraga, papaning bala mapan saolih-olih, bala Pajajaran kondur, sinerong ing amukan, wadya maju Badhak Lolopak alaju, bala Mongkara kokalan, kondur dening Badhak muring. ☺

22

Raja Mongkara naraji, Badhak Lolopak sampun kawalik-walik, satengah pejah dhen pupuh, Munting Jamparing lawan, lami rowang anyekep marang sang ratu, Raja Mongkara sira, pan Silepe saking wingking. ☺

23

Dug Munting Jamparing, pan satengah pejah den wali-walik, tan adangu Indhang Gunung, saka tiyang amba …., … jejel paring pitulung, andhawuhi kang udhan krama, Raja Mongkara mudhidhing. ☺

24

Angeles lumpuh entro raga, wus andhepok ing sihi tanpa sakti, yata prasami rinebut, ing bala Pajajaran, Raja Mongkara dhen asandhangi dhata tangsul, kasri ing babadhanira, miring Prabu Pakuaji. ☺
PUPUH III
S I N O M

01

Iya iku purwanira, Lalopak lawan Jamparing, Sinungan lenggah arya, Ki Arya Munting Jamparing, lan Arya Badhak Lolopak, pan iku karananipun, olih gaweyan manca nagari, Raja Mongkara sampun angangya sewaka.♥

02

Aturing kang para … kawitan, dhumateng purba nagari, Pakuwan … Ciyungwanara, Ratu Agung Sundha sakti, ingapingan jeng nini, lintang saka tipun niku, timbul salir wirasa, sastra Sundha kartajani, sastra selawe gumelar ya ing Pasundhan. ♥

03

Lan rarasaning manusa, gawe ewag saking Jawi, ngamperi rarasan sabrang, basa Sundha kang panuji, mangkana arsa aji, Kanjeng sapta loka, iku ingkang sawiji, Kutha Manggung Kutha Raja kutha Gara. ♥

04

Kutha Larang kutha Jampang, kutha Idhang apa maning, kali prakwise nama, gara tengah gara jati, gara … gara wangi, gara aji gara pagu, gara jaya kang …, … tigang prakawise nami, Sundha sari Sundha lengdha Sundha larang. ♥

05

Sundhawestu Sundhasana, Sundhalayang Sundhajahi, lawan prakawise nama, Ujungkulan Ujungbumi, Ujungkembang Ujungsemi, Ujungtana Ujungbarung, lawan Ujungkandhi, lan gangsal prakawise, Bantalwaru Bantalwire Bantarjaya. ♥

06

Bantarwangi Bantarpanji, Bantaraung Bantarjati, nem prakarane ingaran, Raja Galuh Raja Cingcing, Raja Jawa lan malih, Raja Larang Raja Dhanu, Raja Kowek kalawan, Raja Wetan miwah malih, pitung prakawis anama medhang kamulan. ♥

07

Medhangdhatar Medhangpala, Medhangrasa Medhangterik, lawan Medhangkawiraja, Medhangko … sajati, sapta loka wus dadi, gumelar rajaning ratu, Sundha Amalatra, Ciyungwanara pakolih, garwa padmi saking Gembong arah wetan. ♥

08

Kang kasebut ing paparab, kang nama rara Cunggilis, kang pinangka prameswara, ing Pajajaran sang aji, ing wuri-wuri jati, ing kadhaton dhalem agung, ratu Cunggilis krama, Ciyungwanara wus mijil, putra estri kang paparab ing arja. ♥

09

Putri Purbasari mulya, ing pura Sundha negari, pinutri-putri ing nata, ingadhang agung ing aji, karaname narpati, … putra jalu, amung ika wanodya, … jayeng aji, dumadiya turun saluraning raja. ♥

10

Putrining Ciyungwanara, ika putri Purbasari, komalaning dhalem pura, Sundha ora nana maning, dupi garwa sembar ayu, putri saking Bangbayang, sang korone becik-becik, nami Dewi Tingtrim wawanginira. ♥

11

Lan Dewi Markeseh kembaran, Martingtrim ingkang yumani, iku kang Pajajaran, Markeseh ingkang yumanibini aji ing puri, Pajajaran kaliyipun, kagarwa dhening nata, nanging boya amiyosi, sakaliye ing gigabug tan aputra. ♥

12

Mila … Banghayang, sanget kaul-kaul mambri, … kagungan waya, kang miyos saking narpati, prandene … yakeni, esi tan kena tinedhu, akathah ajar bramana, kang jinalukan jajampi, parandene oranana siji laksana. ♥

13

Martingtrim Merkedheng lunta, gabuk ora amutrani, nuli sang Ciyungwanara, ngalap garwa malih milih, ingkang tedhak sisiwi, dreman ing sabronjotipun, wonten malih kang putra, menak Cicilutung gelis, kang kekasih iku Jeng Dewi Anjatan. ♥

14

Ing Pakuwan pinakrama, wus angapti maha dewi, dinama-nama ing marma, parandene tan mutrani, gabug salami-lami, usada … wus tepung, tan ana leksanannya, sang Prabu …, agagarwa saking bebeting Bramana. ♥

15

Putri saking Kandhanglarang, sinedhepira dumadi, katur ing nata Pakuwan, nami Dewi Kilikmangi, ginawa ing sang aji, mapan mangkana agabug, datan miyos putra, jajampi sing ngenda-endi, ora nana ingkang darbe laksana. ♥

16

Lir ta selirnya marapag, langkung kawandasa sasi, ingkang ngadining-ngadenan, rinegep sari ngumining, iya orana siji, ingkang amiyos sinunu, gawok kasri nalendra, dening mung kalethek siji, Purbasari wadon kang winadhang-wadhang. ♥

17

Saluraning Pajajaran, mila saderenge lalis, sang Prabu Ciyungwanara, krajahan dhen palipur, saparoning pribadi, saparo ing sunu ayu, … kang upacara, cathik-cathik raja peni, sapaliye Purbasari kang ngagem. ♥

18

Dugi maring pabarisan, sapalih ngapti ing siwi, Bawatbenggi sari Manglar, Bawatciyung Naga Sakti, judhipatnantang weri, judhialiman sang dhekur, suradhadhu sarabang, kereronce kereampit, dhadakpulur wigalba wiragalba. ♥

19

Purbasari lan kang rama, kadi kembaran narpati, supaya wadon lan lanang, ajumbula moning angaksi, dereng karsa alaki, yen tinaros banget lumuh, tan kenging dipun purba, dening karsaning narpati, para ratu kang karsa … lesan. ♥

20

Pirang-pirang kang sewaka, ambaka … pikulih, kang arsa sewa panglami, nanging datan den pidhuli, akeh kalesan balik, ana baliking dhalanggung, sing sabrang saking Jawa, kang akarsa samya balik, padha mundur mulak ora tinampanan. ♥

21

Ajaja sipating jalna, sedhengane dewa aji, padha mengga ing ngalama, kapepes ing tan kaconggi, ingkang mara-mara balik, ingkang mara-mara kondur, Prabu Ciyungwanara, rada melang-melang kapti, bok sang putri kencok aning mamala. ♥
PUPUH IV
K I N A N T H I

01

Sagung papalisanipun, saking kang rama narpati, kang ingarsane si rara, pan mangkana wangun mali, sapta loka pari mina, ing ngarsane sang Dewi. ☺

02

Saprakara kang sinebut, Budiwati Budiminging, Budirujit … Budi …, Budisari Budigolis, Budipandhang miwah ika, rong prakara ingkang nami. ☺

03

Luwilaja Luwilidhung, Luwiseeng Luwimundhing, Luwiladha Luwidhingding, telung prakarane nama, Sokapura Kokaaji. ☺

04

Sokapolang Sokaratu, sokawiyana lan malih, Sokamanah miwah ika, Sokanegara apa maning, patang prakarane kang nama, Kawungluwih Kawungaji. ☺

05

Kawunglarang malih ipun, Kawunginten Kawungsari, Kawunggehe Kawungomas, limang prakarane kang nami, padhapenah padha bongor, padhamatang lawan…..☺

06

Padhamuhi padhamadhung, padhareka padhamuraging, nem prakarane kang nama, Sabdanawa Sabdasari, sabdamenyat Sabdawangi. ☺

07

Sabdalarang malihipun, pitung prakarane kang nami, Sindhangkempeng Sindhangbarang, sindhangayu Sindhangaji, Sindhangwangi Sindhangpala, miwah ingkang Sindhangkasih. ☺

08

Sampun ing kadya puniku, kng simaan rama aji, dupu rangga kapatihan, dumateng putri Pakuwan, Jeng saputri Purbasari. ☺

09

Dupi ingkang rama prabu, Ciyungwanara ingabdi, dening Arya Mangunkentra, Karapu Yudanegari, ing sapandum-pandum nira, Mangunkentra rada ….☺

10

Rang-urange pandumipun, Menak Mangun … praniti, raja Galuh lan Talaga, Kuningan lan Sindhangkasih, Ciamis lan Sokapura, Panjalu muwakawali, pusaka kawuri-wuri. ☺

11

Cikaso lawan Luragung, Makber lan Cipamali, Lebakwangi lan Cikuwang, sapure kang katiti, Cigugur lawan Cirayap, Cionje lawan Ciori. ☺

12

Cikendheng lan juga Cigintung, Cibarangbang Cipaburi, Cikandhang Cicaridhangan, Ciakarwangi katiti, salwe princi kawilang, Menakwacacayan istri.

13

Purbasari kang amengku, la iku dadi laluri, teka ing satedhak-tedhak, lamun pajajahan istri, iku sun dak sigar wetan, prawatesanipun kali. ☺

14

Bayabang kali Cilutung, mangetan jajahan istri, Menak Pakuwan ingaran, pusaka kawuri-wuri, dupi sing kalih bayabang, mengulon iku kang dadi. ☺

15

Pasawahan ramanipun, Ciyungwanara apa maning, Menak Pacacahan lanang, laluri ugi salami, kang nama Menak Pradhangan, sigar kulon sun dapuri. ☺

16

Pon salawe princi umtul, Ujungkulon apa maning, Bogor lawan Kanjapura, Kadangladhang Pasiraji, Cianjur Kujang Limbangan, Sumur Bandung Sunedang aji. ☺

17

Manonjaya Garut Ciaur, Batuwalang lan Biribis, Sawung … Gantilah Munoro, Tegaluwar apa maning, Cikokok lan Nungkalaya, Sokowiyana lan malih. ☺

18

Wanabaya Cibalagung, ukurlantara Juangin, salawe princi kawilangan, ing pajajahan angabdi, wengkuning Arya magentra, ing ngarsa Sri Pakuaji. ☺

19

Wus kukuh kang bala ratu, jajahan Sundha nagari, sang Prabu Ciyungwabara, kang angresa hawa aji, karata gampang pangulatan, kang sarwa tinandur dadi. ☺

20

Sakalir karsa kadulur, agung kacipta dumadi, nuli ika garwa lima, jeng pawestri Cunggelis, maringtrim Merkedheh mewah, Anjatan lan Giliwengi.

21

Sami sinunut cangkohipun, mangkana kang prameswar sinung cacapagunungan, gunung Ga Gunung Licin, gunung dhukut gunungsira, gunung Lajer gunung Kelir. ☺

22

Kapituning gunung wupu, Parakatan pawestri, dhupi iku aneng ana, sinung pobojongan menggih, Bojonggaluh Bojonglapang, Bojongnerwasa Bojongleppit. ☺

23

Bojongmuntas Bojongwindu, Bojongrentan ingkang dadi, Parekatan iku Sundha, dhupi sang jeng bini aji, sinung sasapetegalan, Tegalkolot Tegalpakaji.

24

Tegalmenak Tegalbaput, Tegalgubug Tegalkunyit, Tegalmoto ingkang dadya, Parekatan bini aji, dupi maha Dewi Sundha, kang sinung sasapan indhi. ☺

25

Paindhon kang winalungun. Indhupari Indhuaji, Indhujanten Indhugirang, Indhuraga Indhusari, Kapitune Inddhujaya, Paraketan nini aji. ☺

26

Dupi ingkang Dewi matur, sinung palebak kalepti, Lebakcenang Lebakcehang, Lebakpanjang Lebakwangi, Lebaksidhu Lebaklenggar, Lebaklawang wus dumadi. ☺

27

Sawawasa prati umbul, ora selang surup apti, iku rerekan Pakuwan, bedha lawan Majapahit, golong sapurba sasmaya, dhupi Pakuwan Marinci. ☺

28

Temah dedeake Ratu, ing Pakuwan ikut yakti, prasasat den prenca-prenca, kamukten den bagi-bagi, mangkana adat Pakuwan, kang kanggo salami-lami.

29

Mula akeh menak umbul, ingkang satta sabumi, mila-mila kawisesan, angreka sabagi-bagi, waneh kang campur wong sabrang, anggelar enak ing urip. ☺

30

Padha among sanak sambung, kinalilan purba bumi, waneh ingkang leletana, kasilane den remani, dening kang padha anyewa, maring bumi ming narpati.

31

Sewa aning paken agung, pamule pegantang salir, ingkang mawa tatakeran, pamajeganing pangumping, anut maring kasabpolah, tukang maring pajeg trasi. ☺

PUPUH V
ASMARANDANA

01

Ki Lurah Rawaprasmi, pamajegane gugubar, iku Ratu kang dheres, pamajeganipun gula, Ki Lurah gurupadha, pagantang pajeganipun, mangkana kang lurah wana.☼

02

Ateka yu kang lumari, kang sabandar pajeg ira, kekendhangan kang isine, lelemes buwatan sabrang, ingkang lumampah ing Sundha, kethang prunggu kang sinundhuk, ing tatali karompyangan. ☼

03

Bolong-bolong kaya dhuwit, bendher den cap sastra Sundha, kus jembar kahuripane, sawah tan mawi lalanjan, mung den wis panepadha, atur catur baktinipun, wus dadi anak Pakuwan. ☼

04

Palawijaning wong cilik, den elus sakamya-kamya, ora nana pajegane, sailing-elinge padha, babakti ing majikan, yen wis padha ngundhuh-undhuh, tangu gegel ing majikan. ☼

05

Warnanen sang Pakuaji, ing salamine amurba, ing Pajajaran tuwuhe, kewuhan dening kapadha, akarsa ing sang rara, Purbasari naminipun, mingkung dhatan arsa krama. ☼

06

Wanti naros ingkang yudi, ature wau kang putra, tan arsa akrama ingong, sanadyan para nalendra, kang karsa dhateng kula, besane lamon kinuwu, pinardhi ingwang tuwa. ☼

07

Kaul alukan mati, sumadi isun akrama, iku kang dadi pegele, manahe Ciyungwanara, re kang putra samana, tatambah wus mider tepung, ora nana kang tumama. ☼

08

Wus pirang-pirang pamuji, wiwiku lan ajar-ajar, ponora tumama kabeh, japa mantra lan istiar, ora nana kang misata, sang nata sanget gegetun, tumon adate kang putra. ☼

09

Kalangkung bebek ing pikir, reiku kang kinudhang, winadhang-wadhang wiyose, turunanira drapona, marna bangsa raja, dhupi iku teka mingkung, tan ana turun tedhakan. ☼

10

Du uwis amung sawiji, wadon tumuli mangkana, tan kena den palar mangke, turunan lantaran krana, dupi den lumuh krama, temah puthes anak putu, kang dadi bebeging manah. ☼

11

Ratu Sabrang Ratu Jawi, kang asresewa panglamar, iku dhipati Manglewat, saking anagara Tuban, lawan Dhipati Japara, lawan Dhipati Cidah, lawan Arya Balangbangan.

12

Saking sabrang Raja Kelir, lan Dhipati Singgapura, lan Arya Dhagdhagase, suradil pan titah raja, sakabeh ika padha, anggondhel prakara iku, ing Prabu Ciyungwanara. ☼

13

Ruru bae anggonturi, wus loba tanpa wilangan, mila sanget kewuhane, enggone nari kang putra, dhadhak sakala ika, Purbasari inggal mangun, tumanga geni sakala. ☼

14

Ageng ilur sundhul ing langit, marakbak kagila-gila, lir baronggong beledhoge, wuku pring apilar wangwa, Purbasari dhuk sabda amit pejah rama prabu, den kula pinardi krama. ☼

15

Alum kula anglabuhi tumangan geni sakala, jasad kawula sanggine, tumpes aja katingalan, ing kadang ing ngakin, den nama kumudu-kudu, kawula sumangga pejah. ☼

16

Sumandika umalaki, kaprawasa dening priya, tan kangkat to nandhang, wirang nekaringgit ing jasad kula, kang dados sakiting manah, ajur kula dados awu, sama dening kula wirang. ☼

17

Jaler punika kamangi, sasada susut den wis waya, way kalereng anggepok, den sampun gepok ing rasa, mundure tut sausap, atemah boten mambu, boten memper dhateng rasa. ☼

18

Rasa kang sampun binukti, istri kang kabobongganan, mila kula angedados, purnapa awu sahana, sang Prabu Ciyungwanara, angandika aja babu, nini labuh geni sira. ☼

19

Lan aki sumamung aji, mung sira tan ana liyan, kang dadi ati ewuhe, sipat matane si rama, mongsa pira gesang, sanadyan nama sihing rupa, anak putu den arampak. ☼

20

Babarayan ngadek aji, ing kamukten padha uman, padha bareng mukti kabeh, lan anak putu den rampak, ingson kang urip dawa, anunggoni anak putu, sing purwa teka daksina. ☼

21

Mangkana prangregep mami, Dewi Purbasari girang, mintuhu sakadikane, kang rama kadi mangkana, nanging ika tumangan, tan asung pinancas parum, masih munjuk kang dahana. ☼

22

Den pinaksa alaki, sejane labuh dahana, mila tumangan masihe, kang geni gupak cawisan, Den Purbasari medho, wawadine kayak iku, ora jamak lan manusa.

23

Sang Ciyungwanara aji, sak akal budi pandaya, amangsuli kang anggondhel, raja-raja atas sabrang, maredheng … maksa, jamak istri asasdhu, tinari laki popoyan. ☼

24

Mangsa wontena pawestri, tinaros mangsuli iya, utawi kaluncurane, sesaengek jamak wanudya, tan nilapaken rama, den jeng rama sampun asung, sang putri juwala purap. ☼

25

Ciyungwanara mangsuli, den kula pundhi kentasa, mangke kang dados parenge, kang suka punika rara, den sampun bubudayan, karanten dan mangke tulus, dados awu lelebaran. ☼

26

Ika iki kangngangking, kawula kelangan anak, prandene den anakake, tan kaya dening dadaman, amung siji anak kula, nuli ika temahan lampus, karinggi awak kawula. ☼

27

Raja sabrang mangkeya angling, sak lilaha ing jeng rama, aweyos geni jatine, tumangan kita pri pejah, rumuhun kita lanat, sasampuning geni urut, kita sami medhek sowan. ☼

28

Ling sang Putri Purbasari, andhadhanr untunging awak, sing ngakenggep ing babajane, kang boten kanggep sanjata, ing cilakane awak, tapi punika satuhu, boten dados pana sarana. ☼

29

Panuhun raja tas angin, kasabrangan pan sadaya, maketen ugi ciptane, memanten dados ing karsa, raja rama Ciyungwanara, dipun jemba ing pamuhung, ing songonging kasabrangan. ☼

30

Bilih boten angrakepti, ing adat tabidat Sundha, nanging putra sabrang kabeh, rempage kadi mangkana, munggi kang rama lila, saduka-duka kasuhun, anuhuning palamarta. ☼

PUPUH VI
M I J I L

01

Ya Prabu Ciyungwanara mangsuli, boten wonten roro, ya tetelu aturku sajatine, gih punapa karsa putra aji, kawula dhuluri, sok dadiya arju.®

02

Sampun nelangsa ing salasa tunggil, punika kang dados, panedha kula ing sadayane, para putra sing ngatas angin, pan rama ing uni, dhateng saenipun.

03

Kula tempuhaken lawan nalisip, bilih putra mangko, nuntenweleh geni boten moset, karanane punika kang geni, dede geni pranti, sampun kadhalangsu. ®

04

Heran kula ika geni, tan wonten sosolot, manther angger tan ana surude, kula dhugi wonten nyurupi, adhining asakti, kaduk mahinggurut. ®

05

Raja-raja sabrang aturnya aris, gih cobi kemawon, geni lawan toya musuhe, kang atos inggih dipun linggis, mangkana kang inggil, dipun sengget runtuh. ®

06

Ingkang letak dadi pujajagi, kang suker tinatas entong, lagi laut kang jro jembare, kenging ugi den silulupi, lan dipun langeni, kalawan parahu. ®

07

Punika malih wernine kang geni, gampile kang mangko, Prabu Ciyungwanara sahure, la inggih sakarsane sami, kahula kang nguning, dhateng saenipun. ®

08

Ya ta raja sabrang ting padhigdhing, reka-reka gatos, ting surakata ing sahakale kabeh, gawe pongpa kang anemburwarih, wane gobakwari, sisrate mancur.

09

Ana gawe banyu janantrawis, warna-warna katon, banyu pecut kang munjuk mancure, akal sabrang ing sabagi-bagi, ana gawe banjir, bumi metu banyu. ®

10

Sigegen ingkang sabagi-bagi, kocapan sang katong, ya sang prabu Ciyungwanara jatine, kawalahan anglaladeni, maring kang ngamambri, dhateng putrinipun. ®

11

Sya kathah kang para bupati, kang sadya patakon, kang anglamar tiban sampire, ruru bae wus anjaladri, pangumbuk-umbaking, rurubahing ratu. ®

12

Ing alun-alun wus dadi ukir, kang murut mrangmong-mong, ya sang Prabu dereng nampani karsane, dening ewuhe putraneki, lumuhe tan apti, ewu mana para ratu. ®

13

Kang wus sewaka kulina ngasi-asih, ing praja gung kono, ratu papat iku rurubahe, Palimanan kalawan Junti, Ujungtanah malih, lawan Kandhanghaur. ®

14

Sakapate anjum aminta kasih, lan putri ajodho, dhalem Palimanan wau sewakane, sayajenggi lawen manggi kardi, den panjer dumadi, buta geng asiyung. ®

15

Parandene ing putri den tampik, enggo apa thongsot, buta ngengenggo apa gawene, aneng kene anjejemberi, gewe ingkang tewi, lan gawe tahinipun. ®

16

Dalem Ujungtanah kang panggapti, maring putri kono, Sadhajenggi matur kasaktene, la den nemu gawe ika nuli, den panjer dumadi, musuh datan weruh. ®

17

Dasa rupa merat sampurna lalais, la ika duk pahor, ya prandene tan kanggep sawakane, dedenira jeng putri anampik, enggo apa sakti, kaya kuwi niku. ®

18

Merat-merat apadu menesi, esak-esak katon lawan katon, la saka sanake, ora papa mungguhing mami, sakti kaya bellis, anyiluman kidul. ®

19

Dalem Munti ingkang pangupami, dateng putri kono, kang walira katimaha gawene, la den karsa lulumbaning tasik, binuwang dumadi, buhaya tan untung. ®

20

Jajar-jajar kaya gethek ramping, atur karsa kang akon, parandene tan kanggep sewakane, ing putri den tampik malih, enggo apa sakti, bubuhayaniku. ®

21

Gigilani mungguh ingsun iki, ora rerengkono, endah rama malih prahuake, anganti kang buhaya jiji, ora sudi mami, ingkang kaya iku. ®

22

Dalem Kandhanghaur kang pangapti, rasukan kang poleng, kang ulese loreng lir kulite, wohing lir kulite, wohing rarawe lir wulu kucing, saktine den manggih, gawewan rinusak.

23

Nuli katon macan ageng wingit, nangkono den panor, parandene tan kanggep sewakane, dening putri tinampik malih, enggo maning, baju kaya ikut. ®

24

Dadi macan apa gunaneki, esak-esak ewong, nuli dadi dato sanepane, ina temen mungguhing mami, jalma nyarupaning, maun padha iku. ®

25

Ora layak temen mungguhing mami, sakti kang samono, ya ta atur-atur balik kabeh, datan ana kang kanggeping putri, Purbasari apik, nanging kersane sang Prabu. ®

26

Ciyungwanara mgadheg pangabekti, sanadyan tan kanggo, tan kaserep ing putri karsane, iya Endah Kitarawati, jingika kasaktin, bok menawa besuk. ®

27

Ana gunane ing sawuri-wuri, ngulatana ayo, dupi iki yawis teka dhewek, amung kita darma ngopeni, simpenen kepati, rang-urange gupuh. ®

28

Gemenana ing kawan prakawis, ing gedhong kilempong, gadha dalem pakuncen kang gedhe, pramilane Pakuwan darbe asakti, ingkang kawan warni, iya saking iku. ®

29

Saprakara Pajajaran bangkit, nyipta buta ijo, iya saking Palimanan asale, rong prakara ing Pakuwan bangkit, ora katon dening, pambereging musuh. ®

30

Kadi merad sapadhaning lalis, sada kang den enggo, den panjer dadi ing wiyange, Pangroban ya sakti saking, Ujungtanah pasthi, ning mongkara windhu. ®

31

Telung prakara Pakuwan bangkit, cipta buhayangon, saking Juntu tudu pinangkane, patang prakara ya bisa dari, macan cipta saking, dalem Kandhanghaur. ®

PUPUH VII
M E G A T R U H

01

Kawarnae ingkang padha sungguh-sungguh, sadaya pangngabakti, warnanen ika sang prabu, sabrang amateni geni, sareka budine entong.©

02

Banyu singsor sing dhuwur padha maribu, rebut dhingin den dhingini, duga kaya udan ribut amalabar ingkang banjir, sing lor sing kidul sing kulon. ©

03

Saking wetan campuhe wau kang banyu, prandene tanmigateni, geni manjer tanpa surud, urube angger tan gigis, gumuruh sorak bala wong. ©

04

Ladalah rekaning wong sabrang gathul, prandene pating padhig-dhig, angraba kena ing banyu, banyune cabar cawiri, ratu sabrang nyata wadon. ©

05

Ora pira budine pating dharug-dhug, tan bisa meteni geni, prandene kadhuk asanggup, sumagar ngarepi putri, iku dumehne wong wadhon. ©

06

Kaparimen yen wis geni ora purum, iku geni ngisin-isin, wong Pajajaran gumentur, surake kang para aji, raja sabrang kaliwat ing sor. ©

07

Saya santek geni tinuruwan banyu, kaduga pitung bengi, tan ana endhaning banyu, naging tan bisa mateni, maring genining manon. ©

08

Manonjaya pawestri jeng Listupaku, dangu-dangu ika warih, dadi wedang mulak metu, gawok para narpati, budi rekane wus pokok. ©

09

Kawirangan dadi sira padha ngandhu, prasami apikir-pikir, iya bener ing sang prabu, Ciyungwanara duk angling, ora yamane ya ewong. ©

10

Purbasari genine patut den iku, iya ana kang nyumurupi, gelare ya kaya iku, ora mati dening warih, la iki intening wadon. ©

11

Duk angandut nuli ana ingkang laju, kang anglosot anganjerki, niyat sami tur garumbyung, seja amateni geni, saha kala akalengkono. ©

12

Dalem iban Palimanan lanunipun, anyangking sadanya jenggi, dadi buta sada iku, prakasa raksasa gasik, munggah ing gunung den enggo. ©

13

Angurugi geni wus jumegur-jegur, nanging ora dadi mati, mundhak dadi urub-urub, lema dadi wangwa geni, muwuhi gedhene katon. ©

14

Ya muwuhi gedhene ing urubipun, buta ilang tan nguwali, atemah geni dhuwur, dhumadi ana gumanti, dalem junti denya norong. ©

15

Lan walira katimaha buhaya muncul kapethakan ngebyuki, padha anyunguri urub, wangwa ambles geni masih, buhaya musnah kalowos. ©

16

Gene pager ora nan sudanipun, jer si geni den surupi, dening rara panas nenggu, dewaji dhemit, Sunan Tambalayung Kolot. ©

17

Nuli ana gumantine kang lumaju, dalem Kandhanghaur sakti, macane kang di adhu, sigra angrehai geni, lelewane galak katon. ©

18

La yen nyenggreng ing geni adadi parum, ora kaya urip maning, yen den senggreng pesparum, ora suwe jebul maning, mangkana layan mangkono. ©

19

Mati urip mati urip urubipun, suwe-suwe urip jati, macan sirna geni murub, kalesan kangarah pati, ning geni lawan gumantos. ©

20

Dalem Ujungtanah anyangking sadha dipun den sabetaken tumuli, maring geni lawan parum, yen den sabet pes mati, tan suwe jebul kemawon. ©

21

Datan mendha mati maning jebul murub, kalesan kang mikarani, dening geni delap timbul, kawirangan para aji, dening welehing wigatos. ©

22

Wusing kadi mangkana welehing ratu, egare sang Purbasari, kadya kaduk wuwusipun, payu ayonana iki, putri Sundha kang wulangon. ©

23

Aja wonge genine panika punjul, singa-singa kang sakti, bisa mepes geni isun, pasthine sun aku laki, la iku sembaran ingon. ©

24

Iya iku kang dadi nereging laku, ratu salawe prasami, miyarsa sembara ratu, dadi padha minangkani, anglabuhi sembara wong. ©

25

Ratu salawe nagara la iya ku, satriya sanusantawis, padha karsa tegal lan ratu, saking awu-awu langit, Manggadapura agatos. ©

26

Mangka dipati Surawangga malihipun, para mantri lawan malih, gembong Pasuruwan agung, rujitmanlawe lan malih, malapati ing kadhaton. ©

27

Bongdaraji manggala sarebo jagung, sasra yuga dasa pati, bimakkendra gili uri, carat sewu sumarongbong. ©

28

Tobasruyungan sarayaksa kendha layu, pangulawat sampun sami, agunem-gunem anglabu, seja amateni geni, geni apetaka den go. ©

29

Kang den enggo sayembara atiku kuwung, geni adhune warih, gampang adat kang kalaku, sewanehe amangsuli, mangsa kilapa kang ngenggo. ©

30

Pati-pati den sembaraaken ikut, saking ora paranti, geni tan mati neng banyu, wawartose angabati, dening banyu datan kawon. ©

31

Pramilane cacak coba samya rawuh, alagelar dening yakti, kita padha dhulu-dhulu, tan kawagang ing ginisi, sinten kang bagja kemawon. ©

PUPUH VIII
D U R M A

01

Ya tawiyang ratu salawe nagara, Mingsun dhahang ngayoni, ing geni sakala, apara ratu wira sakti, anyipta awan deres kagiri-giri.

02

Ilen-ilen banjir bena amalabar, dupi ika kang geni, amsih ngenak-enak, pon masih kaya saban, gawoke para narpati, ana kang cipta, topan kagiri-giri.

03

Tampek geni iku ora kara-kara, dhatan dhoyong samendhing, urube tan obah, kabenan dening topan, masih ngayeg ingkang geni, ana kang nyipta gelap namber ing geni.

04

Parandene geni tan kage tan obah, angger urubing geni, heran kang tuminggal, lan geni apa baya, guru gelap tan mateni, waneh kang yipta udan kalalar wedhi.

05

Angebyuki ing geni tan kara-kara, kaurungan ing wedhi, ora dadi apa, suraking bala Sundha, ningali ungguling api, para sang nata, kang sami hebat ningali.

06

Karsa waneh ana ratu nrajang lan pana, deni dipun panahi,lan sabalanira, padha angrobi pana, ya ora nana ngudhili, kang geni waluya, kaya saban duk lagi.

07

Ana ingkang maju sabalanira, geni dipun bedhili, sawancining sanjata, sadaya awurahan, prandene geni tan mati, sangsaya mundhak, gedhene ingkang geni.

08

Waneh ingkang para ratu lajune rampak sabalane ngebyuki, kalawan kabalang, watu kang sakalapa, kang sapendhil sakalenthing, dengo ambalang, maring urubin geni.

09

Ora nana bisa ingkang matenana, ing geni apa maning, raja-raja ingkang, sabalane arampak, sikep bandring-abandringi, agni sakala, pan angger tan mati.

10

Kang saweneh ana ratu kang narajang, geni dipun pendhangi, ya ora karasa, wus entong kang tanaga, waneh ingkang anyudhuki, maring dahana, ana ingkang numbaki.

11

Nonohogi wis sabagi-bagi tingkah, tan nana miyatani, geni masih lunta, urube kaya saban, surake wong Pakuaji, lawan nyata, para ratu tan sakti.

12

Datan ana gunane mipis dahana, prandakane kumaki, dipun wasa-wasa, panyanane la apa, den arani kaya geni, kang saban-saban, iki geni dhudhu geni.

13

Dewi Purbasari langkung bungah, ngrasa kagungan asri, pangameng-amengan, tur ta laya tuwana, saestu kang pasang giri, kocak kang jagad, putri Sundha asakti.

14

Pan sinegeg kang pasang giri punika, kocap ratu sadhasaring, Sanghyang talaga, yang tala kaherang, tedhak Prabu Galuh dhingin, wau kang nama, Sanghyang Bulusputih.

15

Kang ayoga Sanghyang Panggungkancane, adarbe siwi panendhi, iku kang anama, Sanghyang Maharaja, Lutungkasarung asakti, ana guneman, sajane angaoni.

16

Genem kalih sodara wedhi kang nana, Sanghyang Ngacihiki, awit putraning Sanghyang, Talagamanggung nama, adarbe siwi pandendhi, ingkang anama, Hyang Jakahawa sakti.

17

Sanghyang Talagamanggung duk pangandika, aputra-putra mami, den sira sumeja, Lutungkasarung sira, tangtu sira amakolih, ajodho lawan, maraja Purbasari.

18

Seblakana iku geni tangtu pejah, lawan sasabet iki, si jajaka tawa, iku kang pindah-pindhah, tan kena gagabah, denora acining warih.

19

Banyu pitung windu gawanen nyeblak, kang geni pasang giri, bareng uculena, dhiwone padha mesat, camethi kalawan geni, weruha sira, kang nuksma aneng geni.

20

Iku putra Sunan Tambalayun ika, iku kang anami, Putri Rara Panas, ya Indhang Telubraja, mengko den kaseblak pasthi, mesat aniba, ing Banten prananeki.

21

Saendenge intri alumuha krama, panas bawane benjing, kang singa kadhokan, tan kuwat ing sangsara, besuk mari-mari mandi, den wis kapendhak, lan Jakatawa benjing.

22

Pecut iku tibane ing bumi Selan, besuk tinemu wuri, si Jakatawa, jodho lan Rara Panas, besuk aneng guwa jati, gene panggiya, praciptanen den jati.

23

Pan wus tutug kang pangandika samana, enggalira tumuli, Jakatawa dadya, golethak sampun rupa, cemethi sihaciwara, kena ing sabda, ingkang sayoga mandhi.

24

Layan Lutungkasarung pamit anembah, sarta nyangking cemethi, dinulur ing karsa, dhateng ing Pajajaran, nembah matur ing sang aji, yenara numpak, sayembara raja putri.

25

Prabu Ciyungwanara ngandika liya, kamanyangan den yakti, munggapa kang salah, ing seja sudi malar, kaputren Sundha negari, ambabarena, si bapa kang ningali.

26

Yata oreg kalabandhu Pajajaran, seja nonongton mangkin, ing sagelar ira, kang ngarama rawasa, nyata geni den cemethi, geblas asirna, bareng lawan cemethi.

27

Bareng mesat cemethi lawan dahana, suraking Pakuaji, den ini satriya, olih gawe gadhang dadi, majikan kita, pan ora pindho gaweni.

28

La ya iki nyata tegese wong lanang, ladining sajati, nyata tedhaking nata, wani ing Sundha negari, tangtune ika, mangsa liyana maning.

PUPUH IX
LADRANG

01

Kawarnaa jeng suputri Purbasari, pareng mulat, ing geni mepes wus lalis, dadi mujungbaheng pagulingan.

02

Ya sang Prabu Ciyungwanara sedhep manggihi, maring ika, Lutungkasarung den angling, ya ki mantu ingkang murba sigar wetan.

03

Menak pra kuwu kapurba sira, kang ngimponi, iku cacangkoking putri, pra watesan bangbayang purbaning anak.

04

Sakarepa angolahi ngadeg narpati arimbitan, ki mantu kalawan rabi, Purbasari la iku ing jodhonira.

05

Lutungkasarung ing sembah ira kapundhi, si jeng rama, pati rang-urange gasik, byantarakaken dhateng ing kawula wadya.

06

Apa kaya adating ngadeg narpati, maha raja, Lutungkasarung muponi, sigar wetan Pajajaran ingkang murba.

07

Menak pra kuwu dupi ingkang ngapti aji, dupi menak, prayangan masih nyungkemi, maring sang prabu sepuh Ciyungwanara.

08

Sang maraja Lutungkasarung winarni, genya ripta, pan nagara anyar dadi, arah wetan pan katelah Pajajaran.

09

Karajaan gumelar punapa kadi, ya para raja, lan jalma ing Pakuaji, wus ora nana paja-pajaning manusa.

10

Ya wus apa dudune mara jabali gene raja, ing Kiskendha duk ing dhingin, ya amangku garwa widadari pelag.

11

Mung siwane Lutungkasarung saiki agagarwa, dereng patut sarasmine, durung becik durung sajejeging akrama.

12

Nanging iku wus sangkep kang bini aji, miwah ingkang, garwa kalingking kang nami, matur dewi marapag selir akatha.

13

Kawandasa sisihing selir kang selir aji, amung iku, prameswari Purbasari, masih elik durung sakastaning krama.

14

Dhudhukune singdhi ora kang nambani ora nana, tatambah kang miyatani, ajar cantrik nusa Jawa pan kalesan.

15

Kalesane ora sanggup anambani prameswara, Purbasari denya elik, maha raja Lutungkasarung asabar.

16

Sabab kapuhung pyambege madeg aji lantarane, saking Dewi Purbasari, ratna iyang jongratna sapa kang gawa.

17

Tan na liyan Lutuingkasarung prayogi putraningkang, panggung kancana asakti, lami-lami sang raja amanggih warta.

18

Ya sang raja Lutung kasarung miyarsa wartyi, pulo lingga, yen ana brahmana sakti, ingkang ana ing lingga ing kasabrangan.

19

Kaya-kaya ika bisa anambani prameswari, namaning brahmana kuwi, kaki brahmana Maniklingga Buwana.

20

Ya ta Prabu Lutungkasarung nimbali patih ira, patih rang-urange pinrih, kang pinutus nabrang maring sang pandhita.

21

Den sawawi ature ajar maniklingga wayang, rawuh aneng Sundha puri, kang sun ajap sun gondhela ingkang usada.

22

Badan tampi rang-urange timbalaning karsa nata, dadya sejanira gasik, sarta Panglima kakalih ingkang binakta.

23

Lalawaran ya iku panglima nami, Ki Lagondhang, kalawan Ki Gumariming, sarta dipun binaktan adhi rurubah.

24

Kang babasan panglalandhep lawan wajani sabaita, isi gula aren jawi, sabaita isi empon-empon jawa.

25

Saparahu isi pucung lan kamiri, boleh Sundha, sapara umaning isi, minyak jarak kalawan minyak kalapa.

26

Minyak kacang miwah saparahune maning kang sasoca, sela weweton sing jawi, lan lelemes sewetweton buwat Sundha.

27

Sigra layar ki patih dhateng jaladri sartanira, parahu pitu lumiring, lalawaran wus teka ing pulo Lingga.

28

Pan wusmedhek ing ngarsane bramana luwih aba saja, den kaputus ing sang aji, ngaturaken pasihan dalem Pakuwan.

29

Pitung prahu kang kaisi warna-warni, gegel nata, dhateng madhigda ing mriki, inggih tuan yen katuran.

30

Angrawuhi dhumateng Sundha negari inggih ara, woten kersane sang aji, ki brahmana Linggabuwana anabda.

31

Sarta gumujeng asuka rena kang ati aturena, puji pangesthi kang jati, ing prakara gegele Sri Pajajaran.

32

Iya ika luwih nuhun nanging kangsi iku barang, pitung prahu gawanen balik, aturena maning ing Sri ing Pakuwan.

33

Aja sumlang ing karsane sri bupati, mapan ingwang, pan wis karsa aji, isun medhek ing Pakuwan.

34

Aja lawan den ruruba iku maning isun seja, tulung usada kang jati, patih rang-urange wus age balika.

35

Patih rang-urange ature ariris bok punapa, sareng ngalempa pribadi, tumindake jengmadigda lan kawula.

36

Ki brahmana sabdane patih ya patih aja kurang, pracaya kang maring mami, data ana kang bramana iku bobad.

PUPUH X
PUCUNG

01

Ya sang patih rang-urange sigra wangsul sabaitanira, sampun abalik sakabeh, lalayaran dumugi ing Pajajaran.

02

Pan wus katur ing ratu Lutungkasarung, karsane madigda, sejanipun medhek dhewek, pun bramana sampun ngartos dhateng karsa.

03

Ya sang raja aris ing pamuwusipun, den estu pramana, tangtu mangsa bobat gedhe, lawan mangsa suwe laku den lalampah.

04

Tangtu jagad pandelenge mung sagandhu, lan mangsa gelema, ing rurubaku prantine, miskin tan ngulati sugiye tan rarawat.

05

Wis becike anti ratuhipun, nanging lamon bobad, padha kita lurugane, kita tumpes ya ika sang bramana lingga.

06

Ya ta lawas bramana pan durung iku rawuhira, ngenten tanpa anten-anten, malah prabu Lutungkasarung wus gawa.

07

Putra saking ikut ika den pilungguh, lanang nama ira, ingkang sarta lulungguhe, Raden Rangga lanwan Mantri Kethebasa.

08

Linggihan ing Bnaten angarta dhatu, terang layan karsa, dipun prabu sepuh mangke, Raden putra inggih ing Bantana warsa.

09

Dupi putra saking bini ajinipun, lanang pinangaran, Raden Mantri Ranggalawe, Jayakarta alinggih ing rat Jakerta.

10

Pon kalawan lilane sang prabu sepuh, sampun gelar tata, karajaan kaprabone, kang angrengga iku saking Pajajaran.

11

Dupi putra saking maha dewinipun, lanang karya parab, Sanghyang Resi Luwiluwe, kang amangku indhahan nang Ujungkulan.

12

Dupi putra ingkang saking dewi matur, lanang kang namane, Sanghyang Sancakrit namane, kang amengku indhahan nang Ujungkaras.

13

Ingkarsane snang prabu Lutungkasarung, aneng Pajajaran, dipun rangkepa patiye, patih jero patih Burbutjalang.

14

Rang-urange kang dadi papatihipun, arja aneng jaba, roro tumenggung anyare, kang anama ki Tumenggung Sanggrarungan.

15

Ki Tumenggung Selangkuyit naminipun, lan roro kang anyar, kademangan ing namane, Demang Gogok lempog kalawan kang nama.

16

Demang Bangkong sendhong andeling pamuk, gumelara kata, jirnapura pulung beler, pan samono lawase kang prameswara.

17

Durung becik kelawan Lutungkasarung, nuli tan antara, bramana Lingga rawuhe, maring Sundha wis den mulya-mulya ika.

18

Atur makca pangandikane sang prabu, he paman bramana, manira nedha tulunge, ya kongsiya adhepe nama sang rara.

19

Gone elik wis windon takeran tahun, kaduga manira, barangahan anakake, saking rabi liyan kang metoni anak.

20

Dupi rabi babaku durung sapundhul, iku bebeg ingwang, paman bramana tulunge, idhepena iku paman garwaningwang.

21

Pira bae ing mangko wajaninipun, seja sun pilala, ya duk jurung saragane, sang bramana gumujeng atur sandika.

22

Sampun sumlang bapa prakawis puniku, prakawising garwa, dalem tangtu mangke sae, lan sang prabu nanginging punika sang rara.

23

Mangke sae sacombana lan sang prabu, pun paman tumuta, uninga dhateng raose, tan asusah wajani punapa-punapa.

24

Aleng pundi tan awor sandeng saumur, gagarwa carapa, binandhing combana mangke, uning raose pun paman ginawa kawan.

25

Maharaja Lutungkasarung abendu, tegane ta sira, bramana cora nalosor, dan sang prabu ngunus dhuhung pan tumandhang.

26

Sigra nudhuk bramana ajaja terus, dhumateng walikat, nuntak ludira maleber, pan tinarik kang dhuhung bramana pejah.

27

Ingkang layong angucap tegane ratu, sun dhaku mendrassa, ana wong jaluk nrasane, kang pakenak teka sinung rasa lara.

28

Nyata kumed maraja Lutungkasarung, ya mangsa luntaha, dadi ratu Sundha kene, sabab dening kumet arep bapa garap.

29

Yata prabu Lutungkasarung mituhu, sabdane babathang, dadi gumaregeten sewot, kakeyan bacot si bramana camera.

30

Iku padha obomgen babathang iku, sirnaken pisan, ambri aja ababacot, ya tumangen cone dadi awu pisan.

31

Ki patih Brubutjalang tanpa wuruk, narik kang babathang, maring jaba adhan rame, bandhu kula warga agawe tumangan.

32

Tan adangu ingkang geni amurub, kurnapa bramana, wue sirna purna den obong, ora kaya aluse bramana Lingga.

33

Manjing garba garwane Lutungkasarung, sumerep sumanira, sabadhan sedya wa-awor, Lutungkasarung dumadya raga asiyan.

34

Dewi Purbasari sira andulu, maring maha raja, Lutungkasarung warnane, dadi mundhak bagus katone gumawang.

35

Ya sang putri Purbasari remen kalangkung, kena ing asmara, dadi kakatonen bae, maring kakung tan kena pisah sadhela.

36

Praciptane gawok temen atinisun, saiki kena ngapa, guranggame sapatemon, teka sejen pisan lagi mula-mula.

37

Poning mau ewo bae atinisun, luwih sengit pisan, ajaja rep sapatemon, ngrungu bae abane ing ati ewa.

38

Jember bae rupane deleng iku, ing ati mengkarang, mengkorog saking jijithok, dupi iki teka ati kangen semang.

PUPUH XI
KINANTHI

01

Warnanen Lutungkasarung, ningali kang prameswari, teka kapareng kang garwa, mesem manis awe sira, sang raja sigra trangginas, angrungrum ing prameswari.

02

Kang garwa lumados sampun, tumulus adhicombani, tutuging asisiyan, kaya pa adating krami, carema la pitung dina, kaduk sang prameswari.

03

Wus bobot ing wancinipun, kalangkung ing lelesneki, bersih kuning gilang-gilang, Lutungkasarung langkung asih, dhumateng kang prameswara, Purbasari kang pinundhi.

04

Kinundang putra ajalu, sumulura maring mami, dhateng karajaan ingwang, duga nyidham sanga sai, binakta amadhang wulan.

05

Sang prabu Lutungkasarung, angaras-aras kang rayi, kalangkung den kumadana, ing marma tur eman arsi, wau amiyarsa swara, ing sajroning wetengneki.

06

Mangkana pamuwusipun, asang prabu ta sireki, saiki dumama eman, ing isun kalimat lewih, nanging besuk yen wis medal, ingsun males ing sireki.

07

Sira iku aja tambuh, iya sun bra … luwih, kang sira dhingin prajaya, mulane engatna benjing, anak-anak maring ingwang, aja tungkul eman nesip.

08

Pareng semana sang prabu, myarsa swara aruntik, tan eca guling adhahar, yen kengetan ingkang wngsit, emar lesu les-elesan, kalangkung ing ruhing galih.

09

Malah sedheng babar sampun miyos lanang kang prayayi, la bagus suwarnanira, cayane gumilang bening, tan antara dangunira, kang rama anyandhak aglis.

10

Dhateng jabang bayinipun, dinulang upan mandi, iku jabang ora pejah, tanpa kara-kara nuli, enggal ngunus pedhangira, sinumbele kang prayayi.

11

Prandene tan pasha iku, Purbasari aningali, kang putra dipun prajaya, anjerit lumajeng agasik, karsa ingayun ing rama, prabu Ciyungwanara aji.

12

Umatur ing ramanipun, Lutungkasarung alali, punika mejani putra, nembe siji dipejahi, sang prabu Ciyungwanara, miyarsa aturing siwi.

13

Lumajeng malah ambendhung, maring mantu ingkang lali, sigegen ana ing marga, kocap kang mrajaya siwi, kang putra den wasa-wasa, pon tan kena ing pati.

14

Dadya winadhahan sampun, pethi winuwang tumuli, kali cilutung ya nyata, wis kabekta dhateng warih, ageng santer ilinira, wus sirna kagawa warih.

15

Sareng wis binuwang sampun, arawuh kang rama neki, kalih garwa takon jabang, matur kula birat kali, ing lepen cilutung sirna, sampun kabekta ing warih.

16

Yata prameswari wau, Purbasari nibang siti, kasirep lelohing putra, prabu sepuh ngendika ris, embaning turun ingwang, pon isun binuwang dhingin.

17

Kali iku ing ramanipun, prabu Galuh duk ing dhingin, prandekane iya welas, papasthene jabang bayi, kudu anurut ing eyang, kang gaib luwih ningali.

18

Kawarnaa sira sang ayu, Purbasari sawunguning, sajrone wau kantaka, ana ingkang swara jati, Purbasari aja sira, melang maring anak siji,

19

Kang bunuwang iya iku, si jabang mangsa amati, tangto kena ika dhelap, besuk bias muter nagri, anyuluri bapanira, den pracaya kang murbeng bumi.

20

Sang cinta tan cidra iku, besuk titenana mangkin, sang putrid dadak sakala, dewi Purbasari lilir, egar suka manahira, sampun ngunjung kang ayugi.

21

Angunjung kaliyan kakung, kang mratuwa den unjungi, ing manah wus palipurna, prabu sepuh ngandika ris, he mantu wruha sira, awake kang gadhang niladi.

22

Rama Galuh dun rumuhun, den idhep ing pameradning, karana sabebet kita, ora aliyan panukmaning, alalise iya merad, Lutungkasarung aturnya ris.

23

Sih jati waraha nuhun, pameradan pocapaning, sawadose kula ngalap, ing rama prapona benjing, yen dugi ing ajal kula, boten susah angilari.

24

Angadika prabu sepuh, ki mantu la tampeni, pungpung saiki purnama, kang aji pamerdaning, sabebet kula Santana, ing Galuh ora na liyan maning.

25

Yata prabu Lutungkasarung, enggal sira anampani, mratuwane kang ambabar, ing ilmu pameradaning, ya sang prabu Ciyungwanara, kandikane sira nini.

26

Purbasari nyingkira babu, manjinga ing dalem puri, sebab sira ora pacak, panukmanira lan laki, enggal Purbasari memba, maring dalem Kenya puri.

27

Wus tanpa Lutungkasarung, jati wisik ingkang yugi, ungelling ingkang piwara, onya ing sukma lewi, sukma rasa sukma larang, gumawang tanpa cantelaning.

28

Kadhaton tanpa gon iku, gumilang sarira mami, lenyep ilang dat pes ilang, angles-les angluwar ragi, oranana ing rat jagat, sakabeh-kabeh tan kari.

PUPUH XII
P U C U N G

01

Prabu Lutungkasarung wus tampi wuruk, aji pamedaran, purwa saking mratuwane, awor daging awor getih sumarira.

02

Pan sinegeg caritane yan sang prabu, kawarna ajabar, kang dhingin binuwang mangke, wus rumanjing kayangan kipethes peras.

03

Tukang pethes peres ingkang luluhur, buhaya bangawan ika, sang jabang wus panggih mangke, den openi dening ki Pethesperas.

04

Dipun aken anak jabang bayi ikut, duk umur sawulan, bias rarasan basane, ngerti dening basane, ngerti dening basane wong pathes desa.

05

Jabang bayi kangucap abeluk-beluk, bapa y ailing wang, bapa aranan reki, ingga iyang bapak ikut namaning wang.

06

Kaki Pathes peres nembe tumon rungu, bocah cilik bias, kaya wong tuwa basane, pan tembene mung ta iki anake sapa.

07

Patut iku ana kadadiyanipun, besuk mengku bala, kasungsun arane angger, inggih iyang iku nama wis prayoga.

08

Pan katelah ing desa pethis puniku, anak pupone ki tukang, esaktemening namane, wis koncara inga iyang ingkang nama.

09

Cilik-cilik bias rerasan satuhu, bocah patut kasurupan, dudu bocah salumrahe, patut ikut tuturunan ing kusuma.

10

Ya putute yen selamet urip tuwu, tungtu besuk ika, dadi raja suntangguhe, yakti ika tengeraning andana wirya.

11

Lawas-lawas pareng umur tigang tahun, Lingga hiyang ika, lalayaran pangameng-amenge, paparahon buhaya putih tinungganga.

12

Wong kang paca ningali gawok andalu, mung tai ka apa, bocah apa setan kene, udan angina mudhik milir nunggang buhaya.

13

Nurut bae buhaya sakarsanipun, den parani ika, dening wong nuli gacike, silem ilang yen wis sadina rong dina.

14

Iya nuli ana maning nyata timbul, umreg wong Pakuwon, katular-tular wartane, katur maring sri bupati Pajajaran.

15

Engandika sang prabu Lutungkasarung, warta anak setan, buhaya putih tunggangane, wong ningali padha wedhi sadaya.

16

Ya gustine pareng nabda semana iku, dadi sirep kang warta, wedi bok den salah artos, sisikune ratu ratu mandi salah dadya.

17

kawarnaan ki empu kang namanipun, ki Calancang nama, kaliya ing comas pandhe, lagya ngalenthung miminggira nang walahar.

18

Maring kali Cilutung kapanggih wau, lare ingga iyang, lagi eca paparahon, pan sinawanganing ki empu calangcang.

19

Sira bocah cilik saking endi kacung, neng bengawan priyangga, sapa sira kang ayuga, Lingga iyang mangsuli kula punika.

20

Kula lare tanpa bapa tanpa ibu, lola dhiri kula, kasur bumi mega kemule, kali bangawan kang nusoni dhateng kula.

21

Pun buhaya kanga sung tedha puniku, inggih wasta kula, Lingga iyang ing namine, ki Kalipa andaringeng manah ira.

22

Nembah tumon lare nabda kaya iku, bangkit yen rarasan, patitis ing wicarane, nyata iki tereheng andanawriya.

23

Empun nabda sira sunimponi kacung, padha maring omah ingwang, sun aku anak temene, Linggahiyang teka dumulur ing karsa.

24

Ki Calangcang ngiring wus dumading aku, prapta wismanira, nyi Calangcang girap gawok, dika iki olih saking ngendi bocah.

25

Lawan iku sapa ingkang duwe sunu, winangsulan enggal, manggih pinggir kali gedhe, datan weruh embok bapaneku bocah.

26

Sun takoni wangsulane iya iku, tan duwe bok bapa, kasur bumi mega kemule, welas ati sun ajak mulih maringwang.

27

Nyi Calangcang nabda bok den salah tanggu, dika nemu bocah, den tututi wekasane, dika dadi den tareka nyolong anak.

28

Toli dika ing sang aji ya di ukum, Linggaiyang nabda, dipun pracaya si embok, inggih kula kang tango bala witanya.

29

Banggi bapa kikukum dening sang prabu, kula purun nalang, abentak lawan sang katong, dhasar enggih musuh kahula ing kuna.

30

Ki Calangcang Nyi Calangcang getun-getun, ana bocah bias, rarasan ingkang samono, patut ini dudu bocah samaneya.

31

Iku bocah ana kada dene besuk, Linggaiyang ika, ngaku bapa ngaku embok, maring empu Kalipa langkung minulya.

PUPUH XIII
DHANDHANGGULA

01

Nyi Calangcang sajege angimponi, Linggaiyang ora kakurangan, dumadi kasugiyane, karana lare iku, angrewangi agawe wesi, watu ingkang kinarya, wesi wus brapikul, agaweyan kang tahuna, pan sinambut palastha sadina becik, saktine sang Linggahiyang.

02

Lawas-lawas kirane andugi, Linggaiyang umur rolas warsa, iku teka reremane, angalasan awangun, omah wesi aneng wanadri, aran wana Cikandhang, jar ai wesi nurut, wesi lir lempung kewala, omah wesi nem dina sampun waradin, kukuh kikib agarba.

03

Ki Calangcang Nyi Calangcang angling, mung ta sira kacung gawe omah, wesi ing ngalas genahe, la dingo apa iku, aja patiya sugih wani, embok sisikuning raja, yen iku karungu, dadi apa awak ira, ya si bapa si embok tan wurung dadi, milu kara baraba.

04

Linggahiyang wangsulane aris, bapak embok sampun tan pracaya, dhateng kula ingkal awon, digjabenduning ratu, gisik bapa sampun uning, pun embok tingalana, jogede kang sunu, ingkang aran Linggaiyang, wani mati kendel wani ambelani, angrebut bapa biyang.

05

ora lawas la ika tumuli, Linggaiyang wangun rante tosan, kang adi warna lekere, lemes kadya tatangsul, lan kena dienggoa bebenting, nanging yen digelar dadya, bale rante bagus, nanging lamon lininggiyan, iku bale ora karuwan maning, ya iku dhadhak sakala.

06

Dadi rante anjiret kang linggih, akeh jalma padha kagawokan, kasuhur ing kasaktene, Linggaiyang apunjul, ki Calangcang ta ingucap aris, kacung iku dingo apa gawe bale iku, ya kene ginegem ginelar, dingo apa teka sun maras kang ati, ya wedi maring nata.

07

Ya sang prabu Lutungkasarung linuwih, sapa wruha bok kadengangan, tur ta ora sanyatane, sira katiti luput, tanpa bayanya lampahi, ing siasating nata, tiwas temahipun, jar kasndhung ing arata, yaw is aja ilok gawe tanpa tut dadi, riringganing nagara.

08

Linggaiyang matur boten sanggi, kadengangan ingkang kula ajap, kula ngilari lalangen, ya ra pon dipun siku, marga anglanggar narpati, dhasare ratu Sundha, nunggang tawa musuh, mrajaya bramana Lingga, wong tan dosa mamateni den pateni, ika sang ratu apa.

09

Pan sakedhap ki Calangcang ngarti, nititeni apa iki bocah, anaking bramana reko, dening si namanipun, Linmggaiyang patute iki, seja males puliya, mring bapane mau, buktine kakecap menga, ing basane arep males ing sang aji, sung sengge iya nyataa.

10

Ora suwe Linggaiyang mijil, sarta nggegem arante mandira, mring alun-alun puruge, munggah ing lemah dhuwur, para mantra datan upaksi, Linggaiyang wus ngangkat, anabuh adhenggung, pusakaning Pajajaran, datan kena tinabuh puniki, yen tan pejah nalendra.

11

waktu iku tinabuh den titir, geger samya bala Pajajaran, nyana sang ratu sumered, umreging bala agung, atandha sing enda-endi, pra mantra acingak, waspaos andulu, katingal sanyata bocah, surak ing wong iki bocah saking endi, nakal si gila basa.

12

Iya sira ngajaraken nangkis, ya rinujak ing wong Pajajaran, kadeleng apa si monyet, pan ratu agung ing Paku, alun-alun jembar tur radin, andher ingkang aseba, pancaniti penuh, mung ta sira deleng apa, sudi wani angunggahi siti inggil, bedhul sapa kang mrentah.

13

Nitir ganjur pusakaning aji, kaya cumra si tembe wara, Linggaiyang wangsulane, sira kang selang gumun, ora idhep ing karta jani, pati-pati manira wani-wani ngaku, ya saking waris manira, matanira baloloken mataning pring, mada dudu ponggawa.

14

Wong Pajajaran surake la iki, wis karuwan bocah iki ala, budine lawan anggkohe, sanyata kethek beruk, sumantana si tai anjing, ngaku waris nalendra, bubuyute ajur, sawaneh ingkang angucap, aje kakeyan tutur rujak gendhen gelis, mung ta anganti apa.

15

Pajajaran kang bala ngebyuki, gagamane wus padha malesat, pada arontok sakabehe, dadi padha sap maju, nyandhak bocah tan kena kenging, lir nyekel wawadhangan, ibur lir pinusus, akeh kang para ponggawa, kang malesat dening padha densepaki, dening sang Linggaiyang.

16

Saya dangu saya angranohi, ki patih rang-urange kapental, kapental ora menange, sawaneh para sepuh, ingkang padha awangun piker, kaprimen den wis tanggal, iya bocah iku, demene iku bocah, ya kaprimen den wis metu budine ngancil, angluwihi nagara.

17

La yen isun iki sun pikiri, bok iku susupaning bramana, kang dhingin denkaropoke, la iki timbulipun, ora kena saloro ngarti, bokmanawane kuhana, dudu musuh iku, puharane dadi majikan, ya batur dhengawas aja saloro ngarti, den titening talata.

PUPUH XIV
PANGKUR

01

Dupi sang nata miyarsa, geger gumuruh kang anan Jawi, sang prabu Lutungkasarung, sigra amiyos enggal, angliga dhuhung Linggaiyang den suduk, sapisan madhuwa raga, dadi roro den pindhoni.

02

Sinuduk pan dadi papat, pining telu dadi wolu sayakti, pining pat panyudukipun, dadi bocah nembelas, pa wus dadi akeh enggal ngarubut, sang prabu ngebyuki padha, tan bias polah kawingkis.

03

Rinejeng tanpa wisesa, lininggihaken ing rante wesi, Lutungkasarung wus lungguh, ing rante tanpa sesa, aneng bale rinengku ya pinikul, dening lare kanembelas, den babayang den suraki.

04

Basane lare akathah, ya sang prabu Lutungkasarung lali, buang jabang aneng banyu, ing kali cibayabang, prabu Lutungkasarung wansulanipun, iya isun eling pisan, telu kena ing saiki.

05

Iku ing sakarep ira, pan si bapa uwis seja sumingkir, sulurana lungguh isun, yata lare pra samya, surak-surak ing sapanjanging dalam gung, anggotong kang babaleyan, braise kalaras aking.

06

Para ponggawa Pakuwan, gumurudug iku padha tut wingking, sapuruge gustinipun, den bakta maring alas, ing Cikundhang goning omah wesi mau, Lutungkasarung pinarna, wonten ing pagriyan wesi.

07

Wus pinutup tanpa sesa, kedya wong den panjara tan bias mijil, lare nembelas surak kasruh, la ya kita jaya, Prabu Lutungkasarung yata aja tambuh, ya iki pamales ira, bramana Lingga duk wingis.

08

Yata mantra Pajajaran, andaringen ningali pohal-pahil, ing bocah nembelas iku, dening bapa ing laksana, hadan Prabu Lutungkasarung amuwus, he wong Pajajaran sira, den idhep angaku gusti.

09

Ing bocah iku kang nyata, anak isun sing rayi Purbasari, prayoga gaganti isun, dupi manira pejah, mulih maring ajala kasuciyan isun, agadhaton tanpa genah, lawan patinisun benjing.

10

Ana ing dina wekasan, wusing nabda samana adanuli, sang prabu Lutungkasarung, mereh kadya wanara, amengkorog sarta mealakken buntut, mesate ing jomantara, musna ilang tan ing ngaksi.

11

Bale rante bus malesat, tiba bumi mila den arani, Balerante iya iku, wuryataning akuna, wus mangkana lare nembelas pun wau, wus polih dadi sajuga, kadi duk wau tumuli.

12

Kulawarga Pajajaran, padha ngiyung ing Linggaiyang ngapti, samatuke saking ngriku, karsa medhek ingkang eyang, ya sang prabu Ciyungwanara puniku, Purbasari wus ing kana, ing ayunan rama aji.

13

Wus kempal amatepungun, prabu sepuh Ciyungwanara angling, la ta bener ujar isun, sing bangdiwenka apa, Lutungkasarung anuruni rama Galuh, merade saking panjara, anake kang mikarani.

14

Purbasari lan momonga, anakira Linggaiyang iki, kang dhingin dibuwang ngebur, ingbangawan ya ika, saikine sabetahan ya tinemu, katemu maning denira, den becik sira ngopeni.

15

Maring iku anak ira, istrinana dumadiya susuluring, bapane ingkang wus lampus, ya tai ka kang liningan, sami atur sembah sadaya sumuhun, sinauran dening jagad, geter pater ketug muni.

16

Samantuke saking kana, Linggaiyang binakta mantuk dening, Dewi Purbasari agung, wus prapta pura Pakuwan, ing istrenan sampun sira ngadeg ratu, jeneng prabu Linggaiyang, amurba Sundha negari.

17

Ratu anyar Pajajaran, Linggaiyang Sinarojang Bupati, bandhu warga kawula iku, papatihe winastan, Kyai Patih sempokwaja parab ipun, katumenggung Jatipamor sakti.

18

Lan Ki Demang Dhungkabadhag. Ki Ngabehi Kolotbuntut asakti, wong sanak singraja Galuh, lan Ki Dalem Tegaljamang, Sindhangkasih nama dalem Somaluhur, ajujuluk Somahita, sanak medhoke sang aji.

19

Ya sang Prabu linggaiyang, kacarita ora jengjem mengku rabi, sing awadon kang karungrum, ya babar pisan pejah, katarajang Dakar waja landhepipun, kaya keris landhep pisan, amedal pamore mandi.

20

Dadya pirang-pirang garwa, akathah selir kawangking angemasi, kang den wangking angemasi, kang den wangking ingalulut, padha babar pisan pejah, pan sakehing istri sisiriha maju, wedi yen den rabenana, wados ginawa sarasmi.

21

Kapokoh pinaksa-paksa, parandene yen kacebak nuli mati, pramila ika sang prabu, Linggaiyang dumadya. La yen santek esir nora pilih lawuh, kidang manjangan den jamah, mulane nuli nedhaki.

22

Kidang manjangan kang nyangga, ora mati kaduga ana titis, kang tumurunita besuk, kang katelah sesebatan, kang prayayi kang turun kidang pananjung, saking kono ruru ira, taliti turunan aji.

23

Selir kidang lan majangan, besuk ana katela ingkang nami, prayayi kang katurun, ana ingkang kasebat, gih manjangan gumarang sing naminipun, taliti purba wisesa, waris Yang Sundha negari.

PUPUH XV
S I N O M

01

Iya iku kang dumadya tan sakeca ing sang dewi, Purbasari tumon putra, datan jamak lawan jalmi, dadya tandha rabi, Linggaiyang jalma wudhu, tan ana musuhira, ing anguling ing sarasmi, acombana istrine nuli apejah.

02

Mangkana lawan mangkana, nuli ana jati wisik, kang eyang Ciyungwanara, angandika ingkang siwi, pitutur kang sajati, kandikane isun rungu, ki bramana tali atma, ing pulo gunung surandhil, iku duwe anak wadon kang anama.

03

Namane ingkang sinebat, ika Dewi Brajawati, patut den ika dadiya, rabine si Lingga aji, karana Brajawati, bagane wesi atutup, mung ana wara gatra, kasulur tan ana bangkit, marawani saking atose kang baga.

04

Duginipun ora liyan, among Linggaiyang sayakti, sacombana lawan ika, jar padha wesineki, kawagang ing sarasmi, coba ta sungsungen iku, robbana lan panglamar, la iku gawanen rabi, katalihatma mokal tan pasrah.

05

Ya ta prabu Pajajaran, Linggaiyang sampun niti, duta maring kasabrangan, ing pulo gunung surandhil, ponggawa kang den titi, Patih Sempokwaja wau, kalawan katumenggungan, Jatipamor apa maning, ki demang Wukubadhak ingkang sami layer.

06

Ingkang sami kesah ika, Ki Ngabehi Kolotbuntit, sarma bakta palwa sapta, kang isi panglamar aji, ruruba saking Jawi, barang saking Sundha katur, maring bramana ana ing gunung surandhil, tan kawarna layare aneng sagara.

07

Kocapa sadhatengira, ing pulo gunung Surandhil, dhuta raja ing Pakuwan, pinanggih bramana aji, sarta ngesrahken adi, sedhah panglamaring ratu, sang prabu Linggaiyang, karsane aminta krami, Dewi Brajawati kang dinuking karsa.

08

Lamarane wus katampan, denira bramana luwih, ing mana suka arena, sinuba ing Linggi, ingkang pra menak prapti, sukane ingkang nanamu, ki bramana taliatma, kali ira ingkang siwi, Danyang Brajangkawat, wus ana ngayunan.

09

Bramana aris wacana, katur ing sakarsa aji, nayangger Pajajaran, mangke karya angimponi, pecile tiyang dherwis, meng sampun kirang pamuhung, lare istri badhigal, derenguning tata Jawi, nata sundha nayangger mung gamulunga.

10

Lan malih mangke sakedhap, angantos kadange malih, jaler Dangyang Talibarat, jaler Dangyang Parwatali, sebab ika sakalih, ngumbara ing karsanipun, anglalana ing tawan, tan mudhun-mudhun ing siti, den saingga wonten damel kula petak.

11

Den sampun kula petak, tangtu punika sakalih, sami tedhak ing ngawiyat, ya ta bramana tali, sigra petak tumuli, sakalih nulya tumurun, ingkang nama talibarata, lan kang nama Prawatali, sakarone wus, minggah ngayunan rama.

12

Sukaliye pinuturan, adhinira Brajawati, ana kang sudi santosa, Prabu Linggaiyang mangkin, Pajajaran maringi sedhah panglamar amundhut, sukane adhinira, putra sakalih ngastuti, ya subagja adhi sinarwehing nata.

13

Malak mandar darbe tedhak, amangku sundha nagari, Dangyang Brajakawat nabda, mung wonten melang sakedhik, pun adhi Brajawati, wewesen sarananipun bilih sang nata Sundha, mange boten miyatani, dados wudhu ing Sundha den antuk wiring.

14

Dhayang parwatali nabda, mangsa ngijira sang aji, karana pidhanget kula, Prabu Linggaiyang sami, sarananipun wesi, pinten-pinten selir lampus, ingkang pejah dinahar, boten amindhoni malih pramilane angupaya tandhangira.

15

Dhayang Talibarat nabda, tan kaping kalih adhi, kedah tinaros kentasa, punika ingkang nglakoni, kranten dede lare alit, bokmanawi mangke sigug, dados kita kesseman, ing wedra kirang panari, boten dados basa jadra ponsasmata.

16

Ya ta DEWI Braja rara, punika sampun tinari, den piyambeke kinarsa, ing ratu Sundha negari, paran ati lumiring, atawa ing tan purun, Brajawati aturnya, kahula amdherek maring, sakarsane andherek dhateng jeng rama.

17

Kahula darma lumampah, awon penes panitihing, wongtuwa datan pejah, kahula liwarsa demi, ya ta bramana Tali, ing manah kalangkung sukur, re kang putra sumandha, ing karsane rama yugi, dadya turun rena ngaturaken putra.

18

Brajawati wus pinuja, ing jati dipun dandosi, sarananing katewangan, ing parahu kang den apti, dening kadang kakalih, Parwatali namanipun, kalawan sang Talibarat, kang angeteraken rayi, Brajawati lalayaran maring Sundha.

19

Kering marang sang potusan, saking Sundha angsal kardi, angsal putrining bramana, sing pulo gunung surandhil, putri Sundha negari, kalangkung ing rena ipun, giyak-giyak anembang, genya layar enggal prapti, aneng nagri Sundha ingarsa sang nata.

PUPUH XVI
KINANTHI

01

Sang prabu Linggaiyang langkung, rena karawuhan putri, kadi sutaning bramana, oliye alaki rabi, wus angrasa katimbangan, lanang wesi wadon wesi, mulane arjaning krama, malah sampung Brajawati.

02

Bobot angsal pitung tangsul, salamine anggar binim pepengene warna-warna, kang ora jamak dening, pinangan dening manusa, parandene den esiri.

03

Kapengen adhahar kunyuk, ora den sembelih maning, ora lawan minatengan, mung den panjingaken dening, kadut den kocok kaduga, kunyuk mati den tonyoi.

04

Kulite deng masih wulu, daginge benyo ayiyid, den enggo embut-tembutan, dharahe den palothoti, mangkana den kadengngangan, dening Linggaiyang dadi.

05

Sedhot hawa manah ipun, ningali dhateng kang rayi, ora kaya Braja rara, kang ngemong kadang kakalih, Parwatali Talibarat, atumon ipene runtik.

06

Anulya sigra tumurun, sing awang-awang tumuli, kang ngusap ing bathuk ira, Brajawali enggal dadi, kang sengit dumadi welas, teka eman teka sih.

07

Lami-lami ning tumuwus, Brajawati sajen maning, pepengen ing dhaharan, cicindhil kang masih abrit, den dhahar urip-eripan, den tutulaken ing petis.

08

Den kadengangan sang prabu, iya timbul sengit maning, dhumateng sang Braja rara, ora kaya Parwatali, Talibarat ngusap muka, kang sengit babalik asih.

09

Lami-lamining tumuwuh, pepengene sajen maning, ing cacing urip-uripan, tengtu lelet den patheni, mangkana yen kadengangan, mring nata girig sengit.

10

Tan kaya yen wus tumurun, Talibarat Parwatali, angusp bathuking kadang, kang mungga kirig ika dadi, kumokod babalan pisan, dumadi kanggep alaki.

11

Lami-lamining tumuwuh, ana kang dadi kulilip, maring karajaan Sundha, ora nama liyan maning, Suhunan Panggungkancana, darbe manah tulak serik.

12

Re kang putra wau lampus, Lutungkasarung kalindih, dening Prabu Linggaiyang, dening parecel kumaki, wani wong tuwa si setan, pangganggo asu griwani.

13

Pira wareke wong munggu, ora sabar angenteni, ing sirrane kang yuga, angrumpak turus abecik, mapan den mepes kang yuga, apa layak anyuluri.

14

Ari iku sawat-sawud, godhog rontok rug-rug wit, pasthine ya sinangkasal, nagning ora arju margi, kaya ta beyating jalmi ditya, duduta beyating jalmi.

15

Mengko uga tanggu isun, mangsa lawas angartoni, iku kang Lokambadhigal, lawan ora arju margi, nandhang sekeling wong tuwa, aja dumeh anduluri.

16

Anduluri sota iku, kapokok broktak dening, anak lagi duwe pejah, samono lagi ngalahi, wong tuwa kendhang sangaja, nyingkiri wirang lan isin.

17

Wondene Lutungkasarung, semaune amateni, bramana Linggabuwana, ora paido wong lagi, ngambing-ngambing rabi mula, kang lagi penyakit elik.

18

Teka anuli den jaluk, di akon nganggo wajani, la iku lebune apa, tumon nambakaken rabi, ya ika bramana kaparat, binatang si tai olih.

19

Nah kala napsune metu, ika dadi banaspati, ngejer ana ing gegana, malang-miling saban bengi, wong Pajajaran pra samya, kaget ketembe ningali.

20

Mung ta apa murub iku, katone ing wektu bengi, ana kang ngarani teja, ana nengge lintang ngalih, waneh ngarani kamangmang, ana nyana tapak angin.

21

Waneh angrebut kang dudu, deningan sinaban bengi, kaya latune ing lintang, kanggo surup nganggo kedhing, parek maring sulaksana, sutejane wong abecik.

22

Parek ing lintang kemukus, datan bengi sawatawis, lawase wis sangang dina, pareng wengine tumuli, anyarengi sri narendra, Linggaiyang sami didis.

23

Kalih garwa ingkang wau, siweg bobot madhang sasi, angideri tataman, murnama dening ring-ring, para bibi para inya, kalangkung ing suka ati.

24

Ameng-ameng ing lalangun, rembesa angulinting, kesel sira ganti siram, ing pancuran sanga sami, patelesan cindhe jenar, sang aji atilar guling.

25

Sabab agamaning Galuh, yen purnama tilar guling, yen tanggal pisan apantang, yen combana lan istri, yen tengange lawan pajar, apantang barang den bukti.

26

Sadangune ing dalu, nelasaken agiyak-giyak, purnama sajroning putri, waneh ingkang makidungan, anggending jala wekunyit.

27

Kang murup-murup sing dhuwur, tema warna banaspati, namber lir kilat sayuta, Linggaiyang sirna lalis, den samber sinawa musna, dhumateng jongging sawargi.

28

Wong dalem geger gumuruh, tangise kelangan gusti, awit suka teka dhuka, Brajawati karuna jrit, kantaka ping nem sadela, kagete kelangan laki.

PUPUH XVII
ASMARANDANA

01

Prabu sepuh atitilik, lalayad wusa ing waya, gapuh aris kandikane, e-putuku Braja rara, wuwusen lamonika, wus papasthene Yang Agung, kudu mung samono sira.

02

Jodho lawan putu mami, mung siwewetengan ira, ingkang gedhe pangrekdane, tarimane ati nira, iku kang mangko gadhang, susulure ramanipun, den salamet urip delap.

03

Aja sira gawe ati, sasirnane lakinira, mangksa dadiya sangsayane, awak ira wuseng arja, sira momonga anak, salamet besuk yen metu, estrenana madeg nata.

04

Ing sacangkoke sudarmi, kawasa sira murbaa, apa lakinira bae, lan ika sadulur ira, loro becik jagaa, kaponakane yen metu, iku padha den kareksa.

05

Talibarat Parwatali, duk lagi ingucap teka, dadak sakala turune, saking awang-awang nembah, ing ngarsane sang nata, pinarcaya sira gupuh, kadika Ciyungwanara.

06

Talibarat den abecik, jaga kaponakan nira, Parwatali aja gape, embok ana bala wita, isun pracaya ing sira, ya Talibarat matur sandika ing karsa nata.

07

Ya ta lami-lami, wewetengane si rara, Brajawati dening sejen, ora kajamak lan jalma, yuganira tahunan, ana melang lara busung, sawane atur usada.

08

Dhudhukun ana anambani, ana nyempad nyata jabang, dening si goronjolane, ana nyempad banget kelang, atos kabina-bina, nyata ika lamon watu, ing jero garba punika.

09

Ya ta lamining lami, ana maning duracara, banaspati kang manglawe, tumiling ing awang-awang, seja ika nyambera, maring Brajawati wau, seja denjaragan sirna.

10

Ora kaya Purwatali, kalihira Talibarat, kalangkung ya ing jagane, anulak ing bala wita, bales pati konangan, den tulak padha kawur, tanama wani pareke.

11

Braja rara estu kapti, Talibarat kang anjaga, sirna bala wita kabeh, salinggihe Braja rara, ana ing rat Pasundhan, tan ana amaling kecu, menak pra kuwu sumembah.

12

Wus kadi raja pawestri, angreh Sundha sigar wetan, apa ingsun cacangkoke, waktu nata Linggaiyang, karta buwana ira, kaumban roro sadulur, Parwatali Talibarat.

13

Mangka dhateng waktuneki, Brajawati nulya babar, ora jamak ing rupane, prayayine dudu bocah, rupane ika kadya, galundhung lir gandhik watu, ora asipat ing jalma.

14

Nanging ika obah mosik, galang-geleng ing tatampa, baleger lir gandhik bae, geger ing wong dalem pura, ana jabang tan jamak, enggal rawuh prabu sepuh, maraja Ciyungwanara.

15

Aningali jabang bayi, girap-girap sabdanira, la iki nuli kaprimen, ana urip tanpa rupa, iki jenenge apa, gumaluntung kaya watu, ana obah ora swara.

16

Kapremen dayane iki, dening iku buyut ingwang, ora kajamak rupane, nuli kapara mentala, ambrih dadi manusa, ing mangko dadi susulur, iku kang wus ora nana.

17

La coba undangan gelis, iku embok nyai indhang, Gunung Sakati watune, ika wong tuwa manawa, sugih reka pandaya, maring kang mengkono iku, manawi wus nemu luwang.

18

Sigra mangkat angaturi, jeng Nyai Sukati indhang, tan kawarna ing lampahe, akocap sapraptanira, si Indhang Sakati ika, ningali jabang lir watu, ora endhas ora tangan.

19

Gulundhung wis apa gandhik, kipya-kipyahe nyi indhang, ora guna ora gawe, wong anak-anak bok apa, kang bener aja sarar, ting-banting aja na wuruk, sudi gawe anak Sundha.

20

Luluhur ingkang mayungi, pingnangeran ing jawata, ruruhe marga benere, aja anerus simpangan, sang kama-kama dadya, kamapmaja kamaptulus, dohena gungsu minggaha.

21

Nuli nyi Indhang Sukati, ambabar punang paesan, kinacekaken age, maring Dewi Brajawati, wusing kadi mangkana, den kakacakaken gupuh, ing jabang kang kadi tosan.

22

Sakedhap nuli anjerit, jabang bayi nangis ira, jebol katingal endhase, nuli sinembur den irag, jebol metu kang tangan, kuranggeyan nyawuk-nyawuk, nuli kinetab kang pada.

23

Jebol dadi metu sikil, sapurna wus sipat jalma, atos-atos pra semone, Indhang Sukati ngandika, kamrala isi jabang, anurut ing kaki buyut, nurut jalma dadi jalma.

24

Den saiki sun arani, si kacung munggwaya delap, si Linggawesi namane, si buyut kang gawe aran, ambridelap agesang, kanggo nunute si buyut, ana ing jagat Pasundhan.

25

Sadaya suka ing ati, Brajawati tumon ing putri, wis kajamak lawan uwong, nuwang prabu Ciyungwanara, kalangkung sukanira, ningali kang kaya wau, sampun kaya manusa.

PUPUH XVIII
M I J I L

01

Indhang Sukati awewekas jati, maring sang dewi reko, poma-poma nini aja aweh, panduman salamet benjing, si kacung den eling, sandenge tumuwuh.

02

Ya pacuwan ilok akakaca dhiri, kakaca angilo, iya kacung kon pantang sandenge, ora kena ngilo dhiri, tuwin ngilo caremin, tuwin ngilo banyu.

03

Pan mulane pantang ngilo carmin, krana iku wong, asal sing kono anane, saking kaca timbole dadi, mula ja den kakacani, embok pulih watu.

04

Pulih watu lebar ingkang jati, poma den angartos, dadi braja aris wangsulane, inggih kasuhun ing sihe nyai, yen tan ana nyai, tangtu ical ruru.

05

Tedhakane kacung Linggawesi, boten dados ewong, galang gulung wikan jenenge, dupi ika saking pun nyai, kang paring kamarin, saprakawis nuhun.

06

Inggih minanten langgeng pakeling, prakara samono, ing saweweling ing nyai sakabeh, kang sumeja kula ati-ati, miwah ta ing benjing, pun kacung aemut.

07

Kula emutaken tan ing benjing, den sampuna angartos, ing basa basuki jalma kabeh, datan wande kula wanti-wanti, pun kacung kapenging, akaca ing besuk.

08

Ya tan Indhang Sukati wus pamit, kantun prabu kolot, Prabu Ciyungwanara langkung sukane, prayayine den baraseni, den embang tumuli, pinajengan agung.

09

Pan binakta munggah sitinggil, ginrabeg kabrabon, lan kadhingdhang saruni salompret, calapitaka lawan suling, sinowara gelis, dening sang prabu.

10

Prabu Ciyungwanara sru angling, la iki dengartos, kawula menak pra kuwu sakabeh, iki jabang wus sun istreni, angadeg narpati, nyuluri kang lampus.

11

Pan sinebut Prabu Linggawesi, ing Sundha sang katong, ya pragul menak sakabeh, pan gurumu samya matur inggih, sarta den sauri, ing ketuk anglugur.

12

Geledhuging gurbaning ukir, kakseni den mangko, Linggawesi ing mangke ingistren, ngadeg ratu sing jabang bayi, enggal murud sami, malebet ing kadhatun.

13

Nelakaken prayayi sartaning, angandika reka, Parwatali Talibarat mangko, enggonira jaga ngati-ati, maring si kacung aji, den becik atunggu.

14

Kaponakan aja sira cenger ngarsi, kang babasan embok, aja gampangaken salir gawe, kang kalawan angati-ati, embok banaspati, kaya mau-mau.

15

Sapa wruha nyamber jabang bayi, la sira sakaro, ora liyan ingkang patut molek, arumaksa maring jabang bayi, mung sira sakalih, ingkang luwih patut.

16

Prabu jabang si Linggawesi, ya ta ika karo, Parwatali Talibarat, atur sembah ing sandika ugi, anulya sang aji, prabu sepuh mantuk.

17

Mring daleme wus acakapti, kocap sang katong, prabu jabang ing salami-lamine, Talibarat lan Parwatali, ingkang ngaubi maring, (?) kalekanipun.

18

Prabu jabang ya sang Linggawesi, diwegira mangko, umur tigang tahun jejege, darbe manah berag ing pawestri, sing aistri manjing, ing tobong den susul.

19

Pan bagane dipun rogohi, dipun ingok-ingok, wong jro pura agawok atine, dening iki majikan cilik, patute wus esir, maring wadon iku.

20

Dening ora kaliwat sawiji, ingkang manjing tobong, iya padha den sirik sakabeh, sarta lamon ing mangsa ing wengi, yen waktu nyarengi, wadon padha turu.

21

Den wiyak kapati den grayangi, ingiling den tonton, dadi enggo dodolan duwena, pareng tangiya iku nuli, ora dhing-dhing kelir, den rengkot den rangkul.

22

Den arasi den pareng ing istri, kang ati sumonggon, iya sida kuwel pareng karasmen, saoli-olihing cilik, tandhinge pawestri, wis gopek sakrangulu.

23

Ya pinangrengkangi budi teni, kang putra samono, ratu Brajawati age, memetheti ingkang para istri, kang cilik kang becik, pira-pira puluh.

24

Den go selir ingkang putra aji, langkung den gegembyong, den pantha-pantha adi warnane, den embani sinureni, dipun wiwidahi, burat ganda arum.

25

Kadya sekara sataman kang asri, warna-warni katon, kadya lintang gumelar aneng, langit warna ing para selir, ingkang cilik-cilik, ing watara umur.

26

Nelung tahun istri becik-becik, wus pating pancorong, sinijang abrit sakabeh, parandene prabu Linggawesi, tan karsa nyangkrami, istri cilik iku.

27

Karanane ingkang wus bibit, kang dhenok kang sempwo, kang mragaga dedege gedhe, kang wis sarwa gamoling kapti, mangkana sang aji, suk ing karsanipun.

PUPUH XIX
M E G A T R U H

01

Indhang Sukati awewekas jati, tumingal maring kang siwi, teka ing karemenipun, maring kang gedhe kang uwis, bandhot menthonge ambewok.

02

Ya pondhodhang dhadhinge masih sepanudu, ya ta ingkang ibu nuli, methet ingkang sepuh-sepuh, kang wus marga kabecik, kang gamol gandhes acemol.

03

Pirang-pirang selir kang adhenok cangking, rasti kang pirang-pirang puluh, malah agung ingkang sami, bobot ana pitu wadon.

04

Teka wayah babar sakapitunipun, dadi kaya dudu siwi, kaya adhine puniku, jabang pitu abecik, warnane rampak yen tinon.

05

Padha bae gedhene lare pipitu, prabu sepuh angrawuhi, Ciyungwanara ndulu, canggah pitu bungahi ati, kaya adhine kemawon.

06

Kaya adhine si Lingga iku, dudu kaya kang siwi, ya si Linggawewi iku, mutrani pipitu reko.

07

Lanang kabeh ing sapitunipun, Ciyungwanara ling aris, la iki ya canggah isun, pipitune sun arani, si Linggabuwana katon.

08

Kang sijine Linggapakuwan jenengipun, lawan sawijine maning, Linggasana naminipun, iku sawijine maning, Linggasri namining wong.

09

Linggaerang Linggamurti Linggarayu, sakapitune ing benjing, kon ngudang kakang la iku, ya maring si Linggawesi, den kaya sadulur medhok.

10

Linggawesi ngundanga adhi maring iku, maring kapipitu iki, karanane sira durung, pantes mangko anganaki, rong prakarane dha rapon.

11

Delap ika anak ira kang pipitu, lumayan rempeging urip, kanggo gegerebeg ngunggu, bala sadulur kumaritig, turanta anak sajatos.

12

Aeng temen inglalakon ira iku, ana ta wong masih cilik, aduwe anak pipitu, bari rampak gumariwis, gumredeg lir anak enthok.

13

Parwatali Talibarat aturipun, sandika ing titah aji, menanten uga kadulur, angraksa tedhakan aji, lumampah idhin sang katong.

14

Prabu Ciyungwanara sampun amurud, kocap sang Linggawesi, iya sate masih timur, naging pangertose kadi, ratu ginotama mangko.

15

Yen wis linggih ing korsi gadhing rinubung, ing para selir kang ngapti, kang padaha adhunuk-dhunuk, kang aputih kang akuning, kang nyenyokar melok-melok.

16

Ingkang mobyong kang empuk panggarapipun, kang cepol angaca piring, ya ikut kang raket ngayun, nalendrane sagegethik, selire abentrok-bentrok.

17

Lan kang padha anggemeng kombalanipun, ora nana liyan maning, kabelani pundha iku, wadon ireng-ireng manis, ingkang bobokong anggeyol.

18

Prabu lare Linggawesi masih timur, karemane ingkang uwis, angrambaka bokongipun, wus tuwukan sagunging, karsa kang para samono.

19

Prabu Linggawesi jengger tuwuhipun, ing Pajajaran muponi, sagunge menak pra kuwu, bang wetan salir kumilip, padha anjum sila panor.

20

Ya gul menak asribawat samya riyung, sinaroja ing bupati, Prabu Linggawesi mangun, malih kapatiyan nami, Kiyan Patih Bandhungkrayo.

21

Lan tumenggung Sukabeling naminipun, asale saking Keling, bangsaning koja guludhung, andel-andel Pakuaji, wani mati solot-pogot.

22

Ki Demang Alurkoneng kang pinangka dipun, pecat tandha adhir-adhir, Menak Podhang Ujungberung, lan Ngabehi Tegalbibis, kang lebda karya ing kono.

23

Kang tut wuntat ing sang nata ngalor ngidul, iyang-iyung kanthi wiri, ameng-ameng maring luwung, amandhikudhing jamparing, abandring cohok.

24

Ngayok alas arame surak gumuruh, paburuhe bangkit-bangkit, angungsen kidang apaul, ana pingkal salih angrok, gurnata garungune bedhil, sing kidul sing elor.

25

Pan tawura swaraning gutuk puniku, ting sariwik nganan ngering, wetan kulon ting careluk, padha retak anguneni, cala bangir kang pada lok.

26

Alok buron kaburu-buru alaju, sadaya ambedhak sami, laradan alayu-layu, ting barisat sami lari, waneh kang padha nalosob.

27

Yen wus tutug abuburu aneng luwung, nuli padha ganti ulin, nuli samya ngundha manuk, ana ameng-ameng gathik, ana panggalan agacon.

28

Ora suwe jajangkungan ngalor ngidul, nuli areyog asrih, begog anjog langunipun, sabagi-bagiha ulin, ana pingkal silih angrok.

29

Rog-rogan ting bilulung ngalor ngidul, ora suwe asukati, dodolan raraton umyung, gumuruh pating jalerit, tan suwe ujungan kang wong.

PUPUH XX
M I J I L

01

Sedangune suka-sukawan tu bocah, tan adangu tumuli, ageger ing tawang, ana wowolu dhustha, banaspati ngarah aji, sapraptanira, kang seja den samberi.

02

Milang-miling kumrab ana ing tawang, sumyak amobat-mabit, ing gagana galak, kadi ulung babahak, kang sadya anyamber pitik, tan antara ika, Parwatali akali.

03

Talibarat amapang ing awang-awang, sakehe banaspati, padha tinangsulan, sakabeh pan kena, kagandheng anjok ing bumi, pating kurenyang, pating jalegir ing bumi.

04

Samya tinonton dening wong sadalem pura, aeng temen sun tingali, raining kamang-mang, awake kaya buta, sikile nungsang ming nginggil, rambut maudag, mobyong-mobyong lir geni.

05

Untunya ngisis baris sakampak-kampak, lambe kandel malenthing, ilate amedal, amelet anggigila, mana sabendhe mundelik, eluhe wisa, marakbak kadi geni.

06

Iler yiyid murub la ika padha, wowolu banaspati, padha cinancangan, ing witing pakujajar, dadi ingon-ingonaning, nata Pakuwan, sang Prabu Linggawesi.

07

Ting burangkang aneng witing pakujajar, de go dodolan pranti, ing ameng-amengan, ing wengi suk awana, rame-rame ingkang sami, asuka-suka, ambebeda banaspati.

08

Sawengi-wengi tuwin sadina-dina, sang prabu Linggawesi, dodolan kamang-mang, sarta wong dalem pura, kalangkung sukaning ati, lan kinepokan, amawi den suraki.

09

Banaspati lamine den ingu delap, den pakan lawan daging, daging buron alas, saparti ngingu macan, lan ta ana jalmi, kang ukum pejah, den pakakaken belis.

10

Maring iku adat purba Pajajaran, den go ambuwang jalmi, mangkana ya ika, pala karta Pajajaran, kaparing lamining lami, suliha tedhak, meraja Banaspati.

11

Sadya nira angrebat ing rewangira, kapanggih sira aglis, lawan Talibarat, endhas kang sira ngusap, he madigda Parwatali, lan Talibarat, munggah suka akasmi.

12

Rencang kula wowolu kang dika cang-cang, reh ipun sampun lami, jengandika cang-cang, kokalan ing druhaka, sedheng dipun apunteni, kang muga-muga, kabeh dipun uculi, kang ukum pejah, den pakakaken belis.

13

Maring iku adat purba Pajajaran, den go ambuwang jalmi, mangkana ya ika, pala karta Pajajaran, kapareng lamining lami, suliha tedhak, meraja Banaspati.

14

Sadya nira angrebat ing rewangira, kapanggih sira aglis, lawan Talibarat, endhas kang sira ngusap, he madigda Parwatali, lan Talibarat, munggah suka akasmi.

15

Rencang kula wowolu kang dika cang-cang, reh ipun sampun lami, jengandika cang-cang, kokalan ing druhaka, sedheng dipun apunteni, kang muga-muga, kabeh dipun uculi.

16

Gih sumangga kabeh padha sarat tobat, lawan sumpah kang candri, kang babasan aja, wani-wani gaweya, ingkang kadi wingi uning, kula kang dadya, saksining seja pati.

17

Pan sejane banaspati satedhaira, tan genah wani-wani, duriyat Pajajaran, balikan kudu jaga, ing duriyat Pakuaji, ing ngendi prana, ingkang anak putu aji.

18

Pasthi iku banaspati iku jaga, kemit maring sang aji, tedhak Pajajaran. Ika kang sinambangan, sok nang gunung sok nang pasir, kamang-mang jaga, turuna Linggawesi.

19

Tan pracaya sumangga atetep jaga, dumadak lirwa jangji, ungseden maningala, rantenen pakarsa ngolahi, lan sanadyana, den pajahana mangkin.

20

Kula boten lajeng nanggel kang acidra, kang wolu banaspati, yen mangke cidraa, kula dhewek kang tandang, mejahi babu pribadi, dingge punapa, anguripi ing wewering.

21

Ya ta sira Parwatali seja marma, Talibarat pon ugi, seja apracaya, maring raja endhas bang, Yang Maraja Banaspati, prajangjinira, amintal usul ing abdi.

22

Parwatali Talibarat ing sabdanira, yen mangkono ya becik, nangi kita padha, pranjangji lawan sumpah, banaspati wolu sami.

23

Iku dhateng banaspati wolu sigra, den culaken tumuli, banaspati padha, nembah dhateng sang nata, ngaturaken ingkang abdi, kang pangawula, rumaksaa ing jeng gusti.

24

Pramilane Pajajaran akeh kamang-mang, kang kakayon ana hing, gubug sawahan, suwawona ing tetelar, nguwel-tuwel kadi geni, manecat ilang, cat katong dening jalmi.

25

Ana meled-meled aneng gubug-gubug padha, angleledhek wong ngarit, gone gigila, malayua genudhang, duga pegel kang lumari, napase kesotan, mogok kang den baleding.

26

Kamang-mang tinangkeb lawan keranjang, gelethak dadi lupi, mangkana kang adat, jar bangsa siluman, nanging kamang-mang cawiri, tan amikara, amung samemedeni.

PUPUH XXI
L A D R A N G

01

Sadangune suka-sukawan tu bocah, yawis tobat, ing wuri tat Linggawesi, satedhake dadya pangregep kewala.

02

Pramilane Praburara Linggawesi, yen kekesahan, ing wengi kang peteng nuli, ya kamang-mang pinangka damar ing lampah.

03

Mobyor-mobyor kaya obor atut margi, ing lampah, kamang-mang padha angiring, satedhake sang ratu ing Pajajaran.

04

Ya angraksa ing sabandu kulawargi Pajajaran, awake manungsang menginggil, ya kamang-mang iku endhas kewala.

05

Yen tawiri kamang-mang awake paksi wus marena, sabagi-bagi, kawarnaa Prabu Linggawesi nata.

06

Wus prajaka yuswa umur salawe warsi, ingkang putra, pipitu kadi wargi, rantab-rantab sakabeh namane lingga.

07

Linggapakuwan tanopen Linggasari Linggasana, Linggaerong Linggamurti, Linggarahayu kalawan Linggabuwana.

08

Kapitune wus alinggih bupati namanira, sakabeh sinebut nami, kang kaprabon pipitu ing Pajajaran.

09

Kang pinangka bala ratune Linggawesi jenggerjagat, Pajajaran duk jamaning, iya iku amengku purbanagara.

10

Iya iku sang prabu Yang Linggawesi Linggatosan, babalik remen ing alit, maring wadon marucupe lagya.

11

Ingkang durung susune kumaringkil, wadon ingkang, masih rata kang pepenthil, kadya kaya susuning bocah lanang.

12

Wau pupak ya iku kang karemani dadya ika, kang ibu amemetheti, wadon cilik wus angsal kang kawandasa.

13

Gumariwis pan kaya bebek memeri agiringan, sagendhongan kumraritig, denpahesi sandhangan kang adi pelag.

14

Dadya susah ingkang ibu Brajawati, genya dhana, anuku-nuku atining, bocah wadon sangkane gelem dewasa.

25

Mungguh sire iku Prabu Linggawesi maring bocah, kang tembe pupak sawiji, kumokod pisan ing bocah perawan pelag.

26

Ya sang prabu dadi ora duwe selir, maring bocah, kang wus lungse sathithik, ora esir maring bocah kang wus tarab.

27

Kang wus reseb padha miretan kawangking kaparek kang, lare ingkang durung gething, iya iku kang kinarsakaken nata.

28

Ya sang prabu Linggawesi lir lare alit yen dodolan, yen mangsaning udan nuli, ya selire padha katimbalan wuwuda.

29

Aing latar anuli dipun suraki, lawan dinar, ya ta sakathaning selir, kang wuwuda rebut dhingin ruru dinar.

PUPUH XXII

01

Kang sinebut namaning kang raja sunu, Prabu Linggawayang, sinungan kabopatene, Bantalwaru ika ing cacangkok ira.

02

Ya mangkana Prabu Linggawesi mundhut, putrine wiliyang, Dewi Cibongas namane, gih punika nembe umur dasa warsa.

03

Sacareme ing kana kinarsa jatu nata Pajajaran pinangka bini ajine, malah iku sampun miyosaken putra.

04

Lanang ingkang sinebut ing naminipun, Prabu Linggarasa, sinungan ing kabopatenen, Karangsambung Purakadhongdhong Malangya.

05

Nulya Prabu Linggawesi sira mundhut putri Barisbulan, Dewi Rasati namane, iya nembe kang umur sadasa warsa.

06

Sinaptanan sampun pinrih jatu, ing dhatu Pakuwan, pinangka iku sang katong, careming sang sampun miyosaken putra.

07

Lanang ingkang sinebut saparab ipun, ing raja kaputran, Prabu Linggaening reko, pan sinukan kabopaten Sokalaya.

08

Lami-lami Prabu Linggawesi mundhut krama putri nira, Sunan Gunung Puntanggedhe, ingkang nata Dewi Rara Lisniutama.

09

Pon ya tunggal anembe yuswa sapuluh tahun wis pinuja, prameswari aneng kono, pan amurba para garwa ing Pakuwan.

10

Intening wadon ing pura Pakuwan agung, iku prameswara, Rara Lisni ing jenenge, ketang garwa waruju nanging kang dadya.

11

La yen mangking gamparan ika sang prabu, nyarengi kang garwa, lari gulingan ya age, ing karsane inguculan kang gamparan.

12

Arumaksa bilih kagete sang jatu, garwa kinasihan, kakasihing segedhene, damak-dimik lumampahe ta sang nata.

13

Genya tumpek ponjan asigarwanipun tansah pala-pala, mila sang prameswarine, ya wus bobot ananging ora kajamak.

14

Atahunan anggene ameteng iku, ora baba-babar, wus pirang-pirang lawase, kang dhudhukun anggrarayang sing dhi ora.

15

Kang sawane angarani rara busung, kawelehe ika, dening tan ana rasane, dupi busung akundhangan rasa lara.

16

Dupi iku ya kaya wong meteng iku, sejene mung lawas, ora na bebeleyane, kang sawane ambadhek lamon kawaya.

17

Kawelehe dening katilap ing ngujum, tan katara pucat, ora rumab ora nonjok, panyanane masih gumilang padhang.

18

Kang sawane lamon ika malembung, kanginan ika, kawelehe ika deneng, ora katon urat kang pating karenyang.

19

Dupi tingal ajar lawan wiwiku, den iya sanyata, mateng sang dewi samangke, isi jabang supaya tan karsa medal.

20

Ya sang Prabu Linggawesi ing tanyanipun, la prepun baya, paman ajar tarekange, dra pon medal si jabang duk kaya saban.

21

Para ajar sabane boten pikantuk, yen mange medala, kadesak wedale dhewek, boten kenging den paksa-paksa medala.

22

Ya sang Prabu Linggawesi pan dhedhesipun, iya kena apa, paman ajar satemene, weharena aja sabda kang den garba.

23

Para ajar para wiku sabdanipun, gih boten gadug, boten kilap ing sang katong, mangsa boten ing gelar ing waskithaa.

24

Ya sang Prabu Linggawesi dhedhes gapuh, paman ajar dika, aja gamam ing awale, babarane ing suka atawa dhuka.

25

Para ajar awale babar pamuwus, ye punika jabang, ing mangke tulus wewedhe, kudu dang nata rumiyin ingkang asirna.

PUPUH XXIII
S I N O M

01

Tan anatara sang nata, tarengkep ana ing, nang latar lan prameswara, kalangenan den ideri, ing adining puri, awit rebah watangiku, ngadhem-adhem ing pantara, paninisan angemba ing, ana wang-wang lalangenan karta yasa.

02

Ingkang abanjar wangunan, wus katingal sadayaning, ingkang ngadi ing ngadhenan, giyak-giyak wong jro puri, andherek ing sang aji, sarupane parekan agung, samya suka ati, pan kalilan ing nata acangkraman.

03

Brajawati apotusan, emban amintara aglis, ing anak isun nata, tuturen den ujar mami, la sendekala iki, wong dhodholan reren kudu, gampang mengko wus miwat, sendhekala ngalas maning, ya kon manjing dhingin maring padaleman.

04

Isun iki enak, kumepyar rasaning ati, kepyar rasaning ati, kepyar-kepyur taragdagan, melang dhirine kang siwi, sendhekala sukati, duduwa dining gumuyu, ya ta caraka wus kebat, prapta nembah nuhun gusti, ing paduka gusti jandika katuuran.

05

Dening ibu dalem ratna, katuran mantuk ing puri, puniki pan sendhekala, gampil manghkin lekas malih, sapunika timbalaning, ibu dalem ratna wau, boten sakeca ing manah, dangu wonten taman sari, Prabu Linggawesi wau sabdanira.

06

Mengko isun mulih ngomah, ya mengko sadela maning, gumuruh kang suka-suka, dupi iku kapiyarsi, ingkang ibu raja dewi, wong den penging andalarung, mung siku adating apa, ora ngrungu pamarahing, banget melang ing ila-ila ing kuna.

07

Ingkang aran sendhekala, tan kena barang sukati, susulan maning la ika, age mantuk dalem puri, nembah matur ing gusti, jandika katuran mantuk, timbalane ibu nata, punika kawanti-wanti, sendhekala boten suka meng amengan.

08

Gampil mangke yen kalintang, saking wanci pacek desi, Prabu Lingawesi nabda, ya mange gak arep mulih, sira jacraweya ing mami, wis neng kene bae iku, aja balik marana, sawusing kadi kamangkin, masih kadi bocah alas wuwu cawak-wak.

09

Ganti mara asu aba, gumuruha warna-warni, abane antong wirasa, ya ta Dewi Brajawati, kalangkung dhegel ing ati, anjog sajanira nusul, dhateng panggenan putra, ya ta sang prabu wus uning, yen kang ibu rawuh pan samya umpetan.

10

Sirep ora ana kang swara, ora na abacut mewit, pating salindhut singidan, kang ibu kelangan lari, ngandika mung ta iki, kang baribin padha mampus, maring ngendi Linggatosan, rabine kapadhan maning, ya si Rara Lisni baranyak tandhungwaya.

11

Sandhekala wong kang kuna, ila-ila bari iki, dheweke lagi garbana, wong meteng ya kudu wedi, kudu duwe pamali, aja lok sawaya laku, mapan si dhewekw ika, meteng tan jamak lan jalmi, datan babar nuli lelewane pisan.

12

Mung ta padha asingidan, umpetan kang maring ngendi, dhigal temen atiningwang, dening lelewaning siwi, ora suwe ika hiji, kenang samber mata prabu, ing mamala sendhekala, buduk namber mataneki, nata anjrit agiro tur gedebugan.

13

Anjeli-jeli karuna, Rara Lisni aningali, kang raka kadi mangkana, ya dadi milu anganis, adan wong jro puri, padha nangis sambetipun, gusti kita kenang apa.

PUPUH XXIV
KINANTHI

01

Prameswari nira gupuh, Rara Lisni ical arti, duk tumingal ingkang raka, pan kadya tambuh ingkang manah, kami ruru seneng ing ati.

02

Pan dadining sakatemu, ora kalawan pamili, katharak-thaak ing tingkah, amundhut kacatu mulih, tiningalaken enggal, ingkang raka mukaneki.

03

Raka dika tingali iku, ing jro kaca kaeksi, ora wurung katingalan, iku kang dadi kalilip, pan dika jiwit kewala, tan wande kalilip kenging.

04

Saestu kang garwa iku, yen sang nata boya uning, pantangan lamon kakaca, pramilane gelis ambil, amundhut carmin punika, dipun tamengaken aglis.

05

Marang wadana sang prabu, Linggawesi aninggali, pan mangkana tan kemutan, welinge ingdhang Sakati, ya den penging akakaca, ing pantangane sang aji.

06

Ora kaya dening iku, guragapaning asakit, tan kemutan apa-apa, kang garwa mintoken carmin, ing sarira kang nata, teka tan kemutan iki.

07

Sareng ngilo kaca wau, katingalan sarira neki, adan geblang ya sang nata, iku dadi wesi malih, kaledhug ingkang sawara, ing lemah baleger gandhik, prapta ing kana lalawad, angandika mituturi, ya wis padha ing pasrah sira, wis karsaning Yangandum titi.

16

Ora ana gunane iku, ya wus katalaya dadi, kadalang suhing ngungkara, mangsa ababalik maning, wong wis dadi padha pisan, laku lalis tan ping kalih.

17

Mapan mangsanaa iku, udan kang wus timbang siti, nuli balik ing ngawiyat, mapan reke sami neki, kembang kang wis megar ika, mangsanaa kudhup maning.

18

Lalu marag kembang iku, kang padha sengkel ing ati, balikan padha rerepa, mangke gadhang timbul mijil, saking garba wewetengan, Rara Lisni tahunan iki, Linggawesi sampurna kena, ing pasentran candha warsi.

19

Ing pasisir kidul iku, pama ing pacendheneki, ya ta opyak para putra, pra sami gelar ngasreni, kurnapane ingkang rama, kang sampun sirna alalis.

20

Samapta krajaan sampun, wus gumelar pangladhenging, kangmarapit anjalana, ing margi andher awilis, tanpa pegatan lampahnya, pucuk praptangpa candhening.

21

Kang layon wau sang prabu, datan mangkat saking puri, saking kathah upacara, baris kang sabagi-bagi, pajeng asri payung kembar, payung agung dhedhet kehing.

22

Lampahnya selur adulur, pan sasilir ing angin, sangkan-sangkan bae kudu anemahi, ingkang arep cilaka.

PUPUH XXIV

01

Ora ana bedane ing jalmi, kang arep bagja sing sangkan-sangkan, kudu bae nemu eleng, pramila kudu emut, nyai Brajawati kang silib, ora opyak sawara, maring anak mantu, ing kalpantanganing anak, ya mangkana anak mantu, kang tan uning, temah nrajang pantangan.

02

Den wis nrajang pantangan tan keni, yen dangdani ingkang aran sirna, ing lalis tan kena wande, datan kena pindho laku, kudu bae amaspisani, ing pati lawan merad, tunggaleku nipun, ingkang mingsa dhasaring toya, ingkang ambes ngayangan dhasaring bumi, sakabeh iku tunggal.

03

Kang minglintang kang mingsurya sasi, kang sumurub ing jro garba, anang gunung ing jro garba, anang gunung ing wetenge, ing jro wetenging watu, pan sarupa lakuning pati, lincakan aneng buwana, dudu iku lampus, dudu mati dudu pejah, pan kewala salin nagara den panggih, ananging den wis pindah.

04

Ora mantra den abalik maning, mung sapisan sapisan kewala, tan mindhoni lincakane, mulane laku iku, wus den becik wuwusen nini, amung kari entenana, iya Rara iku, wewetengan titinggalan, Brajawati wuwuse angemu tangis, nya mungga tulungga.

05

Wewetangan dra pon gelis lahir, den kajamak kalayan manusa, punapa adat kang prantos, sampun takeran tahun, susah temen yen boten si nyai, ingkang andaya-daya, nunten kaparipun, pola kula ngajab-ajab, ya aganti tanpa anten-anten dugi, windon takeran warsa.

06

Inggih kula boten kilap nini, supayane tiyasa amedal, Indhang Sakati sahure, isun jaluk kukudhung, wastra putih ingkang abecik, den barikut sabadhan, lan ukupana kang agung, kira-kira sakalapa, isun pejah dodolan ngundhang kang gaib, atawa mangurungan.

07

Lan anjaluk kembang kang wangi, ingkang warna kalawan dasa nedha, jawada ing sawarnane, ya ing pasar kono iku, go sasajene kang gaib, boreh wangi lan lenga, suri kacinipun, lan kembang campaka pethak, karang melok aja na kari, iku sadiya kena. ☻

08

Ya ta Brajawati wus nimbali, wong jro pura kinen sadhiyaa, ya ta wus pepek sakabeh, ing sasangen pamundhut, ipun Indhang Sakati, maragsag ing ayunan, nyi Indhang kukudhung, putih sarta ngukup menyan, sadangune muja rara den adhepi, maring kang meteng lawas.

PUPUH XXVI
P A N G K U R

– 01 –

La ya Nyi Indhang garjita, anjumbul-jumbul kaget tur sarwi nabda he sakoro kacung, Parwatali lawan Talibarat padha gujengana iku, Rara Lisni ingkang rosa, ambok kontal kenang thathit.

– 02 –

Ya ta Talibarat, Parwatali pansamya anggemeli, astane sang rara iku, dupi Nyi Brajarara, anggepeli rambute sing uluhipun, tan dangu kilat agemnya, talerep kilat lan thathit.

– 03 –

Gebyar-gebyar ora mendha, mapan kilat mancaroba nganan-ngering, maring ngarep maring pungkur, mingsor maring ngawiyat, dangu-dangu nuli medal gelapipun, gelap ingkang mancaroba, ting sariwik nganan-ngering.

– 04 –

Maring ngarep maring wuntat, maring dhuwur mingisor anjejeg bumi, dangu-dangunipun nuju maring Rara Lisni adan, babar pisan wedale jabang jalu, warnane suteja peglag, kakacae ika dadi.

– 05 –

Gelap nyenggrang namanira, ari[ari ika sampun dumadi, gelap sangyang wastanipun, pusere ingkang tigas, dadi gela nyawang ing paparab ipun, wus kadadiyan titiga, kapat maring jabang bayi.

– 06 –

Ya ta Prabu Ciyungwanara , cirak-cirak kalangkang suka ningali, kang canggah wus babar metu, ingkang marga lantaran, ingkang tulung Ingdhang Sakati ing mau, kang kina daluraning karsa, amiyosaken babayi.

– 07 –

Sang jabang ika kaangkat, linggih ratu dening sang prabu yoni, Ciyungwanara kang junjung, kalenggahaning canggah, pan sinebut Prabu Wastu parabipun, kasanson ing kulawarga, Pajajaran suka ngapti.

– 08 –

Aketuge sasahuran, wetan kulon padha aganti uni, tanopen wetan lor kidul, sawaraning Yang jagat, padha nakseni ingkang lilinggih ratu, ana ing rat Pajajaran, Prabu Wastu jabang bayi.

– 09 –

Tatapi ing karsanira, Ciyungwanara si jabang dipun imponi, piyambak ing Prabu Sepuh, ya ta samulur raja, ing Pakuwan ra timbul ingkang sasulur, akeh padha rena, amuji juragan aji.

– 10 –

Mila ika kang wong sanak, Prabu Ciyungwanara saking ngukir, rancakowek warni manuk, kang aran Gunung Krendha, kang pinangka pamong-monga Prabu Wastu, mrana-mrena atut wuntat, anjaga dhiri sang aji.

– 11 –

Prabu lare wus anyakra, menak pra kuwi sigar sawetaning, Pajajaran kaya mau, awit Cilutung ngetan, tatas maring Cipamali kang kawengku, dening Prabu Wastu purba wisesa Sundha negari.

– 12 –

Papatihe kang anama, patih Burung kandha nyatane paksi, kang juru pamong-mong wau, bisane anginger bala, mulane dadi papatih.

– 13 –

Tanggung-tanggung kang manusa, masih pinter kepati burung wiring, Tumenggunge kang sinebut, Tumenggung Natakriya, Pakuaji saking Cigasong punjul, bisa nginger pagaweyan, kang dadi anjugalani.

– 14 –

Tan Ki Demang Bantarpanjang, langkung bisa amutus kang prakawis, agawe enaking padu, angrampungi pradata, lan Ngabehi Sokapulang iya iku, ingkang jaga-jaga nagara, ngemiti pagusten aji.

– 15 –

Wus tan ana kakurangan, sinaroja gul menak kang Bopati, apa adating sang ratu, pinayungan para eyang, Parwatali angahu biwaya ipun, miwah eyang Talibarat, kang seghenge angampingi.

– 16 –

Ing turunan Pajajaran, kawuwuhan sadulur kang ngampingi, gelap nyawang Karangsembung, gelap Sangyang Talag, gelap senggreng kalangkeng pandengel wijung, kang padha raksa rumaksa, ing salinggih ing narpati.

– 17 –

Kocap praja Pajajaran, ora kena jaladhak ingkang wani, tan kena sathithik sigug, anuli ana gelap, tanpa sangkan mobat-mabit awor lisus, Parwatali Talibarat, giyuwan peteng lir wengi.

– 18 –

Sing asing aneranga, ing pantange Pajajaran dadak nuli, udan angin gelap tempuk, iya iku martabat, ya polahe Talibarat anempuh, Parwatali ngabar-abar, lan gelap nyawang nambungi.

– 19 –

Gelap sangyang sing jro toya, gelap senggreng garantang tanpa thathit, kaligane gumurubyuk, gumalendhang dharangdhangan, ya mulane den arani ingkang nebut, aki buyut Banyakgarantang, ila-ila kang pamuli.

– 20 –

Iku dadi patengeran, anak putu ingkang anyerang papali, nuli ngedhang para buyut, maring sobawanira, pramilane Pakuwan wanter pangaruh, mauk miber angambara, ngungkuli bawa dewaji.

– 21 –

Tangtu tiba kaju lina, turunan ratu anget sakalir titi, tan kena den idek iku, wawayangane nalendra, sing angidek dadi pincang dadi buntung, sing angidek Suramangkrak, dadi lumpuh dadi gering.

– 22 –

Ngayeg-ayeg kena tulah, Prabu Wastu Pajajaran mandi, supatane dadi tumpur, saanak putu nira, inkang kena padha upataning ratu, Prabu Wastu Ginotama, sinata ing dhewaji.

PUPUH XXVII
S I N O M

– 01 –

Prabu wastu Pajajaran, sedhengane olih rabi, saking anaking bramana, Susuk lampung ingkang nami, Ni Ratna Sekarati, kalangkung warnane ayu, warnaning kaendahan, tan ana ingkang mantari, kaya garwa sang nata ing Pajajaran.

– 02 –

Kalangkung ing kinasihan, ing sadaleming purati, linulutan ing sakula, parekan kang ageng alit, dening warnane abecik, patutuganipun arum, anglegakaken manah, sapolahe amantesi, gedhe cilik sadaya aturun marma.

– 03 –

Wedi asihing majikan, ora na sawalang kapti, jeng prameswari sakara, cirinipun den ingkedhi, ora ilok kathik, aresep saumur ipun, ya dadi ora bisa, anak-anak ing sasami, laminipun ora amiyosi putra.

– 04 –

Suwane Sri Naradhipa, dening datan miyos siwi, punika kang prameswara, tatamba ing ngenda-ngendi, daropan anganaki, parandene datan metu, anak maning yen iyaa, sabab kaliwating aking, pranakane Sang Dewi Sarkara ika.

– 05 –

Pirang-pirang tukang tamba, saking sabrang saking Jawi, kang seja naglelesena, pranakane ya Sang Dewi, weleh tan ana dadi, mundhak akingipun gempung, koncara lamon ika, ora idu ora yiyid, ora umbel ora duwe sulu mata.

– 06 –

Tan karinget tan kalalar, ora wadi ora mani, estuning bresih sarira, ora reseb ora mimis, marmanipun dumadi, lan amijil putranipun, Prabu Wastukalintang, wus boya anganaki, garwo malih garwo malih pon tan putra.

– 07 –

Ngalap garwa wadon ingkang, bebet manak istri saking, putrane Buyut Satohan, kalangkung dermaneki, sampun kagarwa puniku, ana ing Pajajaran, pinuju panenggek kang asri, salamine pon boya miyosi putra.

– 08 –

Kocap Ptih burungkrendha, angiwat putraning aji, saking pulo Tulangbawang, wau kang binakta dening, nama Encecalingcing, pun sampun wau akatur, dhateng sang prabu nata, ing Pakuwan sampun tampi, iya iku dadi purwakaning perang.

– 09 –

Ing besuk panusul ira, Tulangbawang maring Jawi, angused larining ilang, lawas-lawas katiliktik, anenggeh maring Jawi, tan ana roro tetelu, ingkang papati garudha, amung ing Sundha negari, ing marmane besuk karuru larinya.

– 10 –

Dupi samangke kalingan, durung gemet angilari, marmane ika wanodya, Ence Galingcing dumadi, garwa aji ing puri, Pajajran iya iku, kyan Patih Burungkrendha, kang nanggoi pati urip, sewakane dheweke kanggep ngawula.

– 11 –

Tiya cicirine ta sira ki Patih Burung ya dening, karya laku ngiwat-iwat, kale wadon duwe laki, kangkat wani angambil, kanggo babakti ing ratu, ngiseni ika kewan, nuli ana arti nisip, gawe ora arju mungguhing dewa.

– 12 –

Wang ing sakala samana, ora nana una uni, Prabu Wastu ing Pakuwan, pon kagarwa tan mijil, putrane gabug maning, garwa tetelu tan sunu, nuli malih gagarwa, kang minangka maha dewi, wadon saking Luwiliyang kang anama.

– 13 –

Sariandilep kang nama, putraning Buyut Gunggirik, pan mangkana pinet garwa, ya iku pan gabug maning, tan ana medal siwi, kasawung ing pegat turun, atuwin ana anelang, kang dudu waris ing aji, ya wis ngijir gadhang kaselang susupan.

– 14 –

Marga peteng kang anyelang, apindah-pindah turuning, rati ing Pajajaran, satemene susupan ing bramana mangko gadhang kacatur, nuli sang nata garwa, malih kang pinangka dadi, pameswari iku wadon saking kubang.

– 15 –

Putrane ki Cupangcapra, nami Nyi Carananggolis, panendhi ratu Pakuwan, iya dadi gabug maning, ora na kang mijili, garwa sakali manipun, garwa lima kapadhan, gabuge tan ana mijil, ing aputra gawoke wong Pajajaran.

– 16 –

Prabu Wastu nuli ngalap, selir kawandasa sisi, winangking sadaya nira, tan nana medali siwi, agabug sadayaning, rinebak-tebak asuwung, tan ana gumentasa, ing dos wiji-sawiji, ngajah padha mathem wijil gembyung.

– 17 –

Wondening arjaning pura, ora nana kaya iki, Prabu Wastu mulat bisa, ambabar danawa wangi, salamine ngratoni, wis windon takeran tahun, lami-lami kang garwa prameswari Sarkarati, langkung sadarga dening tan kagungan putra.

– 18 –

Lalu buwang-buwang raga, mikiri punthes ing aji, dadya pamitan sing kana, sing ngarsane Sri Bupati, ora anggandol sami, rama ajar Sususklampung, tumulung darbeya siwi, Prabu Wastu pan andulur ing garwa.

PUPUH XXVIII
KINANTHI

– 01 –

Dadining sang Prabu wastu, ing lilani prameswari, entare saking Pakuwan, sebab wis ora na maning, garwa ingkang kinasihan, mung garwa aji Calingcing.

– 02 –

Asal Tualangbawang wau, kang dipun abet ing ati, anggepe sang nata endra, bubar kabeh para rabi, sok aja Calingcing ratna, kang dadi rasaning ati.

– 03 –

Gabug-gabug pan kapuhung, sakabeh tan amutrani, sang nata pijer kakenan, ing dhesthi ratna Calingcing, sakathah ing para garwa, lan ana ketang katolih.

– 04 –

Amung kang den tunggu pupuk, iya nyi Rara Calingcing, estu kangge ing akrama, rimbitan sawengi-wengi, pepedhang sadina-dina, angrasa dadging sagelih.

– 05 –

Sigegen kang dhesthi lulut, kocap nyi Sarkarati, medheke maring kang rama, bramana Susuk pinundhi, panuhun reka pandaya, dra pon dheweke si siwi.

– 06 –

Ki Bramana wuwusipun, ya toli kapremen si toli akale si bapa, ora na kang miyatani, toli kapremen tala, budine si bapa iki.

– 07 –

Kajapa ingkang panedhu, kang usada warni-warni, ing sabisa-bisaningwang, angupaya apa maning, mider kenges sun salaksak, ora na kang miyatani.

– 08 –

Kang luwih punjul sing isun, supondaya amaringi, ora kaya tan tumama, toli kapremen maning, pandaya misunwis cekap, cupet cempole ing budi.

– 09 –

Ratna sarkarati muwus, rama kula jaluk mati, yen boten medal putra, jaluk mati sapuniki, sumangga den pejahana, dening jeng rama ing ngriki.

– 10 –

Kula boten ajeng mantuk, dateng Pajajaran malih, yen boten badhe pikangsal, awak kula langkung isin, dhateng maru-maru kula, kasuhur ngilari jampi.

– 11 –

Nunten kula mantukipun, kalowos tan angsal kardi, sumangga jeng rama amanah, Bramana Sususk mangsuli, babu nini ya ta iya, si bapa pon milu isin.

– 12 –

Ora kaya yen isun, bebeg dheng wis sumpel ati, toli kapremen iya, ambri dadalaning ngoli, kaya pasakarep ira, sira gelisa pepecil.

– 13 –

Ratna Sarkara agupuh, tegane wis sangu keris, arahe suduk sarira, dupi katingalan dening, ki Bramana Sususk enggal keris den candak tumuli.

– 14 –

Basane jalukan isun, ingkang mati labuh geni, babu nini aja sira, sira salameta urip, sarta aduwea anak, benjang ing sawuri mami.

– 15 –

Ya ta bramana awangun, tumangan geni wus dadi, adan enggal linebonan, bramana wus dadi api, wus dadi apu dahana, dimane ikang nyurupi.

– 16 –

Dhateng guwagarbanipun, Sarkara dadi garbini, malembung wadharan ira, dupi ginarayangaken dening, dhukun anyata bocah, berage nyi Sarkarati.

– 17 –

Adan gupuh enggal mantuk, ing Pajajaran wus isi, anjeblung punang wadharan, sasambate prameswari, yen rumihin sacombana, lawan Prabu wastu nuli.

– 18 –

Kula kesah ruru dhukun, inggih laksana pakolih, dhukun sakti mandraguna, dugi kula meteng mangkin, puniki ingkang yumana, ucaping dhukun pawestri.

– 19 –

Kang grayang inggih estu, inggih isi jabang bayi, Prabu Wastu angandika, subagjane estu yakti, mangko yen manjing itungan, sangang wulan duk sarasmi.

– 20 –

Tya estu anak isun, nanging yen angliwat saking sangang wulan duking bendra, iya dudu anak mami, nyata iku olihira, ruru lanang liyan maning.

– 21 –

Prameswari agegetun, maras bok angliwati, ing sasiye bebeleyan, salamine ketar-ketir, bekeng temah iya liwat, dugi maring rolas sasi.

– 22 –

Ya ta ika Prabu Wastu, kalangkung sengit kapati, tan karsa angaken putra, kang garwa den tudhung wani, samono Dewi Sarkara, sedheng tandang karsa nyingkir.

– 23 –

Kesahipun saking riku, kang jabang kinempit ingindhit, mantuk maring lampung karsa, Prabu Sepuh liwat luwi, masa kakena ing manah, ningali warengka sesi.

– 24 –

Sangsaya ing pulo Lampung, Ciyungwanara nimbali, ming pancalima Pakuwan, Talibarat Parwatali, Gelapnyawang gelapsangyang, gelapnyenggreng kinen sami.

– 25 –

Jaga aneng pulo Lampung, jabang bayi wareng mami, ya ta ika pancalima, samya ing Lampung ngabuhi, dadya tilar Pajajaran, angraksa jabang narpati.

– 26 –

Nulak sagung bala ripu, ing Lampung rahayu urip, Dewi Sarkara buwana, ing kana nuli angimpi, kapanggih lawan kang rama, bramana Lampung nuturi.

– 27 –

Saryakaruna lingipun, adhuh gudhi anak mami, anandhang lara katimpal, kang gondhol si jabang bayi, si jabang sira sun puja, angreha Sundha negari.

– 28 –

Aranana jabang iku, dening ingkang nyambat asih, aranana Sususktunggal, cacaloning wong abecik, yen tuwaa besuk bagja, muktine tinemu kari.

– 29 –

Wusing mangkana awungu, emut wawangkiding ngimpi, jabang lunta ingaranana, Susuktunggal kang nami, pinayungan pancalima, yan mini moyang gaib.

PUPUH XXIX
ASMARADANA

– 01 –

Duk kang yuswane sang jati, jejeging sadasa warsa, adhemiwit arti budine, alusma barang laksana, tan pati guling dhahar, karemane angalenthung, ing pasisir kidul ika.

– 02 –

Wus awor lawan dhedhemit, satingkah polah limunan, wis tan karungu wartane, nanging ika pancalima, but buri amayungan, sagenahe Jaka Susuk, pancalima momong lampah.

– 03 –

Talibarat Parwatali, Gelapnyawang Gelapsangyang, Gelapsenggreng salabehe, kabeh padha rumaksa, maring sang Susuktunggal, ana ing lautan kidul, ombak-umbul ing sagara.

– 04 –

Ing karang kang sigreng sungil, karemene kumarasan, tumuli ana esihe, nyi Gedheng Rarasiluman, maring kang Sususktunggal, ing kana den gawe mantu, pinanggihaken kaliyan,

– 05 –

Putrine ingkang anami, nyi Rara Mutiyalarang, sampun campa kramane, ana ing tenjolayaran, ing jagad alimunan, denuri-uri den ruru, denira para jawata.

– 06 –

Sigegen kang amor dhemit, kocap kang aneng Pakuwan, Prabu Wastu sajengkare, genya anyakra buwana, amurba amisesa, Burungkrendha patihipun, andel-andele sang nata.

– 07 –

Datan antara ing lami, panusuling Tulangbawang, Kaka Ramana jenenge, sabrang dadi adat buta, padha doyan manusa, belung kapal bulanipun, wus bancik ing Pajajaran.

– 08 –

Seja angrebat sang putri, Ratna Calingcing ing kuna, muwah deniwat dhingine, dening patih Burungkrendha, seja mangko denrebat, sang putri seja mangko denrebat, sang putri seja denjuput, kangiwat seja denrusak.

– 09 –

Patih Burungkrendha aglis, amampak maring payudan, angintaraken balane, ya ta dadya ingkang perang, bala ayun-ayunan, wus pinten ing laminipun, genya angrok bandawasa.

– 10 –

Long-linongan akeh mati, adan bala Pajajaran, kundur kapereg lagane, kadya ta bala wanara, kabareg dening buta, pating burisat lumayu, kapereg ing bala buta.

– 11 –

Patih Burungkrendha mijil, ing gelar angudi lawan, bala sabrang kondur kabeh, ingamuk ing patih ika, kadya garudha meta, nalampek naladhung nucuk, nyoker musuh padha bubar.

– 12 –

Adan lakining Calingcing, kang nama Betyawelara, mapagaken pangamuke, Patih Krendha wus den jragang, kuwel amagelutan, jejeg-jinejeg apalu, pinalu balang-binalang.

– 13 –

Angentongaken tanagi, genya ajojo brawasa, pirang-pirang dina gone, tarung nuli ana ingkang, asore Betyawelara, den thothol jajantungipun, katarik ming jaba pejah.

– 14 –

Betyawelara wus mati, ngajejar kang angga murca, pareng katingal pejahe, Betyawelara denira, ki Patih Burungkrendha, adan mara sepuhipun, kan nana kakarawan.

– 15 –

Andik muntab ambeledig, maring ki Patih punika, dipun jambak jambule, Patih Burung wus anglenggak, kataring ing rawana, den idek jalune iku, Patih Krendha gulu pegat.

– 16 –

Kang endhas sigra tumuli, den balangaken alepas, muluk mesat dan tibane, ngayunan Ciyungwanara, kaget sang nata wendra, ningali endhasing Burung, baledug ing ngarsa nata.

– 17 –

Ciyungwanara angarti, den kapepes ing ngalaga, adan pratignya wiyange, sagarwa sakulawarga, ngili ngidul miruda, ngingisik sagara kidul, apaladara susupan.

– 18 –

Sarya sira anglalari, wareng nata ingkang nama, Susuktunggal re sajege, Talibarat ora nana, Parwatali muwah ingkang, Gelapnyawang Gelapsenggreng, Gelapsangyang iya tunggal.

– 19 –

Ing praja akeh kang wani, lan sakehe kabuyutan, dadi padha cama kabeh, padha asirna guriyang, puruge wareng sang Susuk, munggwaika pinanggiha.

– 20 –

Yen pinanggih Sususktunggal, kangtu tinemu sadaya, pancalima sadhapure, mamane Ciyungwanara, milane analasak, esmu rada kaduhung, anitah ing pancalima.

– 21 –

Angemonga Susuktunggil, tan kawarna kang susupan, kocap ika sang katong, Prabu Wastu Pajajaran, kadhesek ing prawira, kadhesk den ira jemur, den kepung wakul kodagan.

– 22 –

Wong Kaka Rawana wani, mrepegi pura nata, prajurit pakuwan saseg, bubar larut kumagilan, lelewaning wog Tulang, najis kangginawe punglu, camedhar lan tahi jalma.

– 23 –

Siniratan uyuh anjing, cocoratan atawa pongpa, lir udan deres tibane, ya ta wong dhatulaya, Prabu Wastu sagarwa, sadaya pan sami larut, bubar lorode mengetan.

– 24 –

Dewi Calingcing tan kari, binakta dhateng kang raka, sigra andarung lampahe, Prabu Wastu ika sarya, anyangking sada lanang, ngentep ngetan sigra rawuh, ing pinggir Sangyang Talaga.

– 25 –

Kang gamilang-gilang wening, dinamai Cahierang, adan sineblak toyane, lawan ingkang sada lanang, banyu sigra dumadya, jagat buwana kadulu, kang sejen sing jagat dharat.

– 26 –

Prabu Wastu karo rabi, nyi Calingcing muwah bala, warga sakabeh kang dherek, padha nang dhasar talaga, iku sadayanira, adadalem ing jro banyu, sabata lawan sileman.

PUPUH XXX
M I J I L

– 01 –

Kang na dharat datan bisa uning, ing jagating kono, ya wis dadi kaya merad bae, sabab uwise ora balik maning, lan ora kapanggih, lan ora na kang weruh.

– 02 –

Ya Sang Prabu wus sirna alalis, dupi sri kadhaton, wus jinabel dening musuhe, Kaka Rawana angadeg aji, ing Pakuwan nami, iki pan jumeneng ratu.

– 03 –

Ya Sang Prabu Kaka Rawana nami, paneleng ing katong, pan jumeneng Prabu Karadhatang nengge, ora nana wani mantari, ing sa Sundha sami, sadaya anungkul.

– 04 –

Anut maring prabu anyar mangkin, Prabu Tulangtogmol, pugas brangas ala atine, tan kagungan basarang-saring, yen karsane mangkin, tan kena sinundhul.

– 05 –

Yen wus karep kaya lare alit, kudu bae dados, ora kena den semayanane, datan kena sinundhul aturaning, bener luput mesthi, tan kena winurung.

– 06 –

Ingkang denkait budi ngarani, doyan main mabok, la yen mabok dadi kamungguhane, tor-toran anginum sopi, dadi amuwuhi, keras akalipun.

– 07 –

Demen mapan ingkang yoni-yoni, candhi-candhi entong, akrh gempur kapur atine, kabuyutan tapakaning wasi, akeh den padhangi, ingkang singub-singub.

– 08 –

Ya Sang Prabu Kaka radha bang madhig-dhig, sajamaneng kono, wong Tulang Minadho enggene, arubungan ing Sundha negari, padha atut buni, ing pagusten isun.

– 09 –

Pareng angsal windu lami, kawarnaa sang katong, Ciyungwanara ngilari warenge, ya angluru ing tasik pasisir, kang pinuja timbul malih, angrebat warisipun.

– 10 –

Kang samangko kang kacekel maring ratu anyar othon, Raden Susuk ingkang sayaktos, pan den jejep ing tingal dhemit, marono ambuneki, Ciyungwanara ngidul.

– 11 –

Ana ganda ingkang samariwing, saliwer marono, Talibarat lan Parwataline, pan ya iku tetengering Sususktunggal, swara kang tan pangling, Gelapnyawang Gelaptanjung.

– 12 –

Gelapnyenggreng dadya ika sang aji, Ciyungwanara gatos, ngidul ngingisik jaladri pinggire, sarya ngobong ukup mangkin, ing pinggir kikisik, ager sagalugu.

– 13 –

Pan kumutug ing ngarsane aji, ing watukiliyong, Prabu Ciyung pan kukudhung putih reke, belenging manah ora nakali, kang wareng den puji, awan benginipun.

– 14 –

Angembaa ratua tumuli, tan suwe agantos, Talibarat Parwatali praptane, lan galudhug saya seru swaraning, Gelapnyawang Gelapsangyang sami, Gelapnyenggreng karungu.

– 15 –

Ngener cipta tan ana kakalih, panter pamandheng ingong, kan den esthi kuwareng, meeng wareng Raden Susuktunggal, kang dadi raosing ati, gelis amora wong iku.

– 16 –

Aja lunta awor lan gelis, krana ingsun dan raton, kang ngimponi sapalayake, lan sumadi si wong kang duweni, dudu turuning waris, ing sadanguning nedhu.

– 17 –

Kawarnaa kang aneng dalem dherit, Raden Susuk mangko, kala iku mambu ukup gandane, ngendhel ora mari-mari, angabdi tanpa uwis, raden denya sewot-ewot.

– 18 –

Manah pikir karsa padhaning jalmi, manah kadya rontog, kudu eling ing jagat maune, dadya pamitan tumuli, wau waheng garwaneki, isup arep titilik ibu.

– 19 –

Mubya ya larang amangsuli aris, ya sok aja lali maringong, krana kula pan lagya abobot, benggi pareng si jabang dumadi, lahir jabang bayi, aja ora ing takut.

– 20 –

Krana ingkang kang uwis lumari, wong lanang tinggal wadon, tinggal rabi meteng tambu besuke, pareng lahir takon bapa tumuli, bawaning wong wis mukti, tan ngaku olihipun.

– 21 –

Ta kang uku panjaluk isun iki, raden nabda tan samono, ya manawa ora lali-lali bae, den pracaya kranane iku nini, teka upama benjing, yen cidra awuwus.

– 22 –

Ingkang ujar isun kang sayakti, munggwa amlesa katengong, aja timbul iku ing dadine, sumpah isun kang satuhuning, ya ta mutwa larang asri, suka manah ipun.

– 23 –

Agles Raden Susuktunggal pamit, ing mratuwa nembah panor, nyai Gedheng Rarasiluman nabdane, ika mapan wus anglilani, mung pohon rabi, aja lawas ya ki mantu.

– 24 –

Ya yen eling maring ngalelek rabi, apa maning maring ngong, Raden Susuk anembah adan linge, sandika karsa jeng ibu apti, pamuji-puji jati, tulus lampah wangsul.

– 25 –

Ingalingan dening ingkang gaib iki, pancalima ting pancorni, Gelapnyawang tan udan tekane, galudhug grantang widi narpati, Gelapsangyang nyuwong warih, Gelapnyenggreng badhengel wijung.

– 26 –

Parwatali ulur-ulur apti, Talibarat kang ngramon, lampahipun Susuktunggal nengge, medal saking kayanganneki, angambah karang kisik, ora na liyan kadulu.

– 27 –

Ingkang eyang Ciyungwanara aji, ingkang sumedi kono, Raden Susuk wus awas tingale, atatanya ya iku maring, Gelapnyawang la iku kaki, iku sapa kang kukudhung.

– 28 –

Nyandhing ukup sarta asamedi, Gelapnyawang tinon, yaktose Pajajaran punika prajane, luhur kita punika sang aji, Ciyungwanara pinundhi, tulung sadarganing kalbu.

– 29 –

Inggih payu kita pedheki, ya ta gugu panor, asowara dan sang nata manhe, rena-rena ningali kulebating, kang wareng medheki, ….ian anuli rinangkul.

– 30 –

Angandika subagja ta kaki, sira kang sun seja panon, kang sun ucap ing adi panewune, pan ya sira age-age ngambil, kraton Pakuaji, agemen ing wareng isun.

PUPUH XXXI
D U R M A

– 01 –

Ramanira Prabu wastu wus kokalan sirna alalu lalis, merad sejen alam, purane den wasesa, dening nelendra serani, ambeg nakoda, Prabu Kakaratandhi.

– 02 –

Ya wus ilang palakarta ratu Sundha, kaganti budi srani, sakeh kang malumah, dadi kumureb rebah, kang mangko dadi, padha malumah, estu basmi negari.

– 03 –

Ya kaduga manira apaladara, jawane sun anyingkir, kumanyang nganingwang, pinanggih lawan sira, sayogya sira kang mangkin, ngrebut nagara, pusakane kang dhingin.

– 04 –

Pareng sira Prabu Sepuh angandika, Raden Susuk matur inggih, minanten barkah eyang, sigra mangkat padha, amedheki kang nagari, praja Pakuwan, padha mayan dumadi.

– 05 –

Datan apa menenge galudhug obah, lindhu rat lir ginongjing, sadina ping sanga, mayeng ing sabandina, sabenbengi wanti-wanti, galudug ing arga, sabandina nguneni.

– 06 –

Ing jro gunung gumledhug jumegur obah, lor kidul ganti muni, akeh gunung kobar, maludhaging walirang, ulur-ulur nganan ngering, akeh kang rebah, basmi kaosak-asik.

– 07 –

Kasusulan datan mendha gelap ngampar, ingkang pating sariwik, akeh padha rusak, kang sinamber dening gelap, Prabu Rawana age ris, tumon so bawa, gara-gara nempuh.

– 08 –

Ya sang Prabu Kaka Rawana awiyang, ngili marang jagat lami, ge ris ing sangara, gara-gara ing nagara, Pakuwan anggege risi, wong Tulangbawang, bubar dhewek tan sudi.

– 09 –

Datan sudi jeneg aneng Sundha layang, bubar buyung kang kari, wong Sundhane kuna, jar jagate priyangga, gawoke para bupati, para gul menak, tumon widagda aji.

– 10 –

Bumi Sundha bisa nundhung kang anelang, tan susah den perangi, abubar priyangga, wiyange saking Sundha, tan urusan bubar neki, wis tan krasan, aneng Sundha negari.

– 11 –

Raden Susuk iku angruru pusaka, ing rat Sundha nagri, tan lami punika, rawuhe Susuktunggal, prabu sepuh kang angiring, anjaya-jaya, linggihe wareng aji.

– 12 –

Inggistrenan ngadeg Nata Pajajaran, katelahe sang aji, Prabu Susuktunggal, kasaksen ing gul menak, padha sinuhuran dening, ketung kang swara, gumarang ing sabumi.

– 13 –

Kang nakseni ngadeg Ratu Pajajaran, kan nami Susuktunggil, sampun sinaroja, ing adi kulawarga, Pajajaran jengger malih, kadi duk kuna, adat Sundha negari.

– 14 –

Prabu Ciyungwanara kang jaya-jaya, pinudhung ing sagunging, Talibarat nama, Parwatali miwah, Gelapnyawang Gelapnyenggrang, lan Gelapsangyang, ingkang padha angaugi.

– 15 –

Salinggihe sang Prabu Susuktunggal, angsal panglima luwih, sasat sinung nama, Patih Dhuyunglanangan, sugih kasekten lan bangkit, ing pagaweyan, nginger kawula alit.

– 16 –

Sasamine kaya Patih Gajahmada, kang aneng Majapahit, yen ing Pajajaran, kang nama Dhuyunglanangan, ora nana kang mantari, sarwaning bisa, amarigel ing nagari.

– 17 –

Emban-emban sang ratu kang nama, kang dadi sorog wedhi, ya iku kang nama, Ki Tumenggung Ulungdaya, kang sagawe ngratajani, murwa pakaryan, ambeciki ing nagari.

– 18 –

Pajaksane duk samono kademangan, Demang Cimancurluwi, akeh akalnya, pamagutan pradata, ora kewuhan ing udi, dados pakeca, ing manah sri bupati.

– 19 –

Lan kang nama ki Ngabehi Sujimara, ingkang jaba negari, kang langlang buwana, anulak bala wita, kapracaya ing sang aji, sakalir karya, kang dadya mikenaki.

– 20 –

Prabu Susuk waktu duk sakala samana, sanak medhoke sami, iku dalem ingkang, ing Sindhangkasih praja, sang maha dalem japati, kang kinawratan, dening prabu Susuktunggal.

– 21 –

Kumarasan ing Sindhangkasih praja, karanane sang aji, wus angsal supna, yen gadhange ing benjang, ing kono enggone lalis, purwane amerad, amblese maring bumi.

– 22 –

Ya ing bumi Sindhangkasih marmanira, anyawang-nyawang warni, malawat katingal, lolomponganing jagat, kang aneng dhasaring bumi, sampung kalawang, mula sang prabu ngarti.

– 23 –

Tya iku enggon gadhang palincakan, enggenipun angalih, jagat kang babasan, kewala pan ora pejah, salin nagara kang lantip, ingkang asirna, ingkang mingkali kardi.

– 24 –

Pan sawulan sapisan sang Susuktunggal, nginep ing Sindhangkasih, kawangun pura nata, mangkana ing karsanira, ing wong sanak Sindhangkasih, nawang susirna, bali dalem japati.

– 25 –

Dadya suka ki dalem japati ika, rehing den kulinani, dening pamajikan, dening rejanipun, kang cacangkok Sindhangkasih, kadya nagara, yen kalingihan sang aji.

PUPUH XXXII
L A D R A N G

– 01 –

Pan kaloka Prabu Susuk nyakrawati, prameswara putri saking Sindhangkasih, ……………… paparab.

– 02 –

Garwa maning pula ……. raja Galuh nami, Kawularang …………… ing, Karanglopang kang nami nyi An ……….. hang.

– 03 –

Maha dewine pawestri sasl saking Sokapura, kang nama nyi Luwilingling, dewi mature asal saking Pasirpanjang.

– 04 –

Ingkang nami Dewi Simbarinten becik pinusthika, lilima saya lempuri, pan riniyang para ………………………………..

– 05 –

Ya wus apa kaya adat dewa aji, ya rinengga, ing sagenahe alinggih, pan riniyung ing para gegedhen sadaya.

– 06 –

Tan kawarna enggene amukti sari atahunan, kocapa garwa ing dhemit, ingkang wau tinilar tasik lamunan.

– 07 –

Mapan dewi Mutyalarang ang garbini, wus babar, putra jalu warna pekik, pinaparab Raden Anggalarang kwosa.

– 08 –

Wus aprajaka ika tatakon sunarmi winangsulan, bapanira iku aji, Susuktunggal kang mengkoni Pajajaran.

– 09 –

Anggalarang aturipun ibu amit sedya kula, amedheg ing rama aji, ara ngunjung ing rama dhateng Pakuwan.

– 10 –

Mutyalarang sabdane arum manis, isun melang, bok sira den pitambuni, nuli sira ing kana tan aku anak.

– 11 –

Nuli sira dentortalan baya pati, isun melang, denlara den pateni, katongsone isun welas maring sira.

– 12 –

Anggalarang atur sembah ibu inggih ananacak, inggih coba kentasa, ya dumadak yen boten ingaken ing nama.

– 13 –

Inggih saya jeng rama kula perangi, kang saingga, jemg rama angaken siwi, ainggih kula mantuni digdaya pancas.

– 14 –

Ya sang dewi Mutyalarang ngandika ris, mung ta sira, juwala apa wong siji, arep bedhah ing kuthaning Pajajran.

– 15 –

Mandadene den ucap kaya wong baring tangtu sira, ing kana den waskithani, kadya meres ujare kang amaskitha.

– 16 –

Raden Anggalarang ya matur boten sanggi, anggep kula, galethuk batu kacebur cai, bagja cilaka ya kantun punapa karsa.

– 17 –

Amung ibu pamujane kang sun pundhi, sarya wiyang, lampahe ngatut ing warih, buwal-buwal mijil sing dhasar jaladri.

– 18 –

Tunta ngambang dewa mambang kang angiring, jin prayangan, mara jabang Kaljurig, inton-inton memedi kanthung bragola.

– 19 –

Awor ombak anggebyug maring kikisik karang braja, angancik ingukir curi, pan anjeneng tan dangu siliran prapta.

– 20 –

Angin wayah sumilir ika dumugi Pajajaran, calengep kali riringgit, ngayune sang prabu Susuktunggal.

– 21 –

Sambat-sambant wonten pundi rama aji Susuktunggal, punika rama pribadi, kandikane si ibu yen tutur kandha.

– 22 –

Pramilane kawula sumeja ngapti ana labda, kamawula ing sudarmi, nunut aub ingaken putra sasmata.

– 23 –

Kapiyarsa denira wau sang Patih Dhuyunglanang, Anggalarang dipun tarik, dipun wasuh pinanjingaken panjara.

– 24 –

Anggalarang den surak bocah kangingsir sumantana, angaku putraning aji, gampang-gampang si monyet si tambewara.

– 25 –

Pinanjara watarane danguneki sapangedang, calengep ing ngarsa malih, samya geer la yen ana bocah setan.

– 26 –

Den panjara ya bisa muncul pribadi ora wruha, dewa mambang kang nguculi, jin prayangan kang gagandhi lampahira.

– 27 –

Kalajurig ingkang padha ngiring-ngiring adan tandang, Ki Tumemnggung Ulungangin, ya cinandhak Anggalarang wus pinala.

– 28 –

Den panjara maning kirane watawis sapangedang, calengep ing ngarsa aji, gegering wong Pajajaran kumangilan.

– 29 –

Lamon ika ya nyata bocah dhedhemit ora wruha, inton-inton kang nguculi, ya memedi bragola kang raksa-raksa.

– 30 –

Maha raja Bangbangan ingkang mayungi adan tandang, Demang Cimancur anarik, iku maring Anggalarang den galandhang.

– 31 –

Kira-kira iku maning sawatawis sapangedang, calengap ngarsa aji, surak ing wong Pajajaran nyata setan.

– 32 –

Ya siluman tasik kidul boluwarti ora wruha, Buyut Cai kang nguculi, Buyut Angin kang ngiring-ngiring kang ajaga.

– 33 –

Sangyang Limun kang tut buri amayungi mula arja, Anggalarang irus ing jati, Pajajaran padha tambuhing kang putra.

– 34 –

Panginane wong sadaya iku maring Anggalang, belis guguris nyaithis, pan luluthu bangsat ngaku anak raja.

– 35 –

Lamun tulus ingaku paniya dadi olih praja, atawa cacangkok siwi, iku nyata buktine ing paneluhan.

– 36 –

Ambalentuk anyolong ing si narpati mula ika, kudu kang awas ing dhemit, belis guris angibur-ibur ing praja.

– 37 –

Ya jaganen iku saolih-olih maring ratu, dhiri pagusten narpati, aja padha den ganggangi iku bocah.

PUPUH XXXIII
P U C U N G

– 01 –

Prabu Susuk wau pangandikanipun, he Dhuyunglanang, obongen la iku lare, yen tan geseng ya iku ta anak ingwang.

– 02 –

Ya ki Patih sigra tumandang agupuh, amariyat karya, tumanganing geni gedhe, wusing dadi Anggalarang den sangsara.

– 03 –

Pan rinate wesi pinanthokan kukuh, papathoke tosan, ing sajroning geni gedhe, pan darapon aja bisa lunga-lunga.

– 04 –

Kang tumangan denesep kalawan eduh, siniraman lenga, denepri darapon menter, den sinulud kang geni ya wus maludag.

– 05 –

Purubipun pan ora kalawan kayu, ana ing tampingan, ing Gunung Galungung genahe, wanter munjuk urub kadi angambara.

– 06 –

Sapangedang langkung pagedering urub, surak wong Pakuwan, Anggalarang den samangke, pan wus dadi awu aneng jro dahana.

– 07 –

Ora suwe kaligane iku muncul, nalengep ngayunan, anjum andhingkul padane, matur nembah amalampah den akuwa.

– 08 –

Den akuwa piyambake raja sunu, Prabu Susuktunggal, kandikane iya mengko, pisan maning iku ing panacak ingwang.

– 09 –

He Tumenggung Ulungdhaya dene gupuh, iki Anggalarang, kawurana ing angin gedhe, la den ora kawur nyata anak ingwang.

– 10 –

Ki Tumenggung asigra tandang agupuh, gawe lalayangan, kagila-gila gedhene, patang puluh pasagi sampun prayatna.

– 11 –

Tataline jenget ing sambadanipun, ya ta wus sadiya, Ki Tumenggung sakancane, ambeneri angin ngulon santer pisan.

– 12 –

Anggalarang wus den baleni akukuh, ana ing lalanang, ing layangan wus rinekep, nuli sira lalayangan pan den ajar.

– 13 –

Keplas munjuk lalayangan munjuk dhuwur, ika Anggalarang, munjuk kagawang abure, duga silep cat katon ya cat ora.

– 14 –

Wus ing menit ngadeg saka dipun dudut, den culaken enggal, kawur mumbule mengulon, kethip-kethip kagawa dening siliran.

– 15 –

Duga ngulon watara ngungkuli laut, ing gagaranira, ana ing sagara kulon, surake wong Pakuwan yen Anggalarang.

– 16 –

Ya wus ilang tuture kagawa abur, ingkang lalayangan, wus ora kawruhan tibane, ya taksire kaya nyabrang pulo liyan.

– 17 –

Pan sing ngendi bisane awangsul iku, bahi nate lepas, ora karawuhan ruruhe, iku bareng sapangedang nuli prapta.

– 18 –

Anggalarang calengkep wus aneng ngayun, nanging Susuktunggal, wus anembah ing ramane, iki bocah tegane ya sira delap.

– 19 –

Lawan mengko pisan maning panacakipun, sandhangen denira, pandadara isun gedhe, Kyai Demang Cimancur la iki bocah.

– 20 –

La ukumen ing kali manengteng iku, petilasan kuna, Cisanggarung kayaktene, pan dumadak ora mati kalem boya.

– 21 –

Tya tangtu sun aku anak dening sun, iya Demang Tandang, Anggalarang wus den rante, pan ginawa ngetan binuwang ing toya.

– 22 –

Aneng banyu den bandhuli kalawan watu, sakebo ya rapona, aja bisa kambang mangka, Anggalarang wus silep kalem ing toya.

– 23 –

Sarta sira den susuli maning watu, ingkang salulumpang, sakebo tuwin sagudel, kang salumbung darapon angurugana.

– 24 –

Aja bisa timbul kang den ekum mau, nyatane ki Demang, kaya ora pindho gawe, laksanane gawene ngemban timbalan.

– 25 –

Ya sabedhug salingsir ora na timbul, den nyana wus sirna, adan den tinggal wangsule, dhateng gusti Pajajaran tur uninga.

– 26 –

Wus laksana pakaryane la ta iku, masih anang marga, ing Pajajaran ya tegane, Anggalarang wis katemu ing ngayunan.

– 27 –

Wus anembah ana ngayunan sang prabu, Susuktunggal nabda, ya pugas delap si monyet, Angabehi Sujimara kari sira.

– 28 –

Iku bocah pendhemen kang jro asiluk, aneng tegal uwar, kang yatna angurugane, kang dumadak bisa balik ing Pakuwan.

– 29 –

Nadya isun aku anak bocah iku, ya ta kang dinukang, ngabehi gupuh tandange, pan tinarik Anggalarang den galadhag.

– 30 –

Pan ginawa maring tegal uwar iku, den pendhem watara, patang puluh dhepa jrone, den urugi tai besi pandhe dhomas.

– 31 –

Ya den tetel pinaseg gen ira ngurug, ing panyananira, ki Ngabehi Cukimire, pisan iki sira sida pendhem jarat.

– 32 –

Pareng lawan laksanane gawe isun, jalayat si setan, lumpur ludhes dilolocok, ki ngabehi wangsule asuka rena.

– 33 –

Ora matur ing pagustene sang prabu aneng Pajajaran, dupi dugi ing ngarsane, Anggalarang wus talangep aneng ngarsa.

– 34 –

Kaligane wus nembah arsa sang prabu, ika ingkang dadya, anggawoke wong saraje, mung ta iki bocah calonos binatang.

– 35 –

Tai olih si anjingsi kenang kutuk, sampun warna-warna, panyobaning ratu gedhe, wis kalesan panyobaning prabu nata.

PUPUH XXXIV
S I N O M

– 01 –

Warnanen, sang Anggalarang, ing Pakuwan den sakiti, den panahi datan kena, den bandhemi den bedhili, ajarujus medal warih, datan bisa ambeledhug, tombak keris lemes kadaya, gulalitan miyatani, ya pinenthung tinabok kejeng kang tangan.

– 02 –

Jinejeg sikile akas, jejegeng tan kangkat tangi, cinakot kaku kang uwang, mangap lir cinengkal wesi, unine ha ha ho ho, rarasan lan bisa metu, kena waliting Galarang, ika pancalima sami, asakabehe datan guna Gelapnyawang.

– 03 –

Mimpes pisan datan bisa, Prawatali datan bangkit, tan bisa ulur-ulura, Talibarat tedhu sami, ora bisa ambabari, Gelapsangyang Gelapnyenggreng, ora bisa amikara,padha mepes ingkang sakti, sa cep ana Anggalarang ing Pakuwan.

– 04 –

Anyirnakaken guriyang, Pajajaran padha sami, ilang pangaruhing nata, apes dening sang apekik, datan sang Susuktunggal, samana samangkenipun, kami sosote kang rana, dhumateng wau sang pekik, den cinandhak Anggalarang dipun angkat.

– 05 –

Ing karsanipun sang nata, binalangaken tumuli, ora kaya awratira, tan kajungjung ing asakti, karengkeng-rengkeng tan kapti, ya tan bedhol saking lungguh, ya ta Prabu Susuktunggal, hem ngandika sira iki, awak ira anteb temen tuduhena.

– 06 –

Yen saestu sira nyata, teges lamon anak mami, yen saestu anak ingwang, kuwat anjunjung mami, asun kalangean agelis, ing sakarep ira iku, yen sira bisa balang, ngaken maring raga mami, iya nyata tegese ku anak iwang.

– 07 –

Denisun wis sira buwang, karaton sira duweni, dening sira wis pracaya, dadiya gegenti aji, angreha Pakuaji, Anggalarang sigra junjung, wau dhateng Susuktunggal, kaangkat sayengan mangkin, pan gegetun wong kathah padha tumingal.

– 08 –

Teganira Anggalarang, angangkat dhateng sang Aji, den balangaken ning pura, Susuktunggal wirang isin, lingsem maring kang rayi, Prameswari duk andulu, kagume kang laki tiba, nyata kabuntal ing weri, nyata iku binuntal ing Anggalaran.

– 09 –

Ya ta iki prameswari, komalanten sabdaneki, ya wis payu padha pulang, maring kahiyangan mami, ing Sindhangkasiningid, anglipuraken ing kalbu, aja adadawa lara, sengkel ing manah tan sipi, wus riringkes sang nata lan para garwa.

– 10 –

Miyos saking boborotan, mengetan puruge ngili, Sindhangkasih kang sinedya, gegere wong dalem puri, kelangan majikan neki, wong sadaya ting balulung, waneh ingkang atur uninga, maring wareng prabu aji, enggal prapta Prabu Sepuh aneng kana.

– 11 –

Dan Patih Dhuyunglanangan, lan Tumenggung Ulungdhayi, samiyar tur kandha wara, lilingseme ing marmaning, dening Anggalarang gusti, ya ta Anggalang iku, ingandikan pinariksa, ing ngarsa Ciyung sang aji, aturipun pon kula punika putra.

– 12 –

Ya sang Prabu Susuktunggal, patutan Mutyalarang dewi, saking kaputren siluman, si rama kula pedheki, tan den sapakula iki, den lalara tumangan, ingobong jasad puniki, den janjeni nyata anak lanon gesang.

– 13 –

Ing wesana kula delap, boten geseng dhateng api, inggih lajeng kanjeng rama, boten ngaken dhalem mami, kulu nunten tinaleni, ing lalayangan puniku, dipun aburaken enggal, kalintang denira menit, den janjeni la yen nyata anak nata.

– 14 –

Ing wasana kula teka, ing ngayunan rama aji, inggih boten ingaken kula, nunten kentas malih, kinen ngekum ing warih, Cimenengteng pan binandhul, layan sela samahesa, inggih pon jinanjen malih, la yen nyata anak ingwang bisa teka.

– 15 –

Ing wasana kula teka, inggih maksih tan ngakeni, nunten kentas kawula, dipun pendhem lebet bumi, gih makaten ugi, jinanjenan la yen nyata metu, sanyata anank ingwang, yen wis amuncul maning, ing wasana inggih kanyata.

– 16 –

Anak ingwang bisa teka, ing wasana kula prapti, inggih maksih tan ngakena, ing si rama linggih aji, kelupun cidra maring, wekasane ngajak cucu, janjine dhateng kula, bisa balangaken mami, ngaken isun ya sanyata ya anak ingwang.

– 17 –

Inggih si wantu kahula, amalar dipun akeni, inggih kantos kula balang, wau dhateng kanya puri, drapon sampun lingsem neki, sapamanggih kula iki, minanten leres kawula, Prabu Sepuh ngandika ris, kerpek jantung iya iku bener sira.

– 18 –

Mangsa bodhoa kang guriyang, angriyung ing sireki, bapanira ingkang salah, gawe lingsem pribadi, ing temahe saiki, anglolos kalaning dalu, popolos amiruda, wong atuwanira gusti, iya iku pangidhepe ing wong apa.

PUPUH XXXV
L A D R A N G

– 01 –

Pradenane semono payu saiki padha kita, susul iku bapanira, maring etan manawa kita rerempah.

– 02 –

Nulya mangkat prabu sepuh lampah neki kalih sira, Anggalarang mapan sami, samya sira kulawadya Pajajaran.

– 03 –

Ora kaya Prabu Susuktunggal nuli genya salah, pan den udhag sengit, ika dadi Susuktunggal artinira.

– 04 –

Dadya sira Susuktunggal ika dadi kali marwa, ambles ing dhasaring siti, ing jajahan Sindhangkasih nukmanira.

– 05 –

Malah katon ing tingale prabu wanara lang Anggalarang, langkung gegetun ing kapti, ora kena untunge ku bapanira.

– 06 –

Ya ta Prabu Ciyungwanara abalik sarta ika, Anggalarang wus den asri, susuluring kang rama ingkang wus sirna.

– 07 –

Pan sinebur Prabu Anggalarang sangti ingauban, Talibarat Parwatali, Gelapnyengreng Gelapnyawang Gelaperang.

– 08 –

Panjinaga dewa mambang apa maning jin prayangan, kang memedi lan bragola, banaspati inton jurig lan kemangmang.

– 09 –

Anggalarang pan riniyung ing saliring, kang ing tawang, teluh braja lintang ngalih, layung abrit tapak angin lan gelapan.

– 10 –

La kul manuk ingkang bisa tata jalmi samnya ngabdi, anut ing titihing aji, amuwuhi Anggalarang arjanira.

– 11 –

Genya nyakra sumulur madeg dewaji wus koncora, menak pra kuwu nyungkemi, ing karsana sang prabu ing Pajajaran.

– 12 –

Waktu iki ingkang jumeneng papatih winastan, kyana Patih Bentanglompang, kadadiyane lintang karti iya ika.

– 13 –

Pramilane lintang karti cong keng siji iya ika, ing sang maha wruhing naya, dadi patih langkung saking wicaksana.

– 14 –

Tumenggung ika ingkang den arani namanira, Ki Tumenggung Paracutan, nyananing sakuling kalulawadya.

– 15 –

Mula nama paracutan iku dening angracuti jiwqaraga, nalangkep jalmi, ingkang nyawa pan dadi pejah.

– 16 –

Sagedhangan apayuyune wong mati nanging ika, yen wis den uculaken maning, ya janggelek urip maning ingkang kalma.

– 17 –

Waktu iku demange kang winuwuri kaki demang, Gurumuruh namanira, saktinira nyentak jalmi kalenger padha.

– 18 –

Yen anggerem ngoregaken ing sabumi kaya obah, kadya panggereming macan sami, ngabehine Sindhanganjen namanira.

– 19 –

Pan wus jengger sabawa Sundha negari aprakasa, prabu sampun mengku Prameswari, ingkang putra Sunan Jumanjang kang nama.

– 20 –

Ni Ratu Gumiwanglayaran Sari, mangka ingkang, pinangka iku ing kana, asal Baturuyuk ingkang miyosaken putra.

– 21 –

Pucuk gumun sepuhi ya ingkang nami, kang besuke puputra, nama Anggalarang malih, pan kasebut Raden Anggalarang mudha.

– 22 –

Mangka nuli kang minangka rabine aji duk samana, kaputran saking Jepura, ingkang nami Wotsari aputra Yang Maduraksa.

– 23 –

Iya iku kang ajatu krama maring Sangyang Citra, ratu Sekar ing tanpa omas, miyosi siwi sanunggal Raden Kalipa.

– 24 –

Iya iku kang alinggi aneng suci dupi ingkang, satunggale malih nama, Raden Sinom kang alinggih Salagedhang.

– 25 –

Raden Sinom iya iku amurtrani kang sinebut, guru mindha Mantrisari, mangka nuli Mantrisari apuputra.

– 26 –

Ingkang nama sanghyang Widaya kang sakti, Yang Widaya, ika nuli amutrani, Sanghyang Tubu kang linggih Sokawiyana.

– 27 –

Dupi iku kang kaaken maha dewi iya ika, pawestri kasing timbangan, ingkang nama Dewi Mayengan jeneng ira.

– 28 –

Kang den sedhep ing ayunan sri bupati Anggalarang, dupi garwa marujune, istri saking pasirmilir iya ika.

– 29 –

Wawangine Ni Erangtungtang kang nami iya ika, kang dadya dewi mature, Sundha puri sarta selir walung dasa.

PUPUH XXXVI
DHANDHANGGULA

– 01 –

Pan sinigeg Anggalarang mangkin, wustahunan windon mengku raja, ing Pajajaran anengge, cacangkok pra kuwu, tetes kali Cilutung maring, Cipali ya ika, ingkang dipun rengkuh, dening Prabu Anggalarang, dupi saking Cilutung ngulon pan maksih, kaapti Ciyungwanara.

– 02 –

Lami-lami danguning ngaurip, kudu bae ana kasandhungan, ya iku ing sajenenge, Sunan Talagamanggung, ingkang putra jati kakalih, kang kasebut nama nipun kang karuru, kyan Sukmaantalirasa, kang kang atma Jayanglangkara sakti, kang darbe manah ngungak.

– 03 –

Seja ngaru ingkang linggij aji, ing sagunging sesa Anggalarang, teka den rumpaki kabeh, estu megat kukuncung, arep wangun lingsem ing aji, yen den prasila mangpang, akeh panglimagung, kang padha sirikokalan, tanpa dadi kalilip luguting aji, Anggalarang songkawa.

– 04 –

Edir-kadiran panantang weri, atmaja ya Lengkaraganal, basa jahata kerwanthen, iya isun ingkang estu, ing saiki seja ngadoni, saktining Anggalarang, sing akasor lampus, sing ameneng dadi raja, amponi buwana Sundha negari, la payu katogena.

– 05 –

Ya ki Patih Bentanglopang agasik, mepeg gaman Pajajaran, surupe ing kasakten, den katogaken sagung, pan bunihan akeh amijil, bulus putih angabar, ing awang-awang trus, img bumi anyaangkal obah, Raden Jayalengkara ya tan giris, dadya ngembat sarotama.

– 06 –

Sanjatane sapujagat nempeki, maring Lintang tiba padha silak, padha balik ing parnahe, lan nama tiba ipun, Patih Bentang gegetun kapti, popoyan maring rewang, ika ki Tumenggung, Paracutan kocap bisa, analangkup nyawaning wang dadi mati, la ika pinritandang.

– 07 –

Ki Tumenggung atandang madhidhig, sja nyuwuk atmaja Yang Tengkara, tinarempang den jarage, den jaragang cinawuk, Jayalengkara nyawa katarik, ragane wus galudhag, iya kaya lampus, ora kaya atma ingkang, kagem ngasta anyokot ilur ula mandi, Ki Tumenggung apejah.

– 08 –

Pan ageger wadya Pajajaran sami, Ki Tumenggung pejah kapisanan, den gigit dening musuhe, Tumenggung wus lampus, Atmajaya balik maning, ragane dadi gesang, urip kaya wau, nuli kulawarganira, Ki Tumenggung kabeh padha anangis, nedha den gesangena.

– 09 –

Sasambate lamon mangke urip, pan sumedya angabdi kahula, dhateng sampeyan sakabeh, Atmajaya agupuh, aglis sira andamu maring, cunguring Paracutan, kinepus dinamu, kempis-kempis kulimes sang Tumenggung ababalik sira ngabdi, maring sang Atmajaya.

– 10 –

Pan ya iku marganing angabdi, Menak Panumping kabeh kaparentah, dening Atmajaya kabeh, Tumenggunge kangracut, wadya bala Sundha negari, den adhepaken muka, ing pangabdinipun, maring Jayanglengkara aji, kari saubing payungika.

– 11 –

ora nyana kang kawula lit, Atmajaya adan ika ngangkat, maring sarirane dhewek, wus angadeg sang ratu, ing Talaga kang den jeneki, Tumenggung Paracutan, ing emban-embanipun, Atmajaya wus kaloka, Susuhanan Talaga mengku nagari, anyakra bawana Sundha.

– 12 –

Suuding bala kagiri-giri, wau dhateng sang Prabu Jaya, atilar Anggalarang, sing amaneni jemur, singa ingkang tan anut ing titi, ning Atmajaya dadya, tinumpes den tempur, mula padha kamawula, maring Atmajaya padha gumusti, tabuh maring Anggalarang.

– 13 –

Lawas-lawas ika sang apati, Bentanglompang saja amakaya, welas maring Anggalarang, seja malesaken iku, saolih-oliha merangi, maring sang Atmajaya, sejanira ngrebut, ing sesane Anggalang, sigra ngalurug kang bala mungkari sathithik, wadya sajroning pura.

– 14 –

Dupi wadya bala dhateng jawi, ingkang kathah wus padha kapurba, dening Atmajaya kabeh, pramila [atihipun, Bentanglopang karsa nglepasi, sanjata garantangan, lumepas anuju arah anglebur Ta;aga, kadi gunung gelap marab-marab geni, kadya ra ngobar jagat.

– 15 –

Wong Talaga kathah padha nangis, panyanane sakabeh kabakar, dening gelap maludage, datan antara dangu, gelap talaga ika mijil, kang warna kadi gegelang, pirang-pirang ewu, amapag maring garantang, sirna purna geni garantang alalis.

PUPUH XXXVII
P A N G K U R

– 01 –

Atandang Jayanglekara, menthang sanjata topan sira aglis, Bentanglompang geblas kawur, pulih angsal pinangka, dadi maning lintang kerti iya iku, surake bala Talaga, tumon gustine asakti.

– 02 –

Kantun Prabu Anggalarang, jelag subita babanting arti, medal sira kapisemu, he Atmajaya iya, iki isun wis pepes ya aja tanggung, sira kukuru alawas, alung babrena lalis.

– 03 –

Aja dawa-dawa wirang, atmajaya anabda iya becik, tampanan iya iku, sanjata aliwawar, kang nyawargakaken ing sira satuhu, duk lagi nabda samana, Anggalarng angandhingini.

– 04 –

Animbulaken ing toya, mubal malah tanpa tanpa sangkan mijil, kadak siking Cikeru, kaligane ambuwal, gumaludhug tanpa krana wetunipun, anggigilani kang toya, dhuwur pamumbaling warih.

– 05 –

Kadi ta lir gunung toya, wong Talaga akeh padha anangis, nyana den kelem ing banyu, ing wau wurung den obar, sida iki den keleme dening banyu, dan tandang Jayanglengkara, den lepas si sanjata angin.

– 06 –

Aliwawar wus lumarap, anarajang banyu asat pan tumuli, kaingsep ing sira lisus, luntanira narajang, Anggalarang katarajang nulya kawur, merad maring ngalam lintang, awiyang alalu lalis.

– 08 –

Amung Prameswari nira, ingkang nami jeng dewi, Ratugumilang lumayu, sumhati ararangkangan, muni ngowe-ngowe lir kebo limayu, krana mengkele kang napas, mulane muni lir mundhing.

– 09 –

Apa maning lagi wawrat, sangang wulan menga-menggeh lumari, niba tangi seja njujug, mring Prabu Ciyungwanara, langkung payah ical ing samangeripun, sigegen kang pala dara, warnanen kang Jaya ngancik.

– 10 –

Susuhunan ing Talaga, malah kalampah Jaya ika saking, turunan jeng Prabu Galuh, pramila nelang bagja, dadya ika pancalima pandha cenguk, tan bisa aningalana, bala wita ingkang iki.

– 11 –

Dadya tan bisa tulunga, wau dhateng Anggalarang sab gaib, Talibarat datan weruh, Parwatali tan mulat, Gelapnyawang sadhapure datan weruh, pramila sang Anggalarang, kapepes kaduga lalis.

– 12 –

wis mangkana adating donya, la yen mungguh gagaman ingkang mandi, sote yen jaba ning untung, yen ingkang wis tumeka, ing untunge endi ana sakti punjul, wis kandel ing rampak kuna, kang sakt kang ora sakti.

– 13 –

Ta ika baja daulat, Jayanglengkara suhunan ing cai, Caierang lungguh ratu, olih nyelang marwasa, Jayanglengkara wis amiyosi sunu, jeng Dewi Simbarkancana, ingkang mangke olih laki.

– 14 –

Ing wong agung kahiyangan, pan rakaning Centangbarang ingkang nami, Kenbalura jenengipun, putraning Rawagadha, Rawagadha putraning Bentangmerngu, Bentangmerngu punika, kaputraning Bathara Pancarangin.

– 15 –

Lamining ajatu krama, Simbarkancana nulya miyosi siwi, putra satriya pipitu, iya iku kang nama, Teja Pramana iki pambarepipun, panggulune ika nama, ya ki Teja Sokasari.

– 16 –

Nuli Teja Ingaguna, nuli ika ngadheni nami, Ki Teja ing Ujung Lutung, tumuli kang anaming satriya Ki Teja ing Payunhagung, lan Ki Teja Sangapriya, lan Ki Teja Cintamanik.

– 17 –

Dupi ika kang anama, Teja Sokasasri kang gadhang ing benjing, apuputri istri ayu, ingkang nama punika, Ratu Pamratsari iku gadhange ing besuk, gadhang jodhone sang putra, Silinwangi kang anami.

– 18 –

Mundingdalem namaira, besuk rabi Ratu Pamratsari, aneng pungkuripun timbul, duk mangko durung ana, masih nyatur andhing luluhuripun, ya ta Susunan Talaga, kawarta wus sugih rabi.

– 19 –

Garwaning Jayanglengkara, ana dhomas garwane amarinci, den parenca enggonipun, sagenah-genah garwa, kanggo pranti kandheg kampir ing lalaku, yen kala ngider buwana, dumadi amukti sira.

– 20 –

Karana Jayanglengkara, ing sandhenge angratu tan langgeng linggih, anjembaraken ngalenthung, remen alincak lincak, kamuktene ora bosen ing alungguh, dhela-dhela sejen genah, dhela-dhela ngelih puri.

– 21 –

Ngadhaton sagenah-genah, iyang-iyung pijer amurwa puri, sawula-wulan awangun, alihan lincak-lincak, dadi anyar maning anyar datu, tan bosenaken ing manah, duk pangidhepe sang aji.

– 22 –

Sang Orabu Jayanglengkara, sugih garwa sagenah-genah mranti, kampir angrantuning enu, denganemu garwa, pan mulane katela paparabipun, suhunan sugih garwa, wus koncara tepis wiring.

PUPUH XXXVIII
S I N O M

– 01 –

Sigegen suhunan Talaga, kang karoban ing wibawa mukti, kawarnaa kang miruda, ratu Gumiwang lumari, ing ngayunan sang aji, Ciyungwanara jinujug, praptane ing ngayunan, ngowe-ngowe kadi mundhing, ambekane mengkel ngeden arenggosan.

– 02 –

Bari rumangkang lumampah, anyungkemi ing padaning, Prabu Sepuh Ciyungwanara, pon ika sampun angarti, yen Anggalarang lalis, rabine ingkang lumayu, awedi diboyonga, dening Atmajaya sakti, ya ta pareng ing kana Ratna Gumiwang.

– 0 3 –

Nuli bae bebeleyan, angadenaken babayi, menggap-menggap ingkang napas, kadi wong anglalu lamis, ngowe-ngowe lir mundhing, medal jabang bayi jalu, abagus wuwarnanira, sang prabu sepuh sukati, udheg-udheg tiningalan lanang pelag.

– 04 –

Suka rena nalanira, udheg-udheg bapa kyai, iya sun arani sira, Jajaka Mundhingkawati, karana biyangmu nuni, ngowe-ngowe elap isun, embok metu maesa, legane bragojol jalmi, ya sun puja dadiya sulur nalendra.

– 05 –

Susulure rama nira, Anggalarang kang wus lalis, nyi mantu udheg si jabang, openana den abecik, ing rat prayangan mangkin, manawa dadi susulur, ing rat prakuwu mangsa, bisa amangko pinuli, sabab uwis kajabel Jayanglengkara.

– 06 –

Amung manawa si jabang, ing benjang salamet urip, bisa angrebut pusaka, yen nyata titise jati, mangsa wurunga abangkit, angruru pusakanipun, telungane ing kita, sun srahaken maring sukmane si jabang.

– 07 –

Ratna Gimiwang aturan, sandika ing mangkin aji, pan si jabang wus den asta, dinelap lastari urip, dugi mraja kawarni, katempelan asmara lulut, akeh wadon kang kedanan, padha buri ingithil, maring Wundhingkawati padha kasmaran.

– 08 –

Estuning raga asihan, linulutan ing pawestri, ingkang prawan kang wulanjar, randha muwah duwe laki, padha kabadri-badri, kasmaran ing Mundhing iku, aja-aja kang tumingal, salagine ingkang sami, ya angrungu abane padha kasmaran.

– 09 –

Ingut-inguting swaranira, konsi duga pitung bengi, kelingan bae ing swara, akeh istri padha lali, ing wang tuwa maring laki, tut buri ing Mundhing gupuh, padha pasrah jiwa raga, wus ilang kang wirang isin, edan bae kawenangan ing wong liyan.

– 10 –

Malah ika lampahira, Raden Mundhingkawati, angumbar akarsa nira, wong anom amurang titi, Malangsumirang mambrih, ngambat ing praja pra kuwu, kang padha rinungruman, anggepe Mundhingkawati, saprakara wadon kang teka priyangga.

– 11 –

Padha sungsung rebut ing sang, remening Mundhingkawati, padha sosoroh gulingan, tan lawan den undang maning, Raden Mundhingkawati, mung kinambadan ni Pasung, ing wadon sagulingan, singa-singa anekani, linadenan akirda pan sadaya.

– 12 –

Akirada pan sacombana, malah ika lami-lami, angambat maring garwa, garwane Majayalengking, ingkang padha marinci, padedesan kang tumuwu yen den lewa, maring sang Mundhingkawati, akeh garwane Jayanglengkara jinamah.

– 13 –

Yen konangan ingkang jaga, padha sami sakarani, padha rinujak ing lawan, Mundhinggkawati nadhahi, teguhan talikrami, kalesan ingkang murugul, padha kondur kokalan, adate Mundhingkawati, sakeh wadon kempong perot sok wadone.

– 14 –

Sakeh wadon duwe ningwang, lara pati sun labuhi, jar murang niti rungruman, malah yen kapandhak margi, lan garwane Jayalengking, kang lagi tinandhu-tandhu, ginaregeg den iring-iring, prandene linorod binegal marga.

– 15 –

Ginawa ing pasenetan, prameswari den sanggani, yen wis sampurna abendra, ingeculaken ing margi, pan samya kang ngiring bedhil, anumbak pan sami nyuduk, tinadhahan kang braja, tan ana braja nitisi, esok bae angkohe Mundhing Bathara.

– 16 –

Nanging sun mangsa kandega, ambegal ingkang pawestri, sapa bae kang kapapag, iya pasthi sun sundhepi, tan idhep garwa aji, Atmajaya musuhipun, kamanyangan yen mendhaka, rabine si Jayalengking, pon ya iku kang angembat tupaningwang.

– 17 –

Ya ta garwa Atmajaya, kang ning padesan marinci, pan rinungruman sadaya, sakabeh den dalajahi, datan kaliwat siji, Mundhingkawati kalangkung, dening kaliwat gemetan, braja gemet ing pawestri, nyumur gumuling lang angrong pusanakan.

– 18 –

Lara pati dipun dhadha, isun ora anggingsiri, panebusing murang sarak, adate Mundhingkawati, ora nana kang pinilih, padu wanodya ya iku, aburan carampusan, sing awadon den cicipi, luwih liwat anglalanangi ing jagat.

PUPUH XXXIX
KINANTHI

– 01 –

Ya wus dadi ara-uru, koncara angrurung sebi, karajahan Atmajaya, ya ta dadi den lurugi dening bala ing Talaga, seja cinekel winingkis.

– 02 –

Kang seja galethuk datu, seja den kacebur cai, ginawe ing raga ina, Mundhingkawati wong siji, angalahaken nagara, mabura kang tanpa sentik.

– 03 –

Juwala apa si bendhul, ya ta wis amaribui, raja gagaman talaga, ora nan kang ngundhili, kang cinekel boya kena, den buru-buru tunungtik.

– 04 –

Ting salengseng ngalor ngidul, lamon geger garwa aji, yen pinanjingan ing dhustha, dadak-dadak den ebyuki, kaligane tan kacandhak, pating bilulungan tan polih.

– 05 –

Tan olih gawe alusut, ya ta kamisosot kangpri, Ki Tumenggung Paracutan, Brajamatya adhag-dhag dhig-dhig, seja nyekel sang Bathara, Mundhingkawati tan keni.

– 06 –

Sang Anom pan dipun cawuk, ambekane dipun tarik, dening Arya Paracutan, kacandhak Mundhingkawati, mundelik kaya apejah, ora duwe napas mijil.

– 07 –

Sabab nyawa den talangkup, dening Paracutan sakti, wus ngedhag tanpa ambegan, Mundhungkawati lir mati, kaku jengkeng ora obah, kawenangan ika dening.

– 08 –

Gelapnyawang wus jumegur, namber Paracutan katimbis, Tumenggung pejah den Gelap, babarpisan angemasi, nyawa Mundhing kawarnaa, ucul wis rumanjing maning.

– 09 –

mangsup dhateng jasadipun, janggelak tangi urip, Paracutan tulus pejah, kulawargane anangis, nuhunaken pangapura, nuhunaken gesang malih.

– 10 –

Ngasih-asih aturipun, dhumateng Mundhingkawati, supados mangke gesanga, tan wande angabdi, sacecepenganing Paracutan, katura ing Mundhingkawati.

– 11 –

Tilar Atmajayanipun, sujud ing sampeyan gusti, rama dalem Anggalarang, Talaga dipune ngabdi, kahula datan langgana, ginawe abang putih.

– 12 –

Dhateng Pakuwan pra kuwu, ing ngarsa sampeyan gusti, Mundhingkawati ngandika, ora rep yen isun iki, den bekteni ingkang kaya, Jayalengka wong mementhil.

– 13 –

Kadedo ra dadi ratu, babaktine Paracutan, Paracutan wong luwih ala, calak-calik ing agusti, endi ingkang gadhang menang, ya iku den aku gusti.

– 14 –

Sanadyana maring isun, ya pon mangkono maning, yen katekan musuh sesa, cakelane den go bakti, kanggepa ing ratu anyar, si monyet si tai anjing.

– 15 –

Tan pantes dadi Tumenggung, pantes dadi wedhi bumi, saturune mapan ora, kena den pambri papati, patut kanggo gawa salang, pikulan buburu dhuwit.

– 16 –

Sira wus age mampus, aja supe kene nangis, Paracutan endha modar, enggo apa den uripi, wong ora lana ngawula, pangidhepe nengah minggir.

– 17 –

Nagara seja sun japut, arep sun cekel pribadi, sun rebut sing Atmajaya, aweh ora weh ing mangkin, sun prawasa lan dumadak, ila ing badhami becik.

– 18 –

Ya sun anggep bala ratu, ika Atmajaya lengking, yen wangkal iya sun kebat, sun tumpur kahananeki, anak putune sun buwang, sun uprak ing bumi ngriki.

– 19 –

Ya ta Baronjot Tumenggung, kawirangan padha nisi, kawarnaa Jayalengka, wus wruh yen Tumenggung mati, den samber dening Gelap, Nyawange Mundhingkawati.

– 20 –

Jayalengkara agupuh, adir-adir sakti luwih, kalih sadherek kang nama, Sukmaantalirasa sakti, amapag sireng payudan, Rahaden Mundhingkawati.

– 21 –

Sukmaantalirasa sampun, ambabar ing baris geni, malabar adadya wangwa, adan sang Mundhingkawati, narajang baris dahana, mepes dadi awu nuli.

– 22 –

Medal tanpa sangkan banyu, mumbule lir gunung warih nrajang ing Antalirasa, kentir kagawa ing warih, ya wis larut tan katingal, kentir kagawa ing warih.

– 23 –

Ambles maring dhasaringpun, sangyang Talaga alalis, dan Prabu Jayanglengkara, medalaken wira sakti, bulus putih angambara, nuruni racun garigis.

– 24 –

Mundhingkawati rahayu, tan pakara kang garigis, bulus putih dipun japa, kajulina tibeng siti, gramang-gramang iku dadya, silem ing talaga yoni.

– 25 –

Tandange Jayalengkara, angembat sanjata angin, Sangyanf Aliwawar ngena, nampek ing Mundhingkawati, lisus angeder lir ngreba, akening Sangyang Ukir.

– 26 –

Parandene kang tinuju, wangkeng kadi pacek wesi, kawur maning yen iyaa, gumingsir salagi beli, Mundhingkawati amuja, banyu cikeruh ngulati.

– 27 –

Panumbule kadi gunung, narajang ming Jayalengking, kapisanan kalembak, sumilem amblese maring, Sangyang Talaga ika, wus merad alalu lalis.

PUPUH XL
ASMARANDANA

– 01 –

Duk iku Mundhingkawati, tulus jayane angrebat, pusaka saking ramane, menak pra kuwu Pakuwan, sadaya sami nembah, ing Mundhingkawati ngulun, idhepe ing Pajajaran.

– 02 –

Apa kaya wingi uning, Mundhingkawati samana, wus den angkat pangratune, dening luluhure ingkang, nami Ciyungwanara, sumulur ing ramanipun, katelah nalendra anyar.

– 03 –

sang Prabu Mundhingkawati, anata ing Pajajaran, jaksane lan papatihe, wong pinter anginger bala, ingkang kasebat nama, Ki Patih Gurugul iku, kawal ratu Pajajaran.

– 04 –

Tumenggung kang anami, Ki Tumenggung Padhamenak, kang nguningani pagawe, wong cilik sabarang karya, angrapu-rapu bagja, anulak cilaka isun, kang buawana Pajajara.

– 05 –

Demang Sedhapura, ingkang ngreh pradata sakabeh, pamagutaning wicara, putus ing kademangan, pinangka pajakanipun sang ratu ing Pajajaran.

– 06 –

Ngabehine kang anami, Kawungluwuk ingkang nama, ngagem pajagan sakabeh, sakalir ring pamatrolan, ngabehi kang uninga, wau ingkang manjing metu, ing buwana Pajajaran.

– 07 –

Awindon ataker warsi, Mundhingkawati angraja, garwa domas ing kathahe, Prameswarine kang nama, Dewi Trusgandarasa, kang asal kaputrenipun, Sunan Tegal kahiyangan.

– 08 –

Duk samono Gulbopati, kang wus lenggah binagawan, iku Susunan Sambate, lan Sunan Jumajeng, lan Sunan Tegalkayangan, lan Sunan Telagamunggung, lan Sunan Ranggalimbangan.

– 09 –

Duga ing sawuri-wuri, anak putu Pajajaran, kang amba gawan linggihe, iya kasebut Susunan, lan kaya ika benjang, Susunan ing Tatanpolawung, lan Susunan Raja Malaka.

– 10 –

Lan Susunan Wanaperi, lan Susunan Pandhajawa, lan Susunan Ranggalawe, lan Susunan Ciburu ika, lan Susunan Kidul ika, kalawan Susunan Parung, kabeh tedhak Pajajaran.

– 11 –

Suhunan Jati apa maning, pon ya tedhak Pajajaran, saking luluhur ibune, tatapi duk samana, sakabeh durung ana, masih nyatur kang luluhur, kang ana ing Pajajaran.

– 12 –

Sang Prabu Mundhingkawti, karemene ambedhag sangsam, ing alas arame-rame, kulawarga santana, paburu asadhiya, sakti-sinatenan iku, yen buru kidang manjangan.

– 13 –

Pating careluk sukati, surake ambal-ambalan, sok rena sagedhene, kang pareng olih bayangan, pirang-pirang manjangan, idang pirang-pirang atis, wadya bala katutugan.

– 14 –

Kang den bakar dentengi, babat kang den pangan mantah, kang dipun ayem atine, ora nan kakurangan, gaganting anarambah, kang dhinendheng dipun gulung, wus loba pana dhacinan.

– 15 –

Kang den bacem den petheni, pirang-pirang kang tampayang, bakasem daging sakabeh, lir ta kang mangan anyaran, den gecok den rerempah, den sasate den pepenthul, ana den brangas kewala.

– 16 –

Masih abang jare manis, wus warna-warna asuka, sukane manah agawe, olah-olahaning mangan, dupi lawasing lawas, genya kasengsem aburu, singga alas den oyak.

– 17 –

Ya ta dadi anarengi, manjangan asantana, kumanjangan daden-daden, turunaning Linggaiyang, duk rasmi lan manjangan, iku wus aduwe turun, kang katelahe ing nama.

– 18 –

Manjangan gumulung sakti, lan manjangan wulung upas, ing galunggung kahanane, tanopen kidang ancaran, lan kidang panawungan, ya iku kang estu turun, Linggaiyang kang sasmata.

– 19 –

Manjangan gumulung yakti, iku ramaning manjangan, gumaringsing ing ulese, mangka nata uga ika, sang kidang panawungan, iya iku ramanipun, sang kidang pananjung ing Sundha.

– 20 –

Dangune den osak-asik, kang bangsa kidang sambawa, manjangan pon sambawane, dadi ika ratunira, tan sakeca ing nala, sumeja sira tutulung, maring kula balanira.

– 21 –

Manjangan gumulung sami, kalih sang kidang panawungan, seja angayoni gawe, gelar panyelang susila, maring Mundhing Bathara, sampun wangun gelar pamuk, sakarang ngamuk ing alas.

– 22 –

Paburu akeh kang mati, gegere wong Pajajaran, samya kapalayu kabeh, dening ika ing ngamukan, ing kidang lan manjangan, dening tantetesing punglu, gagaman maning yen mempana.

– 23 –

Sedhengane ika bedhil, mariyem datan tumama, pelore kaduga gepeng, wus kadi lempung kewala, ing awaking manjangan, gawoke nembe anemu, iku ta manjangan apa.

– 24 –

Patutu iku dhedhemit, inton-inton panawungan, kidang jurig alas moreg, galunggung betan siluman, ngamuk amarawasa, anglingkab koncaning ratu, dening teka kabeneran.

PUPUH XLI
M I J I L

– 01 –

Ki Ngabehi Kuwungluwuk ngandhepi, manjangan den coco, lawan keris atugel kerise, Kuwungluwuk den undha wanti, den tuju tumuli, kapental lir punglu.

– 02 –

Demang Padhamatang ngandhepi, kidang den cekel soso, iya kuwel gulung rame lagane, ingkang kidang dipun timbisi, lawan gada wesi, prandene tan pupul.

– 03 –

Gada tikel Ki Demang den undhi, muluk kadya pelor, ora kruwan Ki Demang tibane, Ki Tumenggung Padhamenak sri angandhepi maring, kidang sangsam wau.

– 04 –

Sigra tortoran pijig-pinijig, aprang popon-popon, pan binalangaken kidanga, tan kahur parek den wingkis-wingkis, kidang ika uwis, kapental ing ngasruh.

– 05 –

Ora kaya manjangan kang sakti, nujahipun solot, Ki Tumenggung ing kabelasate, ora kruwan tibane malih, adan sang apatih, Yang Gurugulkiwul.

– 06 –

Enggal tandang manjangan den kempit, sinerat dhumongkol, sadyanira sinembeleh age, ora kaya seking tan sipi, ya datan miyatani, ing gagamanipun.

– 07 –

Gulunipun manjangan tan kanin, sigra kang manjangan nyokni, ing Ki Patih ya karasa seget, dadya sira ucul sing astaneki, ambaluki Pati, kabyesat adhawu.

– 08 –

Tangi ngudhag dipun tujah maning, kapyesan tan adoh, tangi ngudhag den papagane, dipun udha den walik-walik, duga pasukadi, tatali aliyur.

– 09 –

Murud tinandhu sang kyai patih, wus tan ana miyos, wong Pakuwan padha geris kabeh, ingkang kaparag sami, geger pating careluk.

– 10 –

Dupi kidang manjangan anuntik, maning jeng sang katong. Mundhingkawati sabandhu wargane, garwa kula bala ngili, pala dara nisih, ngalor ngetan metu.

– 11 –

Saking kutha Pajajaran mijil, gamarudug gatos, samya bubar saupacarane, gunung Trogong kang den purugi, munggu kadikuling, Tegaluwar ayu.

– 12 –

Ya sejane go umpetan aningid, ing gon ya ing kono, pandhe siluman ya iku genahe, mulane dipun wastani, Tarogong kang nami, ya pangonan alimun.

– 13 –

Paparabe kang kuna angapti, gunung Kuwendenlok, iku gunung Antragangsa rane, iya iku namaning kang ngukir, kang seja den ungsi, ya dening sang prabu.

– 14 –

Sagrawane saselire ngiring, kumaritig mrono, mung kang kari saelir-elire, duk samana iku sang dewi prameswari aji, trus kandha duk iku.

– 15 –

Dhuweg bobot wawahu sangang sasi, ngenthe-enthe loyon, meteng tuwa suwe lakune, duk lalaku pan ambeneri, bumi Tegalsili, kang gandane arum.

– 16 –

Ya ing kono pareng kaget kanyedig, dening kidang langgon, lan manjangan gumalunggung pri kaget, dupi Prabu Mundhingkawati, bubarira kadi kapusus ing musuh.

– 17 –

Tan emut garwa Kaluwargi, ting barisiting wong, rebut urip sewang-sewangane, ya kang meteng brojol mijil, ing tegalsili, ingkang gandane arum.

– 18 –

Tan karasa jabang bayi mijil, bawaning ambesot, pan kaburu karo laki lempate, wus anyandhing ingiring aning ukir, Antragangsa nenggih, den jaluki tulung.

– 19 –

Prabu Mundhingkawati ambelik, he gunung Tarogong, tulungana isun sakabehe, lagi kawalesan den baledig, dening kidang sakti, lan manjangan racun.

– 20 –

Ya ing wau kidang sun baledig, pirang-oirang buron, dupi iki isun kang kaseseg, ing manjangan dadi amuki, mantrinisun sami, tan kawagang nempuh.

– 21 –

Balanisun akeh padha mati, katujah kacokot, wong Pakuwan samya abubar kabeh, mrene iki jawane angili, age den agelis, tulungana isun.

– 22 –

Sinambadan pareng samana ukir, Yang Gunung Tarogong, belamiyan katingal ing jrone, kaya jagat ing weteng ingukir, dan Mundhingkawati, sabronjote mangsup.

– 23 –

Maring jagat ingkang ing sajroning ukir, wus mangsup sakabeh, ya dadi ingkang enakane, wusing manjing ing sakulawargi, gunung Tangkep maning, apa kaya mau.

– 24 –

Pan sarupa merad Mundhingkawati, ing gunung Tarogong, ora metu-metu salawase, ya ta kidang manjangan dadi.

– 25 –

Ya ta Dewi Trusgandarasa adi, kaget dhateng kempong, tembe emut ing wewetangane, yen wewedhe tan karsa amilih, bawaning alali, duk wau lumayu.

– 26 –

Prameswari alara anangis, baya anaking wong, ana ngendi baya ing tibane, sapa bisa manggihena gusti, si jabang bayi mami, kang marojol kantun.

– 27 –

Prabu Mundhingkawati lingnya ris, ing garwa ja dados, dukaciptanira prakarane, anak kita kang marojol kari, tangtu anyuluri, ing tilas kita mau.

PUPUH XLII
M E G A T R U H

– 01 –

Pan sigegen kang sarupa lalisipun, warnane sang jabang bayi, kang neng Tegal Silih harum, pepeleme den dilati, dening embok macan wadon.

– 02 –

Wus karesi si jabang kaya ingedus, den cokot kang ari-ari, sampun punthes kaya puput, kaya kucing amberseni, maring anake mangkono.

– 03 –

Karojotan si jabang lagi ing riku, macan kesah ngunguliti, nuli ana wong aruru, akyu aran kahiborit, ningali jabang ing kono.

– 04 –

Pan binakta si jabang den agupuh, pramila dipun wastani, Siliwangi namanipun, krana asale kapanggih, ing alas rum kuno.

– 05 –

Tegalsili tampanganing alas gunung, jabang sili rum dan urip, urip ing wong ngambil kayu, kocap anak kahi Borit, salirum warna jalitro.

– 06 –

Wantu-wantu dadi anak tukang kayu, badan ora bresih-bresih, kalalare ladheg buruk, ora na praja-pajaning, taliti putra sang katong.

– 07 –

Ya wus apa dudune bocah ngon gunung, carobong ngenek-ngeneki, ora ilok adus-adus, ing maletenge agething, rambut kethel ingakotor.

– 08 –

Tan kawarna lampahe budhak salirum, kawarnaa kidang lemping, sasirnane ya sang prabu, dadi ika ngosak-asik, anang Pajajaran nyewot.

– 09 –

Maring menak pra kuwu padha alarut, amalayu den baledig, geris tan ana atunggu, ing praja den tinggal bresih, golendhang kariya kosong.

– 10 –

Kaisenan kidang manjangan akumpul, garadang-gridik awan bengi, angkohe anjabel dhatu, dheweke ingkang ratoni, ing kono mulane manggon.

– 11 –

Gawoking wong menak pra kuwu, genya kasanglat saking, wedi mareg bok den amuk, padha geris samya nisih, ing parna ing adoh-adoh.

– 12 –

Kidang Panawungan lan Manjangan Gumalunggung, lunta puas-puas ati, ngamuk ngulon ika mampuh, Pakuwan Prayangan goning, Ciyungwanara dipun brobok.

– 13 –

Geger gemetus menak Prayangan alarut, padha ngili nyingid tebih, maring guwa maring gunung, tan ana bisa ngundhili, pan sami abubar adoh.

– 14 –

Prabu Ciyungwanara ngili lumayu, ing Simpar patapaning, Ajar Ujung Banaliwung, asingidan denimponi, dening Ki Ajar ing kono.

– 15 –

Wus angarti anak putu padha larut, sowang-sowangan lumari, rebut urip laku rusuh, ibur uwis ora mikir, maring laku raton-raton.

– 16 –

Ya wis pating barisat tan mikir lungguh, nagara wus …………. gandring, kalingdih ing kidang bungur, …………. kaisen dening, kidang menjangan ton-inton.

– 17 –

Ika padha angkohe anglindih ratu, malesa poli den buroni, Mundhingkawati duk mau, amburu manjangan dari, saiki gagantos buron.

– 18 –

Ya sang Kidang Panawungan sabala ngratu, ing Pakuwan kulon nenggih, Prayangan kang dipun gelung, malah wus putra anami, Kidang Pananjung gadhang wong.

– 19 –

Dupi sangsam gumlunggung sabalanipun, angrat sakukubaning, Pajajaran kuwu, Pakuwan brang wetan nenggih, kang den wingkis kang den enggo.

– 20 –

Pajajaran kilen wetan wus den aku, ing Kidang Sampati, kulon sang Kidang Panawung, wetan Manjangan Kumliking, manjangan ya la wus miyos.

– 21 –

Putra Manjangan Gumaringsing namanipun, ya iku kang gadhang jalmi, pramila ing waktu iku, kidang manjangan kadhasir, sarasmi kalawan wong.

– 22 –

Sabab asal-usul Inggaiyang wau, Kidang Panawungan sami, akir dalanjal malulut, yen manjangan iku dening, sing Galunggung dhemen ing wong.

– 23 –

Lan yen monyet Cogowang iya ikut, ilok dhemen maring jalmi, sabab asal-usulipun, sing Lutungkasarung dhingin, margane kadi mangkono.

– 24 –

Waktu iku Pajajaran kaslangipun, ing ratu sato sambawi, ya sijar salaminipun, Silirum sing maksih alit, maksih dadi budhak kangon.

– 25 –

Ala walatra bocah anerus tunjung, lami-lami ika nuli, ana kawenganing pulung, putra menak Sindhangkasih, nyi Rara Sigir pan jatos.

– 26 –

Masakaken ing budhak si Silirum, ingimponi den karseni, denedusi timbul pulung, ya si wantu tedhakaning, andana wirya gung katon.

– 27 –

Gilang-gilang marenenge tejanepun, komarane anelehi, mangga ngucapa sang ayu, Rara Sigir genya ngapti, aja na liyaning jodho.

– 28 –

Dadya Jaka Silirum ing jidhonisun, mungga kadulura dening, panadyane atinisun, mangkana ing duk pamikir, sawiji kalawan jodho.

PUPUH XLIII
D U R M A

– 01 –

Waktu iku nuli ana ing bancana, wau cicipaning, dalem Palimanan, karsa angiwat-iwat, Sigir Panjaling ingkang den prih, adan sakala, iku nyamber sang putri.

– 02 –

Putri Sigir sinamber tan kena inadha, enggal dipun tulungi, dening Siliganda, kalampah sira pancas, buto roro den kembari, kinarya sepak, padha buta kagulinting.

– 03 –

Malah katon ing wong Sindhangkasih sadaya, Silirum asakti, anyana punika, dudu bandra-bandrakan, duga buta kalih neki, larut asirna, wau den sanjatani.

– 04 –

Dadi mundahak katarimahe ing kana, dening wong Sindhangkasih, pareng lawas-lawas, Siliwangi teka karsa, ing manjangan seja wani, pinenging aja, dening si Rara Sigir.

– 05 –

Aja sira ngulati gawe angangkah, isun melang ing ati, bok ora kawagang, sunrungu ika sangsam, kaliwat ing saktineki, kaduga ngebat, aken Mundhingkawati.

– 06 –

Jaka Salirum wangsulane ika, ingkang sun ajab lalis, angrebat nagara, babaguse wong lanang, angulati apa maning, punika sawarga, ginawe ayu mangkin.

– 07 –

Adan mangkat Silirum anggawa panah, tan arsi dipun iring, kali wayangan, sudira ngundi lawan, panantang baya ngenani, sampun anjujag, pra kuwu kang den ancik.

– 08 –

Dyan Manjangan Gumulung wus dadya mulat, iku hebating jalmi, adan lan gagadhang, Silirum dipun tujah, tinujah kaliwat kadi, nuju wawayangan, tan dangu den walesi.

– 09 –

Ya Manjangan Gumalunggung sinabet lan panah, bugel sangsam ngemasi, adan putranira, ika ingkang nama, ya Manjangan Gumaringsing, bela ing bala, narajang bela pati.

– 10 –

Den papagaken layan sanjata wisesa, Manjangan Gumaringsing, wus kakenan panah, malesate kagawa, dupi tiba dadi jalmi, gupuh anembah, dhumateng Siliwangi.

– 11 –

Apoliye iku menak pra kuwu ika, maring daleme malih, sagenah sayasa nipun kang mula-mula, lamine sawelas warsi, kosonging praja, tembe saiki pulih.

– 12 –

Duka yuswaning sawelas warsa, Siliganda wus bisa ngrebut puri, lan ika manjangan, Gumaringsing kumawula, ingapura den wenehi, cacangkok pisan ing Galunggung pan nagari.

– 13 –

Jaka Siliganda angulon ika, jujug prayangan ngancik, Kidang Panawangsa, duk ningali kolebat, ing jalmi amburu aglis, ing Siliganda, adan pinapag aglis.

– 14 –

Dipun sabet lan panah tugel sang kidang, Panawangsa ngemasi, adan ingkang putra, seja bela ing rama, Kidang Panjing prepeki, maring sang Ganda, kidang den panah aglis.

– 15 –

Amalesat Kidang Pananjung atiba, sira dadi jalmi, tumuli anembah, dhumateng Siligandha, la iku purwaning dadi, menak prayangan, bisa balik mulih.

– 16 –

Ing enggone alinggih lagi duk kuna, sawelas tahun angili, saiki dumadak, bisa pulih waluya, karebut ing Jaka Sili, riku kang kidang, Pananjung ika aksami.

– 17 –

Den apura pan sinung cacangkok sisan, ing Panawungan perni, wus apulih karta, ing rat Pajajaran, Siliwangi kang ngimponi, ing Pajajaran, kang gadhang nyakrawati.

– 18 –

Baudendha wekasanira nalendra, datan antara nuli, Prabu Ciyungwanara, mantuk ing Ujungbana, maring Pajajaran malih, asuka rena dening ananulungi.

– 19 –

Kujajaka prawira nom sing dibaya, dening kaliwat sakti, arebat wipala, subagjane sun puja, dadiya susuluraning, sri Pajajaran ingkang bagawani.

– 20 –

Ya tan dangu Parwatali talibarat, gela nyawang pra sami, tedhak atur wara, peciling Mundhingkawati, babaring Tegal ara-ara Siliwangi.

– 21 –

Duk kapeleter dening Kidang Manjangan, diweg mateng kang bibit, mesat dugi babar, jabang tiba katilar, ing tegal siliwangi, dupi kang yayah, rena manjing ukir.

– 22 –

Ya sarupa lalis tilar si jabang ika, sima ingkang dilati, pareng macan linggar, jabang dipun gemes sang dening rencek kyai Borih, inggih punika delap dumadi sakti.

– 23 –

Ciyungwanara ngandika mangsa bodhoa, kinongang nundhung weri, dadine danyata, kaprabon duwe nira, ora nyelang ora nyiling, sasmata angrebat, ing pusaka pribadi.

– 24 –

Sira sanyata gintung-gingtung manira, si gintung saiki, sun istreni sira, dadya angreh Pakuwan, Prayangan pra kuwu uwis, karone tunggal, sira ingkang ngimponi.

– 25 –

Alungguhan nyakrawati Pajajaran, ingkang muji jati, ing salungguhira, tirimaa sira, dening Yang Acintamanik, ratu sajagat buwana kabeh iki.

PUPUH XLIV
LADRANG

– 01 –

Sinahuran geger peter ketug muni genya ngangkat, karajaan Siliwangi, ratu araga sukma akadang sukma.

– 02 –

Bala dewata jawata amayungi wus kaloka, kajana priya ing luwi, ora ana kaya ratu Pajajaran.

– 03 –

Sugih sanak sugih putra sugih rabi dadya merna. ngiseni Sundha nagari, kang anyar-anyar katondha saking kana.

– 04 –

Lan koncara liwat luwihing prajurit, ora ana musuhe ing buwana iki, kina wenang iku ing sakarsanira.

– 05 –

Menak pangrengku kang nama awarni-warni, Gajah Muntang, Gajah Barong Gajah tandhing, Gajah Manggala muwah Gajah Siluman.

– 06 –

Gajah Enggang Gajah Puntang Gajah Rucik, warna-warna, Katumenggungan malih, Kalangwirana Kalangbadhag Kalangbrama.

– 07 –

Kalangluhur kalawan Ki Kalangeling, Kalanglunana, Kalangtonggo Kalangsari, Kalangangkes Kalangsiyu Kalangrejang.

– 08 –

Kademangane kumerab awarni-warni, kebek ing rat, Jalana kang ngabehine, mantri gedhe mantri cilik wis anjagat.

– 09 –

Pan mangkana wadon abrakothi, kocap ingkang, ing Pakuwan nyakrawati, sugih wadon miwah sugih putra wayah.

– 10 –

Wis awindon takeran tahun amukti awibawa, tan ana durga nyantoli, pan gumelar putra wayah ya anjagat.

– 11 –

Malah istri kang purwa anggumateni timur mula, ingkang wau Sindhangkasih, dadi tulus jodhone lawan sang nata.

– 12 –

Katelah nyai Embok Agung amutrani ingkang nama, ajalera den Sangkeki, putra dalem ana ing rat Pajajaran.

– 13 –

Dupi garwa ingkang nama Panawangi apuputra, jaler ingkang apranami, Mundhingdalem paparabe putra nata.

– 14 –

Nulya iku akrama ya maring putri Tejasuka, nami Putri Pamratsari, nuli puputra kang Susunan Pandhajaya.

– 15 –

Pandhajaya iku wus mutrani maning ingkang nama, ing putra saiki negari, jaler ingkang naminipun Raden Umbang.

– 16 –

Dupi putra Nubdhingdalem sanes bibit iku lanang, Prabu Kangkangirang nenngih, nama Prabu sabupati lungguhira.

– 17 –

Duk samono akeh putra ingkang den prih lawan nana, prabu ana ing bupati, cacangkoke bupati pan dudu nata.

– 18 –

Prabu Kangkangirang ika mutrani ingkang nama, Linggaiyang anem suri, Linggaiyang puputra Sangiyang Arjuna.

– 19 –

Sangiyang Arjuna baya gung asisiwi ingkang nama, Linggalawang ing Cipamali, rang-arang acucuk prang ngamuka.

– 20 –

Dupi garwa Siliwangi ingkang nami mraja cinta, iya iku amutrani, Sangiyang Madhangrasa Medhangkamamangga.

– 21 –

Ana dene garwa Prabu Siliwangi ingkang nama, Maharaja Larang kang nitis, Kidang Pananjung ingkang saking Ratulawang.

– 22 –

Tyas iku ingkang ngawiyosi siwi ingkang nama, Siliwangi ingkang nama, Ratu Widayaka sakti, Ratu Widayaka anuli sira puputra.

– 23 –

Prabu Resik ing Rajapolah kang puri dupi garwa, Siliwangi ingkang nami, Saselawangi apuputra Sangiyang Tular.

– 24 –

Kang alinggih aneng Panembong ing puri, dupi garwa, Prabu Siliwangi maning, ingkang nama Ratna Yumanik gumilang.

– 25 –

Apuputra Yang Jampana alinggih aku ana, ing Ratulawang kang puri, ana denegarwa Prabu Siliganda.

– 26 –

Ingkang nama Dewi Pergilayaransari mulya putra, Sangiyang Wiragasakti, Yang Wiraga puputra sang Ratu Puntang.

– 27 –

Ingkang tapa aneng ing pucuking ukir made sukma, sangkane jujuluk nami, iya iku Sangiyang Bathara Larang.

– 28 –

Ratu Puntang puputra titiga nami, Pernalarang ing Raturuyuk kang puri, kapindhone Anggalarang Anem lenggah.

– 29 –

Kang adalem ya ana ing Ratuwangi, kaping tiga, sang Prabu Jayapakuwan, ing Jumajang ingkang puri, Prabu Jayapakuwan iku puputra.

– 30 –

Prabu Sendangpugeran iku kang alinggih, aneng arga Gunung Munara kang puri, angadheni Ratu Mas tuwa nini moyang.

– 31 –

Kang alingghih Kamiwelas dining puri, Yang Mas tuwa, apuputra Kidang Pati, Ukur sepuh aneng kadhipatenira.

– 32 –

Dupi Prabu Sendhangpugeran mutrani, ingkang nama, Prabu Sendhanglimun sakti, kang adalem ya aneng Sagara Erang.

– 33 –

Sendhanglimun kunuli mutrani, Prabu Sela, ing Ngabdu ing alinggih, ya ana ing timun putih puranira.

– 34 –

Sendhang Ngabdu ika apuputra malih, kang nama, Prabu Sendhang Gunung nami, kang adalem ing Gunung Gedhe kang pura.

– 35 –

Sendhang Gunung iku amutrani maning, kang anama Prabu Sendhang Jayasakti, ingkang dalem ana ing Tetegal.

– 36 –

Sendhang Kajayan nuli ika amutrani, ingkang nama, Prabu Wasipernasakti, kang adalem ing Rajapolah.

– 37 –

Prabu Wesi pareng ika amutrani, Kandhuruwan tuwilimun kang alinggih aneng Gunung Ciaya ing enggonira.

– 38 –

Kandhuruwan ika mau amutrani, sanga jalma. Mundhing Bthara kang linggih, adalem aneng Pamijahan Karang.

– 39 –

Ki Santohan Kadirun kang anjeneki desa aran, Eran-eran Ngewre nami, pernaira tapis wiring Pajajaran.

PUPUH XLV
P U C U N G

– 01 –

Lurah Bangsa punika ingkang alungguh, ana ing Pagagan, Patrabangsa lan maninge, ingkang linggih Luwimundhing dalemira.

– 02 –

Pancase la ing Palered dalemipun, santohan punika, ing Panguragan genahe, Wirakusuma ing Ciasem ingkang pernah.

– 03 –

Arya Wirantanu ing Cibalagung, Ki Wargakosala, ing Pamanukan genahe, sanga iku putrane Ki Kandhuruhan.

– 04 –

Dupi garwa Siliwangi kang wulangun, ki Wargakosala, ing Panunukan genahe, sanga iku putrane Ki Kandhuruhan.

– 05 –

Ingkang ana Sundhalarang dalemipun, Sijine kang nama, timansapura jenenge, ingkang dalem ana ing timbangan ika.

– 06 –

Wondane wau Yang Wiroga ausunu, nama ratu Demang, Bathara Sakti jenenge, nulya puputra Sangiyang Sempokwaja.

– 07 –

Sempokwaja kang agarwa putrinipun, Panji Rababuwana, amiyosi kaputrane, kang kaksih jeng Batharadinata.

– 08 –

Dupi garwa Siliwangi kang wulangun, Buniwati raras, amiyosaken putrane, jenenge Ratu Pramana punika.

– 09 –

Nulya gagarwa [iutri saking raja Galuh, sri Praman ika, anuli miyos putrane, nama Suhunan Jaratna ing Cipinaha.

– 10 –

Garwa Ratu Pramana kang nemla ika, putraning Susunan, Medalagung ingkang miyos, putra nama Susunan Raja Malaka.

– 11 –

Tyas iku dadalem ing Cangkuang pernahipun, kaloka ing rat, Dipati Cangkuang mangke, ingkang rayi istri iku namanira.

– 12 –

Kang dadalem ing Cangkuang pernahipun, kaloka ing rat, Dhipati Cangkuang mangke, ingkang rayi istri iku namanira.

– 13 –

Ratu Kawunganten rama dewa iku besuk, ingkang dados garwa, kang Susunan Jati ing Carbon, mangka Dhiputi Cangkuang iku puputra.

– 14 –

Ratu Pananten rama dewa jenengipun, jujuluking nama, kang Susunan Ranggalawe, kang dadalem ing Timbangaten nagara.

– 15 –

Dupi garwa Siliwangi kang pulangun, Rumsari ganda, iku amiyos putrane, Sangiyang Ageng kang alinggih Setularang.

– 16 –

Nulya Yang Ageng nuli amiyosi sunu, nama Sangyang Mayak, aneng Cilutung genahe, Yang Mayak puputra dalem Narasinga.

– 17 –

Ing kajaksan ing Carbon iya iku, tumuli apindha, maring Kanci dadalem, nuli puputra dalem Nayagati ing Sundha.

– 18 –

Kang dadalem ing Ngendher ingkang jujuluk, ki Dhipati Cangal, dupi kang katelah ing ngendher, Dupi garwa Siliwangi kang anama.

– 19 –

Rara Siluman miyosi putra pipitu, abangsa lelembut, ki Sangulara namane, iya iku kang limunan ing Tunjungbang.

– 20 –

Ki Dhiriwengi ing Ragan manggene lungguh, ki Kuyupuk ingkang, ing Guwa Upas dhemite, ki Kamalarang ing Ngonom genya ngimba.

– 21 –

Ki Mayadewata ing Malakbok genya lungguh, ki Daluwengi ingkang, ing Guwa Sancang limute, iki lewi aneng Guwa Pajajaran.

– 22 –

Dupi garwa Siliwangi kang wulangun, Sri Intenbancana, iku miyosi putrane, pan titiga sawijine ingkang nama.

– 23 –

Mundhingsari kapindho Yang Sumur Agung, ping telu kang nama, sangyang Wirun paparabe, mau Sumur Agung nuli puputra.

– 24 –

Sangiyang Widaya anenggih ing namanipun, kang neng Sawunggantang, dupi Yang Wirun kang miyos, putra ingkang paparab Ratu Rawana.

– 25 –

Ratu Rawana iku nuli susunu, pra buwana bala, ki Wanabaya linggihe, Prabu Wanabaya nulya puputra.

– 26 –

Ingkang nama Sangiyang Ngabehi cucuk, ingkang sakapika, lan Linggawayang marmane, Linggawayang putrane Sangiyang Arjuna.

– 27 –

Duk wau Linggawayang turun-tumurun, puputra Sri Wayang, ing Citaman dadaleme, nuli Sri Wayang Nuli puputra.

– 28 –

Linggasri aneng Pangkalan tumuwu, nuli apuputra, Sangiyang Sogol ing Maleber, nuli puputra Raden Senapati Ngalaga.

– 29 –

Lan Sangyang Panengah ingkang muwah adhinipun, ingkang apranama, Yang Lebakwangi jenenge, dupi garwa Siliwangi kang anama.

– 30 –

Pandalarang ika amiyosi sunu, lilima satriya, Yang Sumur Bandhung linggihe, Sangyang topasri lan Sangyang Babak panyarang.

– 31 –

Lan Sangyang Cimara kalih Sangyang Ciagus, sakalih maneh ika, nama Raden Tetel kabeh, Raden Tetel kang sepuh nuli puputra.

– 32 –

Raden Memenang ingkang mangke tuwuh, ing Tegal Koripan, jenek ing salami-lamine, dupi garwa Lisiwangi kang anama.

– 33 –

Katurunan ing sih ingkang miyos putranipun, jalu ingkang nama, Yang Guntebuyeng jenenge, nuli puputra Prabu Layapakuwan.

– 34 –

Prabu Layapakuwan anuli susunu, Prabu Rangsangjiwa, Rangsangjiwa nuli miyos, putra lanang sang Dhipati Kartamana.

– 35 –

Kartamana lilima ing putrinipun, iku Gedhengrungkang, Tumenggung Suradarmane, Tumenggung Sedhangrungkang lan Tumenggung Cikakak.

– 36 –

Kalih Ki Kartamnggala iya iku, dupi Ki Gedhengrungka, apuputra ing name, Dhipati Manggala nuli puputra.

– 37 –

Ingkang nama kiyai Kabul puniku, Kabul putra papat, Ki Nataraga wastane, Wangsacandra Wangsanata Wangsaprana.

– 38 –

Wangdaprana apuputra Ajengawu, lan Ajengarjuna, iya tirik iya lerek, Bagus ardi Tumenggung warga dinata.

– 39 –

Kabeh iku tedhak Sundha gung-ginunggung, saking Pajajaran, kang mernah pencar-pencare, kang anjagat sawengkening Pakuwan.

PUPUH XLVI
S I N O M

– 01 –

Ki Tumenggung Suradarma, iku apuputra nyai, Emas Batulawang ika, kang aneng ardi, dupi Tumenggung Sedhangrunggi, nulya Cirawati nama, anulya puputra nami, Kyai Emas Anggawijaya puniku.

– 02 –

Dupi garwa Siliganda, Mayangkaruna kang anami puputra Guru Gantangan, kang jujuluk kang Ranggamantri, lawan Puswawangi, lan Raja Parana iku, anulya nuli puputra, Prabu ing Pakuwan adhi, lan Susunan Wanaperi ing Talaga.

– 03 –

Wanaperi apuputra, Sunan Parung ingkang nami, dupi Yang Linggapakuwan, jujuluk Maraja tunggilipun, nuli puputra punika, Mundhingjaya ing Mandhal alinggih, nuli ika sang Pandhahan.

– 04 –

Akrama aputranira, Lembualas nulya mutrani, Ki Dhipati Ukur tuwa, nuli putra papat nami, Ukur Ngoradhipati, kalawan Santohan iku, lan santohan Urureng, lan Raden Sobanumitadi, ingkang gagarwa iku maring puranira.

– 05 –

Ki Dipati Kungkang ika, nyi Gedhengkulan ika, nyi Gedhengkulan kang nami, nuli putra nyimas Kirana, lan ki Wansadhipa iki, Wangsadhipa mutrani, lilima kathahe iku, Raden Tandang kang nama, Raden Togog namaneki, Raden Danupati ing namanira.

– 06 –

Muwah Raden Wangsareja, lan Wangsadireja nami, mangkana santohan pelang, miyos puputra kakalih, Demang Gedhe puputra, tetelu ingkang anami, Raden Wirareja lan kimas Wargadipa.

– 07 –

Klawan Raden Wargayuda, nuli Raden Gedhe nami, miyos putrane sakawan, Mas boncel Mas Kariya nami, lan kang nama Raden Kacang iki, Raden Rinahon iya iku, kabeh terah Pajajaran, dupi putra Siliwangi, ingkang miyos saking ampiyan punika.

– 08 –

Kang nama Sang Deyasa, Raden Srigadhing murtrani, Sangyang Surakerta, ya iku bojakertadi, kang sawijine maning, putra ing ampiyaniku, nama sang Raja Wiwara, ing Majalakang dalemneki, kang sawijine kumaning Siliwangi putranira.

– 09 –

Nama Sunan Tambaliyang, putra istri kang anami, Ratu Gumilang akrama, putra Santohan iki, ing Gunung Licin linggih, amiyosi putra ninipun, kanjeng Susunan Madya, ing Taraju kang negari, kang sawijine maning kaputra.

– 10 –

Siliwangi ingkang medal, saking arum ganda Wayangsari, ika paparabing putra, kang Suhunan Ciptalewi, ing Kawungngora dalemneki, Ciptalewi putra tetelu, sijine ingkang nama, Rajaiyang brusbuhani, kang alinggih aneng Parakantig.

– 11 –

Lang Sngyang Rajawabana, ing Kandhangwesi kang linggih, ping telu Lokajaya, ing Cidhamar parnah neki, ingkang sawijene kumaning, putra Siliwangi iku, kang miyos saking Sri Tanduran, inggih titiga kang siwi, Gajatapa nama dalem ing Pawenang.

– 12 –

Kapindhone Ratu Kara, kang tapa ing matahari, ping telune ingkang nama, sang Bathara Resik Putih, kang tapa ngawang-ngawang gempi, Resik Putih asusunu, Ratu Dewa Gung la ika, ingkang amiyosi siwi, Ratu Guru Ajijaya namanira.

– 13 –

Anuli ika puputra, Ratu Guru Aji Putih, Susunan Kalana Ulunan, nuli ika asisiwi, Pangeran Sumedhang nami, nuli putra sakawan iku, ki Ranggacarikan nama, lan ki Ranggagedhe nami, lan ki Raden Suradiwana ya ika.

– 14 –

Lan ki Yang Tunggabuwana, ing Wedhanglarang alinggih, kapat ki Tajimalela, ing Sumedhang gene linggih, dupi garwa Siliwangi, ingkang namanira iku, Padnawati Araras, miyos kakalih kang siwi, kang sawiji ing namane punika.

– 15 –

Anggamantri namanira, lan sinine niku maning, nama Raden Sadhanglarang, Anggamantri miyos siwi, nama Sedhawati, Sedhawati puputra wau, anana Yang Medhang, Yang Medhang nuli sisiwi, ingkang nama Susunan ing Pajengan.

– 16 –

Kang linggih aneng Kuningan, ing satedhak-tedhak neki, dupi wau Sedhangrerang, Cakradewa putraneki, Caktradewa sisiwi, Sri Ngacala namanipun, ingkang krama putranira, sang Kidang Panajungan nami, Prabu Srimangka nuli puputra.

– 17 –

Ingkang nama Boros lan Ngora, kang aneng Panjalu kang puri, ki Ngora ing Rajapolah, dupi sing sabrang nenggih, Subang Karancang jenengipun, ika nyi Subang Karancang, Singapura kang negari, gih punika careming jatu Krama.

– 18 –

Kalih Ratu Pajajaran, titiga miyosi siwi, siji lanang ingkang nama, Prabu Cakrabuwanadi, panengahe istri nami, Rara Santa jenengipun, warujune lanang nama, ki Raja Sangara iki, putra titiga lan rujuk dhateng kang rama.

– 19 –

Karsane kudu miluwa, maring agamaning muslim, agamaning bosok bedha, pramilane den sengiti, dening kang rama aji, inguprak-uprak tinundhung, milane tinggal kaputran, nyimpar-nyimpar numpal keli, lami-lami karsa nyabrang maring Mekah.

PUPUH XLVII
P U CU N G

– 01 –

Rara Santang pinet garwa Mesir ratu, mila tilar bumi kana, Cakrabuwana mantuke, maring Jawi aneng Carbon dalemira.

– 02 –

Nulya krama dhateng putrane ki kuwu, nama Kantanalarang, anuli miyos putrane, ingkang nama Pangeran Carbon punika.

– 03 –

Kalih istri nyi Rakungwati ya ikut, dadya Cakrabuwana, katelah kaji namane, Abdul iman kalawan Arya Lumajang.

– 04 –

Lan kang nama Pangeran Gagak Lumayung, ngamandhing Pakuwan, manpet pajeg ing trasine, sabab dening cinandhak ing Arya Lumajang.

– 05 –

Rara Santang wis lawas ing Mesir iku, nuli wus puputra, loro lanang ing namane, Syeh Hidayatulah kalawan Syeh Nurullah.

– 06 –

Syeh Hidayatullah angajawa ikut, alingging Ardiamparan, Sunan Jati papabe, pan rinengga dening kang uwa Lumajang.

– 07 –

Dadi akeh kang manjing Islam aguru, ing wong cilik tuwis menak, barungah sadayane, Wali Jati kang katubturan akramat.

– 08 –

Dupi putra Siliwangi saking putranipun, Dhampuawang kang minangka, Kandhanghaur kaputrene, ingkang nama Balilayaran punika.

– 09 –

Putri bungsune Siliwangi iku, sang putri Layaran, masih cilik den kekentel, ingkang nama Siliwangi sebenernya.

– 10 –

Den kekentel mrana-mrene datan kantun, kocap Prabu Wanara, dan memeksa ing yogine, Siliwangi den tutur gagaib ira.

– 11 –

Den patiten sajeg ana wali iku, ilang ing guriyang, Pajajaran surem kabeh, pangaruhe ing puri tan wurung tanggal.

– 12 –

Den abecik aniti puri Sigintung, ya isun wis ana, kang mapag ngajal kasucen, pati nami ing dina kabeh wekasan.

– 13 –

Tan antara Ciyungwanara dadya iku, awak lutung asukupat, jalmi sing dhadha mukane, ……..anjengek alinggih roro kang asta.

– 14 –

Dupi saking wuri suku awarni buntut, nalosor nangcep ing andhap, narik maring sapta burine, pan tinarik ing buntutira priyangga.

– 15 –

Dadya sirna merad tan katingal iku, dening kang putra wayah, wusing sirna luluhure, amung kantun Prabu Siliwangi ika.

– 16 –

Mana sajen sadina roro ing kalbu, kukuwung mesum katingal, sang teja lor wetan pernahe, naban bengi sumonge padhang sumirat.

– 17 –

Ora liyan kang dadi sangsara iku, si cantang sarowangira, kang padha gama muslime, ingkang dadi sangara ing Pajajaran.

– 18 –

Adan prabu animbali patihipun, Tambisara nama, priksanen sumong ing kene, padhang sumong ya iku tejaning apa.

– 19 –

Ora pranti ana teja kaya iku, apa manusa bathara, anyala wadi katingale, den agelis padha rujagen denira.

– 20 –

Tambisara pamit nembah kesah sampun, ambakta satus prawira, angungtik kang teja tinon, nyata anang Gunung Jati pernahira.

– 21 –

Den talikah nyala wadi teja iku, pan seja den rujag, wong satus muwah patiye, ambrek sami lumpuh tan sesa ing angga.

– 22 –

Genya lumpuh sing dalu dalan enjingipun, pareng enjing suhunan, marikasa maring wong akeh, arep waras beli yen mambri ana atambah.

– 23 –

Tampanana kang sadat roro puniku, ucapen denira, tangtu waluya jasade, adan patih napal sadat sadhapurnya.

– 24 –

Padha Islam nulya waluya wong satus, tur den rampek pisan, lan suka wangsul ing nagrine, maring Sundha lir ring wus sejen agama.

– 25 –

Mung ki Patih Tambisara kinen wangsul, sarta bakta surat, saking sunan cacangkoke, wayah aji gih eyang amantu bilah.

– 26 –

Pan kang eyang sang prabu seja dumulur, maring gama Islam, ora kaya ing tedhake, Parwatali saking langit kandika aja.

– 27 –

Apa gawe idhep ing agama busuk, mung ta pusaka kita, sada lanang ngendi gone, prene kena age juputen den enggal.

– 28 –

Ya ingalap sada pinanjer ing alun-alun, apa ing Pakuwan, mangkana nulya parenge, merad lalis sakulawarganira.

– 29 –

Migerngiyang munjuk rayak-rayak gayuh, maring elor wetan, den papag adiasa srine, saking swarga kang para jawata sadaya.

– 30 –

Wusing merad lalis Prabu Siliarum, ing Pakuwan tan ana, kang kari amung bupatine, kang sapalih sapratiganing kang Islam.

– 31 –

Kaya Patih Cangkuwang wus mukmin iku, lan Dipati Kartamana, ki Dimati Ukur kolot, Islam maning ing Ciahur bupatinira.

– 32 –

Amung menak pra kuwu kang masih kupur, samerade Siliganda, Sunan Jati dereng ngertos, masih dadi satriya iku lalana.

– 33 –

Kawarnaa putri bungsuning sang prabu, Dewi Balilayaran, katilare sabab dening, balening Cangkolkencana.

PUPUH XLVIII
DHANDHANGGULA

– 01 –

Dupi nusul amburu wus kari, dadya bungsu lara-lara, karuna polos wiyanga, salantrah-lantrah mangmung, pan dumadak nulya pinanggih, lawan jaler kang nama Jaka Kabu, asal kulup Siliganda, marmanipun katulus alaki rabi, aneng jabaning kutha.

– 02 –

Jaba kutha kutha Pakuwan den apti, inggistrenan dening wong sadhomas, sinebut ing pangasrine, iku Susukan kabu, Sunan kabu ika tumuli, apuputra kang nama, Prabu Pucuk Kumun, lan istri Ratu Madhapa, Ratu Madhapa kang besuk alih alaki, maring kyan Santiwara.

– 03 –

Ya kyan Santi atitising Siliwangi, nuli ika amiyosi putra, wadon Murngali jenenge, olih laki wong agung, Bimalarang ingkang pranami, tumuli puputra, Sri Jampang pan mau, ika sang putri Madhapa, laki maring kyan Santi wus gadhah pecil, ciciptane Ajar Sukarsa.

– 04 –

Rara Wudhu ora payu laki, kang kakasih tanduran gagang, marmane iku den edol, tanduran gagang iku, ing Walanda den tuku dadi, lan bedhil titiga, dupi ika prabu, Pucuk Kumun agagarwa, Inten Kadhaton ksputren titilaring, sang Prabu Ciyungwanara.

– 05 –

Careming jodho ika mutrani, Prabu Ardikuning namanira, anuli puputra roro, Sangyang Sarepan Agung, lan Maraja Cipta kang linggoh, ing Galuh apuputra, Santohan Kolelet nuli sisiwi, kyai Gedheng utama.

– 06 –

Gedheng Utama puputra dalem Japati, nuli puputra ji Japatingora, nuli puputra ing mangke, nama ki Pati ika sisiwi, kyai Wiranegara, dupi ika mau, Maraja Cipta puputra, ya tetelu kang dhingin istri anami, Maraja Dalem Agengan.

– 07 –

Jujuluke Tanduran Ageng Asri, kapindhone nama Sangyang Pramana, Yang Dhigaluh jujuluke, kaping telune ya iku, Cipta Pramana kang linggih, aneng Kakarasuka, ya Prabu Dhigaluh, mangka mau mraja dalem agen laki, ing Susunan Batuganda.

– 08 –

Sunan Batuwangi kang ana ing Cipamancur ya ing parnah hira, ingka wali kukubane, kocap Prabu Cimacur, nuli ika mutrani nami, Dhipati Kartanata, anuli susunu, ki Kandharuwan Babakan, nuli puputra ki Wirabaya Sakti, nuli ika puputra.

– 09 –

Ki Wiraprabangsa ika nuli, apuputra Raden Walenggabala Estu, dupi Sangyang Pramana nenggih, ika nuli puputra, nama Sangyang Wirun, Arya Wirangun Yang Tunggal, iku puputra Aciputi, nuli ika puputra.

– 10 –

Kyai Ajeng nama Amongragi, nulya puputra kyai Wiranaga, Kabolotan ing pernahe, nuli ika susunu, Wiranaga kang sinare ing wewengkon Pasirnagara, nagara kawangsul, nuli ika apuputra, kyai Wiranaga mangko ika nuli, puputra Mertadinata.

– 11 –

Dupi Cipta Pramana kang niti, ing Dhigaluh ing Kakarsuka, anuli Miyos putrane, ingkang paparabipun, ki Dhipati Panahekan yakti, nuli ika puputra, nengga naminipun, Akimas Imbanegara, nuli puputra ki Gedhe ana ing, Cohaka ning Sorpura.

– 12 –

Gedhe Godhaka ika amutrani, ki Dhipati Sendhangmargalaya, tumuli puputra mangke, Raden Pati Tumurun, Miyosaken putra kang nami, Raden Wiranantaja, iku turun ratu, taliti ing Pajajaran, dadi menak pagunungan ika sami, ing satedhak-tedhak ira.

– 13 –

Ing Prayangan pra kuwu wus dadi, para Bupati tanpa nelendra, sasesa-sesane dhewek, sewang-sewangan angratu, dupi ing Carbon ika kang dadi, Sang Jati Wali Allah, kang den ratu-ratu, deng uwa Cakrabuwana, winuri-wuri ing jati ratu wali agung ingkang jumangah.

Nuwun.

T A M A T

Oleh: piwulang | 4 Desember 2009

PIWULANG AL FAATIHAH

AL FAATIHAH
( BEBUKA )

Surat kaping 1 : 7 ayat

( Tumuruning wahyu ana ing Mekkah, tumurun sawuse surat Al-Muddatstsir )

Bahasa Arab :

1. Bismillahir rahmaanir rahim

2. Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

3. Arrahmanir rahiim

4. Maaliki yaumid diin

5. Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in

6. Ihdinash shiraathal mustaqiim

7. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdhuubi ‘ alaihim waladl dlaal-liin

Bahasa Jawa :

1. Kalawan asma Allah kang Maha Murah ugi Maha Asih.

2. Kabeh pangalembana kagunganing Allah Pangeran, Sesembahaning ‘ alam jagad-rat pramudita.

3. Kang Maha Murah Maha Asih.

4. Kang Ngratoni ing dina Piwelas.

5. Namung dhumateng Paduka piyambak kita sami menembah ‘ ibadah, saha namung dhumateng Paduka piyambak kita sami anyenyadhong pitulungan.

6. Dhuh Gusti Allah, mugi Paduka paring pitedah ing kita sadaya lumampah wonten ing margi ingkang leres.

7. Inggih punika margi, Agaminipun para tetiyang ingkang sampun Paduka paringi kani’matan, sanes ingkang sami kabendon, tuwin sanes ingkang sami sasar.

Isi maksud ingkang wigatos ing Surat Al-Faatihah :

Intisari saking isinipun Al-Quraan punika sampun kaweca pokok-pokok ingkang fundamentil wonten salebeting Surat Al Faatihah, kados kasebut ing ngandhap punika :

1. Bab ‘aqaid utawi kaimanan ; punika kuwajiban ingkang wiwitan kaampil, ingkang dipun da’wahaken dening junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w, makaten ugi dening para andika Rasul saderengipun. Ingkang baku inggih punika ‘ aqidah-tauhid ( memundhi saha mangeran namung dhumateng Panjenanganipun Allah piyambak ) ‘ Aqidah-tauhid wau dados jejering piwucal Agami, sadaya para andika Nabi Utusaning Allah kautus ngampil tugas-pokok mbangun Tauhid ing Allah, sarta ngrebahaken sadaya kamusyrikan, ugi ngajak Ummatipun supados samia ‘ibadah ( manembah ) ing Allah piyambak, lan nilar sadaya brahalanipun.

2. ‘Ibadah ; utawi ngumawula lan manembah ing Allah, ingkang kuwajiban sadaya titah, langkung-langkung manungsa ( sabab manungsa punika makhluk ingkang saged damel kabudayan wonten ing ‘ alam donya ). Ingkang baku wonten sekawan, inggih punika : Shalat, Zakat, Shiyam lan kesah Haji. Saking ingkang baku kasebut, lajeng tuwuh ‘ibadah memuji, ndedonga, dzikir lan tafakkur utawi I’tikaf ing masjid. Saking zakat lajeng tuwuh ‘ ibadah qurban sidqah, weweweh lan tetulung ing sasaminipun, lan saking Shiyam tuwuh watak Wira’I 9 mboten ndremis lan mboten kathah sesambat ) sumingkir saking ingkang nama lelangkungan ( gesang prasaja ). Lajeng saking Haji tuwuh semangat ambelani sarta labuh ing agami.

3. Angger- angger Hukum lan Pernatan- pernatan : maksudipun Syari’at Islam damel angger-angger hukum lan pranatan punika kangge karaharjaning ummat manungsa ing Donya dumugi ing Akheratipun. Pramila ing salebetingQuraan ngemot pinten-pinten norma lan katamtuwan, upami hukum, politik, tatanagari, sosial, ekonomi, perang, dahme, sesambetan internasional, kabudayan sarta kesenian, agami, sesambetaning manungsa kaliyan Allah, lan lingkungan sapiturutipun.

4. Janji sarta ancaman : artosipun supados ngadeg keadilan lan keleresan ingkang saestu, sanajan wonten Donya saged lolos saking hukuman, nanging wonten ngarsaning Allah ing dinten Qiyanat tantu nboten saged lolos malih.

5. Sejarah : maksudipun ingkang saged dados tepa-palupi ing salebeting sesrawungan ummat manungsa, sampun ngantos damel sejarah awon, gesang sapisan wonten ing ‘ alam Donya.

Oleh: piwulang | 4 Desember 2009

PIWULANG HA NA CA RA KA

Oleh : BRM Panji Anom Resiningrum

Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.

A. Pembukaan Huruf Jawa

1. Huruf Ha

Berarti ‘hidup’, atau huruf berarti juga ada hidup, sebab memang hidup itu ada, karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup, hidup itu adalah sendirian dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan. Hidup tersebut terdiri atas 4 unsur yaitu:

a. Api
b. Angin
c. Bumi
d. Air

2. Huruf Na

Berari ‘nur’ atau cahaya, yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia.

3. Huruf Ca

Berarti ‘cahaya’, artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. Yakni salah satu sifat Tuhan yang ada pada manusia. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifat-sifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik.

4. Huruf Ra

Berarti ‘roh’, yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia.

5. Huruf Ka

Berarti ‘berkumpul’, yakni berkumpulnya Tuhan YMEyang juga terletak pada sifat manusia.

6. Huruf Da

Berarti ‘zat’, ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia.

7. Huruf Ta

Berarti ‘tes’ atau tetes, yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia.

8. Huruf Sa

Berarti ‘satu’. Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu, jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan.

9. Huruf Wa

Berarti ‘wujud’ atau bentuk, dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri.

10. Huruf La

Berarti ‘langgeng’ atau ‘abadi’, la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa hanya Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini, berarti abadi pula untuk selama-lamanya.

11. Huruf Pa

Berarti ‘papan’ atau ‘tempat’, yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini, jagad gede juga jagad kecil (manusia).

12. Huruf Dha

Berarti dhawuh, yiatu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam, manusia yang utama.

13. Huruf Ja

Berarti ‘jasad’ atau ‘badan’. Jasad Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama.

14. Huruf Ya

Berarti ‘dawuh’. Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas, karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-katanya “Ya”.

15. Huruf Nya

Berarti ‘pasrah’ atau ‘menyerahkan’. Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini.

16. Huruf Ma

Berarti ‘marga’ atau ‘jalan’. Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik.

17. Huruf Ga

Berarti ‘gaib’, gaib dari Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia.

18. Huruf Ba

Berarti ‘babar’, yaitu kabarnya manusia dari gaibnya Tuhan YME.

19. Huruf Tha

Berarti ‘thukul’ atau ‘tumbuh’. Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhna YME. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas, dekat tetapi tidak dapat disentuh, seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh, dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut).

20. Huruf Nga

Berarti ‘ngalam’, ‘yang bersinar terang’, atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang.

Demikianlah huruf Jawa yang 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri, karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME.

Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.

B. Penyatuan Huruf atau Aksara Jawa 20

1. Huruf Ha + Nga

Hanga berarti angan-angan.


Dimaksudkan dengan angan-angan ini ialah panca indra yaitu lima indra, seperti:

1. Angan-angan yang terletak di ubun-ubun (kepala) yang menyimpan otak untuk memikir akan keseluruhan keadaan.

2. Angan-angan mata yang digunakan untuk melihat segala keadaan.

3. Angan-angan telinga yang dipakai untuk mendengar keseluruhan keadaan.

4. Angan-angan hidung untuk mencium/membau seluruh keadaan.

5. Angan-angan mulut yang digunakan untuk merasakan dan mengunyah makanan.

2. Huruf Na + Ta

Noto, berarti ‘nutuk’.

3. Huruf Ca + Ba

Caba, berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tampat yang dimilki oleh lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu; adanya perkataan kun berarti pernyataan yang dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau.

4. Huruf Ra + Ga

Raga, berarti ‘badan awak/diri’. Kata raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama menghendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak.

5. Huruf Ka + Ma

Kama, berarti ‘komo’ atau biji, bibit, benih. Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup; oleh karena itu di dalam kata raga seperti terurai di atas merupakan kehendak pria dan wanita untuk menjalin rasa menjadi satu. Karena itulah maka kata raga telah menunjukkan adanya kedua benih yang akan disatukan dengan melewati raga, dan dengan penyatuan kama dari kedua belah pihak itu maka kelangsungan hidup akan dapat tercapai.

6. Huruf Da + Nya

Danya atau donya atau dunia.

Persatuan kedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran, dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam) donya; dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkanlah ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia.

7. Huruf Ta + Ya

Taya atau toya, yaitu ari atau banyu. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan, memandikan dsb); karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil.

8. Huruf Sa + Ja

Saja atau siji atau satu. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu, andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu.

9. Huruf Wa + Da

Wada atau wadah atau tempat. Berbicara tentang wadah atau tempat, sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula, karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi, siapakah yang ada terlebih dahulu.
Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu, baru kemudian isi, sebenarnya hal ini adalah kurang benar. Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi, dan karena isi tersebut membutuhkan tempat penyimpanan, maka diciptakan pula wadahnya. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “Isi mencari wadah” karena memang ‘isi’ diciptakan terlebih dahulu.


Sebagai contoh dapat diambilkan di sini: rumah, sebab rumah merupakan wadah manusia, dan manusia merupakan isi dari rumah. Jadi jelaslah bahwa sebenarnya isilah yang mencari wadah.
Sebagai bukti dari uraian di atas, dapatlah dijelaskan bahwa: kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). Bagai pendapat yang mengatakan “wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meniggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi, apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya.


Demikianlah persoalan wadah ini dengan dunia, karena sebelum dunia ini diciptakan (sebagai wadah) maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME. Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awangawung). Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi, yang bearti masih suwung atau kosong. Meskipun begitu, “hidup’ itu tetap telah ada demikian pula “isi’, dan dimanakah letak isi tadi ialah pada ayah dan ibu. Maka selama ayah dan ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit.

10. Huruf La + Pa

Lapa atau mati atau lampus. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak, keadaan hidup tesebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar, akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya, akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya, hidup kembali kepada yang menciptakan hidup, karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (awangawung) lagi. Akan tetapi sebenarnya dapatlah dikatakan bahwa suwung itu tetap ada sedangkan raga manusia yang berasal pula dari tanah akan kembali ke tanah (kuburan) pula.

Wallahua’lam

Oleh: piwulang | 4 Desember 2009

AJI PAMELENG

Tegesipun aji = ratu, pameleng = pasamaden; mengku pikajeng : tandaning sedya ingkang luhur piyambak. Dene empaning pandamelan wau winastan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, ngeningaken utawi angluhuraken paningal, matiraga lan sasaminipun.

Papan ingkang kangge nindakaken wau panepen, panekungan, pamujan, pamurcitan, pamursitan, pahoman, paheningan lan sanes-sanesipun. Dene wedharing kawruh winastan daiwan, dawan, tirtaamerta, tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadan, kawicaksanaan, sastracetha, utawi sastrajendrayuningr at pangruwating diyu lan sapanunggalanipun.

Menggah pigunanipun kawruh lan pandamel wau, perlu kangge sarananing panembah murid manggih kawilujengan, margi saged anindakaken dhateng sawarnaning pandamel sae, punapadene kangge sarana duk kita darbe sedya nunuwun kanugrahaning gesang kita pribadi (Pangeran), inggih nunuwun bab punapa kemawon ingkang limrah kenging linampahan saking pandamel kita ingkang boten tilar murwat.

Wondene purwanipun ing jagad teka wonten kawruh pasamaden, bilih miturut saking tembung-tembungipun , sanyata kathah ingkang nagngge basa Sansekrit; yen makaten tetela manawi wimbaning kawruh pasamaden wau saking tumitising kawicaksananipun bangsa Indhu ing jaman kina makina, ingkang sampun boten kasumerepan petang ewoning taun. Bokmanawi kemawon papantaranipun kalihan nalika bangsa Indhu amurwani iyasa candhi dalah reca-recanipun. Dene kawruh wau ing sakawit inggih namung kangge bangsa Indhu, boten nawang bangsa Indhu ingkang agami punapa kemawon, katamtokaken mesthi ngrasuk pasamaden. Awit inggih namung kawruh pasamaden punika ingkang dados mukaning saliring kawruh sajagad, lan ugi dados pangajenging piwulan agami.

Ing ngalami lami bangsa Indhu sami lumeber dhateng ing Tanah Jawi lan sanes sanesipun, serta sami anggelaraken agaminipun tuwin kawruh sanes sanesipun; makaten ugi kawruh pasamaden inggih boten kantun. Kawruh pamasaden wonten ing Tanah Jawi saget ngrembaka tuwuhipun, margi bangsa Jawi tan pilih drajad sami remen puruita lan saged nandangaken dating pangolahing kawruh punika, awit kawruh wau saget nocoki kalihan dhadhasaring pamanahipun titiyang Jawi, mila kalayan gampil rumasukipun wonten ing balung sungsuming titiyang Jawi. Kasembuh malih saking kathahing bangsa Indhu kados sinuntak sami angajawi, nedya anggelar agami Jawi lan kawruh kawicaksananipun. Bebasan sakedeping netra, bangsa Jawi ing sa’indhengipun maratah sampun sami angrasuk agami Indhu, lan ugi sampun sami saget ngraosaken kabegjan, kamulyan, kawilujengan lan sasaminipun, margi saking wohing kawruh pandamel wau.

Ing wusana katungka dhatengipun titiyang bangsa Arab sami lumebet ing Tanah jawi, ingkang ugi ambekta kawruh lan agaminipun Mohammad, kasebut agami Islam, temah nyunyuda tumangkaring agami Indhu, sebab lajeng wonten ingkang angrasuk agami Islam. Namung kemawon wedharing agami Islam boten andarbeni kawruh pasamaden, kados kasebut ing nginggil.

Sareng golonganipun tiyang Islam sampun saget ngendhih Nagari, inggih punika adeging Karaton Bintara (Demak), ing ngriku lajeng angawisi kalayan kenceng, titiyang Jawi boten kenging anindakaken kawruh pasamaden, mekaten ugi sami kinen nilar agaminipun lami, serta kedah santun angrasuk agami Islam.

Ananging boten ta manawi bangsa Jawi lajeng anut purun santun agami Islam sadaya, purunipun wau namung margi saking ajrih paukuman wisesaning Nata, dados Islam-ipun wau namung wonten ing lahir kemawon, utawi Islam pangaran-aran, yen batosipun taksih angrungkepi agamipun lami. Milo bab kawruh pasamaden inggih taksih lajeng katindakaken, ananging pamulang pamedharing kawruh pasamaden wau, ingkang karan nama wejangan (wijang-wijang) sarana lampah dhedhemitan, katindakaken ing wanci ndalu sasampunipun jam 12, ugi papaning pamejang boten kenging kaubah wangon, kadosta ing ara-ara, ing wana, ing lepen lan sasaminipun ing papan ingkang sepen. Pamejangipun srana bisikan boten kenging kapireng ngasanes, sanadyan suket godhong, kewan tuwin bangsanipun gegremetan kutu-kutu walangataga ugi boten kenging miring, yen miring lajeng malih dados manungsa. Mila linggihipun Kyai Guru ajeng-ajengan aben bathuk kaliyan pun murid, serta sanget pamantos-mantosipun Kyai Guru, pun murid boten kenging nularaken wewejanganipun (kawruhipun) dhateng tiyang sanes, bilih dereng angsal palilah Guru, yen nerak bade angsal wilalat manggih sapudendhaning Pangeran. Panindak ingkang mekaten punika, purwanipun namung tetep kangge panjagi, supados pamulanging kawruh pasamaden boten katupiksan dhateng pamarintahing agami Islam. Sebab yen ngantos kasumerepan, tamtu manggih pidana.

Dumuginipun ing jaman samangke, sanadyan Nagari sampun boten angarubiru dhateng wontenipun wewejangan kawruh pasamaden, nanging panindaking wejangan wau taksih kalestantunaken sarana dhedhemitan kados kawursita ing nginggil. Mila lajeng angsal paparab saking panyedaning titiyang ingkang boten remen, utami tiyang ingkang anglampahi sarengating agami Islam, bilih wontening wejangan kawruh pasamaden wau lajeng kawastan ilmu klenik. Purwo saking tembung klenik, lajeng angandhakaken tembung abangan lan putihan. Ingkang kasebut abangan punika tiyang ingkang boten nindakaken saraking agami Islam, dene putihan mastani tiyang Jawi ingkang teluh manjing agami Islam sarta anglampahi sadaya sarak sarengating agami Islam wau, inggih punika ingkang kasebut nama santri. Mila santri karan putihan, margi miturut panganggenipun titiyang agami Islam, bilih santri punika sarwo-sarwi langkung resik utawi suci tinimbang kaliyan titiyang ingkang boten angrasuk agami Islam.

Mangsuli wontening kawruh pasamaden anggenipun sanget winados, menggah ingkang dados sababipun kapretalakaken ing nginggil. Dene yen saleresipun ingkang nama wados-wados wau pancen boten wonten; dados inggih kenging-kenging kemawon kawulangaken dhateng sok tiyanga, boten mawang nem sepuh, serta kenging kawejangaken ing sawanci-wancinipun, uger tiyang wau pancen ambetahaken kawruh pasamaden kasebat. Sebab wontenipun sadaya punika supados kasumerepan dhateng ingakathah, langkung-langkung kawruh pasamaden punika ingkang sanyata dados mukaning sadaya kawruh. Mila wajib sinebar dados seserepaning tiyang nem sepuh wadarin ing saindengipun, tanpa nawang andhap inggiling darajadipun.

Amarengi wahyaning mangsakala, wusana wonten kaelokaning lalampahan ingkang boten kanyana-nyana; ing pawingkingipun bab kawruh pasamaden wau lajeng muncul katampen dhateng tiyang Islam, margi yakin bilih kawruh pasamaden wau, pancen musthikaning gagayuhan ingkang saged andhatengaken ing kawilujengan, kamulyan, katentreman, lan sasaminipun. Mila kawruh wau dening tiyang ingkang sampun suluh papadhanging raosipun inggih punika Seh Sitijenar, ingkang ugi dados pramugarining agami Islam apangkat Wali, lajeng kadhapuk ing ndalem serat karanganipun, ingkang lajeng winastan daim, wirid saking tembung daiwan kasebut ing nginggil. Punapadene lajeng kaewoaken dados saperanganing panembah, sarana dipun wewahi tembungipun, lajeng mungel : salat daim (salat – basa arab, daim saking daiwan basa Sansekrit). Milanipun dipun wewahi basa arab, namung kawigatosan kangge mikekahaken kapitadosanipun murid-muridipun ingkang sampun sami necep agami Islam. Punapadene tembung salat lajeng kapilah kalih prakawis. Sapisan salat 5 wekdal, kasebut salat sarengat, ateges panembah lahir. Kaping kalih salat daim, punika panembahing batos; mangertosipun : anekadaken manunggaling pribadinipun, utawi kasebut loroning atunggil.

Kitab karanganipun Seh Sitijenar wau lajeng kangge paugeraning piwulang. Sareng sampun angsal kawigatosaning ngakathah, ing ngriku salat limang wekdal lan sarak agami sanes-sanesipun lajeng kasuwak boten kawulangaken babar pisan. Ingkang pinindeng namung mumuruk tumindaking salat daim kemawon. Mila titiyang Jawi ingkang suwau manjing agami Islam, langkung-langkung ingkang dereng, lajeng sami ambyuk maguru dhateng Seh Sitijenar, margi piwulangipun langkung gampil, terang lan nyata.

Wondene purwanipun Seh Sitijenar kaserenan kawruh pasamaden, ingkang mijeni Kyai Ageng Pengging, sebab Seh Sitijenar punika mitradarmanipun Kyai Ageng Pengging. Kawruh asamaden, dening Seh Sitijenar lajeng katularaken Raden Watiswara, inggih Pangeran Panggung, ingkang ugi apangkat Wali. Lajeng tunimbal dhateng Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, tiyang asal saking Pagelen, ingkang kacarios saderengipun dados Wali, Ki Cakrajaya wau pandamelanipun anderes nitis gendhis. Salajengipun sumrambah kawiridaken dhateng ingakatah. Makaten ugi sakabat-sakabatipun Seh Sitijenar ingkang sampun kabuka raosipun, dening Seh Sitijenar kinen sami madeg paguron amiridaken kawruh pasamaden wau. Sangsaya dangu sangsaya ngrebda, anyuremaken panguwaosing para Wali, anggenipun amencaraken piwulang agami Islam. Yen kalajeng-lajeng masjid saestu badhe suwung.

Ngawekani sampun ngantos wonten kadadosan ingkang makaten, temah Kyai Ageng Pengging tuwin Seh Sitijenar sasekabatipun ingkang sami pinejahan katigas jangganipun dening para Wali, saking dhawuhipun Sultan Demak. Makaten ugi Pangeran Panggung boten kantun, kapidana kalebetaken ing brama gesang-gesangan wonten samadyaning alun-alun Demak, kangge pangewan-ewan murih titiyang sami ajrih, lajeng sami mantuni utawi nglepeh piwulangipun Seh Sitijenar.

Kacariyos sariranipun Pangeran Panggung boten tumawa dening mawerdining Hyang Brama, lajeng oncat medal saking salebeting latu murub, nilar nagari Demak. Kanjeng Sultan Bintara tuwin para Wali sami kablerengen kaprabawan katiyasaning Pangeran Panggung, temah kamitenggengen kadi tugu sinukarta. Sareng sampun sawatawis tebih tindakipun Sang Pangeran, Kanjeng Sultan tuwin para Wali saweg sami enget bilih Pangeran Panggung kalis saking pidana, temah sami rumaos kawon angsal sihing Pangeran. Katungka unjuking wadyabala, atur uninga bilih Sunan Geseng, inggih Ki Cakrajaya, kesah anututi lampahipun Pangeran Panggung. Ing ngriku Kanjeng Sultan katetangi dukanipun, temah dhawahing bendu, para sakabat tuwin murid-muridipun Seh Sitijenar ingkang kapikut lajeng sami pinejahan. Ingkang boten kacepeng sami lumajar pados gesang.

Para sakabatipun Seh Sitijenar ingkang taksih wilujeng kakantunanipun ingkang sami pejah, ugi taksih sami madeg paguron nglestantunaken pencaring kawruh pasamaden, nanging mawi sislintru tinutupan wuwulang sarengating agami Islam, murih boten ka’arubiru dening para Wali pramugarining praja. Dene piwulangipun kados ing ngandhap punika :

Pamulanging kawruh pasamaden ingkang lajeng karan salat daim, karangkepan wuwulang salat limang wekdal tuwin rukuning Islam sanes- sanesipun malih. Wewejanganipun salat daim wau lajeng winastan wiridan naksobandiyah, dene panindaking piwulang kawastan tafakur. Saweneh wonten ingkang pamulangipun ing saderengipun para murid nampi wiridan salat daim, langkung rumiyin kalatih lampah dhidhikiran lan maos ayat-ayat. Wiwit punika wuwulangan pasamaden
lajeng wonten wanrni kalih, inggih punika :
1. Piwulang pasamaden wiwiridan saking para sekabatipun Seh Sitijenar, ingkang sarana tinutupan utawi aling-aling sarak rukuning agami Islam. Wuwulangan wau dumuginipun ing jaman samangke sampun mleset saking jejer ing sakawit, mila para guru samangke, ingkang sami miridaken kawruh pasamaden, ingkang dipun santuni nama naksobandiyah utawi satariyah, nginten bilih kawruh wau wiwiridan saking ngulami ing Jabalkuber (Mekah). Salajengipun para Kyai guru wau, amastani guru klenik dhateng para ingkang sami miridaken kawruh pasamaden miturut wawaton Jawi pipiridan saking Seh Sitijenar. Punapadene para Kyai guru wau nyukani paparab nama Kiniyai, pikajengipun : guru ingkang mulangaken ilmuning setan. Dene nama Kyai, punika guru ingkang mulangaken ilmuning para nabi.
2. Piwulang pasamaden miturut Jawi, wiji saking Kyai Ageng Pengging, ingkang kapencaraken dening Seh Sitijenar (ingkang ing samangke karan klenik), punika ing sakawit, ingkang dados purwaning piwulang, dumunung wonten panggulawenthahing wawatekan 5 prakawis, kados ing ngandhap punika :

1. Setya tuhu utawi temen lan jujur.

2. Santosa, adil paramarta, tanggeljawab boten lewerweh.

3. Leres ing samubarang damel, sabar welas asih ing sasami, boten ngunggul-unggulaken dhirinipun, tebih saking watak panganiaya.

4. Pinter saliring kawruh, langkung-langkung pinter ngecani manahing sasami-sami, punapadene pinter angereh kamurkaning manah pribadi, boten anguthuh melik anggendhong lali, margi saking dayaning mas picis rajabrana.

5. Susila anor-raga, tansah nganggeni tatakrami, maweh rereseping paningal tuwin sengseming pamiharsa, dhateng ingkang sami kataman.

Lampah limang prakawis wau kedah linampahan winantu ing pujabrata anandangaken ulah samadi, inggih amesu cipta angeningaken pranawaning paningal. Awit saking makaten punika mila tumrap panindaking agami Jawi (Buda), bab kawruh pasamaden tuwin lampah limang prakawis wau kedah kawulangaken dhateng sadaya titiyang enem sepuh boten pilih andhap inggiling darajatipun. Mila makaten, sebab musthikaning kawruh tuwin luhur-luhuring kamanungsan, punika bilih tetep samadinipun, kuwasa anindakaken lampah 5 prakawis kados kawursita ing nginggil. Temah kita manggen ing sasananing katrenteman, dene wontening katentreman mahanani harja kerta lan kamardikan kita sami. Yen boten makaten, ngantos sabujading jagad, kita badhe nandhang papa cintraka, kagiles dening rodha jantraning jagad, margi kacidraning manah kita pribadi.

Bab kawruh pasamaden ingkang lajeng karan wiridan naksobandiyah lan satariyah, ingkang ing nguni wiwiridan saking Seh Sitijenar, sampun ka’andharaken ing nginggil, namung kemawon tumandangipun boten kawedharaken. Ing riki namung badhe anggelaraken lampah umandanging samadi sacara Jawi, ingkang dereng kacarobosan agami sanes, inggih punika makaten :

Para nupiksa, mugi sampun kalintu panampi, bilih samadi punika angicalaken rahsaning gesang utawi nyawanipun (gesangipun) medal saking badan wadhag. Panampi makaten punika, purwanipun mirid saking cariyos lalampahanipun Sri Kresna ing Dwarawati, utawi Sang Arjuna yen angraga-suksma. Mugi kawuninganana, bilih cariyos makaten punika tetep namung kangge pasemon utawi pralambang.

Ing samangke wiwit wedharaken lampahing samadi makaten : tembung samadi = sarasa – rasa tunggal – maligining rasa – rasa jati – rasa nalika dereng makarti. Dene makartining rasa jalaran saking panggulawenthah utawi piwulang, punapadene pangalaman-pangalam an ingkang tinampen utawi kasandhang ing sadinten-dintenipun . Inggih makartining rasa punika ingkang kawastanan pikir. Saking dayaning panggulawenthah, piwulang tuwin pangalaman-pangalam an wau, pikir lajeng gadhah panganggep awon lan sae, temah anuwuhaken tatacara, pamacak lan sanes-sanesipun ingkang lajeng dados pakulinan. Punapa panganggep awon sae, ingkang sampun dados tata-cara margi sampun dados pakulinan punika, yen awon inggih awon sayektos, yen sae inggih sae temenan, punika dereng tamtu, jer punika namung pakulinaning panganggep. Dene panganggep, boten yekti, tetep namung ngenggeni pakulinaning tata-cara, dados inggih dede kajaten utawi kasunyatan. Menggah pikajenganipun samadi ing riki, boten wonten sanes namung badhe nyumerepi kajaten, dene sarananipun boten wonten malih kajawi nyumerepi utawi anyilahaken panganggep saking makartining rasa, kasebut sirnaning papan lan tulis. Inggih ing riku punika jumenenging rasa jati kang nyata, kang yekti, kang weruh tanpa tuduh. Wondene kasembadanipun kedah angendelaken ing saniskara, sarana angereh solahing anggota (badan). Mangrehing anggota wau ingkang langkung pikantuk kalihan sareyan malumah, saha sidhakep utawi kalurusaken mangandhap, epek-epek kiwa tengen tumempel ing pupu kiwa tengen, suku ingkang lurus, dalamakan suku ingkang tengen katumpangaken ing dalamakan suku kiwa, mila lajeng kasebut sidhakep suku (saluku) tunggal. Punapadene angendelna ebahing netra (mripat), inggih punika ingkang kawastanan meleng. Lampah makaten wau ingkang kuwasa ngendelaken osiking cipta (panggagas), tuwin amuntu ilining rahsa, dene pancering paningal kasipatna amandeng pucuking grana medal saking sa’antawising netra kakalih, inggih punika ing papasu, dene pamandengipun kedah kalayan angeremaken netra kakalih pisan.

Sasampunipun lajeng nata lebet wedaling napas (ambegan) makaten : panariking napas saking puser kasengkakna minggah anglangkungi cethak ingga dumugi ing suhunan (utek = embun-embunan) , sarta mawi kaendelna ing sawatawis dangunipun. Sumengkanipun napas wau kadosdene darbe raos angangkat punapa-punapa, dene temenipun ingkang kados kita angkat, punika ilining rahsa ingkang kita pepet saking sumengkaning napas wau, menawi sampun kraos awrat panyangginipun napas, inggih lajeng ka’edhakna kalayan alon-alon. Inggih patrap ingkang makaten punika ingkang kawastanan sastracetha. Tegesipun cetha = empaning kawruh, cetha = antebing swara cethak, inggih cethaking tutuk kita punika. Mila winastan makaten, awit duk kita mangreh sumengkaning napas anglangkungi dhadha lajeng minggah malih anglangkungi cethak ingga dumugi suhunan. Menawi napas kita dipun ereh, dados namung manut lampahing napas piyambak, tamtu boten saget dumugi ing suhunan, margi saweg dumugi ing cethak lajeng sampun medhak malih. Punapadene ugi winastan daiwan (dawan), pikajengipun : mangreh lebet wedaling napas ingkang panjang lan sareh, sarwi mocapaken mantra sarana kabatos kemawon, inggih punika mungel `hu’ kasarengan kalihan lumebeting napas, inggih panariking napas saking puser, minggah dumugi ing suhunan. Lajeng `ya’, kasarengan kalihan wedaling napas, inggih medhaking napas saking suhunan dumugi ing puser, minggah mandhaping napas wau anglangkungi dhadha lan cethak. Dene, anggenipun kawastanan sastracetha, margi nalika mocapaken mantra sastra kakalih : hu – ya, wedaling swara ingkang namung kabatos wau, ugi kawistara saking dayaning cethak. (Ungeling mantra utawi panebut kakalih : hu – ya, ing wiridan naksobandiyah kaewahan dados mungel, hu – Allah, panebutipun ugi kasarengan lampahing napas. Dene ing wiridan satariyah, panebut wau mungel : hailah – haillolah, nanging tanpa angereh lampahing napas).

Menggah lebet medaling napas kados kasebut ing nginggil, sa’angkatanipun namung kuwasa angambali rambah kaping tiga, mila makaten, awit napas kita sampun boten kadugi manawi kinen anandangana malih, jalaran sampun menggeh-menggeh. Dene manawi sampun sareh, inggih lajeng ka’angkatana malih, makaten salajengipun ngantos marambah-rambah sakuwawinipun, margi saya kuwawi dangu, sangsaya langkung prayogi sanget. Dene sa’angkataning pandamel wau kawastan : tripandurat, tegesipun tri = tiga, pandu = suci, rat = jagad – badan – enggen, suraosipun : kaping tiga napas kita saget tumameng ing ngabyantaraning ingkang Maha suci manggen ing salebeting suhunan (ingkang dipun suwuni). Inggih punika ingkang kabasakaken paworing kawula Gusti, tegesipun : manawi napas kita sumengka, kita jumeneng gusti, yen tumedhak, wangsul dados kawula. Bab punika para nupiksa sampun kalintu tampi ! Menggah ingkang dipun wastani kawula gusti punika dede napas kita, nanging dayaning cipta kita. Dados ulah samadi punika, pokokipun kita kedah amanjangaken panjing wijiling napas (lebet wedaling napas), kalihan angeningaken (ambeningaken) paningal, sebab paningal punika kadadosan saking rahsa.

Wondene patraping samadi kados kasebut ing nginggil wau, ugi kenging karancagaken, uger kita tansah lumintu tanpa pedhot mangeh panjing wijiling napas, kalihan lenggah, lumampah, utawi nyambutdamel inggih kedah boten kenging tilar mangreh lebet wedaling napas wau, ingkang sarana mocapaken mantra mungel : hu – ya, kados ingkang kajarwa ing nginggil.

Kajawi punika, wirid saking tembung daiwan punika ugi taksih darbe maksud sanesipun malih, inggih punika ateges panjang tanpa ujung, utawi ateges langgeng. Dene pikajengipun amastani bilih wontening napas kita punika sanyata wahananing gesang kita ingkang langgeng, inggih wontening ambegan kita. Dene ambegan punika, sanyata wontening angin ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, ingkang sasarengan kalihan keketeg panglampahing rah (roh). Bilih kakalih wau kendel boten makarti nama pejah, inggih risaking badan wadhag wangsul dados babakalan malih. Mila sayogyanipun lampahing napas inggih ambegan kita ingkang tansah mlebet medal tanpa kendel, kedah kapanjang-panjangan a lampahipun, murih panjanga ugi umur kita, temah saget awet wonten ing donya tutug panyawangipun dhateng anak, putu, buyut, canggah, wareng, ingkang babranahan.

Wontenipun andharan ing nginggil, mratelakaken bilih kawruh pasamaden punika sanyata langkung ageng pigunanipun, mila lajeng sinebut sastrajendrayuningr at pangruwating diyu. Tegesipun sastra = empaning kawruh, jendra = saking panggarbaning tembung harja endra. Tegesipun harja = raharja, endra = ratu – dewa, yu = rahayu – wilujeng, ningrat = jagad – enggen – badan. Suraosipun : Musthikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, kaharjan, katentreman lan sapatunggalipun. Dene tegesesipun pangruwating diyu = amalihaken diyu; dene diyu = danawa – raksasa – asura – buta, punika kangge pasemoning piawon, penyakit, rereget, babaya, pepeteng, kabodhohan lan sanesipun. Dados diyu punika kosokwangsulipun dewa, engkang ateges pinter, sae, wilujeng lan sapanunggilipun. Mengku suraos amastani ingkang saget anyirnakaken saliring piawon tuwin samubarang babaya pekewed. Mangertosipun, sinten ingkang tansah ajeg lumintu anandangaken ulah samadi, punika bilih ing suwaunipun tiyang awon, lajeng sirna piawonipun, malih dados tiyang sae lampahipun. Tiyang sakit sirna sakitipun, dados saras, tiyang murka daksiya lajeng narimah sabar, welasasih. Tiyang goroh lajeng dados temen. Tiyang bodho dados pinter. Tiyang pinter dados pinter sanget. Makaten ugi tiyang golongan sudra dados waesia, waesia dados satriya, satriya dados brahmana, brahmana sumengka pangawak braja asarira bathara.

Oleh: piwulang | 4 Desember 2009

AJI PAMASA

Wedharing wyata mirid gempilaning piwucal

Aji Pamasa

DHANDHANGGULA

1.  Mangkya nenggih sastradu nayadhi, tinilingna walering darana, ywa sisip ing pangertiné, janma kudu mituhu, pratélané sapta pracèki, lamun dipun upaya kinemat ing kalbu, samubarang kang linakya, sarwi mapan nora badhé damel tuni, suka tentreming rahsa.

2.   Kang ginelar wyataning suyati, tlatènana kang pitung prakara, amrih dadi lantarané, datan gampil kinelun kalulun ing wawatak nisthip, linepat king deksura tinebih panyaru, tan damel pilalaning lyan, kosok-wangsul wèh ayem dasih sadyèki, temah manggih raharja.

3.   Apa baya kang pitung prakawis, sinirika cidra lan pitenah, yèku warah kapisané, kaping kalih puniku, dyan sentana ywa dèn alingi, sagung tumindak lupa winastanan luput, ping tiga ywa mawang kadang, pangadilan jinejegna kanthi titi, tan pilih-pilih janma.

4.    Catur angger ugering prarepi, tan mélik mèt artaning punggawa, dalah mundhut putrèstriné, dé kaping gangsalipun, aywa nganti anglalarangi, olah pangupajiwa sasamining manu, songgarunggi mring kawula, dèn ugemi pitutur kaping sat niki, pinuntua ing driya.

5.  Kang wusana pitutur saptèki, lamun ngambah margining utama, udinen mrih lestariné, nora gampil kayungyun, kapiluyu lampah basiwit, tan remen cacaketan klayan watak margu, sirik cengil pasulayan, anebihi gegelah regeding bumi, nging pedak kautaman.

6.    Mangkya kiyé gelaring pangerti, paugeran kang pitung prakara, istingarah munpangaté, piguna mring kang ngluru, dadya tales tanduking karti, prenah prandéné laras salir tindakipun, mahanani kasudibyan, temah kalis watak umbag klawan edir, sinantun paramarta.

7.  Pradikané wawaler pratami, kang sinebat cidra lan pitenah, winedhar wiyar tebané, suka serep ing semu, seserepan wiraos prati, damel padhanging prana nebihken bebendu, nuntun mring lempenging lana, istingarah kang tinuju tan nalisir, nalusur woting darma.

8.  Pracékané janma luhur kaki, datan arsa guna pasang kala, njijiret sapapadhané, tan bungah lamun nemu, siku dhendha nlikung sasami, nora ngungalken jaja yèn asanès lesu, datan asurak susuka dupi miyat panandhanging sapadhèki, luluh welas nalangsa.

9.  Tembung cidra sinawung punagi, ngandhar-andhar winuwus nglengkara, péndah madu mamanisé, nging sapawingkingipun, nggémbol upas kang niniwasi, nukulaken panandhang tuwin tilar latu, raos bentèr nguntar-untar, wisayané karaos awrat ngantebi, lir kanteban antaka.

10. Ywan wus wani nglairken prajangji, poma-poma dipun tetepana, netes sagung pangucapé, nora lèmèr ing wuwus, nguwus-uwus tan ana dadi, tetembungan dèn arah jumbuh kang sinaguh, tumapak ing lalampahan, datan lumpuh karana kaot sinanggi, wèh sengsem mring tyasing lyan.

11.  Lamun sumanggem tanduking gati, dipun éling niyat kang utama, pinurih saged rampungé, tékad kang wus pinuntu, aywa wudhar tanpa pangaji, wawataking satriya sirik colong playu, datan ngucirèng ngayuda, andhepipis ndhelik winengku raos jrih, nilaraken palagan.

12.  Panjangka kang dadya lenging ati, antepana minangka ubaya, pinétang utang èstinè, lamun maksih linuru, kaanggepa dèrèng nglunasi, siyang-ratri tan kendhat nggènipun dhedheku, nunuwun Hyang Murbèng Suksma, istingarah gung pangajab temah dadi, tan cidra ing ubaya.

13.  Jejering titah sawantah kaki, mokal lamun kalis ing sasanggan, kang wus dadi pepesthèné, milaur urip iku, amituhu kanthi taliti, tegen rigen pralaga tlatèn miwah tekun, tan bosenan nora wegah, angugemi pakaryan kanthi permati, teguh maring bebahan.

14.  Lamun sirik watak ngadi-adi, tlunyar-tlunyur miwah lèlèmèran, dhemenyar pepénginané, tan kablithuk pandulu, gampil sengsem kang katon èdi, nanging mugen manunggal genah kang tinuju, nering laku nora léngah, istingarah andika manggih basuki, linepat saking papa.

15.  Kénging winastanan cidra ugi, karem donya wah malih pangwasa, nanging mamak wawatesé, tan darbya raos rigung, kanthi nranyak ngrabasa gahi, nyahak wewenanging lyan kécalan pakéwuh, kang dèn bujung pakareman, watanira suker tan béda wewerri, buteng ribeng krodhanya.

16.  Paran nggènira nyepeng sumangi, setya tuhu bekti mring Hyang Murba, ywa cidra gung pepecehé, prancana tan dèn ugung, temah ndadra misésa wathi, tundhonipun nalangsa nalisir king wangsu, tilar salir manah sonta, kusung-kusung kemrungsung kécalan santi, angulari papaka.

17.  Dipun tlatèn  samya  angulari,  murih dadya manuswa bisama, ywa gampil mupus tekadé, ywan rumpil lampahipun, upayanen kanthi sasmreti, saswih maring Hyang Murba tumus sanggya manu, tebih saking tutur cidra, nging maujud datan mandheg katamarti, satemah pinitaya.

18.  Menggah tuduh ingkang gung utami, kanthi wijang kawrat sastracetha, tumètès kadya kusaré, rinumpaka ing tembung, basagita adi wigati, susmaya prabaning Hyang abyor cahya kitu, kang anecep wurukira, dhépé-dhépé gilig ing prana maniwi, kasmala binirata.

19.  Poma  éling  swawi  dipun  luri,  pranahara jatining manuswa, titah sawantah jejeré, cidra mring karsèng Ulun, iku teges nggénjah papati, apesé ngemping lara nyanyadhang bebendu, datan uwal king cintaka, ngundhuh wusa wisaya dadya mangangi, gesang datan piguna.

20.   Sasing janmi swawi angupadi, dimèn pana tuduhing Hyang Suksma, aywa mblasar tumindaké, tan kéragan mring napsu, temah dyusdha niyak wastuti, nginger-inger wawaler mamada sastradu, leheng meleng mring pranamya, angulati bebener ingkang nayadhi, tumus dugèng dalaha.

21.  Mangkya cidra tumraping akrami, jalu gini datan ana béda, kénging winastan pracoré, lampahnya pindha margu, undhuhané mrawata wèsdhi, basan pranamèng kapi wruh rukem kayungyun, lupa upasing walika, ngindhik-indhik pamrihé damel papati, mamanisé wisasa.

22.  Wanti-wanti  peceh  parahati,  pisan cidra angèl anguwalna, kumudu kang kapindhoné, katri wus kadi wuru, temah wasa nering prajangji, sengkeraning pralaga datan ana wèstu, parnoh sagung tindakira, kang dèn uja tan liya dityasmaraji, rongèh tansah walisah.

23.  Wawaler tumrap sanggya pawèstri, ngumbar gujeng kucah liring nétra, adol ati sapa baé, dhadasar badan lugu, dupèh èdi ngelam-elami, kasukan kang binujung atilar pakéwuh, tan mangabisatya mring raka, lamun limpé ngaluyur ramban taruni, angrarantam pracéka.

24.  Pan wus dadi  sasakiding  parwi, cegah hawa tahen ring prancana, rumaket-raket sasambé, was maring kakung tuhu, abiwadha setya hastuti, dyatmika neng nayadhi nging sirik salingkuh, tutura angarah-arah, ririh raras sinuprih katon mrak-ati, tansah saswih ring garwa.

25.  Nora  béda  waler  ingkang sami, tumrap priya kang wus balé wisma, burusa lair batiné, asisipat memengku, lubèr ing sih sarwi ngayomi, dadya gapiting braya ywa mingkuh pakéwuh, pantang pepes batosira, lamun manggya kèh sambé-kalaning margi, jroning gesang punika.

26.  Dipun èmut ma nenem puniki, dhihin mantep ing pamilihira, ping kalih madhep atiné, katri marem mring jatu, kaping paté mawang ring rabi, pinindhakna wawadhah ringkih kaotipun, kalima mangabiwadha, garwanira dèn papanken rowang padmi, kanem mardawèng budya.

27.  Poma-poma kenceng dèn cepengi, traping laku minongka manggala, catur wala pepindhané, sona ing setyanipun, myang turangga cukat ing karti, dwipangga datan kéguh saguh kang ginayuh, brekiti ing sregepira, siyang-ratri makarya tan wènten sepi, swawi dipun tuladha.

28.  Aywa pisan cidra ing prajangji, tilar garwa kapéncut ing liya, awit awon pinanggihé, manah gampil kayungyun, kasulistyan aniniwasi, adhakan dadya tuman angèl mantunipun, lamun dipun turutana, amengangah ngangah-angah saya ndadi, becik dèn singkirana.

29.  Kakaroné  kasengsem  tataki, tuhu bekti nggigilut wiyata, murih dadi lantarané, tentrem ing brayatipun, tumus harja miwah basuki, sumrambah tedhak-turun sapawingkingipun, sadaya samya pinerdya, dimèn pana warahing luluhur yekti, temah kalis rubéda.

30.  Sabanjuré winedhar sastradi, apan baya winastan pitenah, nyarwètèh kedaling lambé, ngrarakit tembung lunyu, amemada sarta ngadili, ngumbar panyatur ala kèh panacadipun, alaning liyan dèn andhar, kaya-kaya beciké tan ana sami, klayan dhiri pribadya.

31.  Tyang kang remen mbèbèrken wawadi, lir karaba muleg ing akasa, anguwus-uwus wuwusé, basda winewah bumbu, pamurihé saya wigati, sanès kinarya lalap uraping panyatur, nukulken wijining tikbra, dyan pracara ukara datanpa bukti, iku watak katbuta.

32.  Tembung sisip sinusup kasisip, murih bisa sasap ing sasama, samakéyan sasolahé, kudu unggul binuru, nora ngétang katala sami, lumuh lamun prawadha kalindhih ing semu, mangungsir mrih kasumbaga, ancik-ancik kunarpanirèng sasami, jail lampah candhala.

33.  Amemada sisiping sasami, nora béda gandaning kusana, lir bathang ingkang wus lungsé, bacin lamun dèn ambu, anderbala mbabar wewerri, parandéné si punggung pambeg wah kumingsun, kadi hakim kusalanya, angadili sapa-sapa ingkang wèsdhi, kasereng lir katwara.

34.  Dipun émut ywan namung sawiji, ingkang yasa sanggyaning prarepa, tuwin jumeneng hakimé, tan liya mung Hyang Agung, kang kagungan gung kasugatin, misésa palimirma miwah paring bendu, dé manuswa iku sapa, kumawani kumlungkung ngadil-adili, tumanduk ring papadha.

35.  Poma bisa mapanaken lathi, datan lèmèr ngumbar-umbar kata, kanthi permati empané, wit kasunyatanipun, ilat iku lir wisa mandi, dhahat karya sangsaya punapi kasumbung, lamun kalintu trepira, ing kawurya pranama adamel tuni, katiwang ing papaka.

36.   Èmperipun  kendhali  turanggi, dipun trapken jroning cangkemira, sanadyan alit wujudé, ywan pinekak satuhu, temah gampil dèn kemudhèni, tumrah badan sakojur tan liya mung manut, makaten lidhah sanyata, dyan mujudken pérangan badan kang lengit, nging misésa mring janma.

37.  Kadi latu nyalat wreksa langking, dyan sapletik bisa ngambra-ambra, temah mbesmi alas gedhé, makantar urubipun, ngalad-alad ambilaèni, ilat iku tan béda kadya hagni tuhu, lir jagading kadurakan, kang dumunung jro jiwa-raganirèki, dadya sangarakalya.

38.  Angrèh sato teka langkung gampil, buron wana peksi raja-kaya, dalasan saisining wé, saged kadamel lulut, tan mangkono ilatirèki, nyata kalangkung lungit ywan kinarya tutut, pindha krodhaning denawa, nyembur wisa wisaya aniniwasi, surata siya-siya.

39.  Klawan ilat padha muji Gusti, ngidung dhikir ing sawayah-wayah, kadi brahmana anggepé, kaya-kaya manekung, angèmperi panatagami, nging klawan lidhah ugi nyupatani manu, mijil king tutuk sajuga, ipat-ipat punapa déné wastuti, muspra datanpa guna.

40.   Jihwa pindha landheping bedhami, lamun linga muwus ngayawara, pasulayan undhuhané, nyebar wijining tatu, datan mokal wawalar ndadi, nora gampil pineper kalamun katrucut, andhatengaken braminta, saraga gung ngebeki jro tyasirèki, lengka kang rinaosna.

41.  Lir kusara mrentul wanci énjing, sumberipun saking alam raya, sung seger tanem-tuwuhé, watak asih tan sengkung, dadya daya ingkang nguripi, makaten imbanipun lidhah ingkang wèstu, nètèsken sarkara soba, sarasati binawa amangastuti, ngenut pangrèhing suksma.

42.  Nadyan  namung  pérangan kang lengit, lamun mogèl mobah jroning latha, ananawur sarawa gé, kang dados panènipun, sakelangkung anggigirisi, waged dados kabegjan kalamun pituhu, nanging kosok-wangsulira, amangangi kalamun nyenyebar branti, pramila kang bisama.

43.  Kang wasisdha tansah angulati, mring bebener wucaling bremana, sinartan manah kang sarjé, kasantyan kang dèn bujung, mekak hawa laksita juti, lidhah dipun kendhali tutur tan kalantur, sumimpang sagung pitenah, awiwéka mrih dadya harjaning janmi, yèku manuswa tama.

44.  Salir wawengkaning janma singgih, tinalesken wisiking Hyang Suksma, kang kaajab mung bahagé, rurumpakaning wuwus, was winawas kanthi premati, leget mring kautaman priyatna ing tembung, wèh sarsa maring sasama, sèstu soba suka wicaga ring dasih, dharaka pramusita.

45.  Pan wus langkep lingkabing pramodi, menggah warah cidra lan pitenah, dipun ening panampiné, lebetna manjing kalbu, dimèn menep jro sarasati, dadya daya paraya salir dhasdhi langut, langet langkananing lana, leng lumingling ngluluri pranamya dhani, ngulari rèh sampurna.

46.  Mangkya  dungkap  warah  kaping  kalih, ywa ngalingi luputing sentana, awit ageng durakané, babasan ngingu-ingu, pringga dhusdha mutawatosi, walagang nggènnya lumung ywan datan kapugut, ngreregedi janaloka, wusna anjrah sulurnya angririsaki, wohira gung rudita.

47.  Lumingkabing wawaler puniki, wus winedhar déning pramudika, tilingna kanthi luménggé, resepna kang satuhu, temah dadya daya basuki, ukara rinumpaka jroning sekar Pangkur, prihé sami pinungkurna, sagung trékah kang cengkah klayan prarepi, swawi dipun gatosna.

P A N G K U R

48.  Murih  harjaning   puraya,  poma-poma wicaga dèn ugemi, cepengana ingkang wastu, langkana tan wrin godha, upayanen paugeran priha tan wur, lumèng prabaning nagara, sumrambah kawula dasih.

49.  Ywan  pramoda  dadya  wasa,  wit  tan  lengkep manira angluluri, dadya ura jroning dhatu, paraha sanagara, temah sisah lamun katala wus kusup, angèl dipun dandosana, jugar wigar kang kawuri.

50.  Lamun ginadhuh wisésa, aywa gampil atilar silastuti, sanadyan tumrah ing bandhu, pakeken datan lirwa, nora ngugung dupèh sentananing ratu, dhusdha pinaring papaka, dharaka manggih astuti.

51.  Kang  wasisdha  angrèh  praja, gegebengan  pradika  gegyan  adi, ywa  parasama  ring manu, linenggahna sapadha, siningkirna sagung dhasdhi angriridhu, murih kalis king dhuskarta, satemah lulus basuki.

52.  Pirengwa dipun landhepna, piyarsakna gung pasambating kasi, kalamun datan pakantuk, kaadilan kang santya, sanadyanta dudu tuturasing ratu, ywan gesangipun kastura, tikbranira dipun sanggi.

53.  Tumarah  para  sentana, kang  gumendhung  morang  kèhing kintaki, kang dadya ugering dhatu, remen anunggyangtaya, amikara dupèh maksih tedhak luhur, aywa mangu pinidana, ngetrepi jejeging adil.

54.  Aywa pisan darbé sedya, angalingi klepataning sentani, lampahnya aywa dèn ugung, niyak sagung prarepa, saya ndadi dhumateng wisésa wuru, nora idhep mring dadalan, muksapada kang linari.

55.  Masiya  maksih  sudara, nanging remen miyala sasing janmi, becik tinerapan siku, dinendha sawatara, ingkang murwat klayan kalepatanipun, pamurih rèh jinejegna, ywa nganti amémérangi.

56. Nilep lepating sentana, paribasa babathang dèn kemuli, sanadyanta nganti brukut, wus datan kawistara, mongka sutra ingkang kinarya salimut, tetep dugi titi mangsa, kinuswa gandaning pati.

57.  Aja  dupèh  kadang  raja, tandang-tanduk  sarwi  ngéwan-éwani,  panganggepipun  kalantur, kascar-yan kalenggahan, kasyang asih kibir edir lawan umuk, apracara sagendhingnya, tyang alit tan ana wani.

58.  Awasna pamawasira, wirahsané bebener duk inguni, basan badrak badan kramu, langking tan ana rega, nora bener kalamun tan dèn paèlu, sinikara siya-siya, kawuri amamalati.

59.  Prayojana ingkang prama, nora gingsir kalindhih sagung pamrih, ngudi cantya aji mumpung, sentana dadya bala, tan nayuti sanadyanta tindak luput, binari asuka-suka, tundhoné angundhuh tuni.

60.  Aywa wuru mring sarkara, mamanisé wisésa pinracadi, dupèh lelenggah ngaluhur, sanak kadang dèn uja, pinaringan wengan awawatak diyu, kethaha mring donya brana, prana winengku ing moksil.

61.  Pan wus jamaking manuswa, lamun mukti padatan dadya lali, mring pangwasa kapiluyu, ical landheping rahsa, andrawili kasukan ingkang kabujung, mring dasih suka andaha, trékahnya anjurbalani.

62.  Suka-suka parisuka, ngajak-ajak tingkahipun nyrambahi, dhateng sanak-kadangipun, jinarken ngambra-ambra, lamun lepat sengadi datan anahu, kupiya ywa kawistara, pinurih tiningal èdi.

63.  Nggagadhang éndrasangsara, mring sentana mirah nggènnya andani, sinarujuk dyana luput, lumuh pènget myang warah, wit misésa datan wènten tembung klintu, samudaya kaleresna, tyang andèh tan ana wani.

64.  Lamun  kaladuk  énaka,  mangka  murba  wewenang  angrèh  kasi,  tedhak  turun dipun ugung, acongkak sosongaran, angandelken maksih dharahing ngaluhur, andé sangsaraning praja, anjuk risaking nagari.

65.  Poma dipun waspadakna, ywan amengku wisésa nyakrawati, aywa kalulun ing napsu, tyas ura nir waskitha, kang satiti mulat sisiping tumanduk, nadyanta alit kéwala, bisa akarya papaki.

66.  Kalamun dadi pramuka, pinitaya mangrèh jantraning nagri, andurasa labetipun, mélik dèn anjuk tebya, sung ancuta mring bebener datan indung, sirik nyilibken piala, pracékaning sentanèki.

67.  Bangkit nahen sagung hawa, kaadilan tan kendhat dipun udi, tumrah kawula sadarum, tan ana béda-béda, wus samesthi kang lepat pinaring bendu, dadya pangungsèn sanyata, tumrap kang sami andasih.

68. Becik  lamun paramarta,  sung  apura  kawula ingkang lali, niyak gegebengan luhur, wus mratobat sanyata, nanging baya aywa kalimput ing semu, katalya ing panggraita, lampah dora datan maksi.

69.  Mangkana traping trapsila, samektakna manah kadya udadi, nalar mulur tan kalantur, dyan loma pangapura, aywa mamang matrapi ingkang kalintu, pinta-pinta paneraknya, kadang kawula pan sami.

70.  Utana lestari begja, titis mawas gelitaning prakawis, nora nilarken papacuh, ambuburu angkara, dupèh lagya ginadhuhan sendhang madu, mring asanès siya-siya, lepating kadang siningid.

71.  Angunguja  karsèng   driya,  catur  wengis  tumanduk  ing  sasami, basan  tatanem  gugrumbul, kemarung bobondhotan, undhuhané prahara gung sakelang-kung, waris sentana dèn uja, tan ana nohan nuhoni.

72.  Kèh tyang sudra ananantya, tinilingna pasambat kawlasarsi, nora luwèh mring panglawung, dupèh sanès sentana, iku dudu wawantuning pangrèh luhur, luput winastan waskitha, kekeling kang dipunnèni.

73.  Urip muspra nir sarkara, kakarèné tan liya sarwi rungsit, nglangut nenga namu-namu, ical jatining rahsa, dadya linglung nunjang palang kadé diyu, risak sakèhing ukara, wus tan wènten silastuti.

74.  Latah remen andurkara, kibir edir jubriya sagung janmi, mring bebecik tan anaur, malah mamales ala, kosok-wangsul mring sanak-kadang sadarum, panyaruwé tan pinanggya, jinarken amurang tatir.

75.  Makaten kababarira, ywan kaandhar pepeceh kang kaping dwi, andungkap warah katelu, yèku amawang kadang, nora béda klayan piwucal karuhun, menggah lengkeping ukara, sinekar Asmaradani.

ASMARADANA

76. Tanasing janma utami, ingkang tumrah gesangira, mring pakeken datan andor, ngugemi sagung wiyata, winedhar sang twijara, mahnani gancaring laku, linepat salir rencana.

77. Aywa nganti atatawing, ngandelken kadang sentana, dupèh maksih dharah dhéwé, nanging pasemoning nitya, tan kénging pinitaya, rongèh jlalatan ing semu, tan pantes sinung kawiryan.

78.  Dyan kadang lamun tan becik, nora untung rinaketan, bisa dadi kajalomprong, angajak-ajak sangsara, tiwas tuwas wuntatnya, wasna kaduwung ing kalbu, nanantya datan piguna.

79. Ruruh rentahing andani, pinaringken ring sasama, kang amiji karsèng Katong, tuturasing kretiyasa, pantes dèn pedakana, tulakang dadya babayu, kukuwating anggyanira.

80.  Saking pasemon wus kèksi, wawantuning taluwanwa, remen narajang papakon, polah-tingkah sarawéyan, tan jetmika ing budya, gumuyu rasan sarwa sru, raos lingsem datan darbya.

81. Boten wurung tumut isin, winirang lampah dursila, nir kretyawan datan kalok, kèmbèt awoning sentana, murang kèhing pranata, kawurya tilar talutuh, temah angundhuh cintraka.

82.  Alelengis  sarwi  rukmi, busana  mawa  lengkawa,  pambeg  ladak  lumuh  anor, rumaos  trahing kusuma, pantes sinudarsana, iku wateké wong kumprung, kapengkok nora sembada.

83.  Lamun ngrentahken paparing, kukucah gung kamirahan, jroning tyas adil kang dumon, nora mawang béda-béda, dharah punapi liya, piniji ingkang tuwajuh, bangkit angéntasken karya.

84.  Lumingling sagung kajatin, datan kalèntu garjita, patitis salir pepunton, nora kawuh ing pangrasa, tulya kujanapapa, sung kawiryan maring bandhu, mongka lengka twasanira.

85. Dyan  sanès  darbé kawanin, tangginas ngrampungi karya, lumrah pinaring pambombong, sokur bagé linubèran, sarna donya sosoba, swawara asih sawegung, kadang konang binucala.

86.  Ywa karya tyasing lyan kanin, wit paparing tan warata, pilih-pilih ingkang kanon, singa celak kang kadrasa, tebih nora tinenga, iku patrapé wong pengung, ngembrah dadi taluwanwa.

87.  Sumimpanga king durniti, dumarusa myang diggama, bubujeng pamurih kalok, kakadang dinadya bala, asanès winiruda, daridya undhuhanipun, pawingking manggih katala.

88.  Kalamun  datan  sawawi, bisa  mengku saniskara, manah rupak nora kamot, teges sanès trah ngawirya, becik lamun rumasa, ngembat wisésa tan saguh, milaur mundur kéwala.

89.   Dipun   émut  aja   dumi, lagya  darbé  pangawasa, dériti  marang  sakèhing  wong,  nanging sanak-kadangira, dèn papanken ing ngarsa, mongka tan pengkuh ing kéwuh, makarya nora kawaba.

90.  Tilingna ning ing kawathi, patitis pamawasira, gatosna ingkang sayektos, lamun paparing wisésa, aywa mawang sentana, kawanin suba tan sengkung, iku dinadya pramoda.

91.  Kathah-kathahipun janmi, twasa kalimput dureta, wuru dhumateng pangwaos, mumpung maksih amisésa, morang sakèhing tata, sanak-kadang mitra-karuh, linenggahken papan éca.

92.  Boten  lingsem  ing  durniti,  jirèh  ingangkat  kretyawan, lenggah  twijara  tyang parnoh, pandhir dinadya pangarsa, pingging sinuba dwija, ngangsu kawruh mring tyang blilu, mung krana maksih sentana.

93.  Lagya  kalampah  samangkin, ing jaman kala katwara, mundhak-mundhak ing pakéwoh, néréndra nir ring sudarsa, bucal lampah tatakya, rèh praja déning babandhu, tilar warahing pujangga.

94.  Darbéning lyan dèn talappi, kasereng nunten kawirya, sareng sentana sapunton, sarujuk jajarah samya, daruti semunira, tan béda bebegal lamun, naracak miwah ngrabasa.

95.  Èwon-èwoning wong drengki, guyub ngambah durniminta, sugal diksura dèn soroh, sakadang cepeng wisésa, praja dadya puwara, garwakara sugih galu, kang nandhang wong sanagara.

96.  Ywan wus kukumpul nyawiji, dundum brana duratmaka, béda apa tiyang awon, suka-suka sagendhingnya, nétra kawuh tan menga, suthik wruh roganing manu, tinengen mung kasukannya.

97.  Dudu patraping wong singgih, mirungga maring sentana, mawang kadang lamun andon, suka dalajat pangkatnya, tanpa panitipriksa, kang winiyat dupèh bandhu, sanadyan sisipat dura.

98. Lamun mangsa kala dugi, jugar tataning puraya, gesang saraga wah kasor, drasa kaleban kasmala, kawurya dadya ura, ririsak datarpa duwus, katala katiwang marga.

99.  Mring sasama gardhawari, aywa pilih-pilih jalma, sadaya titahing Manon, datan remen karya pringga, nging pinurih énaka, kasaénan amemengku, kawaba nandukken dardya.

100.  Lamun becik mring sawiji, mongka gething dhateng liya, iku winih ingkang awon, remen anyelir sentana, mring asanès durcara, raos mèri ingkang thukul, tulakang panèn kasmala.

101.  Nandukna bebener ugi, boten kénging kawa-kawa, tan mingkuh saking wawaton, miling-miling dupèh mitra, lilingen kang prakara, linimbang-limbang satuhu, kanthi lungiting pangrasa.

102.  Nadyan tedhaking acedhis, nanging bener pratikelnya, pantes kalamun linakon, kosok wangsul dyan sentana, nging kasingsal ing budya, tinurut temah kalintu, nyimpang margining utama.

103.  Mlarat donya datan pasti, asor ing bubudènira, makatena tiyang kalok, tan wastu luhur ing nala, becik lamun saranta, tinaliti kanthi turut, patitis pamawasira.

104.  Pétanana kang priyatni, pundi titiyang pranamya, pratingkahipun tan parnoh, paraya anteng garjita, prayoga purugana, nora krana maksih bandhu, nging pradana pangawruhnya.

105.  Miyat sudraning sasami, marma manah tinarbuka, thukul welas tan pitakon, maksih kèmbèt apa liya, iku nora prayoga, becik legawa tutulung, lila mardawa ing budya.

106.  Wageda dadya palupi, jumbuh turasing ngawirya, nuhoni jejeging pakon, papakeming puruhita, janma paramatatya, madhangi kang puru-puru, ngruwat sanggyaning piroga.

107.  Lakon jaman kalasrenggi, trékahé tiyang candhala, kadi réwanda saranggon, gendhon rukon tindak dhusta, tan ana jrih duraka, ywan lepat tutup tinutup, pinurih tan kawistara.

108.  Wus sinerat jro pepesthi, tekané jaman drubiksa, nora maèlu piawon, sanak kadang dalah yoga, wuru kayungyun arta, wengis mamalak ing pémut,  suthik nilingken wasita.

109.  Mengker mangsa danawa ji, maksih tilar wawantunya, tan gampil luntur winasoh, santun ingkang baureksa, tindakira tan béda, srakah kethaha lestantun, ngungumbar saliting hawa.

110. Saking iring wétan semi, muncar-muncar poladannya, nging paéka kang dèn gémbol, ngimpun-impun sanggya mitra, sarana suka purba, cinegah lumawan sampun, ngogak-ogak pangu-wasa.

111.  Kinarya kudhung agami, mangka wawaton dèn prusa, iku nyanyadhang pakéwoh, kang nunggil winastan bala, béda dèn anggep mala, temah puraya tan wèstu, dredah bangsa padha bangsa.

112.  Tyang pengung mangrèh nagari, tindakipun dumarusa, nora jejeg mring wawaton, wit tan jajag rèh waskitha, mung bubujung hartaka, kaleng-gahan miwah dhatu, tilar waspaosing prana.

113. Pasemonnya ladak edir, mangathik kadang myang mitra, lirwa wisiking Hyang Manon, supé harjaning kawula, remen lamun pinuja, pangiring samya anglulu, pamrih antuk kang dèn sedya.

114.  Pungkasing jaman dériti, lamun bénjang ana janma, mijil saking jro wewengkon, sudarpa asidikara, wadana ning susmaya, tan mawang kadang satuhu, adil tuwin paramarta.

115.  Tyang kang mlarat datan langking, sugih tan mangéran bandha, migati mring sakèhing wong, suthik nenengen sudara, adil sagung prakara, tebih mélik cegah napsu, mungkul mring Hyang Widi-wasa.

116.  Wus tan kapéncut ing daging, alus sakelangkung lembat, agal donya datan kamot, sasat Pangéran maraga, ngrucat salir angkara, jro riribed sonya tuhu, pupuja ngéntasi karya.

117.   Meleng gilig kang dèn udi, harjaning rastala samya, datan kasengsem pambombong, kang damel rupaking jangka, nora mangathik jana, priha tindak tan kalintu, lepat boten kawistara.

118.  Dungkap pungkasing wigati, wawarah mangrèh puraya, mirid karsaning Hyang Katong, sinambet wedharing weca, gelaring tanah Jawa, dyan mung samrica binubut, pantang lamun dèn badala.

119.  Sinuprih  tan  morang  margi, uwal  saking  lenging widya, suka pémut mring kang mirong, nyinyingkur aji pamasa, angedirken pangwasa, jinugag lingkabing wahyu, sambet wyataning twijara.

120.  Piwucal catur puniki, prakawis mèt donya brana, kalayan angudi wadon, gegaran wenang misésa, tan luput ginayuha, mring panguwaos gumendhung, sapa wani mancasana.

121.  Asring dadya ciri wanci, ingkang lagya amisésa, pongah awawatak rimong, nubruk buron ingkang ringkya, minongka tatadhahnya, makaten tyang alit iku, dèn mangsa nora suwala.

122.  Menggah lengkeping kintaki, kacetha pupuh lajengnya,  rinumpaka sekar Sinom, dyan kawedhar sakadarnya, manut gaduking nala, paripaos timun wungkuk, kinarya imbet kéwala.

S I N O M

123.  Wus dadi jamaking janma, jro jaman mengeng puniki, ngasil-asil donya brana, raos lingsem wus kawuri, tebih tataning nagri, mring gebyar samya kayungyun, tur ginadhuh wisésa, saya wantun nerak margi, kang dèn bujung tan liya mung kasukannya.

124.  Raos tuwuk tan kadarbya, sasat genthong ingkang ciri, masiya dipun grujuga, toya sablumbang saari, panggah datanpa isi, ngowos-owos maksih suwung, tangèh lamun marema, antuk leksa kurang kethi, puluh-puluh iku wataking drubiksa.

125.  Becik  wantuning  walika, anguntal  mangsanirèki, sapisan  tumunten  néndra, tan mosik nganti sasasi, kadya lampah tataki, nenedha sacekapipun, nora kaladuk hawa, ngangah-angah jroning budi, béda janma ingkang wuru mring pangwasa.

126.  Mangiwut  tatandho  arta, bikut  gènira  nalapi, wus  ical  éwuhing  rahsa, prawira datan kadarbi, mamak dhumateng gahi, waton antuk kang dèn bujung, dyan ngrebat uriping lyan, tegel tan èwed papati, welasarsa wus tebih saking pangrasa.

127.  Tyang  alit  kadamel  tumbal, dadya  wadaling  durniti, ringkih  dipun  kaniaya, kinarya ompaking wisdhi, pangadhuh tan praduli, nganung-anung aji pum-pung, murba gunging wisésa, kang badal dipun sirnani, songar dupèh tan ana wantun mamada.

128.  Remen  angalap  ruruba, punapa   déné  upeti, mundhut lebon king punggawa, wah malih kawula sami, pangarem-arem mili, temah gesang tansah kogung, kecèh wang paribasa, tan nenga gegesing dasih, kang tinengen karemenaning pribadya.

129.  Urip dadi salah kaprah, akarya ngungun ing ati, élok lamun rinasakna, nora barès malah mukti, nasar antuk astuti, kang jujur nandhang kalantur, blaka manggih antaka, resik winada tan wasis, puluh-puluh wus dugi lengkeping jangka.

130.  Pawingking ngundhuh dahana, ingkang ngririsak nagari, karya uraning pranata, tumus gesangirèng dasih, bebener dèn tebihi, wusna samya andon napsu, lupa rèhing prawira, bubujung mulading kapti, praja jugar kawula buyar wuntatnya.

131.  Ywan lepat gènnya mranata, musna lestarining nagri, wengkon samya ambalila, crah adredah rebat mukti, tilar tepaning sami, padha bangsa samya campuh, mangsah prang mumungsuhan, tan ènget raos manunggil, lamun kadhung kaduwung datan piguna.

132. Ical kuncaraning praja, puwara kasub jinawi, surem madyaning buwana, tan pinétang nagara ji, rinèmèh jro papaki, masgul wit datan pinunjul, gung asor dalajatnya, kondhang bangsa ingkang wengis, nora idhep tataning janma utama.

133.   Prihatos   lamun   uninga,  trékahing   umat   puniki,  téga   roga-ning   sasama, béda gama dèn cengili, séjé bangsa sinengit, kadya wawantuning diyu, jro liliwunging wana, bubujeng buron kang ringkih, pinrawasa dèn gaglag kanthi kethaha.

134.  Tebih saking asih darma, welas-arsa pan wus sepi, tan éman patining liya, dingkik-diningkik sasami, sak-serik saya ndadi, miruda padhaning manu, tyang mursid sampun sirna, saking lebeting nagari, kang tinengen duraka klayan dursila.

135. Tangané padha candhala, narajang sagung papali, agahan karem mring donya, kala jiret dèn pasangi, samya ngarah papati, panguwasa soroh napsu, munasika kawula, hakim remen wang upeti, pra pangarsa mutusi sukèng tyasira.

136.  Angger-angger sinélakan, tinekuk-tekuk sakarsi, miturut kang asung arta, wus supé jejeging adil, babasan grumbul eri, ngrèrèndhèt ambancang laku, kemarung pindhanira, mitra tegel angapusi, wus tan ana kang kénging dipun pracaya.

137.  Aja pasrah marang kanca, punapa déné pawèstri, ngalèyèh ing pangkonira, tan jejeg kedaling lathi, langkung kathah mapali, mantu lumawan si biyung, anak lanang tan bektya, marang bapa mamancahi, dugèng jangka jaman babaya cintraka.

138.  Kalakyan ing jaman ika, tyang sugih remen ngapusi, kang mlarat tan pinracaya, dora cidra salir janmi, wawaler dèn campahi, nenedha tangèh atuwuk, padharan tansah luwya, sisimpen datan gadhahi, nyebar wiji tangèh angundhuh wohira.

139.   Ngombéya  maksih  dahaga,  tatamba  panggah  sakit,  linipur  saya  dhuhkita,  dèn  nepken mubal andadi, éwuhaya ing budi, sinabarna dadya gugup, arsa aso kang sayah, langkung kesel kang pinanggih, lamun léna sungkawa nora kuwawa.

140.  Atatandho rajabrana, asalipun king durniti, takeran sami dèn suda, traju ginanjel tan wèsti, watu timbangan cicir, kabèh pokal tangèh lugu, temahan kénging walat, ipat-ipating Hyang Widi, tan sempulur ginawa dugèng pralaya.

141.  Nahen napsu nora kampah, ngumbar hawa tanpa budi, sengsem kasmaran wanodya, tan émut trapsilèng krami, tilar waskitèng kapti, dupi wus lenggah ngaluhur, nguja mubaling branta, suthik mirengna papali, nir tuladha sumimpang saking pranata.

142.  Kayungyun mring kasulistyan, nyanyaput nering pangreti, ical waspaosing driya, kineluh liring pawèstri, supè walering margi, tan maèlu pager ayu, pakèwed tan kadarbya, winada nora malangi, lenging cipta mung juga tinurutana.

143.  Rinungrum gampil arentah, lir lembu dipun patrapi, cinongok ing cungurira, kadi tyang bodho katali, babandan dèn adili, pindha kukila kapulut, babaya tan uninga, léna linepas jemparing, lamun kena panèn mamala antaka.

144.  Poma-poma élingana, kang dadi walering margi, ngombéya ing belikira, ywa nglurug sanès parigi, myang liyan gampil mélik, ngandelken kuwasa-nipun, wenang mundhut babana, kalebet minta pawèstri, garwa yoga tan pinétang waton bisa.

145.  Cacat  menggahing  pangarsa, lamun remen luru warih, kasengesem mring sendhanging lyan, ngasag-asag sapinanggih, raos èwed wus sepi, rongèhing manah kadlarung, parwi dasih ingalap, sinengguh dadya upeti, yèn mangkana ical prabawaning praja.

146.  Becik lamun tinahena, atataki sawatawis, marema ingkang kadarbya, ywa malang tumolèh margi, tyas meleng ning nyawiji, muncar wibawaning prabu, sinuyudan kawula, pinitaya dipun aji, temah lulus sempulur kuncaranira.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.