Oleh: piwulang | 5 Desember 2009

Metode dan Pokok Ajaran Syekh Siti Jenar

AJARAN YANG DISEBARKAN PARA MURID
DAN PELAKSANAAN ILMU KASAMPURNAAN


SATU
“Semua ajaran yang disampaikan Ki Ageng Pengging meyakinkan, jelas, teratur dan terus-terang. Tiada yang dirahasiakan, tanpa tedeng aling-aling, tiada pula selamatan atau sajian kepada Rosul, bahkan kain putih saja tidak diperlukan. Siapa saja yang datang diberi pengetahuan, ilmu tentang rahasia alam semesta. Tiada bersyahadat, tiada berdzikir, mengajarkan tentang kenyataan dari ajal. Hidup di dunia dipakai sebagai contoh perumpamaannya. Di dunia ini kepercayaan didesak oleh syahadat. Serta dipalsukan dengan perumpamaan ilmu gaib yang kosong. Berdzikir dan sembahyang dipakai sebagai kedok penipuan, seperti yang diajarkan para sahabat waliullah.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 10-11>.

Wejangan dan Larangan Syekh Siti Jenar

DUA
Sudah diketahui secara umum bahwa wejangan (ajaran-ajaran) Syekh Siti Jenar dirumuskan dalam ajaran Sasahidan. Adapun yang menjadi sesuatu yang harus dicegah oleh para pengikut dan pengamal ajarannya adalah (Sabda Sasmaya, hlm. 45, 47):

a. Tidak boleh memiliki daya atau keinginan yang buruk dan jelek.

b. Tidak boleh berbohong.

c. Tidak boleh mengeluarkan suara yang jorok, buruk, saru, tidak enak didengar dan menyakiti orang.

d. Tidak boleh memakan daging (darat, udara maupun air).

e. Tidak boleh memakan nasi, kecuali terbuat dari bahan jagung.

f.  Tidak boleh berkhianat kepada sesama manusia.

g. Tidak boleh minum air yang tidak mengalir.

h. Tidak boleh membuat dengki dan iri hati.

i.  Tidak boleh membuat fitnah.

j.  Tidak boleh membunuh seluruh isi jagat.

k. Tidak boleh memakan ikan atau daging dari hewan yang rusuh, tidak patut, tidak bersisik atau tidak berbulu.

TIGA
“Manusia yang sejati itu ialah ia yang mempunyai hak dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, serta berdiri mandiri diri pribadi. Sebagai hamba ia menjadi sukma, sedang Hyang sukma menjadi nyawa. Hilangnya nyawa bersatu padu dengan hampa dan kehampaan ini meliputi alam semesta.”<Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II, Asmarandana, 2>.

EMPAT
“Adanya Allah karena dzikir, sebab dengan berdzikir orang menjadi tidak tahu akan adanya zat dan sifat-sifatnya. Nama untuk menyebut Hyang Manon, yaitu Yang Maha Tahu, menyatukan diri hingga lenyap dan terasa dalam pribadi. Ya Dia ya Saya. Maka di dalam hati timbul gagasan, bahwa ia yang berdzikir menjadi zat yang mulia. Dalam alam kelanggengan yang masih di dunia ini, di manapun sama saja, hanya manusia yang ada…Allah yang dirasakan adanya waktu orang berdzikir, tidak ada, jadi gagasan yang palsu, sebab pada hakikatnya adanya Allah yang demikian itu hanya karena nama saja.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 3-4>”…nama Tuhan itu berasal dari manusia.” <Serat Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 18>.

LIMA
“Manusia yang melebihi sesamanya, memiliki duapuluh sifat, sehingga dalam hal ini antara agama Hindu-Budha Jawa dan Islam sudah campur. Di samping itu rupa dan nama sudah bersatu. Jadi tiada kesukaran lagi untuk mengerti akan hal ini dan semuanya sangat mudah dipahami.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 5>.

ENAM
“Manusia hidup dalam alam dunia ini hanya menghadapi dua masalah yang saling berpasangan, yaitu baik buruk berpasangan dengan kamu, hidup berjodoh dengan mati, Tuhan berhadapan dengan hamba-Nya.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 6>.

TUJUH
“Orang hidup tiada merasakan ajal, orang berbuat baik tiada merasakan berbuat buruk dan jiwa luhur tiada bertempat tinggal. Demikianlah pengetahuan yang bijaksana, yang meliputi cakrawala kehidupan, yang tiada berusaha mencari kemuliaan kematian, hidup terserah kehendak orang masing-masing.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 7>.

DELAPAN
“Menurut ajaran Siti jenar dulu, keadaan hidup itu berupa bumi, angkasa, samudera dan gunung seisinya, semua yang tumbuh di dunia, udara dan angin yang tersebar di mana-mana, matahari dan bulan menyusup di langit dan keberadaan manusia sebagai makhluk yang terutama.”< Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 8>.

SEMBILAN
“Allah bukan johar manik, yaitu ratna mutu manikam, bukan jenazah dan bukan rahasia yang gaib. Syahadat itu kepalsuan.” < Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 9>.

SEPULUH
“Akhirat itu di dunia ini tempatnya. Hidup dan matipun hanya di dunia ini.”<Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 13>.

SEBELAS
“Bayi itu berasal dari desakan. Setelah menjadi tua menuruti kawan. Karena terbiasa waktu kanak-kanak berkumpul dengan anak, setelah tuapun berkumpul dengan orang-orang tua. Berbincang-bincanglah mereka tentang nama yang sunyi hampa, saling bohong-membohongi, meskipun sifat-sifat dan wujud mereka bicarakan itu tidak mereka ketahui.”<Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 15>.

DUA BELAS
“Saya di sini membuka hutan, bercocok tanam di huma untuk penghidupan atas kehendak Hyang Manon, Yang Maha Tahu. Jika tanaman saya memberi hasil jagung, kentang dan ketela saya makan bersama Hyang Agung, Yang Maha Agung, yang memberi perintah kepada saya.” “Tatkala saya mencangkul, saya bersama Gusti Tuhan. Ketika saya mengambil hasil cocok tanaman saya, saya bersama Pengeran Tuhan. Sekarang ada sesama orang memanggil saya ke Bintara. Di sini ada apa selain Pangeran dengan nama-Nya, yang serambutpun tiada terpisahkan.” “Jika saya dipanggil ke Demak, sesungguhnya saya menolak, tidak mau jika tidak bersama dengan Yang Mengasuh Jiwa Raga Saya. Sekalipun saya mau, akan tetapi Yang Maha Kuasa tidak mau, bagaimana saya dapat berjalan?” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 36-38>.

TIGA BELAS
“Takdir tiada kenal mundur, sebab semuanya itu ada dalam kekuasaan Yang Murba Wasesa, Yang Menguasai segala kejadian.” “Orang mati tiada merasa sakit. Yang merasa sakit itu hidup yang masih mandiri dalam raga. Apabila jiwa saya selesai menjalankan tugasnya, dia akan kembali ke alam aning anung, alam yang tenteram bahagia, aman damai dan abadi. Oleh karena itu saya tidak takut akan bahaya apapun.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh XII Asmarandana, 22-23>.

EMPAT BELAS
“Menurut pendapat saya, yang disebut ilmu itu ialah segala sesuatu yang tidak kelihatan oleh mata. Umpamanya, Demak dari sini tidak tampak, akan tetapi Demak itu ada. Itulah yang disebut ilmu. Adapun pernyataan yang kedua, di mana tempat hidup itu, jawabannya, hidup itu uninong ananung. Pertanyaan yang ketiga, siapa yang mengajak tidur, jawabannya menurut saya, yang mengajak tidur itu tirta nirmaya.” “Yaitu air hayat kata Arabnya. Air hidup itulah yang dulu dicari Sang Sena dan disebut air prawita dalam bahasa Hindu-Budha. Adapun tempatnya di uning unong uninong aning.” < Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 16-17>.

LIMA BELAS
“Sesungguhnyalah, saya ini orang mati setiap hari kematian saya berkurang. Berapa lamakah kiranya saya mati di dunia ini. Masih lama lagi hidup saya nanti. Saya tentu kembali hidup. Mati kaya akan dosa dan siksaan neraka yang banyak saya alami ini. Balik kalao besok apabila saya sudah hidup, tiada terhitung kebahagiaan yang saya alami, langgeng untuk selama-lamanya.” <Serat Syaikh Siti Jenar, Ki Sastrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 21>.

ENAM BELAS
”…yang mengatakan sekarang hidup, besok disebut mati, itu ucapan santri yang terkutuk, ma-buk tobat mengharap-harapkan sesuatu yang belum pasti.” <Serat Syaikh Siti Jenar, Ki Sastrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 22>.

TUJUH BELAS
“Mana ada Hyang Mahasuci? Baik di dunia, maupun di akhirat sunyi. Yang ada saya pribadi. Sesungguhnya besok saya hidup seorang diri tanpa kawan! Di situlah Dzatu’llahu mesra bersatu menjadi saya!”

”Karena saya di dunia ini mati, luar dalam saya sekarang ini, yang di dalam hidupku besok, yang di luar kematianku sekarang.” <Serat Syaikh Siti Jenar, Ki Sastrawijaya, Pupuh X Asmarandana, 36-37>.

DELAPAN BELAS
“Orang yang ingin pulang ke alam kehidupan tidak sukar, lebih-lebih bagi murid Syekh Siti Jenar, sebab ia sudah paham dan menguasai sebelumnya. Di sini di tahu rasanya di sana, di sana ia tahu rasanya di sini.”

“…Yang disebut mati itu keinginan pribadi. Perihal pulangnya Syekh Siti Jenar ke alam kehidupan, saya bermaksud menyusulnya, hidup bersama dia dalam alam yang tiada terbayangkan. Sebentarlagi saya akan pulang.” <Serat Syaikh Siti Jenar, Ki Sastrawijaya, Pupuh XI Pangkur, 23-24>.

SEMBILAN BELAS
“Tiada bimbang akan manunggalnya sukma, sukma dalam keheningan, tersimpan hati sanubari, terbukalah tirai, tal lain antara sadar dan tidur, ibarat keluar dari mimpi, menyusui rasa jati.” <Babad Jaka Tingkir-Babad Pajang, hlm. 86>.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: